Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 183 ~ Keyakinan


__ADS_3

Ayu memeluk kakinya, menopang dagu di atas lutut, pandangan mata yang mengarah ke depan dan terlihat kosong. Pikiran sudah berjalan-jalan, mengenang kebersamaannya bersama dengan Farhan. 


Sebuah kebersamaan yang begitu terkesan di hatinya, tidak tahu apakah dirinya akan selamat atau tidak. Namun saat ini, dia berharap jika pria itu menyelamatkannya. 


"Bagaimana caraku untuk keluar dari sini? tempat ini sangat gelap," monolog Ayu yang sangat ketakutan, wajah yang pucat pasi dengan tubuh yang gemetaran, keringat di dahi bercucuran dengan deras menandakan jika dirinya tak sanggup dengan situasi yang dihadapi saat ini.


Walaupun situasinya sangat sulit, tetapi pikirannya masih memikirkan kondisi kakek Hendrawan yang kritis di rumah sakit, dia ingin segera keluar dari tempat itu dan kembali mencari keberadaan dokter Zaki. "Apakah tidak ada seorangpun yang datang untuk menyelamatkanku. Ya Tuhan…tolong kirimkan seseorang untuk menyelamatkanku." lirihnya dengan suara yang gemetaran.


Sendirian di tempat gelap memang menjadi momok siapapun, bahkan Ayu yang mempunyai phobia akan kegelapan seakan tak bisa mengatakan apapun lagi, berharap jika ada orang yang menyelamatkannya nya. Kepala yang terasa pusing, degupan jantung semakin kencang.


Di sisi lain, Farhan dan sang manajer terjun payung dari pesawat mereka mulai berpencar untuk mencari keberadaan Ayu. Menyusuri tempat itu dan melihat dari ketinggian harus benar-benar jeli jika adanya tanda-tanda. 


"Aku yakin, jika Ayu masih hidup. semoga saja dia selamat dan baik-baik saja," batin Farhan yang sangat takut bila sang mantan calon tunangan mengalami bahaya.


Farhan terus mengendalikan parasut, mencari di sekitaran terjadinya longsor. namun tidak ada ada tanda-tanda ataupun keberadaan dari Ayu yang terlihat dari ketinggian, dia memutuskan untuk mendarat dan diikuti oleh sang manajer setelah beberapa lama di udara.


Mereka membuka parasut dan segera bertemu, mendiskusikan mengenai pencarian yang tidak akan mereka hentikan sebelum menemukan. "Apa kau melihat tanda-tanda keberadaan dari Ayu?" desak Farhan yang sangat bersemangat.


Sang manajer menggelengkan kepala dengan pelan. "Saya tidak menemukan apapun, Tuan." Jawabnya pelan.


Farhan memundurkan langkahnya, dua pupil mata yang terus bergerak menandakan jika dia tidak mempercayai situasi ini dan menganggapnya seperti mimpi buruk. "Ini tidak mungkin, sebaiknya kita mencari lagi nya lagi. Pencarian ini belum semaksimal mungkin!"


"Bahkan semua para tim sudah mengerahkan kemampuan mereka tapi juga tidak menemukannya."


"Apa kau yakin? Mereka tidak memeriksa ke dasar jurang dan beralasan tidak ingin membahayakan nyawa para tim hanya untuk mencari satu orang saja." Ucap Farhan yang menatap sang manajer, dia sangat kesal karena tidak menemukan keberadaan Ayu, hatinya tidak tenang sebelum misi ini berhasil.

__ADS_1


Salah satu polisi bersama dengan asisten Heri darmtang menghampiri Farhan dan juga sang manajer, menatap kedua orang itu secara bergantian. "Bagaimana hasilnya?"


"Kami tidak menemukan apapun," jawab sang manajer yang menggelengkan kepala. 


"Kalian hanya memeriksa bagian atasnya saja, aku ingin jika pencarian ini sampai ke dasar!" titah Farhan yang menetap polisi dan juga asistennya.


"Tapi Tuan, cukup berbahaya untuk sampai ke sana."


"Hentikan! Aku tak ingin mendengar apapun lagi, dan tidak menerima penolakan juga bantahan. Kita harus mencarinya sampai ketemu!" 


Polisi, sang manajer, dan juga asisten Heri saling melirik satu sama lain, bisa melihat bagaimana raut wajah seperti benang kusut. "Baiklah, kita akan mencari nya sekali lagi." 


Akhirnya, perintah dari Farhan lah yang menang, membuat semua orang kembali melakukan pencarian secara besar-besaran, mengerahkan semua pasukan dan bahkan beberapa penduduk desa juga ikut terjun dalam membantu. 


Seseorang yang dari kejauhan memperhatikan tekad dari Farhan meremas ujung pakaiannya dan semakin membenci Ayu. "Aku berharap Ayu tidak dapat ditemukan, dan jika kembali hanya menemukan jasadnya saja." Gumam Kira tersenyum tipis. 


Kira tak ingin membebankan dirinya untuk mencari keberadaan Ayu, dan lebih memilih berdiam diri di dalam tenda yang dipersiapkan oleh tim. "Sepertinya keberadaan wanita itu tidak akan ditemukan, aku tidak perlu cemas memikirkan Farhan dan sebaiknya aku tetap disini. Apa yang aku dapatkan dengan mencarinya?" dia memutuskan untuk bersantai.


Sang manajer bisa melihat begitu frustasinya Farhan karena tidak ditemukan keberadaan atasannya. "Mereka saling mencintai, aku yakin itu. Permasalahan utamanya adalah si ulat bulu, apa aku boleh membunuhnya?" begitulah yang ada di pikirannya. 


Semua orang mulai mencari dan menyebar memeriksa setiap lokasi yang ada di sekitaran tanah longsor, cukup lama mereka melakukan pencarian dan hasilnya masih tetap sama, Farhan begitu terpuruk saat tak bisa menemukan keberadaan wanita yang dicintainya.


Seseorang menghampiri Farhan. "Kita sudah melakukan yang terbaik, tapi ini di luar jangkauan. Kemungkinan nona Ayu tertimbun oleh tanah longsor!"


"Dia wanita yang sangat kuat dan juga cerdas, aku sangat yakin Ayu masih hidup. Kalau kalian tidak ingin untuk melanjutkan pencarian, maka pergilah dari sini! Bisa saja dia tidak ada di sini, dan tidak mengalami kecelakaan." 

__ADS_1


Sedangkan sang manajer tidak bisa mengendalikan dirinya menangis karena memikirkan nasib atasannya. "Dimana dia sekarang?"


Polisi itu menghela nafas berat, mengerti perasaan dari pria tampan dengan setelan jas. "Kita istirahat dulu, Tuan. Para tim dan juga penduduk desa sudah kelelahan, berilah mereka waktu untuk memulihkan tenaga."


Farhan menganggukkan kepala dan kembali ke tenda untuk beristirahat.


 Sementara Kira yang melihat hal itu tersenyum dengan senang, tidak bisa mengungkapkan rasa bahagia di hati segera mendekati pria yang mengenakan setelan jas. Bagaimana hasilnya?" tanyanya bermulut manis.


"Belum ditemukan!" sahut Asisten Heri.


"Sayang sekali, cukup sulit untuk menemukannya mungkin saja dia tidak selamat." 


Farhan sangat marah mendengar ucapan dari wanita di sebelahnya, melirik sang asisten untuk menjauhkan wanita itu. Dengan cepat, sang asisten menganggukkan kepala untuk melaksanakan perintah. 


"Hei, kenapa kau menyeretku menjauh dari Farhan?" pekiknya tak terima.


"Tolong, mengertilah Nona! Tuan Farhan tak ingin diganggu, beri dia ruang untuk menenangkan pikirannya."


"Apa ini perintah atau hanya kau berniat untuk menjauhkanku?"


"Tentu saja Ini perintah, jujur saja jika aku tak ingin berurusan denganmu, Nona."


"Kau sangat kurang ajar sekali kepadaku, lihatlah bagaimana aku akan membalas ini semua, dan kau! Aku pastikan kau dipecat dari pekerjaan mu." Kira berusaha untuk menerobos, hingga dia berhasil dan kembali mendekati Farhan.


"Dari tadi kau belum makan, isilah perutmu dulu!" tawar Kira yang bersemangat, menyodorkan makanan ke arah pria tampan itu, tak lupa dengan senyuman manis di wajahnya.

__ADS_1


  


__ADS_2