
Ayu mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia mendelik jengah saat wanita itu tiba-tiba datang dan menuduhnya yang tidak-tidak. Yuna terus menyudutkannya, tak peduli jika Gabriel menatapnya dengan sangat tajam, marah dengan wanita yang masih mengklaim dirinya. Bahkan gambaran masa lalu mereka tak menyentuh kehidupannya sekarang, hanya ada nama Ayu saja di dalam hati. Tidak peduli, sebesar apa wanita yang berada di hadapannya berusaha untuk mengalihkan perhatian.
"Hah, kau lagi? Apa kau punya pintu ajaib, hingga bisa menerobos kemana saja?" celetuk Ayu yang menatap wanita di hadapannya dengan jengah, bahkan sebelum membuka suara terlebih dulu dia menghela nafas jengah. Bola mata yang memutar, menandakan dirinya tak begitu tertarik dengan pembahasannya kali ini.
"Tutup mulutmu yang bau itu! Aku sangat membenci dirimu yang seperti orang tak bersalah. Dasar perebut," pekik Yuna tak terima.
"Aku tidak merasa merebut apapun darimu, berhentilah menghabiskan waktu dengan menudingku. Benahi dan renungi lah dirimu sendiri, cari penyebabnya mengapa Gabriel tak mencintaimu."
"Awas kau! Akan aku runtuhkan kesombongan mu, wanita sialan!" pekik Yuna yang ingin menjambak rambut indah dari sasarannya.
Gabriel segera menghentikan aksinya yang dinilai sangat berlebihan, sedangkan Ayu hanya melirik kuku barunya yang pendek akibat memotongnya semalam. "Kau wanita sangat menjijikkan, aku benci kau…aku membencimu," pekiknya yang ingin mendorong tubuh musuhnya, untung saja Ayu dengan sigap memundurkan langkahnya.
"Sudahlah, hentikan ini. Baru saja aku terlepas dari masalah, jangan membuatku masuk ke masalah lagi. Hah, aku sangat bosan dengan suasana ini, dan kau…kau urus dia!" Ayu menunjuk Gabriel untuk menyelesaikan permasalahan dua orang yang mempunyai masa lalu. Dia segera masuk ke dalam mobil, tak menggubris teriakan wanita yang membuat kedua telinganya panas. Lagi pula, dia tidak ingin terlalu repot untuk mengatasi setiap permasalahan dan menunjuk sang aktor untuk menyelesaikan permasalah dengan sang pianis.
"Kembali kau, ini belum selesai. Aku belum memberimu pelajaran, ayo kembalilah!" pekik Yuna yang ingin mengejar, tapi terhalang karena tangan kekar menghalangi jalannya.
Ayu hanya membalasnya dengan mengangkat tangan ke udara, mengisyaratkan jika dia tidak menggubris teriakan itu.
"Apa kau ini bodoh? Hingga selalu saja mengklaim ku, aku sudah memperingatkan ini padamu. Biar aku ingatkan ini sekali lagi, jangan mencoba untuk mengatakan jika aku adalah tunanganmu. Hubungan itu sudah lama putus, sejak kau meninggalkanku di saat kita hampir menikah, lari dengan pria lain dan mempermalukan keluargaku." Ungkap Gabriel yang masih dendam dengan Yuna.
__ADS_1
"Jangan menahanku, aku belum memberi wanita itu pelajaran yang tidak akan dia lupakan." Desak Yuna pada Gabriel, merengek dan sesekali memberontak, tidak peduli seberapa besar pria itu memperingatkan nya.
Gabriel mendorong tubuh Yuna setelah melihat Ayu yang masuk ke dalam mobil, menunjuk wajah wanita itu. "Bila kau melakukan keanehan terhadapnya? Maka aku akan membuatmu viral akan hal-hal yang jelek, dan tidak bisa kau lupakan seumur hidupmu. Sekarang kau putuskan sendiri!" tegasnya seraya berlalu pergi meninggalkan sang pianis seorang diri, yang hanya terdiam bagai patung.
"Dia mengancamku, hanya untuk membela wanita itu? Dia belum tahu, seberapa nekat nya aku dalam ambisi ini." Batin Yuna yang meremas kedua tangannya, tersenyum saat mempunyai rencana baru.
****
Pada hari kedua, Ayu bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan dan menjadi bahan gosip semua orang di kantor. Tapi, dia tak memperdulikan gosip yang beredar di kantor, menjadi topik utama di saat dirinya masih saja dianggap bersalah oleh segelintir orang.
Ayu menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, sangat berguna baginya untuk meredakan emosi di hati. "Mengapa semua orang lebih tertarik masalahku saja? Ini semua karena Kira palsu itu, dia mencari masalah dan juga berakting dengan sangat baik. Sementara Farhan? Pria itu tidak berpendirian tetap, selalu saja berubah seperti angin yang membawanya kemana saja." Gumamnya di dalam hati. "Kau wanita yang kuat, tidak akan peduli seperti apa orang yang menuduhmu ataupun menghinamu. Ayo, semangat dan kembali bekerja." Dia menyemangati dirinya dengan kata-kata, hanya hal itu yang bisa dia lakukan untuk saat ini.
Pada beberapa hari kedepannya, akan ada pengumuman pemerintah untuk mengembangkan zona kimia di dekat tanah itu, berharap jika dia bisa mendapatkannya. Perusahaan Sky Grup menawarkan tanah tersebut untuk dijadikan perumahan.
Berita tersebar luas dan di luncurkan, berkat jejaring sosial yang memadai, perusahaan Sky Grup berusaha agar tanah itu dibeli oleh orang lain. Namun, itu tidak terjadi karena tanah itu bekas dari zona kimia yang tidak akan mudah membuat perumahan, tidak ada satupun pembeli yang ingin memberikan penawaran itu.
Lain halnya dengan Ayu, yang seakan mendapatkan kesempatan emas dan jarang terjadi. Berusaha memanfaatkan peluang yang ada dengan sedikit kecerdasan akan kemampuan mumpuni.
Perusahaan HR Grup berkesempatan, dan tidak ingin menyia-nyiakan yang ada. Ayu tahu apa yang dia lakukan, memanfaatkan sebaik mungkin dengan harga banting. Lokasi yang tidak diminati oleh perusahaan lain, memudahkannya menawar dengan harga yang lebih rendah dari penawaran yang dilakukan.
__ADS_1
Ayu melakukannya dengan sangat baik, pekerjaan yang selalu dia garap setiap harinya. Satu persatu masalah di kantor sudah terlepas beban, hingga dirinya bisa beristirahat menyandarkan punggung di kursi empuknya. Harus bekerja ekstra di saat Farhan tak masuk kantor hari ini, untung saja asisten Heri bisa meringankan pekerjaannya.
Di malam hari, Ayu baru saja selesai bersiap-siap untuk pergi ke acara penghargaan Gabriel. menggunakan gaun yang sangat indah, mengingat dirinya akan menemani sang sahabat. Setelah semuanya sudah selesai, dia melangkahkan kaki keluar dari apartemennya. Baru saja membuka pintu, terlihat seorang pria yang tampan mengenakan jas berwarna navy tengah tersenyum ke arahnya.
Ya, dia adalah Farhan yang tidak datang ke kantor. Lebih mementingkan urusannya yang sibuk menyiapkan kencan, namun dia terpukau dengan penampilan mantan calon tunangannya yang sudah cantik dengan gaun dan juga polesan make up tipis.
"Farhan?" Ayu mengerutkan kening, tak tahu jika malam ini ada tamu tak di undang. Memandang dari atas hingga bawah penampilan dari pria itu yang sangat tampan. "Ada apa? Mengapa kau tak masuk ke kantor?"
"Lupakan masalah kantor, aku ingin mengajakmu berkencan."
"Sekarang?"
Farhan menganggukkan kepala membuat Ayu sedikit pusing memikirkannya. "Maaf, sepertinya aku tidak bisa pergi bersamamu."
"Kenapa?" tanya Farhan yang terlihat kecewa.
"Aku ada janji dengan Gabriel, dia sudah memintaku lebih dulu untuk menemaninya. Sekali lagi, aku minta maaf." Jawab Ayu yang sedikit sungkan dengan ucapannya, berharap pria itu mengerti dan tak tersinggung.
__ADS_1