
Semua orang menyorot wanita paruh baya yang mengeluarkan sebuah alat perekam berbentuk pena, tak terkecuali Maudi yang tidak bisa mengelak lagi. Suasana semakin menegang dan ingin mendengarkan suara rekaman itu. Bi Ningsih menyerahkan alat perekam itu kepada Farhan.
"Silahkan di cek, Tuan."
"Baiklah, Heri!" panggil Farhan tanpa menoleh.
"Iya, Tuan."
"Segera putarkan rekamannya," titah Farhan yang menyerahkan alat perekam berbentuk pena.
"Baik, Tuan!" sahut Heri yang mengambil pena perekam dan segera memutarkan nya di hadapan semua orang.
Ayu tersenyum tipis saat rencananya Maudi dapat di putar balikkan keadaan dengan begitu mudah. "Licik dibalas dengan kecerdikan, sebentar lagi kedok mu akan terbongkar," batinnya.
Terdengar dengan jelas perbincangan Maudi dengan bi Ningsih, semua orang bisa memahami mengenai pembicaraan itu.
"Aku akan membayar bi Ningsih lebih mahal, jika ingin membantuku."
"Aku tidak ingin melakukannya."
"Bukankah bi Ningsih membutuhkan uang? Aku akan memberikan empat juta untuk melakukan pekerjaan yang sangat mudah itu."
"Bagaimana jika ketahuan oleh tuan Farhan dan nona Ayu? Resikonya sangatlah besar."
"Aku akan membayar lima juta, jika bibi tidak mau? Aku akan memecat bibi secara tidak terhormat dan aku pastikan bibi kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan baru." Ancam Maudi terdengar jelas.
"Tolong, jangan lakukan ini kepada bibi." Mohon bi Ningsih dengan suara parau.
"Iya atau tidak? Pilih jawabannya sekarang juga, dipecat atau mendapatkan keuntungan dan menutup mulut. Bukankah itu pekerjaan yang sangat mudah?!"
"Ba-baiklah, demi pekerjaan dan bibi tidak ingin dipecat."
"Pilihan yang sangat bagus, lakukan dengan penuh hati-hati. Bibi tidak punya banyak waktu, cepat masuk ke dalam dan tukarkan desain itu dengan kertas kosong."
__ADS_1
"Baiklah."
Percakapan selesai membuat Farhan menatap ketua sekretaris tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Sedangkan Maudi tidak bisa membela dirinya karena bukti sudah terkuak.
"Bagaimana? Masih ingin mengelak?" Celetuk Ayu yang tersenyum mengejek.
"Aku tidak menduga jika ketua sekretaris mampu melakukannya!" sambung Farhan tanpa ekspresi.
"Bukan begitu Tuan, itu bukanlah suara ku. Mereka bekerjasama untuk menjebakku, aku di fitnah!" elak Maudi dengan mata memohon untuk membantunya, tidak ingin image nya buruk di mata bos sekaligus pria yang dia sukai.
"Kau sudah tertangkap basah, apa masih ingin mengelak lagi?" Cetus Ayu yang mendelik dengan jengah.
"Bisa saja suara itu hanya mirip denganku, berhentilah menuduh ku. Aku tidak bersalah...aku tidak bersalah," ucap Maudi yang berakting terisak, bagaikan seorang wanita teraniaya.
"Jangan berpura-pura, aktingmu sangatlah jelek dan terlihat tidak alami, sangat berlebihan." Cibir Ayu.
"Dasar wanita yang tak punya hati, aku sedang bersedih tapi kamu malah mencibirku. Dasar wanita dengan hati iblis," umpat Maudi dengan penuh dramatis, mengusap air mata palsunya.
"Apa kau sedang membicarakan dirimu sendiri? Sangat memalukan, bahkan menyalahgunakan jabatan untuk mengancam orang lain."
"Aku cukup kecewa denganmu, ketua sekretaris." Tukas Farhan dingin.
"Jangan katakan itu Tuan, ini hanyalah kesalahpahaman saja."
Ayu menatap Maudi dengan jengah, dia sangat bosan dengan suasana dan elakkan dari ketua sekretaris. "Jangan mengelak lagi, apa kau tidak capek dengan bukti yang ada. Apa kau masih menginginkan bukti lagi."
"Yah, mana buktinya?"
"Baiklah, aku pastikan kali ini kau tidak bisa mengelak lagi." Tutur Ayu yang kembali menambahkan bukti baru yaitu bukti transfer untuk bi Ningsih. Ayu memperlihatkan bukti berupa kertas kecil atas nama orang tua Maudi yang telah mengirimkan sejumlah uang kepada bi Ningsih. "Ini bukti transfer dengan memakai nama orang tuamu, rekening ini atas nama mulyo. Aku tidak bodoh, walau kamu memakai rekening orang lain pun aku juga akan mengetahuinya."
"Oh ya tuhan…wanita ini sangat jeli dan juga cerdik, apa yang harus aku lakukan? Aku sudah tertangkap basah dan tidak bisa mengelak lagi. Semua rencanaku hancur!" batin Maudi yang menjerit. Semua orang menatap tersangka dengan tatapan penuh arti.
"Apa masih ingin mengelak lagi? Semua bukti sudah aku keluarkan dan untuk bi Ningsih, aku ucapkan terima kasih karena telah bekerja sama untuk membongkar kedok ketua sekretaris," ucap Ayu yang menatap Maudi, dia mengalihkan perhatiannya kepada bi Ningsih dengan berjabat tangan.
__ADS_1
"Senang bekerja sama dengan Nona, aku permisi dulu."
"Hem." Ayu mengangguk pelan dan melihat kepergian dari bi Ningsih yang keluar dari ruangan.
"Dasar wanita sialan, bedebah. Andai saja kau tidak masuk ke perusahaan ini, hidupku akan selalu damai," Teriak Maudi yang tidak bisa menahan rasa amarah yang meledak. Dia sangat malu dan juga menaruh dendam kepada Ayu, ternyata rivalnya lebih pintar darinya.
"Misi berhasil," lirih pelan Ayu tersenyum, bisa memancing sifat asli ketua sekretaris di hadapan semua orang.
"Berani sekali kau berteriak di hadapanku, kau dipecat secara tidak terhormat dan masuk dalam blacklist," Ucap Farhan lantang dengan suara yang menggema di dalam ruangan. Sontak Maudi terkejut, dia tidak menyangka jika rencananya akan berimbas kepada dirinya sendiri.
"Senjata makan tuan, karma is real." Ucap Ayu yang sangat puas dengan permainannya berhasil mengalahkan ketua sekretaris dengan beberapa pukulan telak.
Maudi tidak memperdulikan ucapan Ayu, dia menatap Farhan dengan penuh harapan. Berharap jika bosnya itu tidak memecatnya dan memasukkan ke dalam daftar hitam dan membuatnya tidak diterima ke perusahaan lain. Maudi ingin meminta ampunan kepada Farhan, belum sempat dia menjelaskan, beberapa orang dari tim penyelidik membawanya untuk keluar dari ruangan konferensi rapat.
"Jangan bawa aku pergi, Tuan aku mohon tolong ampuni aku yang khilaf. Aku tidak sengaja melakukannya." Teriak Maudi yang menoleh dan berusaha untuk melepaskan diri dari orang-orang yang membawanya pergi.
Tinggallah Ayu, Farhan, dan Heri berada di ruangan itu, mereka melihat kepergian Maudi hingga menghilang dari pandangan.
"Sebaiknya keamanan dari perusahaan mu perlu ditingkatkan lagi, jika orang lain yang berada di posisiku, mungkin saja orang itu sudah keluar dari perusahaan mu ini," sindir Ayu yang melirik Farhan.
"Aku pastikan untuk hal seperti ini tak akan terjadi lagi di masa depan, maafkan mengenai sistem keamanan kantor." Sahut Farhan dengan tulus.
"Bagus, jika kau memahami apa yang aku maksud."
"Heri," panggil Farhan.
"Iya, Tuan."
"Pastikan ini tidak terjadi lagi dan perkuat sistem keamanan."
"Baik, tuan."
"Dan kau, ikut aku ke ruanganku sekarang juga." Farhan menatap Ayu pertanda tidak ada bantahan.
__ADS_1
"Urusannya telah selesai, untuk apa aku ke kantormu?" Keluh Ayu yang sangat ingin beristirahat sejenak.
"Jangan banyak bertanya, ikut aku sekarang juga."