Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 201 ~ Memilih hadiah


__ADS_3

Ayu sedikit kewalahan menghadapi pria yang berteriak padanya, tak mengenal pria itu tapi tangannya selalu di tarik. "Lepaskan tanganku!" 


"Tidak, katakan dulu siapa namaku."


"Apa kau ini gila, kita tidak saling kenal dan aku tidak mengenalmu sama sekali."


"Kau pasti berbohong," tuding pria itu yang tetap bersikeras dengan mencari identitasnya.


"Aku membawamu ke rumah sakit karena rasa kasihan, tapi kau tidak tahu cara terima kasih."


Pria itu perlahan melepaskan cengkramannya, kepala yang sangat pusing akibat benturan keras. "Apa kau menemukan dompet atau identitasku apapun di tempat terjadinya  kecelakaan?" sangat antusias ingin mengetahui identitasnya juga siapa wanita cantik yang menolong. 


Ayu menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, menahan emosi agar tidak keluar. Da tak tahu apapun dengan pria yang mendesaknya. "Tidak." Jawabnya singkat, padat, dan jelas. Melirik jam di tangannya, banyak waktu terbuang sia-sia dengan menolong pria tak dikenal.


Pria itu mengamati wajah cantik Ayu dan menandainya sebagai wanita penolong. "Baiklah, terima kasih sudah menolongku. Aku akan mengingat hari ini, siapa namamu?" 


"Aku sudah membawamu, dan kau sudah sadar. Apa yang lebih baik dari ini? Nama tidaklah penting, aku pergi dulu!" Ayu melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu dan ingin pulang untuk beristirahat. 


****


Keesokan harinya, Ayu bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit dan melakukan pengobatan akupuntur pada kakek Hendrawan. Menyiapkan semua alat yang akan dibutuhkan untuk akupuntur dan beberapa jarum. Dia bersiap untuk pergi ke rumah sakit, di sepanjang perjalanan hiruk pikuk kota dan keramaian, serta padatnya jalanan menjadi alunan musik yang tidak beraturan terdengar oleh telinga.

__ADS_1


Ayu membuka jendela, membiarkan angin segar menerpa wajahnya yang cantik, melihat suasana kota dan bangunan tinggi yang menjulang ke atas. Hingga dia tersadar akan satu hal yang belum diajari yaitu hadiah untuk sahabatnya Gabriel yang akan berulang tahun, menepuk keningnya dengan pelan karena melupakan hari penting. "Ya Tuhan… untung saja aku ingat ulang tahun Gabriel, aku harus mencari kado untuknya."


Ayu yang menaiki taksi online memerintah pak sopir untuk membawanya ke butik, ingin membelikan hadiah terlebih dulu dan barulah ke rumah sakit untuk melakukan akupuntur sang kakek Hendrawan. "Pak, kita ke butik dulu! Ada yang ingin saya cari di sana."


"Baik, Neng." Sang supir segera menganggukkan kepala mematuhi perkataan dari pelanggannya. 


Tak butuh waktu yang lama, hingga Ayu menjejakkan kakinya untuk masuk ke dalam butik, memilah dan memilih dengan menyusuri pandangannya ke seluruh ruangan. "Kado apa yang harus aku bawa untuknya? Dia bahkan mempunyai semuanya dengan koleksi yang juga lengkap, aku jadi pusing." gumamnya yang melihat-lihat pajangan yang ada di butik itu.


Ayu berjalan menuju ke tempat syal yang tersusun rapi, begitu banyak warna dan juga corak hanya tinggal memilih sesuai dengan selera, dia melihat-lihat apakah syal cocok dijadikan kado atau tidak. "Sepertinya tidak ada yang cocok." Dia kembali meletakkan dua syal yang ada di tangannya, karena tidak menyukai warna yang cocok untuk dijadikan hadiah. 


Jam terus saja berjalan, dia melirik arloji yang melingkar di lengannya, melihat waktu yang masih cukup untuk mencari kado ulang tahun. Di saat melihat-lihat, tak sengaja matanya memandangi seseorang yang tengah memilih syal tak jauh darinya, mengenal orang tersebut yang tak lain adalah seorang pianis terkenal. "Eh, bukankah wanita itu adalah Yuna? Pianis terkenal, dia ada di sini?" gumamnya dan segera berlalu pergi meninggalkan tempat itu, sedikit kecewa karena belum menemukan hadiah apa yang akan dia berikan.


Wajah tampak murung dan juga suram, saat tak ada yang sesuai dengan kehendaknya. Hingga terlintas di otaknya, saat melihat begitu banyak pajangan dasi berbagai bentuk, corak, dan juga warna. Dia tertarik ke sana, dan segera mencari motif yang akan diberikan kepada Gabriel. "Wow, koleksi dasi di sini sangat bagus, aku akan memilihnya." Monolog Ayu yang sangat bersemangat dan juga antusias dalam memilih.


"Tentu saja, aku sudah mengatakannya kepadamu jika tempat ini luar biasa."


Mereka berjalan dan berbelanja sepuas hati, berfoya-foya dalam menghabiskan uang. Tak sengaja Jenni menatap rival dari sahabatnya sendiri yang tengah memilih dasi. "Kenapa dia ada di sini?"


"Apa?" sahut Vanya mengerutkan kening. 


"Bukan kau, tapi lihatlah di sana!" Jenni mendelik kesal dan menunjuk ke arah Ayu.

__ADS_1


Sedikit terkejut saat melihat rivalnya juga berada di tempat yang sama, apalagi tengah memilih dasi. "Apa dia mencoba untuk mendapatkan perhatian Farhan dengan memberikan dasi?" cibir nya sembari melipat kedua tangan di depan dadanya, menatap sinis ke orang yang membuatnya kesal.


"Aku rasa begitu, siapa lagi jika bukan untuk Farhan. Dia dua langkah maju di hadapanmu, apa kau masih ingin tertinggal darinya?" 


Vanya tak ingin jika dia kalah dari wanita kampung dan mendekat menuju pajangan dasi, dia memilih dasi yang terbaik dan juga termahal dengan kualitas yang tidak perlu diragukan lagi. 


Ayu tercengang saat kedatangan Vanya dan Jenni yang juga memilih dasi yang mirip dengan apa yang dia pegang. Hal itu menyulut emosinya namun tetap tidak ingin memperlihatkan di hadapan semua orang. "Ada apa dengan wanita ini? Dia memilih dasi yang sama denganku," gumam Ayu di dalam hati.


Vanya sengaja mengambil dasi ganda yang disukai oleh sang rival, dan membelinya dengan harga dua kali lipat. Keangkuhan di dirinya tidak pernah hilang, membuat orang lain kesal dengan keberadaannya. Untung saja Ayu mempunyai cara untuk membalas wanita di sebelahnya, tersenyum tipis dan kembali mengambil dasi dengan harga yang mahal.


"Sepertinya dia mengambil dasi lain, aku tidak boleh kalah dengannya." Vanya sangat bersemangat dan mengambil beberapa dasi yang sama dengan apa yang diambil oleh Ayu, ingin memperlihatkan Jika dia mampu membeli. Namun dia tidak tahu jika Ayu sengaja untuk membuatnya berfoya-foya dan menguras dompet.


Ayu cekikikan saat melihat Vanya mengeluarkan kartu untuk membayar tagihan dengan harga dua kali lipat dari harga yang tertera, sangat puas dengan caranya yang elegan. 


Ketika Ayu hendak pergi, tiba-tiba seorang wanita menghalangi jalannya. Hal itu membuatnya sedikit jengah, karena mengetahui jika siapa sang pelaku yang tak lain adalah sahabat Vanya yang bernama Jenni. "Minggir!"


"Tidak, Aku ingin memperingatkanmu untuk tidak mendekati Gabriel lagi. Apa kau tidak ada rasa malu? Mendekati dua orang pria sekaligus, dasar serakah!" umpat Jenni yang sudah muak dengan wanita di hadapannya.


Ayu memutar bola matanya dengan jengah,  karena tidak mengerti dengan pernyataan dari wanita itu. "Apa kau sudah selesai? Sekarang minggirlah, jangan halangi jalanku." 


Ucapan dari Jenni terdengar oleh Yuna sang pianis terkenal, yang tak jauh dari mereka. Di hatinya tiba-tiba terselip rasa cemburu, saat adanya nama Gabriel terseret dalam permasalahan dua orang wanita dan memandang Ayu tak suka.

__ADS_1


  


  


__ADS_2