
Gabriel melangkahkan kakinya menuju keramaian dan melihat Ayu di sana dan juga Yuna, dia sedikit tersentak kaget melihat kedatangan wanita yang telah lama tidak bertemu, seorang wanita yang pernah menjalin hubungan dengannya. "Dia ada di sini?" gumamnya yang terus berjalan dengan penuh percaya diri, menerobos orang-orang yang telah memberikannya jalan. Emosinya sedikit melonjak saat melihat berita yang sudah tersebar luas, wanita masa lalu yang pernah membuatnya sangat malu.
Sorot mata tajam dan mengintimidasi menatap sang pianis terkenal, sedikit merasakan kemarahan yang ingin dia lepaskan, berusaha untuk tidak memperlihatkan dan mengontrol emosi di hadapan semua orang yang bisa berakibat buruk dengan nama baik. Berita yang baru saja dia lihat di internet, dan bergegas ke lokasi kejadian. "Mengapa kau ada di sini?" tanya Gabriel yang menatap pianis terkenal dengan sedikit mengerutkan dahi, raut wajah datar seakan kejadian dulu masih terbayang.
"Kau pasti menyusul karena merindukanku," Yuna dengan penuh keyakinan menghampiri pria itu dan memegang tangan kekar bergelayut manja.
Gabriel segera menghempaskan tangan yang memegang tangannya dengan kasar, melototi kedua matanya. "Ck, aku kesini bukan menyusulmu. Minta maaflah kepada Ayu, aku mengetahui hal ini dari berita di internet. Apa kau tidak malu dengan ucapanmu itu?"
"Memangnya kenapa? Aku mengatakan kebenarannya."
"Kebenaran yang mana? Jangan mengklaim ku sebagai tunangan, dasar wanita matre!" tukas Gabriel dengan perkataan kasar, rasa kesalnya masih saja tersisa hingga saat ini. Betapa malunya dia saat itu, Yuna kabur dengan pria lain di hari pertunangan mereka, membuat seluruh keluarganya menahan rasa malu yang berlipat ganda.
"Tapi dulu kita pernah dekat, kau bertambah tampan jika emosi dan aku menyukainya. Kau masih sama seperti dulu!"
"Hentikan omong kosongmu, segera minta maaf pada Ayu. Mengenai permasalahan masa lalu, jangan mengungkitnya lagi. Kita tak punya hubungan apapun di saat kau pergi meninggalkan ku. Jangan mencoba untuk mengklaim, jika aku adalah tunanganmu. Apa kau mengerti?" terdapat nada tekanan yang dilemparkan pada sang pianis cantik, dia tidak menghiraukan betapa malunya wanita itu dihadapan awak media yang masih menyorot.
Yuna sangat tersinggung dengan perkataan yang baru saja didengar, namun tetap tak ingin melepaskan pria itu karena kesuksesan dan popularitas yang dimiliki. Ada guratan kesedihan menyelinap di hati, tidak bisa menerima jika sang mantan mendekati wanita lain dikala sukses. "Gabriel tak boleh menjadi milik wanita lain, hanya aku yang berhak atasnya." Batinnya yang tersenyum licik.
Gabriel dan Yuna dulunya berteman dengan sangat baik dan juga terpikat akan kontrak pernikahan. Sebuah ikatan tanpa ada rasa cinta di hati Gabriel saat itu, Tuhan memang baik menunjukkan jalan dan kebenaran dari calon tunangannya sebelum menikah. Memperlihatkan keburukan wanita itu tepat di saat hari H pertunangan, seluruh keluarganya sangat malu.
__ADS_1
Mereka dulu membuat perjanjian dan memutuskan untuk hidup bersama dalam jangka waktu yang ditentukan. Hanya saja, di saat pria itu terpuruk dan mengalami kebangkrutan, sang wanita memutuskan untuk pergi meninggalkannya dan mengikuti pria lain yang menjadi selingkuhan. Yuna tidak bisa menerima pertunangan itu saat mendengar kabar bangkrutnya keluarga dari Gabriel.
Gabriel tak bisa menahan emosinya lebih lama lagi, mengingat wajah kembali teringat akan masa lalu yang pahit. Wanita tanpa tahu malu, mengincar harta hanya untuk memenuhi gaya hidup mewah, menetap ke luar negeri untuk mendapatkan apa yang diinginkan karena tak ingin hidup miskin.
Dia masih mengingat betul, bagaimana kondisinya di saat itu, cinta yang tidak begitu besar membuatnya tak mempermasalahkan, hanya saja masih sedikit membekas di hati. Gabriel masih tidak bisa menerima keberadaan Yuna yang ada di hadapannya. Rasa sakit di khianati tak bisa ditutupi, berusaha untuk mengontrolnya. "Menjauhlah dari Ayu, jangan mencari permasalahan dengannya. Ini peringatan, bukan pernyataan!"
"Aku tidak ingin meminta maaf ataupun memohon padanya, kenapa kau membela wanita sederhana ini?" begitulah yang dikatakan oleh Yuna yang terlihat angkuh, merasa dirinya paling benar dan tidak ada raut wajah penyesalan sedikitpun.
"Kau bersalah, tetapi masih tetap sombong, turunkan sedikit egomu dan minta maaf lah padaku." Celetuk Ayu yang muak melihat drama di depannya.
Yuna melipat tangan di depan dadanya melempar tatapan sinis ke arah Ayu. "Jangan menaikkan nada suara mu!"
"Terserah, segera minta maaf padaku!" cetus Ayu datar.
"Aku tegaskan sekali lagi, kau bukan calon tunanganku dan tidak ada kontrak pernikahan!" tegas Farhan.
"Aku khilaf, kita masih mempunyai kontrak pernikahan. Kita mulai dari awal lagi, aku akan memperbaiki segala kesalahanku. Berikan aku satu kesempatan!"
"Tidak, hubungan sudah berakhir saat kau kabur dengan pria lain. Kau tidak pantas mendapatkan cinta dari siapapun, kau hanya mencintai dirimu sendiri. Jangan bicarakan itu di hadapanku, sungguh menggelikan!" ucap Gabriel sembari menunjuk wajah sang pianis terkenal.
__ADS_1
"Tidak, kau tetap terikat denganku. Aku tidak peduli dengan apa yang kau bicarakan, satu kesempatan untukku." Tegas Yuna yang bersikukuh.
Ayu tak peduli dengan apapun lagi, dia tak ingin terlibat dalam permasalahan Gabriel dan Yuna, yang terpenting adalah citranya sudah baik dan namanya kembali bersih. "Sungguh membosankan dengan drama rumah tangga mereka, sebaiknya aku pergi." Gumamnya. Sebelum pergi tak lupa melirik Vanya dan Jenni yang bersalah padanya, tatapan jengah. "Sekali lagi, kalian kalah dalam pertarungan ini."
"Ayo pergi!" Gabriel menarik tangan Ayu karena mengetahui wanita itu sudah jengah dengan konflik yang terjadi.
Ayu hanya pasrah tangannya ditarik oleh pria itu, sudah lelah dengan permasalahan tak pernah usai. Berniat membelikan kado, tapi malah terlibat pertikaian. Waktu yang sedikit terpakai untuk kembali ke rumah sakit, mengakupuntur kakek Hendrawan sesuai perkataan dari dokter Zaki. "Aku lelah, jangan menarik tanganku lagi!"
Gabriel sangat terkejut dan menghentikan langkah. "Aku hanya ingin kau tidak terlalu stres di sana."
"Sudahlah, tinggalkan aku sendiri."
"Tidak, ayo ikut denganku!" keukeuh Gabriel yang ingin menarik tangan wanita itu, tapi terhenti saat seseorang menepis tangannya dengan kasar.
"Jangan memaksakan kehendakmu, urus saja wanita itu." Ucap Farhan.
"Diamlah, aku tak ingin bicara denganmu. Urus saja wanita karet itu!"
Farhan membantu Ayu agar terlepas dari Gabriel. "Terima kasih, kau sudah membantuku terhindar darinya."
__ADS_1
"Sama-sama, ayo kita pergi!" Farhan tersenyum dan hendak pergi, tapi senyum tak bertahan lama saat melihat Kira yang mendekatinya.
"Bagaimana dengan dekorasi rumah barunya?" celetuk Kira yang menjerat Farhan dengan menanyakan rumah baru untuk dirinya.