Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 124 - Oh ternyata


__ADS_3

Setelah Kenan pergi, Ayu menatap punggung pria itu hingga menghilang di balik pintu. Dengan cepat dia mengalihkan perhatiannya menatap pria tampan yang tengah berbaring di atas tempat tidur rumah sakit. Air matanya kembali menetes, memegang tangan pria itu dan menempelkannya di pipi. Tatapan nanar tapi tak berputus asa, berharap jika Farhan segera sadar. 


"Ya tuhan…sembuhkanlah dia dan berikan keajaibanmu untuk Farhan," lirih Ayu yang berdoa untuk kesehatan dari pria itu. Kesunyian malam, rasa sedih yang menyelimuti pikiran membuatnya memejamkan mata dan tertidur. 


Di tengah malam, seorang pria tampan yang baru saja sampai ke Perancis. Terpaksa pergi menyusul sang atasan saat mendengar kabar kecelakaan menuju rumah sakit di kota itu. Asisten Heri membawa beberapa pengawal untuk menjaga bos dari para musuh yang berkeliaran. "Kalian, jaga ruangan ini, periksa setiap orang yang ingin mengunjungi tuan Farhan. Apa kalian mengerti?" tegasnya dengan raut wajah dingin. 


"Kami mengerti, Tuan!" jawab mereka serempak. 


Asisten Heri menganggukkan kepala dan melangkahkan kaki masuk ke ruang inap bosnya, menjenguk keadaan dan kondisi Farhan. Ayu tersentak kaget dengan kedatangan tangan kanan calon tunangannya. "Kau disini?" mengerutkan kening dan menatap dalam wajah pria itu, terlihat bagai benang kusut. 


"Aku mendengar kabar tuan Farhan yang kecelakaan di gudang, untuk itulah aku bergegas kesini."


"Hem, aku mengerti. Hanya saja raut wajahmu terlihat sangat kusut, apa keadaan perusahaan baik-baik saja?" tanya Ayu dengan tatapan nanarnya, kondisi yang sangat sulit dan berharap segera pulih. 


Asisten Heri terdiam sejenak, menghela nafas dan memalingkan wajah sembarang arah. "Kabar ini sudah menyebar dengan cepat, banyak komentar negatif tentang perusahaan di internet. Keadaan saat itu tidaklah menguntungkan untuk perusahaan milik tuan Farhan," jelasnya yang sedih dengan situasi sulit saat ini. 


"Apa separah itu?" lirih Ayu. 


"Benar, keadaan perusahaan anjlok akibat komentar miring dan beberapa pihak juga menarik saham mereka." Jelas asisten Heri. 


"Apa tidak bisa diatasi lagi?" ucap Ayu dengan harapan yang tinggi. 


"Aku sudah berusaha semampu dan sebisa mungkin, namun keadaan tidak bisa dihindari lagi. Kondisi kantor benar-benar sangat buruk." 


Ayu mengusap wajahnya dengan kasar, kondisi sulit dan ditambah dengan kecelakaan Farhan. "Ya tuhan…beri aku kekuatan untuk menyelesaikan semua permasalahan ini," gumamnya yang masih terdengar oleh asisten Heri. 


"Semua akan baik-baik saja, sebaiknya kau beristirahat."


"Tidak, aku ingin menjaganya." Keukeuh Ayu yang tetap ingin bersama dengan Farhan. 


"Kondisimu juga tidak baik, beristirahat lah. Aku ada disini untuk menemani tuan Farhan," ucap asisten Heri yang sangat bersimpati dengan kondisi dari sekretaris tuannya itu. 


"Aku bisa menjaganya, jangan khawatirkan kondisiku." 


"Jangan memaksakan diri, pergilah beristirahat. Aku akan mengabarimu jika tuan Farhan sadar."


"Kau berjanji?" tanya Ayu layaknya seperti anak kecil. 

__ADS_1


"Yah, aku janji."


"Hem, baiklah." Ayu beranjak dari tempat duduknya, menatap wajah pucat dari pria yang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit. "Cepatlah sembuh!" ucapnya yang membelai wajah Farhan dengan lembut dan berlalu pergi dari tempat itu, sedangkan asisten Heri menatap kepergian wanita itu yang menghilang dari pandangan. Dengan bergegas, dia berjalan ke arah pintu dan menatap beberapa pengawal dengan tegas. "Kalian jaga ruangan ini, jangan ada orang lain yang masuk ke dalam." Perintahnya. 


"Baik, Tuan."


"Hem." Asisten Heri menutup pintu dan menguncinya, kembali menghampiri pria yang tengah berbaring. "Berhentilah berpura-pura, Tuan. Calon tunanganmu sudah pergi!" celetuknya. 


Mendengar ucapan dari tangan kanannya, Farhan yang pingsan membuka kedua matanya dengan perlahan, menatap sekeliling ruangan yang hanya ada mereka berdua. "Hah, berakting seperti ini membuatku sangat sesak." Ucap Farhan yang duduk. 


"Semua sudah berjalan dengan semestinya, tidak perlu berpura-pura lagi."


"Kau benar, hanya saja kau datang sedikit terlambat." Keluh Farhan yang menatap asistennya jengkel. 


"Aku hanya terlambat sepuluh menit saja, Tuan. Harap dimaklumi, karena ada kendala darurat yang harus diselesaikan," jawab asisten Heri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. 


Bugh


Farhan melempar bantal tepat mengenai wajah asistennya, karena dia tak menyukai jika bawahan telat waktu. "Dasar jam karet, setidaknya kau datang tepat waktu dan disiplin!" bentak Farhan. 


"Hah, lupakan itu. Bagaimana dengan perusahaan?" Farhan mendongakkan kepala menatap asisten sekaligus tangan kanannya. 


"Seperti yang saya katakan tadi, jika perusahaan tidak dalam keadaan baik-baik saja."


"Apa separah itu?" 


"Benar, Tuan. Sepertinya ada musuh dalam selimut, orang dalam yang menikung perusahaan." Jelas asisten Heri sangat yakin. 


"Kau benar, aku juga merasakan hal yang sama dan mencurigai seseorang."


"Seseorang?" ulang asisten Heri yang menautkan kedua alisnya karena penasaran. 


"Hem, aku ingin kau menyelidiki Kenan dan hubungan pria itu dengan perusahaan yang lain." Titah Farhan. 


"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan!" 


"Jangan sampai ada yang tahu kondisiku sebenarnya, mengecoh lawan dengan sedikit intrik." Farhan tersenyum tipis saat berhasil menciptakan sandiwara untuk membongkar siapa dalang dari kejadian ini, yang jelas orang yang sama dalam mencelakainya. 

__ADS_1


Ayu memutuskan balik ke ruangannya, memikirkan segala permasalah yang ada. Memegang remot kontrol dan menonton televisi, melihat sebuah berita viral mengenai perusahaan HR Grup. "Ini tidak bisa di bisa di biarkan begitu saja, aku sangat mencurigai seseorang sebagai pelaku dan akar permasalahan ini." Monolognya yang segera mengeluarkan ponsel, menghubungi sang hacker untuk memecahkan misteri. 


"Halo."


"Aku butuh bantuan darimu."


"Katakan saja, aku akan membantu dan sebisaku."


"Aku sangat mencurigai seseorang yang terduga sebagai dalang dari pabrik nomor satu yang mengandung zat radioaktif pada perhiasan rancanganku, dan dalang atas kejadian kecelakaan Farhan."


"Siapa yang kau curigai?" 


"Kenan, karena aku Sangat mencurigai nya. Dia penanggung jawab di Perancis." 


"Baiklah, akan aku selidiki."


Ayu mematikan sambungan telepon, dia sangat curiga kepada Kenan yang tiba-tiba pergi. "Semoga saja, pekerjaan hacker kepercayaan ku mendapat informasi dari pria licik itu." Gumamnya. Seketika pikirannya kembali terngiang memikirkan kondisi Farhan. "Aku tidak bisa tenang di sini, sebaiknya aku kembali saja menemani Farhan."


Ayu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan, berjalan menuju ruang inap pria penyelamatnya. Namun langkahnya terhenti saat beberapa pengawal mencegatnya untuk masuk ke dalam. "Maaf, Nona. Anda tidak boleh masuk ke ruangan."


"Kenapa?" tanya Ayu yang heran. 


"Ini sudah perintah, mohon kerjasamanya." Ucap salah satu pengawal. 


"Aku hanya ingin menemuinya, biarkan aku masuk!" keukeuh Ayu yang memohon. 


"Tidak bisa, Nona. Ini sudah perintah!"


"Perintah siapa?" 


"Tuan Heri."


Seketika raut wajah Ayu berubah kecewa, hati dan pikirannya sangat tidak tenang memikirkan bagaimana kondisi dari Farhan. 


"Sebaiknya Nona pergi dari sini!" usir salah satu pengawal dengan tegas. 


Ayu ingin melangkahkan kakinya, namun terdengar sayup orang yang berbincang-bincang di dalam ruangan. 

__ADS_1


__ADS_2