
Farhan berdiri di samping Ayu ingin memeriksa bagaimana kondisi dari gadis itu, tapi dia tidak mengetahui jika Ayu tiba-tiba saja berdiri dan menabrak dirinya. Farhan yang baru saja dia selesai mandi dan hanya mengenakan jubah mandi, membuat otot perut yang berbentuk kotak-kotak dan dada yang bidang terekspos dengan jelas. Untung saja Farhan dengan cepat menangkap tubuh Ayu yang tidak jadi jatuh ke lantai, memegang pinggang yang ramping serta tatapan mata yang saling menatap satu sama lain.
Ayu menatap Farhan tanpa berkedip sedikitpun, dia begitu terpana saat melihat bentuk tubuh atletis milik pria yang masih memegangi pinggangnya. "Oh ya tuhan, setelah dilihat cukup dekat, ternyata dia sangat tampan. Otot-ototnya juga terlihat sangat menggemaskan, sama seperti roti sobek yang selalu aku kagumi," batin Ayu yang terpana melihat pemandangan di hadapannya.
"Apakah kau sudah puas memandangiku?" Goda Farhan yang tersenyum tipis membuat Ayu gelagapan dan cepat berdiri dengan tegak.
"Aku tidak memandangi mu jangan terlalu percaya diri," jawab Ayu yang berusaha untuk menutupi kegugupannya.
"Benarkah?" Celetuk Farhan yang tampak berpikir.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak." Ayu berpura-pura ketus agar tidak ketahuan jika yang dikatakan oleh pria itu benar.
"Bagaimana jika aku tau dengan apa yang kau pikirkan itu?"
"Ck, lebih baik aku membersihkan diri daripada berurusan dengan pria sepertimu." Ayu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi yang ada di kamar tempat dia dan Farhan berada, bergantian untuk membersihkan diri.
Farhan tersenyum tipis saat bisa melihat raut wajah dari wanita itu yang sangat menggemaskan, menatap punggungnya hingga menghilang dari balik pintu kamar mandi. "Tak aku sangka jika dia terlihat gelagapan dengan ucapanku, dia sangat unik," gumam Farhan yang mengenakan bajunya sebelum Ayu selesai membersihkan diri.
Setelah memasuki kamar mandi, Ayu terus memikirkan Farhan, pria tampan dengan tubuh atletis membuat pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan pria itu. "Dia terlihat sangat tampan, hampir saja aku kehilangan kendali saat melihat otot perutnya. Ya tuhan…tolong ampuni aku, jika aku melewatkan pemandangan indah itu pastilah aku rugi di sini. Oh tidak, apa yang aku pikirkan, lebih baik aku fokus saja dan tidak memikirkan pria itu," gumam Ayu yang menyabuni seluruh tubuhnya dengan tidak fokus.
Ketika seseorang mengetuk kamar mandi memecahkan lamunannya, fokus Ayu teralihkan mendengar suara itu. "Siapa yang mengetuk pintu? Mungkin saja Farhanlah pelakunya. Tapi apa yang dia lakukan?" gumam Ayu di dalam hatinya seraya dengan cepat menutupi tubuhnya menggunakan handuk.
"Buka pintu kamar mandi ini, ada sesuatu yang kau tinggalkan," ucap seseorang yang terus mengetuk pintu, dan benar saja jika itu adalah suara Farhan.
Ayu dengan kesal membuka pintu kamar mandi dan menatap pria tampan itu. "Apa?" Ketusnya dan berpikir bahwa Farhan sengaja melakukannya. "Aku sangat yakin jika Farhan adalah seseorang voyeur, orang yang mendapat kesenangan dengan menonton orang lain bertelanjang. Sangat menjijikan," umpat Ayu di dalam hati.
"Seharusnya kau memeriksa apa yang telah dijatuhkan saat menuju kamar mandi, kau wanita yang sangat ceroboh," ujar Farhan yang menatap mata Ayu.
__ADS_1
"Jangan berbohong, apa kau sengaja melakukannya?" Tuduh Ayu.
"Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti. Sebelum menuduh aku, pikirkan lebih dulu dan cek barang-barang milikmu."
"Akan aku cek, jangan sampai kau berbohong untuk masalah serius ini."
"Yaya…terserah padamu saja," jawab Farhan dengan malas.
Ayu kembali menutup kamar mandi dan mengecek beberapa barang yang dibawa, hingga kedua matanya terbelalak dengan sempurna, hampir saja terlepas dari tempatnya akibat rasa terkejut. "Astaga, di mana pakaian dalamku?" Celetuk Ayu yang baru saja tersadar bahwa pakaian dalamnya telah jatuh, mencoba kembali memeriksa tetapi tetap tidak ada.
"Tunggu dulu, bagaimana dia mengetahuinya?" Gumam Ayu yang tampak berpikir, hingga dia menjadi shock saat memikirkan hal itu.
Pintu kamar mandi kembali diketuk, dengan cepat dia menghampiri Farhan. "Bagaimana kau mengetahuinya? Ayo katakan!" desaknya.
"Karena aku menemukannya jatuh ke lantai dan memungutnya, ini ambillah!" ucap Farhan yang menyerahkan pakaian dalamnya secara terang terangan, berusaha untuk menahan tawanya. Hingga tawa itu meledak, menertawai kejadian yang baru saja terjadi.
Lagi dan Lagi Ayu membelalakkan kedua matanya dengan sangat lebar, dia sangat malu saat pria di hadapannya menyentuh pakaian dalam miliknya. "Hah, kenapa aku bisa melupakan bagian pentingnya," gumam Ayu yang segera mengambil pakaian dalam yang masih berada di tangan pria itu. Dengan cepat dia kembali masuk ke kamar mandi, menutup pintu, dan mengumpati nasibnya yang sial akibat ceroboh.
Setelah selesai mandi, Ayu berjalan keluar dari kamar mandi setelah berpakaian. Dia celingukan di dalam kamar mencari keberadaan pria yang membuatnya sangat malu, hingga tatapannya terhenti saat melihat keberadaan Farhan yang sedang duduk di sofa empuk yang tak jauh dari ranjang. Dia berjalan mendekati pria tampan itu dan berusaha untuk tidak mengungkit kejadian yang menurutnya sangat memalukan itu.
"Ehem," Ayu berdehem membuat pria itu menoleh ke arahnya.
"Ada apa?"
"Aku ingin tidur! sepertinya kau sangat lelah, sebaiknya kau juga beristirahat," ucap Ayu yang mengkode jika pria itu harus beristirahat di kamar lainnya, tidak mungkin jika dia tidur satu ranjang dengan pria itu. Tapi kata-kata yang keluar dari mulut Ayu malah lain.
"Oho, apa kau sedang mengundangku untuk tidur bersama?" Sahut Farhan yang kembali menggoda wanita itu sembari tersenyum nakal.
__ADS_1
"Niatku sangat baik dan kau salah mengambil kesimpulan dengan apa yang aku bicarakan." Elak Ayu dengan cepat.
"Benarkah? Tapi kata-kata mu mengarah kesana, sepertinya kau sendirilah yang mengatakan hal itu."
"Jangan terlalu narsis," cetus Ayu.
"Aku tidak narsis, bahwa kau tidak memiliki body sama sekali. Tubuhmu rata seperti disetrika," cibir Farhan yang menyulut emosi Ayu yang mengepalkan kedua tangannya. Sosoknya yang menjadi kelinci putih kecil dengan bulu meledak seperti terkena setruman beberapa volt.
"Berani sekali kau mengatakan itu," ketus Ayu yang meninggikan suaranya, dan menunjuk Farhan dengan kesal.
"Memangnya kenapa? Aku mengatakan sebenarnya jika tubuhmu itu__"
"Stop! jangan lanjutkan ucapan yang membuat telingaku panas, keluarlah dari kamar ini," potong Ayu yang mengusir Farhan.
"Baiklah" Farhan melihat hal itu segera keluar dari kamar, dia langsung berbalik dan pergi menuju ruangannya meninggalkan Ayu yang sedang kesal. Di tersenyum tipis saat Ayu menghantui benaknya.
****
Di pagi hari..
Seorang wanita cantik menggeliatkan tubuhnya untuk meregangkan otot-otot yang kaku, mengerjapkan kedua matanya, sambil sesekali menguap. Melihat sekeliling ruangan dan memastikan jika kamarnya benar-benar kosong.
"Apakah aku sudah salah paham kepadanya?" Gumam Ayu yang berpikir jika Farhan memiliki fantasi liar tentangnya. "Ini membuat pikiranku menjadi terbebani," lirihnya seraya mendengus kesal.
Ayu menghentikan beberapa dugaan dan lebih memilih membersihkan diri dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Tak butuh waktu yang lama untuk bersiap, memakai pakaian formal, dengan sentuhan polesan tipis di wajahnya agar terlihat lebih fresh, serta memakai parfum kesukaan nya.
Ayu tersenyum saat melihat penampilannya yang terlihat rapi, dengan cepat mengambil tas kecil yang biasa dia bawa. Keluar menuju kamar dan berjalan mendekati mobil yang sudah menunggunya sesuai perkataan Farhan tempo hari.
__ADS_1
Mobil berhenti di depan gedung pencakar langit, Ayu menuruni mobil setelah mengucapkan kata terima kasih kepada sang supir. Ayu melangkah masuk ke kantor, baru beberapa melangkah terpaksa berhenti saat mendengar namanya dipanggil.
Dia menoleh melihat siapa yang memanggilnya, raut wajah senyumnya menjadi luntur saat melihat orang itu tak lain adalah ketua sekretaris, yang selalu membuatnya kesusahan.