Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 232 ~ Tercengang


__ADS_3

Semua orang sangat terkejut, wanita yang dipandang rendah rupanya orang terpandang, tidak ada yang tahu jika wanita yang terlihat sederhana merupakan bos dari Gabriel. Mereka tercengang, tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini, bahkan Farhan juga tercengang dan sesekali mengedipkan mata.


Ayu terpaksa membongkar identitas di saat dia tak ingin menjawab perasaan Gabriel yang nantinya serba salah, ingin sekali menolak, tapi nama dan reputasi pria itu akan tercemar. Jika dia menerima perasaaan? Sama saja dia membohongi dirinya sendiri. Dia tahu, jika pernyataannya yang baru saja dia katakan membuat semua orang menganga tak percaya.


Pembawa acara segera mengendalikan dirinya, kembali melanjutkan acara setelah beberapa saat berhenti. Mereka kagum dengan Ayu yang bisa menempatkan diri di situasi sulit, sikap dan juga penampilan yang sederhana merupakan investor X Entertainment. "Jadi, hubungan kalian hanya sebatas partner?" tanya sang pembawa acara, mewakili perasaan yang lain.


"Ya, kami dekat bukan berarti sepasang kekasih yang saling mencintai. Ada hal-hal yang tidak bisa dikatakan, dan masalah pernyataan itu juga hanyalah bentuk apresiasi." Jelas Ayu setelah menarik nafas dalam dan mengeluarkan secara perlahan, melirik Gabriel yang berada di hadapannya sekilas.


Gabriel terlihat sedih, dia tahu jika Ayu sangat pintar menghindari pertanyaan dari perasaannya. Menatap Ayu dan ingin protes, tapi dia tidak berdaya saat ini. Reputasi yang di bangun setelah bertahun-tahun tak ingin dia sia-sia kan, menghancurkan segala aspek dari kerja kerasnya. 


"Jika anda bos dari idola kami ini, lalu mengapa bekerja di perusahaan HR Grup? Bukankah itu sudah cukup? Mengingat jika anda adalah bos, menyokong Gabriel merupakan suatu hal yang cukup sulit."


Ayu tertawa untuk mencairkan suasana, sangat terlihat jelas semua orang terlihat sangat serius ingin mendengar jawabannya."Mengapa kalian diam saja? Aku hadir sebagai partnernya, jadi tidak heran jika berada disini. Mengenai pernyataan itu hanya bentuk dari akting Gabriel yang sangat mumpuni dan sangat berbakat." Dia menyentuh bahu pria itu, seakan memberikan kode agar tidak melanjutkan ungkapan hati.


"Apa ini? Dia menghindar untuk menjawab perasaan ku, apa karena dia tak nyaman dengan semua orang?" batin Gabriel yang begitu banyak pertanyaan di benaknya, memandang ke para tamu yang melihat juga menatap mereka. "Iya, itu memang benar. Aku hanya berakting untuk mendalami peran ku nanti bersama dengannya." Jelasnya yang menganggukkan kepala.


"Jadi ini sudah jelas, akan ada promosi serial televisi dalam skala yang sangat besar. Gabriel berusaha untuk melakukan hal yang terbaik, hingga waktunya akan segera tiba." 

__ADS_1


"Wow, luar biasa. Kapan diadakan promosi serial televisi itu?"


"Jangan terlalu memujiku untuk itu, hanya prestasi yang tidak ingin aku tutupi dari kalian semua. Mengenai masalah promosi skala besar, akan diadakan bulan depan." Ungkap Ayu menjelaskan secara jujur, masih melirik Gabriel agar mengerti apa yang dia inginkan. Dia selalu melemparkan tatapan yang penuh arti, sorot mata yang menekan pria di hadapannya agar tidak membuat masalah di depan semua orang. 


Ayu sebenarnya tidak ingin membocorkan identitasnya, hanya membiarkan orang lain yang selalu memusuhi dan memandangnya sangat rendah. Bola mata yang menyusuri ruangan besari itu, memperhatikan para orang-orang yang manggut-manggut kepala. Keadaan tercekik dan terbelit, di saat Gabriel menyatakan cinta dan Farhan yang ingin menghampirinya, merasa jika dia ingin pingsan. Beruntung, otak cerdasnya bisa di bawa berkompromi, sangat membantu di saat genting dan ingin melarikan diri. Raut wajah yang tersenyum, tapi di dalam hatinya ingin mencakar dua pria yang hampir berdebat karena dirinya. 


"Jadi ini sudah jelas, jika hubungan partner di antara kami murni terjadi dan itu salah satu dan bocoran mengenai apa yang akan dialami nantinya." Jelas Ayu meyakinkan semua orang, jika dia berbicara jujur walau terselip kebohongan, tersenyum tipis saat semua orang mempercayainya. 


"Apa yang dikatakan nona Ayu adalah benar?" tanya sang pembawa acara, berusaha mewakili perasaan semua orang.


"Jadi, tidak ada hubungan yang serius di antara kami. Hanya sebatas rekan kerja, dan jangan salah paham mengenai ucapan Gabriel." 


"Semua orang sudah tahu sekarang, dan kami sangat puas mendengarnya."


"Itu bagus, biar aku tegaskan agar tidak ada yang salah paham. Aku dan Gabriel hanyalah partner, dan dia juga sahabatku!" Ayu ingin berjalan kembali ke tempat duduknya, tak sengaja berkontak mata dengan Farhan yang berada dekat. Baru saja dia ingin duduk, beberapa wartawan malah mengerubunginya bagai sebutir gula. "Astaga…apalagi ini?" ringisnya di dalam hati, sudah lelah dengan masalah yang datang silih berganti.


"Kami ingin mewawancarai anda sebentar, bisa berikan sedikit waktu anda, Nona." ucap salah satu wartawan yang mewakili pertanyaan wartawan lainnya.

__ADS_1


Ayu mengangguk pelan, menyelesaikan hari dengan lapang dada. "Silahkan!" 


"Mengapa anda menutupi identitas yang bisa membungkam dengan membayar lunas mulut orang-orang yang selalu memandang anda lemah." Wartawan itu segera mengarahkan alat perekam suara, sangat menanti jawaban apa yang akan diberikan seorang narasumber berita. 


"Aku tidak ingin memperlihatkan apa yang sudah aku capai selama ini, hanya memberikan kepuasan tersendiri. Mengenai pendapat orang lain? Aku tidak peduli, terserah mereka berbicara apa. Lagipula, kebanggaan ku tidak perlu di ketahui oleh siapapun dan hanya ku simpan saja. Siapa sangka jika aku mengatakannya di sini mengenai identitasku." Jelas Ayu.


Semua orang terkesan dengan kepribadian dari Ayu yang tidak ingin menyombongkan diri, berprestasi hanya mengkonsumsi seorang diri dan tidak memperlihatkan kepada orang lain.


Seseorang melihat hal itu dari kejauhan juga sangat terkejut, mengetahui jika musuh mereka bukan orang sembarangan. Vanya yang saat itu ikut berpartisipasi dalam acara, bersama dengan Jenni amyang meminta sahabatnya untuk ikut di acara penghargaan sang idola. "Apa? Jadi dia bukan wanita sembarangan? Dan dia juga bos Gabriel, ini tidak mungkin." Gumamnya yang terdengar oleh wanita di sebelahnya.


"Bukan kau saja, aku bahkan merasa ini hanyalah mimpi. Habislah kau Vanya, pantas saja rivalmu itu bisa menyelesaikan masalah dengan baik, karena bos." Sambung Jenni yang menakuti sahabatnya.


"Mau dia bos, Ceo, Model, atau apapun itu aku tidak peduli lagi. Apa karena identitasnya terbongkar? Aku tidak akan mundur."


"Kau terlihat sangat bersemangat dan juga menggebu-gebu, aku harap kau tidak menyesali tindakan mu."


"Aku sudah memikirkannya dengan sangat baik, dan tidak perlu mencemaskanku."

__ADS_1


__ADS_2