
Setelah melakukan tindakan, Ayu menatap pria tampan yang tengah berbaring itu, pria yang selalu saja mengorbankan dirinya hanya untuk menjaga keamanan dan keselamatan dirinya. "Farhan, bagunlah! Mau sampai kapan kau terus berbaring." Ucapnya pelan.
Pakaian yang basah dan hembusan air laut membuat tubuh Farhan menggigil, tanpa sadar dia mendekati wanita di sebelahnya hanya untuk mencari kehangatan. Tapi, tindakannya malah membuat Ayu sangat terkejut. "Kau sudah sadar?" tuturnya seraya menampar kedua pipi pria tampan itu dengan sangat pelan.
"Hah, ternyata dia belum sadarkan diri." Ayu ingin memindahkan Farhan yang terus saja menempel padanya. Sontak terkejut saat dia tak sengaja terjatuh di atas dada bidang, bahkan dia bisa merasakan suara detak jantung dan hembusan nafas dari pria itu.
Ayu ingin beranjak dari dada bidang milik Farhan, tidak ingin jika dia hanya semakin membuat pria tampan itu bertambah sakit. Namun, dua tangan di punggungnya tak bisa membuatnya melakukan apapun.
"Apa dia berpikir jika aku ini bantal?" gumam Ayu yang melepaskan pelukan Farhan, tapi dekapan itu malah semakin erat. Karena tidak mempunyai pilihan, dia terpaksa berada di atas tubuh calon tunangannya seraya menatap wajah pucat.
"Dia akan sesak nafas jika aku terus menindih tubuhnya, apa aku mencoba untuk membangunkannya?" Batin Ayu yang mencolek pipi Farhan menggunakan jari telunjuk. "Bangunlah! Bisakah kau melepaskan dekapannya? Posisi seperti ini tidaklah nyaman bagiku dan juga dirimu." Ayu menyentuh wajah yang hampir sempurna untuk kriteria para wanita. Tak ada respon apapun, Ayu sedikit gelisah memikirkan kondisi calon tunangannya. Segera memeriksa suhu di kening pria itu dan sangatlah panas. "Ternyata demamnya kembali naik," ucapnya yang panik.
Farhan tidak tahu apapun saat ini, tubuh yang lemah dan suhu badan tinggi. Gambaran gadis kecil penyelamatnya dulu muncul di alam bawah sadarnya, terngiang di pikiran dan juga hatinya. Membayangkan saat mereka lari dari kejaran para penculik, dan menjadi sangat gelisah. "Tidak…jangan tinggalkan aku!" racau nya seraya membuka kedua mata dengan perlahan.
Farhan melihat Ayu yang sedang menatapnya penuh keheranan, tersenyum saat melihat seorang wanita cantik. Kondisinya yang masih demam, ingatannya menjadi terganggu, berpikir jika wanita di hadapannya adalah gadis di alam bawah sadar. "Tolong…jangan pergi! Aku tidak ingin sendiri, jangan pergi kemanapun." Lirih nya yang sangat ketakutan.
Keringat yang bercucuran deras di dahi pria itu, membuat Ayu sangat khawatir dan baru menyadari jika Farhan belum sepenuhnya sadar. "Tenanglah! Kau tidak perlu mencemaskannya, aku ada di sini."
Farhan duduk dan memeluk tubuh mungil di sampingnya. "Jangan tinggalkan aku!" lirihnya yang semakin memeluk dengan erat. Ayu terdiam, membalas pelukan itu untuk memberikan rasa kenyamanan dan juga ketenangan.
Beberapa saat kemudian, Farhan melepaskan pelukannya dan melihat wajah cantik yang di suguhkan di hadapannya. "Apa sekarang ingatanmu sudah sepenuhnya sadar?" celetuk Ayu tanpa ekspresi.
"Memang apa yang terjadi?" tanya Farhan yang mengerutkan kening.
"Jadi kau melupakannya? Akan aku jelaskan, dengarkan dengan baik."
"Hem." Farhan mengangguk menyetujui perkataan dari wanita itu.
__ADS_1
"Pesawat hilang kendali dan kita terjun payung dari ketinggian ribuan meter, mendarat di lautan dan kau melawan seekor hiu. Akibat lukamu yang terbuka, di tambah lagi semua tenagamu habis di saat itu. Aku membawamu hingga ke pulau ini, sekarang apa kau sudah mengingatnya?" jelas Ayu.
"Aku sudah mengingatnya."
"Itu bagus, aku pikir kau amnesia."
"Bukan aku, tapi kau sendirilah yang amnesia." Sahut Farhan.
"Kau ini!"
Farhan memegang kedua tangan lentik, menatap dua netra mata yang sangat dalam. Terharu akan tindakan Ayu yang keukeuh membawanya hingga ke daratan. "Terima kasih, kau sudah menolongku."
"Pertolonganku tidak ada apa-apanya, karena kaulah yang paling banyak berkorban dalam melindungiku."
"Katakan saja jika kau takut kehilanganku, dan menjadi janda sebelum kita menikah." Goda Farhan yang tersenyum.
"Selera humor mu sangat jelek, menjadi janda sebelum menikah? Apa kau bercanda? Kita tidak pernah melakukan hal itu dan aku masih perawan."
"Dasar pria mesum, apa otakmu juga ikutan konslet saat berada di laut?" Ayu mengerucutkan bibirnya semakin terlihat menggemaskan.
Farhan terkekeh, mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir menggemaskan itu. Untung saja Ayu segera menghindar dan melontarkan tatapan melotot, kembali memeriksa suhu di tubuh pria itu. "Wah, sepertinya kau tidak demam lagi."
"Aku akan baik-baik saja, jika kau selalu berada disampingku."
Ayu tersenyum dan sangat lega, kondisi Farhan yang perlahan mulai membaik membuatnya sangat senang.
Desiran ombak di pantai dan tiupan angin laut membuat Ayu menyusuri pandangannya, apalagi matahari sebentar lagi akan tenggelam. "Sebaiknya aku berkeliling sebentar di pulau inj, siap tahu menemukan barang-barang yang bisa digunakan," batinnya.
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan?"
"Sebaiknya kita pindah."
"Kemana?"
"Di bawah pohon itu." Ayu menunjuk pohon yang sekiranya aman untuk bermalam.
"Baiklah, aku setuju."
Ayu mulai memapah tubuh Farhan, dia sangat khawatir dengan keselamatan pria itu sebelum berkeliling menyusuri hutan yang mulai gelap. "Kau baringlah di sini, aku akan pergi sebentar saja!" ucapnya saat mereka sampai di pohon yang dituju.
Farhan mencekal tangan Ayu, menatapnya dengan penuh penasaran. "Kau mau kemana?"
"Aku ingin berkeliling ke dalam hutan, siapa tahu ada barang-barang yang memudahkan kita, atau makanan dan juga air bersih."
"Kita tidak tahu seberapa bahayanya tempat ini, kau tidak boleh pergi!"
"Kekuasaanmu tidak akan berpengaruh di sini, aku akan kembali."
"Baiklah," pasrah Farhan yang mengalah.
Ayu tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu, mulai menjelajahi hutan dengan tergesa-gesa sebelum malam membuatnya kesulitan melihat dalam kegelapan. Cukup lama dia berjalan, terbayarkan saat melihat sebuah sumur tua yang tertutupi oleh tanaman rambat dan dedaunan kering. "Itu sumur!" serunya yang berlari menuju ke sumur tua.
Dia sangat bahagia, seakan menemukan harta karun. Menyingkirkan tanaman rambat dan mulai menimba air dengan penuh hati-hati, mengisi botol besar yang sedari tadi dia bawa. Setelah merasa cukup, Ayu mencoba untuk berjalan lebih jauh dan melihat buah yang tumbuh liar.
Karena hari sudah gelap, dia memutuskan untuk kembali karena sangat mengkhawatirkan kondisi Farhan yang belum pulih. Senang dengan sebotol air juga buah-buahan liar yang dibawakan sebagai pengganjal perut. "Setidaknya kami tidak kelaparan di sini!" monolognya sambil berjalan menuju pohon.
__ADS_1
Dia sangat panik dan khawatir karena tidak menemukan Farhan, tak sengaja menjatuhkan makanan yang dibawanya, segera mencari keberadaan pria itu yang tak terlihat.