
Jenni dan Clara menyayangkan hasil foto yang baru beberapa saat di ponsel mereka terhapus dengan sia-sia akibat sang idola yang menginginkannya, tapi mereka bukan wanita bodoh. Menyisakan satu foto untuk di simpan sebagai kenang-kenangan.
"Apa kalian sudah menghapus seluruhnya?" Gabriel menatap kedua wanita itu dengan tatapan menyelidik, dengan cepat Jenni dan Clara menganggukkan kepala.
"Sudah," jawab mereka kompak.
"Usir mereka," titah Gabriel yang melirik pelayan Cafe dan masuk ke dalam ruangan, berjalan ke arah wanita yang dia cintai.
Sesuai perintah, pelayan itu mengusir Jenni dan juga Clara secara halus. Tak lama, Vanya menghampiri kedua sahabatnya yang sedang asik melihat melihat layar ponsel yang ada di tangan mereka. Vanya berlari dan menepuk kedua bahu mereka dengan keras, sontak Jenni dan Clara tersentak kaget.
"Vanya, kau di sini?" Jenni sedikit terkejut dengan kedatangan sahabatnya yang tiba-tiba.
"Untung saja ponsel ku tidak jatuh," gumam Clara yang mengusap ponsel dan menciumnya, bukan harga ponsel yang dia khawatirkan, melainkan foto Gabriel sang idola lah yang membuatnya begitu menyayangi ponsel itu.
"Ya, aku di sini. Sebenarnya aku tidak tertarik untuk kesini, hanya saja saat kau mengirimkan foto itu membuat aku bersemangat. Tapi, foto yang kau ambil tidak terlalu jelas, sedikit blur." Racau Vanya yang sedikit kecewa.
Tanpa berpikir panjang, Vanya menarik tangan sahabatnya dan masuk ke dalam Cafe tempat Gabriel dan Ayu berada. Setelah bersusah payah menerobos untuk masuk ke dalam, ketiga wanita itu malah kecewa saat tidak melihat target.
"Kemana mereka pergi?" Vanya melirik kedua sahabatnya secara bergantian.
"Entahlah, aku sangat yakin jika mereka ada di sini tadi."
"Aku rasa mereka sudah pergi." Sambung Clara yang menggaruk pelipisnya yang seperti kebingungan.
"Sial, apa kalian tidak melihat mereka keluar? Awalnya aku ingin menyuruh Farhan untuk datang dan melihat secara langsung mengenai kencan Ayu bersama dengan Gabriel, itu pasti sangat seru. Tapi, akibat kecerobohan kalian membuat rencana ini tidak berhasil lagi." Terang Vanya yang mendelik kesal.
" Kami mengira jika keadaannya tidak separah ini?!" Sesal Clara yang mengedip-ngedipkan kedua matanya untuk membujuk Vanya agar memaafkannya.
"Ini semua karena kalian?! Aku akan meminta Dad ku untuk membatalkan kerjasama dengan perusahaan orang tua kalian." Ucap Vanya yang meninggikan suara dan juga mengancam.
"Jangan lakukan itu?!" Pekik Clara dan Jenni bersamaan, memohon pengampunan dan berusaha meluluhkan hati Vanya dengan sedikit bujukan.
"Sebenarnya ada dua foto yang kami ambil, kau boleh memintanya." Tukas Jenni yang bersemangat.
"Cepat kirimkan, aku akan mengirimkannya kepada Farhan." Desak Vanya.
Sesuai perkataan Jenni, dia mengirimkan satu foto lagi. Wajah Vanya yang tampak tersenyum licik berubah murung dan kecewa saat melihatkan hasil foto yang sedikit buram. "Foto yang pertama dan kedua tetap sama?!" Protes Vanya.
"Setidaknya Farhan mengenali Ayu." Sahut Jenni santai.
"Hah, kau benar."
__ADS_1
****
Keesokan paginya, Farhan terbangun dari tidurnya, bersiap-siap ke kantor seperti biasa. Setelan jas berwarna hitam melekat di tubuhnya, sangat terlihat cocok untuk pria tampan sepertinya. Setelah selesai, Farhan turun untuk memakan sarapan paginya. Hingga dia baru menyadari, jika Ayu tidak ikut bergabung dengannya.
"Apa kalian melihat Ayu?" Tanya Farhan yang menatap ibunya.
"Mama bukan babysitter nya, dan tidak tahu kemana wanita itu pergi." Ujar Wina yang kembali menyuapi mulutnya dengan makanan.
"Apa kau melihatnya?" Tanya Farhan yang menoleh ke Laras, berharap sepupunya itu tahu akan keberadaan Ayu.
"Entahlah, aku juga tidak tahu." Laras mengangkat kedua bahunya dengan acuh.
"Mungkin dia sudah berangkat ke kantor," pikir Farhan.
Setelah sarapan selesai, Farhan berangkat ke kantor. Berjalan menuju departemen sekretaris berharap jika Ayu berada di sana, tapi dia kembali kecewa saat melihat meja kosong kerja Ayu kosong dan bertanya ke beberapa karyawan yang sudah datang.
"Pagi, Tuan."
"Hem, apa kalian melihat sekretaris baru itu?"
"Apa anda mencari Ayu, Tuan?"
"Benar."
"Hem, baiklah. Lanjutkan pekerjaanmu?!" Tutur Farhan yang beranjak dari tempat itu menuju ruangannya. Hingga timbul di benaknya untuk menelepon Ayu, dengan cepat Farhan mengeluarkan ponsel dari saku jas, mencari nama kontak Ayu dan menghubunginya.
"Semoga saja ini berhasil." Gumam Farhan. Tapi, lagi dan lagi dia kecewa saat teleponnya tidak bisa terhubung. "Sial," Umpatnya yang kesal.
Di sepanjang langkah kakinya, nama Ayu terus saja terngiang di telinganya. Menjadi khawatir dan juga cemas saat tidak menemukannya di Mansion ataupun di kantor, bahkan Farhan tidak menghiraukan asisten Heri yang baru saja menyapanya dan mengikutinya ke ruangan.
"Ehem…ehem permisi, Tuan. Saya ingin menyampaikan ada rapat sebentar lagi."
Farhan menoleh dan mendelik kesal saat melihat siapa yang mengganggunya. "Sejak kapan kau ada di sini?"
"Sedari anda melamun, Tuan."
"Hem, atur jadwalnya." Farhan berdehem untuk memulihkan ekspresi nya.
"Sekarang jadwalnya, Tuan. Rapat dalam lima menit."
"Ck, kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi?!" Kesal Farhan yang menyorot asistennya dengan tajam.
__ADS_1
"Karena Tuan melamun," jawab asisten Heri sekenanya.
"Persiapkan segalanya."
"Baik Tuan."
Farhan langsung bergegas menuju ruangan rapat konferensi, baru saja rapat dimulai, ponselnya bergetar menandakan ada pesan teks anonim yang masuk. Awalnya dia tidak tertarik saat mengetahui siapa pengirimnya, karena penasaran saat ada foto dan melihatnya. Hingga perhatian Farhan terpecahkan dan lebih tertarik dengan ponselnya.
"Ini seperti Ayu dan siapa pri ini? Kenapa gambarnya tidak terlalu jelas?" Gumam Farhan yang sangat kesal, di tambah lagi jika pria yang bersama Ayu adalah Gabriel secara sekilas. "Tidak salah lagi, jika ini adalah Gabriel."
Farhan menyentak kursinya dengan kasar, pergi meninggalkan rapat tanpa pemberitahuan apapun membuat asisten Heri meringis. Kemarahan Farhan tidak bisa dibendung lagi, pada saat mengetahuinya. Ketika dia meninggalkan ruangan dari konferensi, Farhan tak melihat Ayu yang datang ke arahnya.
"Hei, kau! Kemari?!" Panggil Farhan yang menunjuk Ayu.
Ayu yang menghampiri bosnya. "Ada apa?" Tanyanya dengan wajah tanpa dosa semakin membuat Farhan menahan amarah.
"Ikut keruanganku!"
Di dalam ruangan, Ayu di tatap bagai mangsa yang siap di terkam hidup-hidup. Bahkan dia berpikir kenapa bosnya itu memanggil dengan raut wajah yang merah padam.
"Apa kita sedang mengikuti kontes menatap?" Celetuk Ayu yang mulai jengah.
"Kau darimana saja?" Ujar Farhan dingin.
"Menghabiskan waktu," jawab Ayu dengan enteng.
"Siapa yang kau temui?"
"Temanku."
"Benarkah?"
"Ada apa denganmu? Sikapmu selalu berubah-ubah membuat aku tidak bisa memahaminya," ucap Ayu yang tersulut emosi.
"Berani sekali kau berteriak, jawab pertanyaanku yang tadi? Apa yang kau lakukan bersama Gabriel di cafe itu, hah?"
Serentetan pertanyaan terus keluar dari mulut Farhan, tapi Ayu tak ingin menjawabnya.
"Cepat katakan?!" Tekan Farhan.
"Apa masalahmu sebenarnya? Itu masalah pribadiku karena kau tidak berhak mengaturku." Ketus Ayu.
__ADS_1
Farhan mengeluarkan ponselnya dari saku jas dan memperlihatkan foto Ayu bersama dengan Gabriel. "Aku tidak peduli, tapi apa ini?" Bentak Farhan menggebrak meja membuat Ayu seperti senam jantung.
"Oh astaga, kanebo kering ini membuat aku terkejut!" batin Ayu yang memegangi dada untuk mengatur ritme laju detak jantung yang tak beraturan. Ayu hanya terdiam, dia kewalahan dalam menghadapi kemarahan Farhan yang menurutnya mengikuti aktivitasnya hingga mengetahui dia pergi bersama Gabriel.