
Pagi yang indah tapi tak seindah realita, bertemu dengan Kira yang pamer mengenai kedekatannya dengan Farhan, tidak ada perasaan cemburu di hati mengingat semuanya sudah terlanjur. Ayu menyunggingkan senyuman menawannya seperti matahari yang baru saja terbit, sedikit mendapatkan identitas dari wanita di hadapannya.
"Aku hanya ingin kau tahu, jika hubunganku dan Farhan baik-baik saja dan bahkan sangatlah dekat." Kira terus saja mengoceh panjang lebar, menceritakan hal menarik darinya dengan sangat antusias.
Melirik arloji yang melingkar di tangan, menghela nafas dan pandangan mengarah ke samping. "Apa sudah selesai?"
"Hei, itu baru awalnya saja. Aku sudah kembali dan kau boleh pergi dari kehidupan Farhan, kau tidak diperlukan." Tegas Kira yang mendekatkan wajahnya, tersenyum mengejek mengenai nasib sang rival yang akan di campakkan.
"Siapa kau yang mencoba mengusirku?" Ayu menantang Kira, tidak ada rasa takut.
"Aku calon istri Farhan Hendrawan, tak lama lagi kami akan menikah dan bahkan sudah merancang rumah baru." Klaimnya dengan sangat antusias juga bersemangat.
Ayu tak berniat untuk melirik wanita itu, tapi terpaksa di kala membutuhkan asupan vitamin untuk wanita di hadapannya. Dia mencondongkan tubuhnya dan berbisik. "Itu tidak lagi membuatku cemburu, lakukan apa yang menjadi kegemaran mu. Aku bisa mengeluarkan kartu As jika sewaktu-waktu menginginkannya, jadi bersiaplah!" tersenyum saat melihat raut wajah Kira tak karuan memikirkan perkataan dan arti dari ucapannya.
Terdengar suara dering ponsel, Ayu segera mengeluarkan ponsel dari saku dan mengangkatnya, mengetahui Farhan lah yang menelepon.
"Halo, kau dimana?"
"Sudah ada di kantor, ada apa?"
"Ke ruanganku sekarang juga, ada yang ingin aku bicarakan dan ini sangat penting!"
"Baiklah, sebentar lagi aku akan sampai kesana."
"Aku tunggu."
Sambungan telepon terputus, dan Ayu kembali memasukkan ponselnya ke tempat seharusnya dia berada.
"Siapa yang baru saja meneleponmu?" Kira menatap Ayu dengan tatapan penuh penyelidik, menyipitkan kedua mata karena penasaran jawaban apa yang akan dijawab sang rival.
__ADS_1
"Farhan, dia yang meneleponku." Jawab Ayu yang tersenyum kemenangan.
"Itu tidak mungkin, kau pasti berbohong. Farhan tidak akan menghubungimu," bantah Kira yang tak ingin mendengar kebenarannya.
"Terserah apa yang kau katakan, tidak ada gunanya aku berbohong. Aku bukan dirimu hampir setiap saat pintar dalam berbohong, dan memanfaatkan wajahmu yang terlihat lugu." Tukas Ayu mencibir, membalas wanita yang berusaha memanasi keadaan yang sudah memburuk.
Kira meremas jari-jari tangannya, ada gemuruh di hati yang membuat gelombang kemarahan selalu saja tertangkap jika bersama dengan si wanita kampung. Ayu bergegas pergi dan tak memperdulikan wajah kekesalan dari wanita yang menggunakan identitas Kira untuk keperluan pribadinya.
"Bedebah, dia selalu maju selangkah dari depanku. "Apa maksudnya dengan kartu As? Apa dia mengetahui identitasku? Semoga dia tidak mengenali siapa aku, itu bisa menjadi bumerang bagiku," gumam Kira di dalam hati, sangat membenci para penghalangnya.
Ayu terus berjalan dengan penuh keyakinan, wajah yang menawan membuat orang lain terpana. Cara jalan yang begitu elegan menjadi daya tariknya, dia berpikir hal apa yang akan dibicarakan oleh Ceo seraya menerka-nerka. Tak sadar dia sudah berada di depan pintu dari ruang atasannya, menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, sangat berguna untuk mengurangi rasa gugup yang tiba-tiba menggerogotinya.
Dia masuk ke dalam ruangan setelah meminta izin terlebih dulu, menghampiri bos yang tengah berkutat di layar pipih. "Ada apa kau memanggilku kesini?"
Farhan mendongakkan kepala ke asal suara, mengerutkan dahi karena tak mengerti. "Duduklah, ini sangat penting."
Menarik kursi dan mematuhi perkataan dari bos tampan nya, tatapan menatap lekat karena dia penasaran. "Katakan, hal penting apa yang ingin kau sampaikan?" ucapnya yang berusaha bersikap perfeksionis, dan menganggukkan kepala saat bertemu dengan asisten Heri yang berada di sebelah atasannya.
"Bukti?"
"Bukti mengenai apa?" Ayu sangat penasaran, mencondongkan tubuh mendekati sang atasan yang deg-degan dengan posisi yang bagus.
"Perusahaan yang mencoba untuk meruntuhkan dan mencemarkan nama baik perusahaan HR Grup." Ungkap asisten Heri.
"Aku mendapatkan celah dari bukti yang baru saja ditemukan oleh informan terpercaya, berkaitan erat dengan perusahaan yang mencoba untuk menjelekkan nama produk dari perusahaan ku." sambung Farhan.
"Apa kau menganggap ada kaitannya dengan perusahaan Sky Grup?" tanya Ayu oenuh selidik.
"Ya, itu memang benar. Aku mempunyai fotonya, kau bisa melihat Ceo dari perusahaan Sky Grup yang jarang terekspos di media sosial." Farhan mengambil sebuah foto dari laci meja kerja, menyerahkan foto itu pada sang sekretaris.
__ADS_1
Kedua pupil membesar, terkejut dengan apa yang baru saja dilihat oleh Ayu. "Wajah pria ini tidaklah asing," gumamnya yang meneliti foto yang sekarang berada di tangannya.
"Apa kau mengenalnya?" celetuk Farhan yang mendengar samar.
Ayu mendongakkan kepala menuju asal suara. "Aku tidak mengenalnya, hanya saja orang ini pernah aku lihat. Tapi dimana?" ucapnya menatap ke atas sambil menggosokkan dagu, berpikir ulang. Dia semakin terkejut, karena pria yang ada di foto merupakan pria yang tak sengaja ditabrak oleh nya, dan itu juga orang yang sama.
Ayu pernah mengantarkan dan menolong pria pria itu saat mengalami kecelakaan, pria yang berada di foto mengalami kecelakaan dan dia ke rumah sakit dan mengalami amnesia. "Aku masih mengingat bentuk wajahnya, pria di rumah sakit dan di foto sama." Batinnya yang merasa kegelisahan, perasaan tak menentu membuatnya hanya ingin mengundurkan diri.
"Sepertinya Nona mengenal Ceo dari Sky Grup," sela asisten Heri yang sudah tak tahan ingin mengutarakan pendapat, menatap sedari tadi ekspresi sekretaris yang masih melamun.
"Aku tidak mengenalnya!" tegas Ayu dengan tatapan wanita galak yang baru mengalami masa menstruasi.
"Aku hanya bertanya saja," jawab asisten Heri dengan santai.
Asisten Heri menyusuri pandangan di seluruh ruangan itu, dan melihat Kira yang tengah mengintip dari sela-sela pintu. "Hah, sepertinya dia mendengar pembicaraan ini dan bisa merusak kedekatan tuan dan juga Ayu. Aku harus bertindak!" batinnya tersenyum smirk. "Tuan, saya permisi dulu."
"Hem."
Asisten Heri berjalan menghampiri Kira yang diam-diam mendekati ruangan atasannya. "Untung saja kau disini!" ucapnya tersenyum paksa.
"Memangnya kenapa?" tanya Kira yang menghentikan aktivitasnya."
"Aku membutuhkan data dari laporan yang kau kerjakan," asisten Heri mencari alasan logis agar menjauhkan wanita pengganggu seperti Kira, menuntunnya ke tempat jauh.
Di ruangan itu, tinggallah dua orang yang berlainan jenis. Suasana sepi dan hening memberikan ketenangan, jauh dari beberapa macam gangguan. Farhan menatap netra mata sekretarisnya yang indah, menginginkan waktu terhenti beberapa saat saja.
"Sebaiknya aku pergi!" pamit Ayu yang bergegas, tapi hal itu tidak terjadi saat tangannya di cekal.
"Apa kau hanya ingin menemuiku di saat membahas pekerjaan saja?" tanya Farhan.
__ADS_1