
Farhan menatap wanita yang berjarak sangat dekat, hidung kembang kempis menahan rasa amarah mendengar pernyataan dari wanita itu. "Siapa kau yang bisa membatalkan pertunangan ini?" bentaknya dengan nada tinggi, sorot mata tajam terus mengarah kepada Ayu.
Rasa kecewa begitu dalam, hati tersentak kaget saat Farhan membentak dirinya dengan sangat keras. Tanpa disadari, air mata terjatuh dengan sendirinya, rasa sakit yang ditorehkan membuatnya tak bisa menahan diri untuk tidak menangis. "Kenapa sekarang kau memandangku begitu rendah?"
Farhan menghela nafas dengan kasar sambil mengacak-acak rambutnya. "Karena kau wanita yang sangat egois!"
"Aku egois?" Ayu menunjuk dirinya sendiri, menautkan kedua alisnya menatap pria itu.
"Ya, kau wanita egois!" sarkas Farhan yang menunjuk wajah wanita itu.
"Aku wanita yang sangat egois? Ya, itu memang benar. Lalu, bagaimana dengan dirimu?" balas Ayu sarkas.
Pertengkaran yang tidak ada ujungnya membuat Farhan sangat kesal, kembali memukul dinding dengan sangat kuat membuat sela-sela jari terluka. Berteriak sesaat untuk melepaskan beban yang terasa penuh di benaknya. mencengkram kedua bahu Ayu dengan erat, menatap mata wanita itu dengan tegas dan juga dalam. "Mengapa kau membatalkan pertunangannya?"
Ayu menghempaskan kedua tangan yang bertengger di bahu dengan kasar, dan dia memahami satu hal, jika pria yang telah dia cintai ternyata mencintai masa lalunya. Diam seribu bahasa, lidah keluh seakan tak ingin mengatakan satu katapun lagi, dan memendam rasa kecewa di hati.
Farhan mulai mengerti, kenapa Ayu tiba-tiba membatalkan pertunangan secara sepihak. Karena calon tunangannya melihat dia dan Kira berpelukan. "Apa dia cemburu dengan Kira? Tapi mengapa? Aku merasa tidak mempunyai kesalahan apapun, dan bahkan tidak menyinggungnya. Hati wanita memang sulit dipahami!" gumamnya di dalam hati.
"Farhan bahkan tak menyadari, jika dia telah melukai hatiku dengan berpelukan mesra dengan wanita dari masa lalunya. Keputusanku ternyata sangat tepat, hubungan yang masih terikat dengan masa lalu tidak akan berkembang." Batin Ayu yang merasa keputusannya sudah benar.
Kedua orang yang belum bisa memahami satu sama lain, keduanya hanyut dalam pikiran masing-masing, membayangkan hubungan yang renggang akibat keegoisan dan tidak merasa bersalah sama sekali.
Hendrawan diam terpaku di atas panggung, dia sangat syok mengenai pembatalan pertunangan yang sudah lama dia dambakan.
"Ayo, Tuan besar. Sebaiknya kita pergi dari sini!" ucap sang kepala pelayan.
"Apa aku pernah membuatmu merasa terluka?" tanya Hendrawan tak menggubris ucapan kepala pelayannya.
"Tidak, Tuan adalah majikan yang sangat baik."
__ADS_1
"Lalu, kenapa tuhan mengujiku di saat usiaku tak muda lagi?"
Kepala pelayan sangat mengerti bagaimana kondisi sang majikan yang sangat terluka, perasaan dan beban menahan malu yang dipikul di hadapan semua orang. Tidak menyangka jika hari yang membahagiakan dirinya menjadi hari yang begitu buruk baginya. Kewibawaan dan harga diri yang selama ini dipegang teguh runtuh seketika, tidak bisa menggambarkan bagaimana rasa malu bercampur marah.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, Tuan Besar!"
"Kau tidak mengerti apa yang aku alami saat ini, wajah yang biasa aku tegakkan menatap orang-orang, semua sirna akibat pembatalan pertunangan ini." Hendrawan sangat sedih dan menganggukkan kepala, seraya melangkahkan kaki untuk pergi dari tempat itu.
Wina tersenyum senang, menghampiri ayah mertuanya dengan angkuh seraya melipatkan kedua tangan di depan dadanya. "Inilah akibatnya jika memaksa dua orang asing untuk menerima perjodohan, aku bahkan sudah memperingatimu. Tapi apa yang terjadi saat ini benar-benar membuat nama keluarga tercemar akibat wanita kampung tak tahu diri itu. Apa yang Ayah mertua dapatkan sekarang? Wajah yang selalu menatap orang-orang dengan bangga, sekarang malah menunduk malu." cibir Wina yang tersenyum miring.
Ucapan tajam dari sang menantu membuat dirinya terguncang hebat, memegangi dadanya yang tiba-tiba merasa sangat sakit.
"Aku tanya sekali lagi! Apa kau yakin dengan keputusanmu?" bentak Farhan dengan sarkas.
"Aku tidak akan mengubah keputusanku!" jawab Ayu yang berpegang teguh pada keputusannya.
Mendengar perkataan Wina, tiba-tiba Hendrawan terjatuh ke lantai dan pingsan karena serangan jantung. Membuat Wina dan kepala pelayan yang masih berada di sana terkejut.
"Tuan besar!" pekik kepala pelayan yang sangat syok.
"Ayah mertua!"
Farhan dan Ayu menghentikan perdebatan mereka saat mendengar suara yang memekikkan telinga, mereka segera berlari menuju asal suara. "Kakek!" pekik mereka kompak, saat melihat kondisi Hendrawan tak sadarkan diri.
Ayu menghampiri pria tua itu, ingin memeriksa keadaan Hendrawan menggunakan kemampuan medisnya. Namun, niat baik itu tak di terima oleh Wina. "Jangan sentuh ayah mertua ku! Jika kau nekat? Aku tidak segan-segan mematahkan kedua tanganmu itu!" ancamnya.
Laras yang baru saja tiba di ruangan itu segera menghampiri sang kakek dan membantu Wina menghalangi Ayu. "Hanya wanita kampung, karena dirimu membuat kakek pingsan." Ketusnya.
Kepala pelayan dan Farhan segera membopong tubuh tua itu ke atas sofa yang tak berada jauh.
__ADS_1
"Ini semua karenamu, wanita kampung!" sarkas Wina yang menghalangi Ayu.
"Kakek butuh pertolongan, bahas ini nanti saja!" bujuk Ayu yang sangat mengkhawatirkan kondisi Hendrawan dan menerobos masuk.
Ayu segera menghampiri Hendrawan untuk memeriksa, namun kedua tangannya dicengkram dengan erat oleh Farhan. "Jangan menyentuh kakek ku, ini terjadi akibat dirimu!" tekannya yang menyalahkan.
"Kau boleh memarahiku sepuasnya, tapi biarkan aku memeriksa kondisi kakek." Bujuk Ayu yang memohon.
"Aku tahu, kau ahli medis. Tapi, aku tidak mengizinkan wanita sepertimu untuk mengobati kakek ku." Tukas Farhan dengan tajam, menghempaskan tangan wanita itu dengan tajam.
"Biarkan aku memeriksa keadaan kakek, Farhan. Ku mohon!" ucap Ayu menyatukan kedua tangannya, niat baik tak diterima dengan baik.
"Karena kaulah yang membuat kondisi kakek seperti ini, dan aku tidak butuh bantuanmu!"
Ayu meneteskan air matanya, memundurkan langkah menjauh dari Hendrawan. Bahkan Wina dan Laras mendorongnya hingga jatuh ke lantai, pasrah diperlakukan tak adil oleh mereka.
Sepuluh menit kemudian, ambulans datang. Beberapa orang datang dan mulai memeriksa keadaan pasien dalam kondisi kritis.
"Apa yang terjadi?" desak Farhan.
"Pasien mengalami serangan jantung dan segera di bawa kerumah sakit untuk di tangani dengan cepat."
Farhan terdiam sesaat dan segera membantu kakeknya untuk masuk ke dalam mobil ambulans, semua orang mengetahui kondisi Hendrawan yang tidak baik.
Ayu merasa bersalah, memegang tangan Farhan dan memohon untuk ikut menemani Hendrawan. "Biarkan aku ikut!" lirihnya pelan, berharap bisa memantau perkembangan kondisi kakek.
Farhan menoleh, raut wajah penuh kemarahan seakan meledak saat melihat wajah Ayu yang menjadi penyebab kondisi sang kakek. "Apa sekarang kau puas? Kondisi kakekku kritis akibat pernyataan bodohmu itu. Kau wanita yang sangat egois, dan masih berpikir untuk menemaninya? Apa yang ingin membuktikan dengan melakukan hal ini. Kakek menjodohkan aku dengan wanita tak berperasaan seperti dirimu. Jika sekali lagi kau melangkah? Kau pasti tahu dengan konsekuensinya."
Ayu terdiam bagai patung, menerima perkataan kasar yang baru saja dia dengar, hati bagai ditusuk sembilu. Perkataan yang menyayat hatinya hingga terluka cukup dalam.
__ADS_1