Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
S2 ~ Cemburu


__ADS_3

Di dalam butik mewah dengan perancang terkenal milik Ayu dipajang dan disusun dengan sangat rapi, sambutan dan keramah tamahan dari karyawan di sana patut diacungi jempol. 


Aluna memilih butik itu karena dia sudah menjadi langganan tetap, bahkan staf yang menjadi manajer menyambut kedatangannya dengan sangat baik. Mars menyadari hal itu tapi tak ingin membahasnya, lebih fokus pada koleksi gaun dan beberapa aksesoris pendukung.


"Ada beberapa koleksi terbaru yang hanya di desain khusus, hanya ada satu dan tidak akan ada yang bisa menirunya."


"Apa aku boleh melihat koleksi untuk limited edition?" tutur Mars yang begitu dingin, dia menginginkan hal yang terbaik untuk kekasih pura-puranya.


"Eh, itu sangat berlebihan. Gaunnya hanya digunakan sekali saja, dan itu namanya pemborosan. Lagipula apapun yang aku pakai selalu cocok denganku," ucap Aluna yang tidak ingin berhutang budi kepada orang lain.


"Perlihatkan saja koleksi terbaru mu!" titah Mars yang segera di anggukkan kepala oleh manajer butik.


"Baik, Tuan." Sang manajer membungkukkan tubuhnya sebagai penghormatan dan menjunjung pepatah mengenai pembeli adalah raja yang harus diperlakukan dengan sangat baik. Dia menggunakan jarinya memberi bahasa isyarat kepada karyawan untuk mengambilkan koleksi terbaru dari perancang terkenal. 


Aluna takjub dengan hasil rancangan dari wanita yang selalu dianggap sebagai guru dan mengaguminya. "Butuh waktu bagiku untuk membuat rancangan sehebat Ayu, sangat beruntung Farhan menikah dengannya." Gumamnya yang membulatkan kedua mata saat melihat empat koleksi terbaru yang hanya ada satu saja.


"Coba satu-satu gaun ini dan aku ingin melihatnya," tutur Mars dengan nada perintah.


"Ada apa dengannya? Seolah-olah aku ini kekasihnya, ck sangat menyebalkan." Umpat Aluna dengan kesal, sengaja menghentakkan kedua kakinya kalau dirinya sedang marah. 


Mars menyunggingkan senyuman khas yang tidak bisa dibaca oleh orang lain, memainkan ponsel sembari menunggu kekasih pura-pura nya keluar dari kamar ganti.


"Cukup sekali saja aku berurusan dengan pria itu, bahkan sikapnya sama saja dengan Leon. Astaga…apa yang aku pikirkan? Selalu saja nama pria brengsek itu terucap di lidahku," Aluna mengenakan gaun berwarna merah maroon dan masih saja dirinya terlihat seksi.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Aluna yang minta pendapat, sontak Mars menoleh dan sangat terpesona dengan gaun berwarna maroon. 


"Kamu sangat cantik, bisa berputar?" pinta Mars yang ingin melihat gaun itu pas di tubuh Aluna atau masih ada kekurangannya. 


"Apa itu diperlukan?" protes Aluna yang mendelik kesal.

__ADS_1


"Ya, itu sangat di perlukan."


Terdengar suara ponsel yang berdering, Aluna terselamatkan dari pria yang mengatur dirinya. Melihat nama yang tertera di layar, seorang pria yang menjadi mantan bosnya. "Aku permisi dulu!" pamitnya yang menjauh.


"Halo, ada apa kau menelpon ku?" 


"Ehem."


"Bicaralah! Mengapa kau hanya berdehem saja?" 


"Ada yang ingin aku bicarakan mengenai kesepakatan."


"Bukankah kau sudah mengakhirinya? Kau pria licik dan juga kejam, memasukkanku dalam daftar hitam."


"Aku ingin kau meminta maaf padaku, aku menunggumu di Cafe yang baru saja aku kirimkan lokasinya."


"Aku sedang berkencan, jangan ganggu aku." 


"Dia mengabaikan aku hanya karena pria cicak itu?" Leon tak habis pikir, jika dirinya di acuhkan, ada perasaan yang mengganjal di hati. Sedari tadi dia menguntit kemana Aluna pergi, dan betapa terkejutnya dia saat pria yang bersama dengan mantan sekretarisnya adalah musuh bebuyutan semasa sekolah. 


"Apa yang harus aku lakukan?" tiba-tiba terbesit di pikirannya, mengalir bagai air mendapatkan ide cemerlang. Mata sangat sakit melihat kedekatan Mars dengan Aluna, terus saja memata-matai keduanya lewat teropong. 


"Dasar pria aneh, setelah aku hilang dia baru menyadarinya. Apa artinya aku yang selalu berjuang selama beberapa tahun? Ck, sangat menyebalkan." Aluna kembali menghampiri Mars yang terlihat tampan. "Dia sangat cocok untuk menjadi pelarianku," batinnya tersenyum penuh makna. 


"Jadi bagaimana? Apa kau menyukai gaun itu atau ingin mencoba yang lain?" tawar Mars yang tidak mempermasalahkan mengenai harga.


"Ah tidak, ini saja." Aluna yang dikenal dengan tidak ingin repot secara cepat menyatakan pendapatnya. "Gaun ini sangat cocok dan juga nyaman."


"Baiklah, pakai itu nanti malam." 

__ADS_1


"Hem." Aluna menganggukkan kepala, dia sendirilah yang membuatnya terjerat dengan Mars. 


Sementara Leon hanya bisa memperhatikan dua orang yang masuk ke dalam mobil meninggalkan butik, dia melempar teropong yang ada di tangannya sembarang arah. Merasa kesal dan marah saat Mars melingkarkan tangan di pinggang Aluna. 


"Wah, ada yang kesal dan merasa cemburu." Ucap seseorang dari arah belakang. Leon berbalik badan dan melihat Farhan dan Ayu yang juga berada di cafe yang sama, bukan tanpa alasan mereka datang menemui pria yang tengah cemburu.


"Siapa yang cemburu," elak Leon yang memulihkan raut wajahnya seperti biasa. 


"Heh, sudah nasibmu menjomblo di sisa umurmu. Kakek Tirta telah menyiapkan perjodohan mu dengan mantan sekretaris mu itu, tapi apa? Kau menolak mentah-mentah dan juga menyakiti perasaannya." Tutur Farhan yang memberi wejangan pada kakak ipar, padahal dulunya dia juga tidak memahami perasaan wanita.


"Jangan asal menebak, aku kesal karena masalah kantor."


"Oh ya, lalu untuk apa teropong ini? Apa Kakak sudah menjadi seorang penguntit sekarang?" Ayu memungut teropong itu dan menatap Leon penuh selidik.


"Bawahanku mengatakan jika Aluna sedang dekat dengan Mars, bukankah pria itu musuhmu?" Farhan selalu mengawasi orang-orang di sekitarnya, tak ingin ada yang terluka dan juga mendapatkan informasi.


"Ah sudahlah, mengapa kalian membahas wanita itu? Ada apa datang kesini? Jangan katakan jika kalian mengikutiku," sekarang Leon balik menatap dua tersangka yang ikut terlibat bagian dari rencana kakek Tirta. Dia sudah mencari tahu mengenai rencana yang telah disusun oleh kakeknya, tapi tak pernah berhasil.


"Kakek Tirta dan kakek Hendrawan tidak bisa hadir dalam perayaan tahunan nanti malam, begitupun dengan kami." 


"Memangnya kalian mau kemana?" Leon menyerngitkan dahi, tidak biasanya Farhan dan Ayu memutuskan untuk tidak pergi dalam acara tahunan yang dirayakan oleh beberapa perusahaan ternama.


"Tentu saja mencicil adik si kembar," sahut Farhan dengan raut wajah tanpa dosa, sementara Ayu menutupi wajahnya di sertai cengengesan, tapi di hatinya merutuki tingkah sang suami yang begitu bodoh juga ceroboh.


"Apa tiga anak tidak cukup?" cetus Leon yang mengerutkan dahi.


"Memangnya kenapa? Aku mimpi mempunyai lima orang anak, dan akan mewujudkannya." Sahut Farhan tanpa malu. 


"Ck, tiga saja kau tidak bisa menangani mereka. Sekarang kau ingin menambah dua lagi," tutur Leon yang sebenarnya jengkel, rasa cemburu yang menyelimuti hati ditambah dengan perkataan adik ipar yang tak tahu malu.

__ADS_1


"Itu urusanku dan bukan urusanmu, kami kesini ingin kau datang ke acara tahunan nanti malam." Ucap Farhan yang tidak ingin menambah perdebatan lagi.


Leon hanya bisa menghela nafas dan memperkuat dinding kesabaran, menghadapi sikap Farhan yang sangat berbeda antara interaksi dengan keluarga dan juga kantor, sangat bertolak belakang.


__ADS_2