Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
S2 ~ Memutuskan untuk menikah


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Aluna dengan telaten merawat luka yang ada di perut Leon dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih. Hal itulah yang semakin membuat mereka lebih akrab dan cinta yang bermekaran. 


"Hentikan ini, aku sudah kenyang. Tapi kau seakan tak menggubris perkataanku," keluh Leon yang sangat jengkel jika di paksa makan bubur lembek yang membuatnya sangat geli. dan juga jijik.


"Tinggal sedikit lagi, hanya tiga sendok. Apa kau melupakan perkataan dokter? Anggap saja bubur ini menjadi makanan kesukaanmu." Tutur Aluna yang kembali menyuapi mulut Leon. 


"Hanya satu sendok lagi," Leon membuka mulutnya dengan lebar. 


"Bagus, masih ada dua sendok lagi."


"Tidak, aku tidak ingin memakan bubur encer itu." Tolak Leon dengan keras.


Aluna yang tak kehabisan akal tersenyum tipis dan mendekatkan wajahnya, dengan sengaja dia mencium pria yang sangat manja itu. Inisiatif itu membuat Leon bersemangat dan menyambutnya dengan senang hati, mereka mencurahkan seluruh perasaan tanpa gangguan dan juga rintangan. 


Aluna dengan sengaja menghentikan ciuman itu dan kembali menyuapi bubur ke dalam mulut Leon. "Dua sendok berarti dua ciuman, kau bisa mendapatkannya setelah menghabiskan bubur ini."


"Hanya itu?" Leon yang tersenyum dengan sombong segera meraih mangkuk dan menyuapi mulutnya sendiri. Tantangan yang diberikan oleh kekasihnya sangatlah mudah dan menghabiskan bubur dalam hitungan detik. Dia sengaja memperlihatkan wadah bekas bubur yang ludes dimakan, sekarang dia meminta jatahnya. 


Terjadilah ciuman panas di pagi hari, tidak menghiraukan orang lain dan seakan dunia milik mereka berdua. Cinta sejati yang menyatu dengan hasrat sangatlah membahagiakan bagi keduanya. Mereka sangat bersyukur menemukan cinta di waktu yang tepat. Aluna melepaskan ciuman itu dan membuka matanya dengan perlahan, menatap pria tampan duduk menyandarkan punggung dengan ganjalan bantal.


"Aku sangat mencintaimu, Aluna. Tidak akan aku biarkan pria lain merebutmu dari ku, karena kau hanyalah milikku. Aku tahu jika momen ini tidaklah pas, tapi aku akan mengulangnya di saat luka di perutku benar-benar sembuh. Aku sangat mencintaimu dan ingin kau menjadi istriku. Will you marry me?" Ucap Leon dengan tulus, mengeluarkan sebuah cincin putih yang sebelumnya telah dipersiapkan di jauh-jauh hari, memperlihatkan di hadapan sang kekasih.


Spontan Aluna menutup mulutnya menggunakan kedua tangan, dia sangat terkejut dengan kejutan yang diberikan oleh kekasihnya, dia tidak menduga jika mereka akan menikah dalam waktu yang dekat. Tidak ada yang bisa melukiskan kebahagiaan nya dan bahkan bibir terasa kelu untuk mengatakan sepatah kata saja. Dia menganggukkan kepala dengan cepat, hingga keduanya terharu dalam pembuktian cinta yang berakhir dalam altar pernikahan.


Leon tersenyum dan memeluk tubuh sang kekasih dengan perlahan, mengingat luka di perutnya belum sembuh. "Terima kasih kau sudah menerima lamaranku, aku sangat mencintaimu dan selamanya akan tetap seperti itu." Ucapnya yang termakan suasana, ingin mencium bibir merah merekah di hadapannya, tapi terhalang saat dua bocah menatap mereka dengan sangat penasaran. 


"Apa yang Paman lakukan?" tanya Abi.


"Apa luka di perut Paman sudah sembuh?" sambung Adit.


"Astaga…darimana mereka datang? Sudah persis seperti setan." Umpat kesal Leon yang mengelus dadanya, melihat dua anak laki-laki yang menatapnya tanpa raut wajah berdosam Hal itulah yang semakin membuatnya jengkel, karena kedua anak kembar itu sangat mirip dengan perilaku Farhan. "Huh, tentu saja mereka mirip dia kan anaknya pria itu." batinnya yang berusaha untuk mempertebal kesabaran. 


"Ada apa Paman?" tanya Abi yang memperhatikan raut wajah Leon yang berubah.

__ADS_1


Leon menghirup oksigen dengan dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, dia mengatur nafas agar bisa mengontrol emosi. "Mengapa kalian masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, itu suatu hal yang tidak patut ditiru, apa ini yang diajarkan oleh Papa kalian?"


"Maaf, karena pintunya memang sudah terbuka. Jadi kami pikir tidak perlu mengetuk pintu," ucap Adit yang menyadari kesalahan.


"Baiklah, dimana kedua orang tua kalian? Apa kalian datang sendiri?" tanya Leon dengan. tatapan penuh selidik, sedangkan Aluna sangat malu akibat kecerobohannya yang lupa menutup pintu. 


"Kami disini, dan selamat atas hubungan kalian yang berjalan maju dengan sangat cepat." Sela seseorang yang tak lain adalah Farhan. 


"Akhirnya kau muncul juga, setidaknya kau tidak membiarkan mereka masuk. Itu akan merusaknya saat melihat kedekatan kami," Leon memberikan wejangan untuk sang adik ipar, dia tidak ingin jika hal itu mempengaruhi di kehidupan mendatang.


"Hah, mau bagaimana lagi? Mereka berlari dengan kecepatan kuda, bahkan aku tidak bisa mengejar mereka."


"Hem, alasan." 


"Abi dan Adit, kalian main di taman rumah sakit ya. Papa dan Mama ingin membicarakan sesuatu pada paman leon!" pinta Ayu yang berkata lemah lembut. 


"Baik, Ma." Sahut keduanya dengan kompak, twins A memutuskan untuk berlalu pergi meninggalkan ruangan itu mencari hiburan di taman.


"Iya, setelah keluar dari rumah sakit. Aku akan mengunjungi kediaman bibi Ruo." Sahut Leon dengan penuh percaya diri. 


"Apa kau yakin ingin menikahi seorang wanita setelah keluar dari rumah sakit ini?" tutur Farhan membuat Leon kebingungan. 


"Apa maksudmu?" tanya Leon menyerngitkan dahi. 


"Aku tahu kemana arah pikirmu yang sangat kotor itu, setidaknya kau memikirkan keputusan sebanyak dua kali. Bagaimana kau akan melakukan hal itu? Lihatlah kondisi perut yang masih dibalut dengan perban." Jelas Farhan membuat Ayu tersenyum malu mendengar penjelasan dari suaminya yang sedikit bodoh setelah menikah.


"Ck, aku tidak butuh perkataanmu itu. Sebaiknya kabari hal ini kepada kakek, dan persiapkan segalanya untuk meminta restu pada bibi Ruo." Leon menggenggam tangan calon istrinya dan mengecupnya dengan perlahan, sengaja memperlihatkan kemesraan dan membuktikan dirinya yang sebentar lagi melepaskan masa lajang. 


"Baiklah, itu sangat mudah. Yang terpenting kau sembuh dan segera menyusul kami yang bahkan mencetak anak kembar selanjutnya."


"Apa maksudnya itu?" tanya Leon yang penasaran dan juga bingung. 


"Dasar payah, kau akan punya keponakan kembar lagi." Farhan tersenyum sombong karena benih kualitas tinggi membuahkan hasil. 

__ADS_1


"Astaga…kau sangatlah mengerikan, tiga saja sudah membuatku gila apalagi di tambah anak kembar lagi." Leon tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dirinya mempunyai anak kembar dengan sikap kenakalan yang membuatnya menyerah dan angkat tangan.


"Kau tenang saja, Ayu hamil kembar dua yang masih berbentuk kantong. Hah, keluargaku benar-benar bahagia. Sekarang giliranmu untuk memulai awal yang baru, melepaskan masa lajang dan juga meninggalkan sikap arogan dengan berbuat baik kepada orang lain." 


Di dalam ruangan itu, mereka bersenda gurau dan juga membahas pernikahan dan juga dekorasi seperti apa yang diinginkan oleh kedua mempelai, yang tentu saja memakan banyak biaya. Tetapi Leon tidak mempermasalahkan, karena baginya Aluna merupakan permata indah yang tidak akan bisa tergantikan oleh uang. "Atur saja segalanya dengan sangat baik, Aku hanya ingin menerima bersihnya saja."


Setelah membicarakan kesepakatan bersama, Aluna memutuskan untuk pulang dan mengatakan kepada bibinya mengenai lamaran yang akan datang padanya dalam waktu dua hari lagi. Dia akan menikah dengan Leon pria yang selama bertahun-tahun dicintai, berpikir jika cintanya bertepuk sebelah tangan tetapi penantian yang cukup lama membuahkan hasil. 


****


Keluarga Tirta dan juga keluarga Hendrawan turut hadir dalam proses lamaran yang diadakan di kediaman Ruo, mereka begitu rapi dengan setelan jas dan gaun yang sangat cantik dengan warna yang sangat cocok di kulit masing-masing. Leon bersikeras saat keluar dari rumah sakit langsung menuju ke rumah sang kekasih dan ingin melamarnya, dia tidak ingin hubungan itu rumit jika hal yang baik ditunda. 


Leon terus aja menatap Aluna yang dibaluti dengan gaun berwarna navy, sangat cocok dengan kulit, sebuah kalung dan juga gelang menjadi penambah look. kini mereka sama-sama mengetahui jika wanita yang dulunya dianggap rendah oleh Leon merupakan orang terpandang dan juga kenalan dari adiknya, ternyata takdir sedikit sulit untuk dipahami, dua orang dengan sikap yang bertolak belakang dapat menyatu dalam pernikahan yang sebentar lagi akan diadakan. 


Setelah semuanya telah sepakat dan menyetujui hubungan keduanya Tirta dan Ruo segera mencari tanggal yang baik. Semua orang tampak bahagia dengan kabar pernikahan Leon dan juga Aluna, yang diadakan di sebuah gedung dengan arsitektur mewah dan juga berkelas, banyak tamu dari bisnis kolega, para pemilik paham dan juga pemilik perusahaan terkenal lainnya.


"Baiklah, kita akan mengadakan pernikahan dalam dua minggu lagi. Ini sudah menjadi keputusan ku yang sebagai ketua di keluarga dan juga kakek dari Leon." Tirta begitu bersemangat, karena cucu sulungnya segera menikah melepaskan masa lajang yang hanya membuatnya sakit kepala. 


"Apa itu tidak terlalu cepat?" Ruo memikirkan persiapan dan juga tamu undangan yang harus dicatat, tidak akan mungkin menyelesaikannya hanya dengan waktu dua minggu saja.


"Jangan mempermasalahkan hal itu, dan juga menunda hal yang baik. Kami dari pihak laki-laki akan menyelesaikannya, kalian hanya menerima hasilnya saja." Ucap Tirta dengan penuh keyakinan, akan mengandalkan beberapa anak buah dan juga bawahan untuk mempersiapkan segalanya dengan sangat cepat.


"Baiklah, sekiranya masalah itu sudah selesai. Apa yang harus aku katakan? Lagi pula Aluna sangat mencintai Leon, dan begitupun sebaliknya. Aku yang sebagai wali hanya menyetujui keinginannya sebagai keponakan yang sudah kuanggap sebagai anak kandung."


"Setuju." 


Perbincangan dari keluarga membuat kedua mempelai sangat bahagia, Leon menghampiri Aluna dengan penuh hati-hati, mengingat perutnya yang masih merasakan nyeri akibat tusukan pisau di bagian perut. Dia menarik tangan sang kekasih, dan membawanya menjauh dari semua orang, mencurahkan seluruh perasaan mereka.


"Dua hari lagi, kalau aku menjadi istriku. Persiapkan dirimu, karena aku tidak akan membiarkanmu kabur." Bisiknya.


Sementara Aluna tersenyum dengan menyembunyikan rona pipi, dia tahu kemana arah pembicaraan mereka yang tak jauh dari ranjang dan juga tubuh seksi. "Baiklah, sesuai perkataanmu. Aku tidak menginginkan pria lain, di hatiku hanyalah dirimu saja." 


Leon sangat bahagia, bahkan senyum terus saja terpancar dari wajahnya. Dia tidak bisa membayangkan, karena sebentar lagi akan menjadi suami dari wanita yang dicintainya. "Hanya dua hari lagi, dan kau akan menjadi milikku, aku mencintaimu selamanya." Dia mencium bibir wanita yang ada di hadapannya dengan sangat lembut, hasrat untuk bersama sudah membuatnya tidak tahan. 

__ADS_1


__ADS_2