
Ayu sedikit kesal dengan permintaan Farhan dengan mengandalkan jabatan, hanya bisa menuruti permintaan dari bosnya itu. Ayu mendekatkan dirinya membuat Farhan deg-degan. "Jantungku berdegup dengan kencang, apa aku mulai menyukainya?" Batin Farhan.
Ayu memegang paha Farhan menggunakan tangan kanan. Sedangkan tangan kiri dipergunakan untuk mencari kunci yang terselip di kantong celana bagian kiri milik bosnya. Bagai tersetrum listrik, itulah penggambaran yang dirasakan oleh Farhan, otak yang mulai terkontaminasi pikiran liar saat tangan lembut Ayu bertengger di pahanya.
"Saku celana mu sangat sempit, bisakah kau mencondongkan badanmu?" Cetus Ayu, dengan cepat Farhan melakukan perkataan dari wanita cantik yang berjarak beberapa sentimeter saja.
Ayu berusaha memasukkan tangan ke dalam saku celana seraya menutup mata, secara tidak sengaja menyentuh sesuatu dari balik celana Farhan, sebuah tongkat sakti yang mengamuk membuat Ayu membelalakkan kedua matanya. "Ya tuhan, tadi itu apa?" Batin Ayu yang sangat terkejut.
"Astaga…kau menodai tongkat keramatku!" celetuk Farhan yang menambah kekhawatiran Ayu.
"A-apa itu tadi? Ma-maksudku, aku tidak sengaja menyentuhnya. Tolong maafkan aku," ucap Ayu yang sangat menyesal dan sedikit malu.
"Maaf? Setelah kau merabanya? Itu bisa menodai keperjakaanku." Farhan menatap Ayu dengan tersiksa untuk membuat wanita itu semakin kalut.
"Maaf, sungguh! Aku tidak sengaja menyentuh di bagian sensitif mu."
"Baiklah, aku memaafkanmu. Sekarang carilah kuncinya atau kita akan tertidur di mobil."
"Baiklah." Cukup lama Ayu mencari keberadaan kunci di saku kiri milik Farhan, tapi dia tetap tidak menemukannya. "Kemana kuncinya?" Gumam Ayu yang masih terdengar di telinga Farhan.
Kemudian Farhan mengulurkan tangannya dari saku yang lain dan mengambil kuncinya, memperlihatkan kepada Ayu dengan senyum jahilnya. "Ini kuncinya, aku lupa jika kunci ini berada di saku lain," ujar Farhan yang memasang raut wajah polos.
Dengan cepat Ayu mengambil kunci yang berada di tangan Farhan, melototi matanya. Dia sangat marah karena Farhan sengaja mengerjainya. "Oho, ternyata kunci itu ada di saku lain. Susah payah aku mencari kunci itu di saku celanamu, hingga tak sengaja menyentuh belalai tanpa gading itu. Apa kau sengaja melecehkan ku?"
__ADS_1
"Aku bosnya, jadi terserah apapun yang aku kerjakan tak masalah," sahut Farhan enteng.
"Lagi dan lagi kau membahas jabatan, apa seorang bawahan harus menerima perlakuan bosnya?" Ayu sangat kesal dengan ucapan yang keluar dari mulut pria tampan itu.
Farhan hanya terdiam dan tidak menjawab, mengambil kunci di tangan Ayu dan keluar dari mobil untuk membukakan pintu Villa. Ayu melongo tak percaya, seraya mendelikkan kedua matanya karena Farhan berhasil mengerjainya. Dia turun sambil menutup pintu mobil dengan kasar. "Dasar brengsek, berani sekali si wajah tembok itu mengerjaiku," umpat Ayu yang kesal.
Pintu Villa terbuka, dengan cepat Ayu berjalan menghampiri Farhan. Dia menarik tangan pria itu dengan kasar, membawanya ke sofa. Ayu mendorong tubuh Farhan kasar, tapi tak sengaja dia terpeleset membuatnya terjatuh menindih tubuh bosnya. Ayu berada dalam pelukan Farhan, mata yang saling bertemu membuat keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing.
"Dada bidang dengan perut seperti roti sobek, ini terasa nyata." Batin Ayu yang terus mencolek tubuh atletis Farhan tanpa sadar. Farhan tersenyum tipis saat Ayu terpesona dengan ototnya yang berkesan di kemeja sempitnya.
"Apa kau sengaja melakukannya hanya untuk memelukku dan meraba ototku," Ejek Farhan yang tersenyum. Dengan cepat Ayu beranjak dari atas tubuh Farhan, berdehem untuk mencairkan suasana. "Sebaiknya minum obat itu agar luka di tanganmu segera sembuh." Ayu menunjuk beberapa obat yang mereka tebus dari rumah sakit, mengubah topik pembicaraan dengan cepat.
"Jangan mengubah topik pembicaraan, selesaikan dulu masalah yang pertama."
"Hah, aku sangat lapar." Farhan mendengus kesal dan pasrah, perut yang lapar membuatnya tak ingin berdebat.
"Sebagai tanda terima kasih, aku akan memasak untukmu karena telah menyelamatkan nyawaku," tutur Ayu yang ingin membayar jasa Farhan.
"Aku tidak yakin, bisa saja kau meracuni makanan ku," ucap Farhan yang memicingkan kedua matanya sembari menatap Ayu curiga.
"Pola pikirmu sangat sempit sekali, tidak ada untungnya aku melakukan hal kotor itu." Cetus Ayu yang membalas tatapan Farhan tanpa ada rasa takut di matanya.
"Berani sekali kau mengatakan itu kepada bosmu."
__ADS_1
"Hah, di pause saja kemarahanmu. Aku ingin memasak dulu." Ayu berjalan menuju dapur yang tak berada jauh. Mengikat rambutnya tinggi dan mulai memasak, mengiris sayuran dan mencampurkan beberapa bumbu untuk masakan. Ayu cukup handal dalam memasak, cita rasa masakan membuatnya terlihat seperti chef profesional. Jangan tanya bagaimana Farhan yang fokus menatap Ayu yang sedang memasak di dapur, kesibukan Ayu membuat Farhan kembali kagum dengan beberapa keunggulan kualitas diri yang dimiliki oleh wanita cantik itu.
Mata Farhan tidak berkedip, memandang Ayu yang sibuk di dapur seperti seorang istri yang rajin menyiapkan makan malam untuk suaminya, membuat Farhan merasa hangat di hatinya. "Istri yang sangat sempurna, andai waktu berhenti, aku akan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya nya, menikmati setiap momen dengannya. Eh, apa yang aku pikirkan? Kenapa otakku suka melantur, memikirkan wanita bar-bar itu." Monolog Farhan yang menggeleng cepat untuk menyadarkan dirinya mengagumi sosok Ayu.
Setelah beberapa saat, Ayu yang telah selesai memasak merasa sangat senang. "Akhirnya pekerjaan memasakku telah selesai, selanjutnya menyajikannya di atas meja makan." Ayu membawa piring yang berisi beberapa lauk dan juga sayuran dan menyajikan di atas meja makan tepat di hadapan Farhan. Karena merasa lapar, Ayu melahap makanan di atas piring, dia lupa menawarkan makanannya kepada pria yang sedari tadi menatapnya.
Farhan tersenyum samar saat melihat Ayu yang makan dengan sangat lahap tanpa melihat situasi. Ayu menyadari jika Farhan terus menatapnya, mendongakkan kepala menatap pria tampan itu. "Perutmu tidak akan kenyang hanya dengan menatapku," ledek Ayu tanpa menoleh. "Bukankah kamu juga mengatakan lapar, makanlah!"
"Tidak," tolak Farhan membuat Ayu mengerutkan keningnya.
"Ini sangat enak dan tidak beracun sama sekali, bahkan kau melihatnya jika aku memakan semua masakanku dengan sangat lahap, dan terbukti aku tidak kenapa-napa." Ayu berusaha meyakinkan Farhan mengenai kualitas dari masakannya.
"Tanganku sakit, bagaimana caraku memakan makanan itu?" Jawab Farhan dengan nada manja.
"Yang luka tangan kirimu bukan tangan kanan," ketus Ayu.
"Aku ini bosnya, jangan membantah perkataan bos yang tidak pernah salah, dan ingatlah poin penting itu," sahut Farhan dengan arogan.
"Apa aku boleh mencekik pria arogan ini?" Batin Ayu yang sangat kesal. "Baiklah, apa solusinya?" Tanya Ayu serius.
"Mudah saja, kau suapin aku makan!" Celetuk Farhan yang membuka mulutnya dengan lebar.
__ADS_1