Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 99 ~ Hasutan


__ADS_3

Ayu terdiam beberapa saat, kemudian kembali menatap Farhan. "Apa kau ini pikun? Namaku Ayu, bukan Kira!" tekannya. 


"Kau adalah Kira," tegas Farhan yang sangat yakin dengan hatinya. 


"Kau boleh memikirkan gadis kecil yang pernah menyelamatkanmu beberapa tahun lalu, tapi kau sedang berhadapan denganmu. Aku peringatkan kepadamu, jika aku bukanlah pengganti Kira atau siapapun." Tekan Ayu yang menunjuk wajah pria tampan di sebelahnya. 


Tidak ada perkataan yang keluar di mulut Farhan, bahkan di saat mereka menuju pulang ke Mansion. 


****


Di club


Terdengar suara musik yang memekakkan telinga, kerumunan manusia yang berjoget di lantai dansa. Hiruk pikuk yang dilalui oleh Raymond Arnold bersama beberapa temannya sedang menikmati minuman di gelas kecil, sebuah minuman alkohol. 


"Ku dengar, kau dan Raina sudah putus." Singgung salah satu temannya sambil meneguk minuman di dalam gelas kecil di tangannya. 


Seketika Raymond tertawa bahagia, mengingat dia memutuskan wanita yang sangat licik. "Hem, itu benar."


"Apa kami boleh tahu alasannya?"


"Wanita itu sangat licik, aku benci wanita yang hatinya sangat busuk." Terang Raymond tertawa simpul. 


"Kau sangat luar biasa, memutuskan artis papan atas dengan sangat mudah?" puji salah satu temannya. 


"Heh, apa kau pikir itu semua usahanya? Tidak. Dia menjadi artis berkat ku yang merekomendasikan nya," ujar Raymond jujur. 


"Lalu? Bagaimana dengan nasibnya sekarang?" 


"Entahlah, aku rasa dia sudah jadi gembel di jalanan."


"Wanita yang malang."


"Aku mau berdansa, apa kau ingin ikut?" tawarnya kepada Raymond. 


Raymond memberikan isyarat menggunakan tangan, menolak ajakan itu dan lebih memilih menikmati sebotol anggur. Di saat dia ingin meneguk minuman, tiba-tiba tangannya ditahan oleh seseorang yang tak lain adalah Raina. 

__ADS_1


"Sudah cukup untuk kau mabuk."


Raymond mengusap kedua matanya, memastikan jika dia tidak berhalusinasi. "Ck, kau datang hanya untuk mengganggu kesenanganku. Pergi sana, jangan halangi aku!" ketusnya sembari menghempaskan tangan Raina dengan kasar. 


"Raymond, aku mohon kepadamu! Aku datang ke sini untuk memperbaiki hubungan kita." Ungkap Raina yang memegang tangannya. 


"Jangan menyentuh tanganku, kau wanita yang sangat licik. Sebaiknya kau pergi saja dari hadapanku, aku bahkan muak melihatmu." Jujur Raymond di setengah kesadarannya. 


"Ayolah, aku hanya melakukan kesalahan kecil saja. Apa kau tidak bisa memaafkanku?" 


"Aku tidak akan menginginkan wanita sepertimu menjadi kekasihku," tolak Raymond, menatap penampilan sang mantan dari ujung rambut hingga ujung kaki. Penampilan yang sangat kacau setelah putus darinya. "Tumben sekali kau tidak memperhatikan penampilanmu itu," cibirnya. 


"Karena aku hanya memikirkan dirimu saja, ayo kita berbaikan dan kembali seperti dulu lagi." Raina menatap mantan kekasihnya dengan penuh harap, dia sangat frustasi mengenai hubungannya yang kandas. Menyebabkan Raina tidak bisa berbelanja dan membeli beberapa barang branded, bahkan dia tak mampu membeli lipstik. 


Dari kejauhan, Vanya dan kedua temannya melihat kejadian itu. Mereka tertawa mengenai nasib Raina yang seperti gembel, tapi Vanya kembali berpikir untuk menggunakannya sebagai pion. "Sebaiknya aku memanfaatkan wanita itu menjadi pionku selanjutnya," batin Vanya. 


"Wanita yang sangat malang," ucap Clara yang meneguk minuman yang berada di dalam gelas. 


"Hem, apa kau ingin menggunakannya sebagai pion mu?" celetuk Jenni yang mengetahui sifat sahabatnya. 


"Tentu saja, aku akan mendekatinya dengan berpura-pura baik."


"Itulah aku," sahutnya bangga. 


 "Pergi dari hadapan ku, aku sudah muak melihat wajahmu itu!" bentak Raymond yang mengusir mantannya, meneguk gelas kecil yang berisi minuman beralkohol. 


Raina pergi dengan perasaan kecewa, usahanya tidak membawakan hasil. Memutuskan untuk pergi dari club, tapi tangannya di cekal seseorang. "Kenapa kau menghalangi jalanku?" ketusnya. 


"Aku tahu semua masalahmu, bagaimana jika kita membahas hal ini?"


"Ck, aku tidak tertarik mendengar perkataanmu. Menyingkirlah!" tolak Raina semakin membuat Vanya terkekeh geli. 


"Kau kehilangan kekasihmu karena Ayu, dan aku kehilangan Farhan juga karena wanita kampung itu. Apa kau tidak berniat untuk membalasnya?" ucap Vanya yang terus memanasi hati Raina agar menjadi pionnya untuk membalas perbuatan Ayu. 


Raina tampak berpikir, membenarkan perkataan Vanya dan berniat untuk membalas dendam. "Aku akan membalas perbuatan wanita itu karena telah menghancurkan hidupku," tekadnya dengan semangat berapi-api. 

__ADS_1


Vanya dan kedua sahabatnya tersenyum, berhasil mempengaruhi otak Raina. "Kau benar, wanita kampung itu harus diberi pelajaran. 


"Yang aku dengar, dua hari lagi Ayu akan mengadakan konferensi pers." Ungkit Jenni. 


"Itu bagus, aku akan membalaskan dendam di hari itu." Ucap Raina yang tersenyum smirk. 


"Aku mendukungmu!" sambung Vanya yang menepuk bahu Raina dengan pelan, tersenyum sekilas mengingat rencananya kali ini berjalan mulus. "Ayu, kau tunggulah permainan dariku. Kali ini kau tidak akan lolos, aku sudah mempersiapkan bidakku untuk melawanmu," batin Vanya.


Keempat wanita itu saling tersenyum satu sama lain, musuh dari musuh adalah teman. Menyusun rencana untuk melawan Ayu, sedangkan Vanya yang diuntungkan dengan semua ini, karena dia tidak perlu mengotori tangannya. 


****


Dua hari kemudian..


Di pagi hari yang indah, sinar matahari masuk menembus jendela. Masuk ke dalam pori-pori kulit membangunkan seorang wanita yang terlelap dari tidurnya. Meregangkan otot-ototnya yang kaku dan sesekali menguap, melihat situasi di sekitarnya dengan seksama. "Wah, ternyata sudah pagi. Sebaiknya aku bersiap-siap untuk melakukan konferensi pers, semoga berjalan lancar tanpa adanya kendala." Monolog Ayu yang segera turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. 


Setelah selesai dengan ritual mandinya dan bersiap-siap untuk keluar dari kamarnya, hal itu menyorot perhatian Farhan yang melihat penampilan wanita sederhana. "Eh, kau di sini?" tanya Ayu sedikit terkejut. 


"Hem, aku menunggumu dan ingin membawamu ke butik."


"Butik?" 


"Ya, ini hari konferensi pers. Setidaknya jangan berpenampilan sederhana," ujar Farhan. 


"Ya sudah, terserah kau saja."


Kedua berjalan menuju keluar Mansion, masuk ke dalam mobil dan berhenti di sebuah butik ternama. Mereka mendapat sambutan dari para pegawai butik dengan sangat ramah, Farhan melihat baju yang menurutnya sangat cocok untuk Ayu. "Aku ingin pakaian yang ini," ucapnya yang menaruh hati pada roke merah marun dan high ruffle neck blouse. 


"Baik, Tuan."


"Dan poles wajahnya dengan sedikit make up!"


"Baik, Tuan."


Ayu hanya pasrah dengan beberapa orang yang mendandaninya setelah mengenakan pakaian pilihan Farhan, jikapun protes juga tidak didengarkan oleh pria itu. 

__ADS_1


Farhan memutuskan untuk melihat penampilan Ayu lewat Cctv, melihat wanita cantik menggunakan rok berwarna merah membuatnya terkesima. "Dia sangat cantik," lirihnya yang bengong saat memuji Ayu di layar. 


Jam dua siang, konferensi pers dimulai tepat waktu. Orang-orang berdatangan dari kalangan penting dan juga terkenal, dan beberapa reporter untuk meliput acara itu. 


__ADS_2