
Ayu tidak mengindahkan ucapan dari bosnya membuat Farhan mendelik kesal. "Jangan diam saja. Suapi aku?!"
"Tidak, tangan kananmu masih sehat."
"Ck, ini perintah!" Titah Farhan tetap tak membuat pendirian Ayu pupus. Hingga Farhan terpaksa menyuapi dirinya setelah melihat Ayu yang enggan. Perasaan kesal berubah saat suapan pertama mendarat di mulutnya, rasa dari masakan Ayu sangat memanjakan lidah.
"Wow, masakanmu sangat lezat, dan keterampilan memasak mu cukup bagus." Puji Farhan yang menganggukkan kepala dengan pelan seraya terus menyuapi makanan ke dalam mulutnya.
"Kau boleh menghabiskan nya, makanan di atas meja aku buat khusus untukmu."
"Dengan senang hati aku menghabiskannya." Farhan terus melahap makanan di atas piring.
Ayu hanya menatap Farhan yang terus mengisi perutnya, hingga perut pria tampan itu sedikit membuncit. "Ayo, aku akan mengantarmu ke kamar."
"Ayo bantu aku!"
"Baiklah." Pasrah Ayu yang membantu Farhan, jika saja pria itu tidak berjasa, mana mungkin Ayu ingin repot dengan semua permintaan konyol dari Farhan.
Ayu menghandle pintu dan membantu Farhan dan mendudukkannya di sisi ranjang. "Hah, kau memanfaatkan situasi ini. Jika tidak berjasa, mana mungkin aku melakukan permintaan konyol ini, dan yang sakit hanya tangan kirimu bukan kakimu."
Farhan menyentil kening Ayu dengan gemas, sementara sang korban mengelus kening nya sembari cemberut. "Hei, keningku tidak bersalah. Kenapa kau selalu menyentil nya," ucap Ayu kesal.
"Jangan pernah mengeluh di depan ku. Tubuh ku sangat gerah dan ingin mandi!" ucap Farhan membuat Ayu waspada.
"Kau tidak perlu melapor, pergi saja ke kamar mandi."
"Kau tidak lihat? Jika tanganku terluka. Mandikan aku!" Farhan memperlihatkan tangan yang dibalut di depan Ayu, memasang raut wajah putus asa.
"Memandikanmu? Apa kau gila? Aku tidak akan melakukannya." Tolak Ayu.
__ADS_1
"Apa kau lupa jika aku…."
"Adalah bosnya," sela Ayu yang memahami perkataan Farhan. "Apa kau pikir aku ini asisten pribadi?"
"Kau ini!" Geram Farhan yang menggertakkan giginya, dengan cepat beranjak dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.
Ayu melihat punggung Farhan yang menghilang dari balik pintu, rasa lelah membuatnya ingin beristirahat. Ayu berjalan ke sofa dan memejamkan matanya yang terasa berat saat menunggu Farhan yang masih berada di kamar mandi.
Lima belas menit kemudian, Farhan keluar dari kamar mandi yang hanya mengenakan handuk penutup pinggang ke hingga kebawah, memperlihatkan tubuhnya yang berotot. Netra matanya menatap seorang wanita yang tertidur di sofa, Farhan tersenyum saat bisa melihat wajah Ayu yang sangat dekat. "Dia terlihat cantik walau sedang tertidur, wajahnya yang damai seperti seekor burung yang membuat orang menyayanginya," gumam Farhan, dia semakin menyadari jika Ayu adalah Kira.
Farhan menggendong tubuh Ayu ala bridal style, berjalan menuju ranjang dan meletakkannya dengan perlahan. Farhan juga ikut berbaring di sebelah wanita cantik itu, menggunakan kesempatan dan memeluk Ayu dan tertidur.
Keesokan pagi, Ayu mengerjapkan mata. Menggeliatkan tubuhnya dan sesekali menguap, Ayu membalikkan badannya dan menatap sekeliling ruangan. Ayu membelalakkan kedua matanya dan berteriak sangat keras, terkejut karena dirinya tidur di tempat tidur milik Farhan.
"Kenapa aku bisa ada disini?" Pekik Ayu yang langsung terduduk seraya melihat tubuhnya di balik selimut, dia menghela nafas lega saat melihat pakaiannya masih melekat di tubuh. "Hah, syukurlah."
"Akulah yang memindahkan mu ke atas tempat tidur," sahut Farhan yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Tapi kenapa?"
"Tidur di sofa sangat tidak nyaman, dan aku menggendongmu."
"Apa kau__"
"Jangan berpikir macam-macam, aku hanya menggendongmu dan tidak mengambil kesempatan apapun." Jelas Farhan yang memotong perkataan Ayu. "Sebaiknya bersihkan dirimu, dan turun untuk sarapan." Farhan kembali menutup pintu kamar dan berjalan menuju meja makan.
Ayu beranjak dari ranjang menuju kamar mandi, membersihkan dirinya. Setelah selesai bersiap-siap, Ayu keluar dari kamar menuruni tangga dan menghampiri Farhan yang tengah menunggu kedatangannya.
"Ayo makanlah," ucap Farhan. Ayu menarik kursi dan duduk berhadapan dengan pria tampan itu, sambil melihat sarapan yang telah tersedia di atas meja makan.
__ADS_1
"Aku tidak melihat ada orang lain di sini. Apa kau yang memasaknya?" Tanya Ayu yang celingukan.
"Memangnya kenapa? Apa kau pikir jika aku tidak bisa memasak, makanlah selagi hangat dan katakan bagaimana pendapatmu," sahut Farhan santai.
Ayu mencicipi masakan Farhan yang lezat, hingga tak sadar menyuapi beberapa sendok ke dalam mulutnya. Tak sengaja Ayu melihat jam yang sekarang sudah jam sepuluh pagi. "Astaga…biasanya aku tidak pernah terlambat untuk bangun. Oh ya tuhan, aku sudah sangat terlambat," ujar Ayu yang heboh di pagi hari membuat Farhan menatapnya dengan jengah.
"Bisakah kau diam? Sangat mengganggu pemandanganku saja. Aku telah meminta cuti untukmu dan kau tidak akan terkena masalah, kau di liburkan."
Ayu menghentikan aksi heroik dengan kegelisahan di hatinya, menatap pria tampan sebagai penyelamatnya. "Benarkah?"
"Hem, aku bosnya." Jawab Farhan sombong.
Ayu bersorak riang, dia sangat lega setelah mendengar perkataan bosnya. Hatinya menghangat saat Farhan sangat memperhatikan dan membantu meminta cuti, meningkatkan pesona pria itu di matanya. "Dia pria yang sangat baik, dan aku menyukainya," batin Ayu yang kembali melanjutkan sarapannya yang dimasak oleh Farhan. Dan di saat yang sama, Laras datang dengan membuka pintu. Dia melihat Ayu yang sedang makan sarapan, berjalan mendekat dengan tatapan sinis mengarah ke rivalnya. "Wah, sepertinya sangat lezat," celetuk Laras.
"Kau mau? Ini sangat lezat sekali." Tawar Ayu yang kembali menyuapk mulutnya dengan makanan di atas piring.
"Apa kau yang memasaknya?" Tanya Laras yang menautkan kedua alisnya.
"Bukan aku, tapi dia." Ayu menunjuk Farhan dengan bersemangat.
"Kak Farhan? Apa itu benar?" Kata Laras yang sangat terkejut dan juga tak menduganya.
"Benar, apa ada yang salah dengan itu?" Balas Farhan dengan tatapan dinginnya.
"Tidak, aku hanya terkejut saja." Jawab Laras yang tersenyum paksa. "Tidak biasanya kak Farhan memasakkan orang lain selain kakek yang saat itu sedang sakit, pasti wanita kampung itu yang sudah mengendalikannya," gumam Laras di dalam hatinya. Seketika Laras tersenyum saat ide brilian terlintas di benaknya. "Aku akan mengerjai mu, dasar wanita miskin." Umpat Laras kesal.
Setelah selesai makan, Farhan pergi ke ruangan lain untuk memeriksa pekerjaannya dengan mengalihkan kepada asisten Heri. Tinggallah Ayu dan Laras di ruangan itu, mereka saling menatap sinis bagai minyak dan air. "Apa yang akan direncanakan nya?" Batin Ayu.
Laras memegang tangan Ayu dan mendorong tubuhnya sendiri hingga terjatuh ke lantai, melakukan hal itu untuk memfitnah Ayu.
__ADS_1