Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 176 ~ Kira palsu


__ADS_3

Kira tak tinggal diam, selalu mencari kesalahan dari Ayu, menggunakan kesempatan sebaik mungkin saat Farhan masih dirundung rasa amarah di hatinya. "Kenapa kau begitu marah padanya? sebaiknya kau melupakan amarah itu, apa yang kau harapkan darinya?"


"Bisakah kau diam? Selalu saja menambah suasana semakin panas."


"Aku hanya ingin memperingati mu! Apa untungnya dengan melakukan apa yang kau tuduhkan padaku?" sahut kira yang mengangkat kedua bahunya dengan acuh tak acuh.


Farhan kembali terdiam dan berpikir mengenai mantan calon tunangannya.


Kira menggunakan jurus andalannya, yaitu berpura-pura sedih untuk menarik perhatian dan rasa simpati dari Farhan. Melakukan akting dengan sangat baik tanpa mengikuti kelas akting, bisa memenangkan beberapa penghargaan yang membuat namanya melambung tinggi. "Semoga saja Farhan bersimpati denganku, ini cukup mudah! Hanya mengeluarkan air mata palsu dan dia dengan mudahnya tertipu olehku." Batinnya yang tersenyum samar. 


"Apa yang kau dapatkan dengan ini? Sudah cukup kau menderita olehnya, bukankah aku sudah kembali?"


Farhan tak menggubris perkataan dari wanita yang mengaku sebagai Kira, karena hati dan pikirannya mencemaskan keadaan dari sekretarisnya.  


Kita kembali kesal, namun dia sangatlah ahli menyembunyikan ekspresi sebenarnya. Mendekati Farhan dan menatap wajah tampan yang menyejukkan mata. "Aku sangat memahaminya, namun itu hanyalah ilusi mu saja. Kita diciptakan untuk bersama, kau dan aku tercipta saling melengkapi. Mari kita pupuk rasa cinta agar bersemi, bermekaran indah di taman hati." Ucapnya dengan dramatis.


Farhan segera menepis tangan Kira yang selalu saja menempel bagai permen karet. "Bisakah kau tutup mulutmu? Sebaiknya kau keluar dari sini, hanya membuat mood ku semakin berantakan!" tukasnya dengan kasar.


Kira tetap bersikukuh untuk bergelayutan manja dengan pria tampan itu, namun masih tak meninggalkan kesan elegan dan bermain cantik. "Sudah cukup aku meninggalkanmu, dan sekarang saatnya aku akan selalu berada disampingmu, Farhan." Tegasnya dengan penuh keyakinan, tingkat kepercayaan diri yang semakin tinggi.


Farhan mendelik kesal, merasa dirinya sekarang begitu terusik dengan keberadaan Kira. Entah mengapa, dia tak menyukai keberadaan wanita itu yang hanya menjauhkannya dengan cinta sebenarnya. "Sudah cukup! Tinggalkan aku sendiri!"


"Sial, bukannya tertarik dan bersimpati, dia malah mengusirku." Gerutu Kira di dalam hati. Senyuman yang memudar di wajahnya kembali bersinar, saat menemukan jalan lainnya. 


Dengan cepat Kira berjongkok untuk membersihkan serpihan gelas yang pecah. 


"Apa yang kau lakukan?" tanya Farhan yang melirik wanita itu dengan sekilas.


"Aku tidak ingin ada orang lain yang terluka akibat serpihan kaca ini, dan hendak membersihkannya." 


"Itu tidak perlu, sekarang kau pergilah!" usir Farhan yang sangat mencemaskan Ayu.


Kira kembali menelan pil kekecewaan, berupaya lebih keras lagi dengan rela melukai jarinya sendiri untuk menarik perhatian. "Auh…sakit!" ringisnya yang memegang jari telunjuk yang mengeluarkan beberapa tetes darah. 


Farhan menoleh sekilas ke sumber suara, tidak tertarik dengan luka yang dialami oleh Kira, di saat pikiran dan hati tidak berada di tempat itu.


"Itu kesalahanmu sendiri, aku sudah menyuruhmu pergi, tapi kau bersikeras."


Kira menatap Farhan dengan berlinangan air mata, rasa sakit di jari telunjuk. "Sepertinya kau sudah melupakan aku!" lirih pelannya seraya tertunduk mengerlingkan pelupuk mata yang berisi cairan bening.

__ADS_1


"Ck, kau ini! Itu karena ulahmu, dan sekarang kau tanggunglah sendiri." 


Ucapan Farhan berhasil memukul telak perkataan Kira. "Jika kau menginginkannya, baiklah! Aku akan pergi!" pasrahnya yang segera berlalu pergi dari tempat itu, mendapatkan penolakan membuatnya kehabisan akal.


Farhan bisa bernafas lega, melihat punggung wanita yang mulai menghilang dari balik pintu. Segera dia mengeluarkan ponsel dari saku dan menghubungi Ayu, sangat antusias. Tapi, hal itu terasa fatamorgana. "Kemana Ayu pergi? Kenapa ponselnya shutdown?" begitu banyak pertanyaan yang memenuhi isi pikiran di otaknya, kembali menghubungi sekretarisnya tetapi nihil. 


****


Kira pergi dengan kekesalan di hati, ingin melampiaskan kemarahannya. Memutuskan untuk mengalah dan kembali menyusun strategi baru, dia tak menyangka akan diperlakukan seperti tadi oleh Farhan. "Apa aktingku kurang memuaskan? Kenapa dia selalu menolakku?" gumamnya yang berdecih.


Suara dering ponsel membuat langkahnya terhenti, segera mengeluarkan ponselnya dan  melihat siapa yang menghubunginya, dia kembali geram seraya memutuskan ponsel itu. "Kenapa dia menghubungiku di saat yang tidak tepat? Sangat menyebalkan!" umpat Kira yang kembali memutuskan telepon.


Kembali melanjutkan langkah kakinya, namun suara yang memekakkan telinga membuatnya merasa tak nyaman. Menghentikan langkah dan segera melihat nomor ponsel yang selalu menghubungi.


"Halo."


"Sial, kenapa kau baru mengangkat telepon dariku?" 


"Memangnya kenapa? Begitu banyak yang harus aku selesaikan!"


"Apa kau yakin?"


"Maksudku adalah, apa kau yakin ingin memutuskan sambungan telepon?"


"Hah, cepat katakan ada apa?"


"Aku menolak permintaanmu untuk bercuti, lanjutkan aktingmu dengan menjadi Kira!"


"Ayolah bos, kenapa kau begitu tega dengan ku?" 


"Tidak ada negosiasi, karena sebentar lagi rencana ini akan berhasil."


"Ini tidak adil untukku!"


"Mau tak mau, kau harus patuh dengan perintahku!"


Kira segera memutuskan sambungan telepon, dia semakin kesal dengan bos yang memintanya untuk menjalankan rencana.


Farhan terus menghubungi Ayu, dia ingin sekali menyampaikan surat pengunduran diri tempo lalu ditolak, dan meminta sang sekretaris itu untuk kembali bekerja.

__ADS_1


****


Sebelum naik pesawat, Ayu dan manajer menerima panggilan masuk. Suara dering ponsel milik Ayu berbunyi, segera melihat siapa yang menghubunginya dan ternyata itu adalah Gabriel. Tanpa sedikit ragu, dia segera mengangkat telepon. 


"Ada apa?"


"aku menelponmu mengenai berita yang beredar, begitu banyak komentar pedas yang menyindir."


"Aku tidak peduli akan hal itu!"


"Tapi ini sangat penting dan tidak bisa diabaikan kau bisa mengendalikannya, dengan cara membongkar identitas mu di hadapan semua orang."


"Aku tetap tidak peduli dan tidak akan membongkar identitas asliku biarkan mereka beropini."


"Mengapa kau sangat keras kepala, Ayu?"


"Karena aku tidak ingin mereka menjadi seorang penjilat."


"Tapi kalau tidak bisa mengabaikannya, tolong pertimbangkanlah sekali lagi! Aku tak ingin jika ada orang lain yang masih merendahkanmu."


"Ada alasan dibalik setiap tindakan, dan aku tidak ingin gegabah."


"Aku hargai setiap keputusanmu."


"Hem." 


Setelah telepon selesai, Ayu men shutdown ponselnya agar privasinya tidak terganggu oleh orang lain. 


Di pesawat, sang manajer dapat melihat bagaimana perasaan dan Ayu. Dia tersenyum dan menyadari jika majikannya sedang memikirkan Farhan. "Ya tuhan…tolong selesaikan permasalahan di antara mereka, tidak ada lagi rintangan yang akan membuat mereka terluka." Batinnya dengan tulus.


Sementara Ayu, duduk melamun tanpa mengatakan satu kata pun, sembari mengingat akan hubungannya Farhan dengan Kira. 


"Apa yang kau pikirkan? Farhan?"


"Hem, itu benar."


Sang manager tersenyum hangat mengetahui kebimbangan yang menyelimuti hati bosnya. "Ini hanya kebetulan saja!" 


    

__ADS_1


__ADS_2