
Penata cahaya mulai melakukan pekerjaan nya, menyorot kancing gaun yang tersisa di bagian. Beberapa orang mulai melihat dengan sangat jelas, Farhan, Gabriel, dan Raymond mendekat untuk memastikan hasil ucapan dari Ayu.
"Sorot lampu dengan cahaya putih," perintah Ayu tegas.
Raina semakin gelisah, tidak tahu akan nasib kedepan. Keringat dingin yang berada di kening menjadi saksi ketakutan akan rencananya gagal total. "Astaga, bagaimana ini? aku menyentuh kancing itu dan ternyata dia sangat pintar untuk mencari bukti. Semoga saja dia gagal dalam membuktikan aku bersalah," gumam Raina di dalam hati, meremas ujung pakaiannya untuk menghilangkan kegugupan.
"Wah…wah, sepertinya kau sangat gugup!" cibir Gabriel yang menatap Raina, karena sedari tadi dia melihat tindakan wanita itu.
Dengan cepat Raina menjadi tenang untuk menghindari kecurigaan semua orang. "Aku tidak gugup, berhentilah membual!" ketusnya yang menatap Gabriel dengan sinis.
"Benarkah? Di sini ada penyejuk ruangan, tapi kenapa kau berkeringat?" ucap Gabriel yang tersenyum mengejek.
"Itu karena__" sahut Raina seraya berpikir mencari alasan yang tepat.
"Ck, berhentilah berdebat. Sebaiknya kau diam, biarkan Ayu yang memberikan bukti!" tekan Farhan yang sangat terganggu dengan suara Gabriel.
"Kau selalu saja begitu, ini mulutku dan terserah padaku untuk menggunakannya," cibir Gabriel yang menatap Farhan.
"Apa kau ingin aku menjahitnya?" ancam Farhan yang mulai jenuh dengan sahabatnya sekaligus rival.
"Kenapa kalian selalu saja berdebat? Seolah memperebutkan wanita yang sama saja," celetuk Raymond yang menautkan kedua alisnya, melihat dua pria yang dia kenali.
"Aku rasa begitu," lirih Gabriel dengan pelan.
"Apa? Jadi perkataanku benar?" ujar Raymond yang sangat antusias.
Farhan yang kesal dengan ucapan Gabriel segera menginjak kaki pria malang itu. "Tutup mulutmu, kau selalu saja begitu." Bisiknya.
"Aku tidak sengaja," Gabriel mencengir kuda sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Apa yang berusaha kalian tutupi?" tanya Raymond yang sangat penasaran.
__ADS_1
"Tidak, aku hanya asal bicara saja. Apa profesimu sekarang berubah menjadi wartawan? Fokus dengan bukti." Jawab Gabriel.
"Apa kalian sudah selesai? Aku sedang menunjukkan bukti, setidaknya perhatikan!" Tukas Ayu yang jengkel dengan ketiga pria tampan itu.
"Baik, lanjutkan." Titah Farhan.
Cahaya berwarna putih juga menyorot tangan Raina, dan memang benar. Dugaan Ayu sangat tepat sasaran, di telapak tangan Raina meninggalkan jejak. "Kedok mu sebentar lagi akan terbongkar," gumam Ayu yang tersenyum tipis. "Apa kalian melihatnya? Ada jejak berwarna putih di telapak tangannya." Tutur Ayu dengan lantang.
Semua orang yang melihatnya sangat terkejut, mereka juga mengagumi kecerdasan dari Ayu dan mulai berbisik-bisik mengenai Raina yang menjebak sekretaris itu.
"Bukti sudah ada di depan mata, apa kau ingin pembelaan diri?" ucap Farhan yang menatap Raina dengan tajam.
"Aku tidak melakukan apapun, pasti ada yang ingin menjebakku di sini." Sarkas Raina yang mengelak.
"Oh ya? Kau terlihat sangat yakin." Ejek Ayu. "Sekarang aku ingin penata cahaya menyorot tangannya dengan lampu berwarna merah," titahnya dengan tegas.
Penata cahaya kembali menyorot kancing gaun yang tersisa dan berubah menjadi warna merah, dengan cepat dia menarik tangan Raina untuk memeriksa jejak. Seketika Raina menjadi sangat gugup, dan berusaha untuk melawan. Namun, usahanya tidak berhasil karena kekuatan Ayu yang sangat kuat menahan tangannya.
"Kau tidak bisa mengelak lagi."
Dan benar saja, saat di sorot, warna berbeda muncul di tangan Raina. Gabriel dan Farhan tersenyum tipis dan semakin kagum dengan kepintaran Ayu. Sementara Raymond sangat terkejut dengan bukti yang ada di hadapannya secara langsung, menatap Raina dengan sangat kecewa. Dia tak menyangka jika kekasihnya mampu melakukan hal sepicik dan selicik itu hanya untuk menjebak sang sekretaris.
"Kenapa kau melakukannya?" Tanya Raymond datar seraya menatap kekasihnya dengan menyelidik.
"Kau salah paham, dialah yang mencoba untuk menjebakku!" tutur Raina sendu seraya menunjuk Ayu.
"Jangan mengelak lagi, aku melihat buktinya!" Raymond meninggikan suaranya membuat Raina bungkam. "Cepat panggilkan manager!" perintah Raymond sedikit berteriak, memanggil manager sang kekasih.
"Saya, Tuan." Sahut Lia yang ketakutan, menundukkan kepala karena tak berani bertatapan langsung.
"Kau selalu bersamanya 'bukan? Katakan apa yang yang sebenarnya terjadi."
__ADS_1
Lia melirik Raina yang menggelengkan kepala, berusaha untuk membungkam mulut managernya agar tidak mengatakan apapun. Lia menelan saliva yang seakan tersangkut di tenggorokan, dia menjadi bimbang. Di satu sisi ada Raina dan di sisi lainnya ada Raymond yang bahkan lebih berkuasa.
"Kenapa kau diam saja! cepat katakan atau kau akan kehilangan pekerjaan." Ancam Raymond yang tak main-main.
"Jangan pecat saya, Tuan. Saat nona Raina ada di ruang ganti pakaian, dia menggunting kancing berlian itu dan membuangnya ke toilet." Jujur Lia yang tak sengaja melihat aksi dari Raina.
"Kau jangan mengada-ngada, aku bahkan tidak melihat siapapun di sana. Apa kau bekerja sama dengan wanita itu," seloroh Raina yang terus menunjuk Ayu.
"Diam atau kau tidak akan bisa berbicara lagi," geram Raymond.
"Saya tak sengaja melihatnya, dan tidak akan berbohong karena taruhannya adalah pekerjaan." Sahut Lia dengan cepat dan tak ingin terkena masalah.
"Sekarang sudah jelas, siapa yang menjebak siapa?" celetuk Ayu yang menyunggingkan senyuman di wajahnya.
"KAU!" Tekan Raina yang tak bisa membela diri lagi, karena topengnya telah terbongkar di hadapan semua orang.
"Jangan menunjukku begitu atau jari mu akan aku patahkan!" lantang Ayu yang kehabisan kesabaran menghadapi wanita bermuka dua.
"Hah, sudah aku katakan dari awal dan keyakinanku itu sangat tepat sasaran. Kau berusaha untuk menjebak Ayu, sangat memalukan!" cibir Gabriel yang tersenyum mengejek.
"Honey! ini hanya salah paham saja." Raina menatap kekasihnya dengan nanar dan juga sendu, memegang pergelangan tangan pria tampan itu berusaha untuk mendapatkan perhatian dan simpati dari Raymond.
"Jangan menatapku begitu, aku sangat muak melihat wajahmu itu." Raymond menghempaskan tangan kekasihnya dengan kasar, dia tak menduga jika Raina sangatlah licik dalam menjebak orang lain. Dia tidak menyukai wanita yang hatinya sangatlah kotor, dan memutuskan untuk tidak membela.
"Kalian carilah kancing berlian itu di saluran air!" perintah Farhan yang menatap beberapa kru dan juga asistennya tak jauh darinya.
"Baik, Tuan."
"Kau ini wanita seperti apa? Sudah ketahuan masih saja mengelak, akui saja perbuatanmu."
"Dasar wanita sialan, kau wanita yang sangat menjijikkan." Umpat Raina yang meludahi lantai sebagai rasa ungkapan ketidaksukaan terhadap keberadaan Ayu.
__ADS_1
"Apa kau sedang membicarakan dirimu? Mulai sekarang, aku memutuskan kontrak kerjasama kita dan kau dibebaskan!" kata Ayu dengan lantang.