
Leon baru saja bercengkrama dengan kedua keponakan nya, terdengar suara deheman tak jauh dari mereka. Dia segera mendongakkan kepala dengan raut wajah datar, melihat sang adik ipar yang begitu malang. "Kau kenapa?" tanyanya yang melirik penampilan Farhan dari atas hingga bawah, wajah penuh coretan dan juga tempelan stiker di bagian tangan dan juga kaki.
"Kau masih bertanya aku kenapa? Kau tidak lihat apa yang terjadi padaku, ini semua ilah dua tuyul itu. Serahkan mereka padaku!" ucap Farhan yang melirik kedua putranya sedang bersembunyi di punggung Leon, dia sangat geram dengan kakak iparnya yang selalu membela Abi dan juga Adit, membuat kedua putranya menjadi jahil.
"Kau mau apa?" tanya Leon yang berusaha untuk melindungi keponakannya, dia tidak ingin jika Abi dan Adit terkena amukan dari Farhan.
"Jangan melindunginya kali ini, karena kasih sayang dan kau selalu memanjakan mereka. Lihatlah, apa yang mereka lakukan kepadaku!"
"Jangan salahkan Paman Leon, Papa yang bersalah. Apa Papa lupa, mengenai janji sebelum akhir pekan tiba?" Abi membuka suara dan juga kekesalannya.
Farhan tanpa berpikir apa yang dimaksud oleh putranya, hingga kedua kelopak mata membulat saat melihat baru menyadari jika mereka akan berjalan-jalan menikmati waktu bersama. "Astaga…kenapa aku bisa melupakan ini?" gumamnya sambil menepuk kening.
"Heh, sedari dulu kau tidak peka. Bersihkan dirimu, dan aku yang akan membawa mereka pergi."
"Eh, apa kau tidak ke kantor?"
"Apa? Aku sengaja mengambil cuti hari ini, khusus baby boy A dan Flo."
Farhan tersenyum lega, setidaknya kehadiran Leon mengurangi bebannya. Semenjak menikah, dia menjadi tanggung jawab dua perusahaan dan juga desainer yang dikelola oleh istrinya, memegang properti Ayu yang bahkan sangat menyita waktunya.
"Apa artinya kami boleh ikut paman Leon?" sela Adit dengan wajah polosnya. "Papa tidak marah? Karena kami tidak bisa disalahkan sepenuhnya."
Farhan menghela nafas panjang, menganggukkan kepala saat melepaskan seluruh rasa kesal di pagi hari. "Kalian boleh pergi, dengar perkataan paman Leon dan menyulitkannya. Peringatan keras untuk kalian berdua, ingat!" ucapnya dengan tegas.
"Baik, Pa." Sahut twins A dengan serempak.
"Dimana tuan putriku?" tanya Leon yang menatap Farhan.
__ADS_1
"Cari saja di kamarnya," Farhan segera berlalu pergi meninggalkan tempat itu, menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Ayu melihat suaminya yang sedang berjalan gontai, membuatnya keheranan. "Sayang, kau kenapa?"
Farhan duduk di sisi ranjang dengan wajah yang ditekuk. "Apa aku Papa yang buruk? Mereka lebih memilih Leon di bandingkan aku."
Ayu segera berpindah tempat duduk di sebelah suaminya, mengusap lembut bahu pria tampan di sebelahnya. "Aku tidak bisa menyalakan siapapun kali ini, mereka membutuhkanmu dan juga kasih sayangmu. Itulah sebabnya mereka bersikap jahil dan juga nakal, mereka menginginkan kau meluangkan waktu."
"Bagaimana itu mungkin? Semua orang mengandalkanku untuk mengurus perusahaan dan juga bisnis, bahkan asisten Heri juga tidak bisa mengurangi bebanku."
"Bersabarlah, asisten Heri dan juga Dona baru saja menikah. Tidak mungkin kita merusak honeymoon mereka, bukankah selama ini dia selalu setia dan membantumu?" terang Ayu. "Bagaimana jika aku membantumu, dan menolongmu mengelola bisnis. Lagipula aku bosan hanya di rumah, dan membutuhkan sesuatu yang baru."
"Tidak, aku tidak akan mengizinkan mu. Mengurus tiga anak sekaligus sangatlah merepotkan, dan aku tidak ingin kau kelelahan dan jatuh sakit. Aku akan berusaha untuk mencari orang yang pas dalam mengelola semua properti. Dengan begitu aku mempunyai sedikit waktu untuk ketiga anak kembar kita, semoga saja mereka menjadi dekat denganku dan bukan kepada Leon."
"Sudahlah sebaiknya kau bersiap untuk pergi ke kantor, aku sudah selesai menyiapkan sarapan dan mengenai makan siang nanti aku akan mengantarkannya."
Ayu tak menjawab perkataan dari suaminya, memilih untuk melemparkan senyuman indah dan juga menawan di pagi hari. "Bersihkan dirimu!" kitanya yang segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Baru saja Ayu melangkah, tiba-tiba tangannya ditahan dan juga ditarik oleh sang suami hingga terjatuh dalam pelukan. "Farhan, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku, atau salah satu anak kita melihat ini."
"Mereka tidak akan datang kesini, aku menjaminnya. Aku sangat merindukanmu, dan menginginkanmu sekarang," bisiknya sembari mencium bibir istrinya dengan sangat lembut, mencium aroma tubuh yang membuatnya kecanduan.
"Tunggu hingga malam hari."
"Tidak, aku sangat menginginkannya sekarang. Hanya kau dan aku, aku sangat merindukan setiap inci tubuhmu." Bisik Farhan yang menurunkan ciumannya di leher jenjang.
"Papa…Mama!" panggil seseorang di depan pintu yang dia buka, hal itu membuat Ayu dan Farhan kelimpungan dan segera memulihkan kondisi gugupnya.
__ADS_1
Farhan menatap sumber suara yang tak lain adalah putrinya yang bernama Flo, dia mengumpati dirinya sendiri karena selalu saja gairahnya terhalang. "Astaga…begitu banyak mata-mata, gumamnya di dalam hati.
"Flo sudah bangun?" sahut Ayu dengan cepat, seraya menghampiri dan menggendong putri kecilnya.
Dengan cepat Flo menganggukkan kepala, membuat Ayu gemas dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah anak bungsunya. "Flo lapar?"
"Iya, Flo sangat lapar dan ingin Mama menyuapi Flo." Ujar gadis kecil itu membuat Farhan meringis dengan nasibnya, selalu saja di halangi oleh anak-anak disaat ingin bermesraan.
"Sabar Farhan, walau bagaimanapun juga mereka tetaplah anakmu." Batinnya sembari mengelus dada., melihat kepergian Ayu yang sudah menghilang di balik pintu kamar.
Kini semua orang telah berkumpul di meja makan, mereka sarapan bersama untuk meluangkan waktu kebersamaan sesibuk apapun rutinitas yang dijalani.
"Kalian bertiga tampak rapi, mau kemana?" tanya Hendrawan yang menatap cicitnya secara bergantian.
"Kami ingin ke taman hiburan bersama paman Leon," sahut Abi sangat antusias.
"Eh, apa kau tidak ke kantor?" tanya Tirta yang minum segelas air mineral, dia menatap cucunya yang lebih dekat dengan ketiga cicitnya.
"Aku ambil cuti, lagipula aku bos disana. Membawa ketiga keponakanku ke taman hiburan sambil makan es krim, bukankah itu menyenangkan?" ungkap Leon yang bersemangat.
"Ya, kami akan ikut paman Leon. Semangkuk besar es krim rasa coklat dengan toping coklat," Adit sangat menggebu-gebu, tak sabar untuk memakan es krim.
"Kita bahkan bisa memborongnya," sombong Leon yang bertos ria dengan ketiga keponakannya.
"Dasar pilih kasih," Farhan kesal melihat raut wajah dari kakak iparnya, entah mengapa dia sangat dongkol hanya dengan melihat tingkat kesombongan dari pemilik perusahaan Sky Group.
Ayu sangat bahagia dengan perjodohan yang diberikan oleh kakeknya, berharap jika Leon juga menemukan pasangan dan membuat keluarga kecilnya yang bahagia. "Inilah hasildari kesabaranku
__ADS_1