
Gabriel tak bisa menutupi rasa kesedihan yang teramat dalam yang dia rasakan, hatinya terasa perih dan terluka dari perkataan Ayu yang kembali menolaknya. Kesedihan kali ini benar-benar membuat dunia seakan runtuh, nasib yang tidak beruntung karena wanita dicintainya lebih mencintai sahabatnya sendiri.
Tidak ada harapan yang bisa dipertahankan, Ayu sudah menutup hatinya dengan sangat rapat membuatnya kesulitan membuka hati. Menatap wanita itu dengan mata yang sendu, hatinya hancur karena semuanya terasa sia-sia. "Kenapa kau melakukan ini padaku?" lirihnya.
Ayu tidak menjawab, membalas tatapan itu beberapa detik dan mengalihkannya. "Perasaan tidak bisa dipaksakan! Lupakan ini, bukankah kita sudah merubah topik pembahasannya, kenapa kau malah mengungkit nya kembali?"
"Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa mengendalikan diri ku sendiri."
Ayu mengelus pundak Gabriel dengan sangat lembut, berusaha untuk mengurangi rasa sakit di hati pria itu, walau terasa tidak mungkin. "Jangan mengharapkan apapun, aku juga tidak bisa mengendalikan diriku. Aku sangat mencintai Farhan, carilah wanita yang lebih baik dariku!"
Gabriel terdiam di sepanjang perjalanan, lidahnya terasa kelu untuk mengatakan apapun lagi, di tambah dengan sorot mata Ayu yang berbinar saat mengatakan nama sahabatnya. Pikiran bergelut saat mendengarkan fakta, menatap wanita di sebelahnya sekilas dan kembali fokus mengemudi.
"Apakah ini saatnya aku merelakan Ayu bersama Farhan? Apa aku sanggup melakukan hal itu?" batinnya sedih, hingga tak terasa bulir bening di pelupuk mata menetes dengan sendirinya.
Ayu melihat air mata pria di sebelahnya, dia juga tak berdaya. "Maafkan aku!" ucapnya yang merasa bersalah.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku!" sahut Gabriel yang menyembunyikan air matanya, tidak ingin membuat Ayu memandangnya sebagai pria lemah. "Jika keputusannya bersama Farhan adalah pilihan tepat, dan dia merasa bahagia. Sebaiknya aku belajar ikhlas menerima segalanya, demi kebahagiaan wanita yang sangat aku cintai." Gumamnya di dalam hati yang diam-diam merestui hubungan wanita dicintainya bersama dengan pria lain.
"Apa kau masih ingin menjalin pertemanan dan persahabatan denganku?" seloroh Ayu sedikit sendu.
"Hem, aku tidak ingin merusak jalinan pertemanan kita. Kau dan aku masih orang yang sama dan tidak akan berubah," sahut Gabriel yang tersenyum ikhlas.
Sesampainya di perusahaan hiburan milik Gabriel, mereka segera turun untuk mengecek. Ayu sangat puas melihat penyelesaian pekerjaan dari perusahaan itu, apalagi mengenai rinci tujuan perusahaan pada kuartal berikutnya.
Gabriel memperkenalkan secara rinci dan juga detail, hal itu membuat Ayu takjub dengan kecerdasan dan kerja keras dari pria itu.
Pekerjaan selesai di sore hari, keduanya segera pergi dari tempat itu. "Biarkan aku mengantarkanmu!" tawar Gabriel penuh harap.
"Tidak perlu repot-repot, aku bisa sendiri."
"Ku mohon! Biarkan aku mengantarmu." Bujuk Gabriel.
__ADS_1
"Baiklah, jika kau memaksa." Jawab Ayu yang membuat menarik dua sudut bibir Gabriel ke atas.
Keduanya masuk ke dalam mobil, suasana sepi tak ada yang berani membuka suara. Hanyut dalam pikiran masing-masing dan padatnya lalu lintas, menikmati suasana di sore hari.
Mobil berhenti di sebuah bangunan megah juga mewah, Ayu melirik pria di sebelahnya yang juga menatapnya. "Terima kasih, sudah mengantarku!"
"Tidak masalah." Sahut Gabriel yang tersenyum paksa seraya membantu wanita itu membukakan mobil.
"Terima kasih!"
"Tidak perlu mengucapkan kalimat itu lagi, bukankah kita ini teman?" Gabriel tersenyum untuk mengurangi rasa sakit di hatinya.
"Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku masuk dulu!" Ayu hendak melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam Mansion, pekerjaan membuat tubuhnya sangat lelah dan butuh istirahat. Namun Gabriel berlari dan memeluknya dengan sangat erat.
"Aku akan mengikhlaskan dirimu bersama dengan pria lain, ku harap kau bahagia." Gabriel memberikan restu dan menerima kenyataan yang ada, jika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.
Ayu memundurkan langkahnya, dia merasa tak nyaman dengan pelukan itu. "Iya, aku mengerti. Lepaskan pelukan ini!"
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja!"
Suasana hatinya semakin memburuk di kala melihat Ayu yang menerima pelukan dari sahabatnya sendiri, ingin rasanya dia menghajar pria yang berani memeluk wanita yang dia cintai.
Ayu melepaskan pelukan dengan paksa, dan segera masuk ke dalam tanpa menoleh membuat Gabriel patah hati. "Aku sangat mencintaimu, aku ikhlas bukan berarti rasa cinta itu menghilang. Jika Farhan menyakitimu, jangan salahkan aku untuk merebutmu dari pelukannya." Segera melangkahkan kaki dan masuk ke dalam mobil membawa perasaan hampa.
Ayu masuk ke dalam dan ingin masuk ke dalam kamarnya, tapi seseorang datang menghampiri.
"Wajahmu terlihat merona, apa ada seseorang yang membuatmu tersipu malu? Bagaimana pelukannya? Apakah kau menikmati dengan sangat baik?" ucap Farhan yang membuat Ayu mengerutkan kening.
"Apa maksudmu?"
"Ck, apakah kau melupakannya dengan begitu cepat? Padahal baru beberapa menit yang lalu," cibir Farhan yang cemburu.
__ADS_1
Mereka sangat dekat, bahkan Ayu bisa mencium tubuh Farhan yang dipenuhi oleh bau minuman alkohol. "Dia terlalu banyak minum, pantas saja dia berkata aneh," batinnya.
"Kenapa kau diam saja? Cepat katakan!"
"Aku tidak mengerti, aku masuk dulu ke dalam," ucap Ayu yang sangat letih dan ingin beristirahat, sekaligus mencari alasan karena tidak ingin berdebat.
"Kau tidak boleh melangkah satu langkah pun dari posisimu!" tegas Farhan sangat marah dengan alasan yang diberikan oleh Ayu. Rasa kecemburuan di hati membuatnya nekat mencium bibir calon tunangannya dengan paksa.
Ayu sangat kaget dengan hukuman yang diberikan oleh Farhan kepadanya, sebuah ciuman yang mengikuti kemarahan. Dia ingin memberontak, namun tidak bisa lepas dari cengkraman pria itu.
Setelah ciuman berakhir, Farhan menatap mata wanita di hadapannya. "Sepertinya hubungan mu dan Gabriel terlihat sangat dekat, apa itu masih bisa disebut sekedar pertemanan?" cibirnya.
Ayu mulai paham, dia tersenyum seraya meletakkan dua tangannya di atas bahu pria tampan di hadapannya. "Jadi kau cemburu? Dan ciuman paksa itu sebagai hukumannya?"
Farhan mengangguk dan mengalihkan perhatiannya ke samping, apa yang dikatakan Ayu memang benar.
Ayu menarik dagu hingga kontak mata saling berhadapan. "Gabriel tidak akan menjadi rivalmu, karena dia sudah mengikhlaskan dan mendukung hubungan kita." Ayu menjelaskan dengan tenang membuat beban di pundak Farhan berkurang dan juga merasa tenang.
"Tapi tetap saja, jika dia memelukmu."
"Aku juga memberontak, tapi dia memelukku dengan sangat erat. Apa dayaku?"
Farhan memeluk Ayu dengan erat, berusaha untuk menghapus pelukan yang diberikan oleh Gabriel kepada calon tunangannya.
"Apa yang kau lakukan?" Ayu sangat heran dengan Farhan yang terus memeluknya sebanyak tiga kali.
"Dia memelukmu sekali dan aku tiga kali untuk menghilangkan jejaknya." Sahut Farhan yang terus memeluk beberapa kali. Sedangkan Ayu menghela nafas seraya menggelengkan kepala, karena sikap posesif pria itu muncul.
"Apa kau masih ingin melanjutkan perjodohan ini? tanya Farhan meyakinkan diri.
"Sepertinya aku akan mempertimbangkan kembali," gurau Ayu yang hanya ingin menggoda Farhan.
__ADS_1
"Aku menolaknya! Kauu harus menikah denganku!" tegas Farhan tanpa bantahan.