
Semua orang mulai menatap Ayu, mereka sangat tercengang mendengar penuturan dari wanita itu, memperbaiki dalam lima menit? Sulit di percaya. Farhan dan Gabriel terdiam sembari melihat Ayu yang mulai melakukan tugasnya dengan sangat serius dan teliti.
Ayu melakukan sesuai perkataannya, melakukan tugasnya dengan cepat. Tidak menghiraukan beberapa orang yang mulai berbisik-bisik, keterampilan yang dia miliki membuat pekerjaannya menjadi lebih mudah.
Kesan Farhan terhadap Ayu bertambah baik lagi, memuji bakat wanita itu di dalam hatinya.
"Jangan lupa untuk berkedip," cetus Gabriel yang sedari tadi memperhatikan gelagat Farhan.
"Bukan urusanmu!" ucap Farhan tanpa menoleh.
"Bagaimana menurutmu?" celetuk Gabriel yang memandangi Ayu dengan penuh cinta, meminta pendapat dari sahabat lamanya.
"Luar biasa." Puji Farhan yang juga memandang Ayu.
Tatapan kedua pria mengarah ke satu wanita, Gabriel sangat kagum dengan kepintaran Ayu dalam menyelesaikan masalah. Tangan kirinya di letakkan ke atas bahu Farhan tanpa dia sadari. "Singkirkan tanganmu dari bahuku!" seloroh Farhan yang menatap sang pelaku dengan tajam.
"Apa? Aku tidak sengaja." Jawab Gabriel yang memelas, dengan cepat dia menyingkirkan tangannya yang bertengger di atas bahu Farhan.
Tak lama, Ayu berjalan ke arah Fina yang juga kagum dengan keterampilan sekretaris itu. Ayu membawa gaun yang sudah di perbaiki dengan tersenyum cerah di wajahnya. "Gaunnya sudah aku selesaikan dengan baik, kau cobalah." Ucapnya yang menyerahkan gaun itu kepada brand ambassador wanita.
"Kau luar biasa!" puji Fina.
"Jangan terlalu memujiku, cobalah gaun itu!" ujar Ayu yang tersenyum.
"Baiklah." Fina tersenyum dan berjalan ke ruang ganti pakaian.
Tak butuh waktu lama, Fina keluar dengan gaun rancangan dari Ayu. Wajahnya yang cantik dengan gaun yang terlihat elegan dan juga mewah, mampu membuat beberapa orang di dalam studio mengaguminya.
"Kau terlihat sangat cantik, dan lebih menakjubkan. Gaun itu sangat cocok padamu dibandingkan Raina." Puji Ayu yang sangat puas. "Bagaimana menurut kalian?" tanyanya yang menatap Farhan dan Gabriel secara bergantian.
"Dia terlihat sangat cantik." Sahut Gabriel.
"Gaun itu terlihat lebih hidup," sambung Farhan dengan tatapan kagum, melihat gaun buatan Ayu yang sangat luar biasa. Sementara Fina hanya menunduk malu mendengar pujian itu.
"Sebaiknya kita memulai syuting agar selesai." Ide Ayu yang menatap Farhan.
"Kau benar! Proses syuting kita lanjutkan!" titah Farhan membuat semua kru melanjutkan pekerjaan mereka.
Fina meremas jari-jarinya karena sangat gugup, berusaha untuk tetap tenang dan tidak ingin membuat kesalahan. "Oh ya tuhan…aku sangat gugup sekali. Aku melakukan syuting iklan yang sangat penting untuk pertama kalinya," gumamnya.
Ayu melihat sang aktris dan tersenyum, menghampiri wanita itu. "Kau terlihat sangat gugup."
__ADS_1
"Tentu saja, ini syuting iklan pertamaku."
"Kau tidak perlu khawatir, itu normal. Yakinkan dirimu dan perkuat kepercayaan diri." Tutur Ayu yang menyemangati wanita yang ada di sebelahnya.
"Entahlah, aku tidak bisa mengendalikan kegugupan ini." Ungkap Fina yang jujur.
"Begini saja, kau anggaplah studio ini kosong. Tidak ada orang lain selain dirimu dan juga Gabriel, anggap dia sebagai orang yang kau sukai. Aku sangat yakin dengan kemampuanmu!" Ayu terus mendorong Fina agar penuh percaya diri.
"Aku akan mencobanya, terima kasih sarannya."
"Sama-sama."
Fina dan Gabriel mulai melakukan akting mereka, Ayu yang bersebelahan dengan Farhan terus melihat akting yang memuaskan keduanya.
"Cut." Pekik Ayu dengan lantang seraya bertepuk tangan dengan meriah, semua orang mengikutinya bertepuk tangan. Dia berjalan menghampiri dua selebriti brand ambassador, wajah yang mengukir senyuman indah. "Bagus, akting kalian sangat luar biasa. Feel dan emosi begitu pas pada porsinya."
"Benarkah?" sela Fina yang sangat antusias, Ayu mengangguk membuatnya hampir tak percaya.
"Aku sangat kagum denganmu, hanya butuh sekali percobaan dan kau memahami apa yang aku katakan."
"Itu karena dirimu, kau menghilangkan kegugupan ku dan terima kasih untuk itu."
"Apa kau hanya memujinya saja?" sela Gabriel yang bergurau.
"Hah, sepertinya aku melupakanmu." Sahut Ayu yang tertawa membuat Gabriel cemberut beberapa saat kemudian ikut tertawa.
"Syuting telah selesai, jadwal syuting berikutnya lokasinya ada di luar pada jam sembilan besok," tutur Ayu.
"Baiklah, aku setuju." Dahut Gabriel dan Fina kompak.
Setelah melakukan pekerjaan, Ayu hendak pergi meninggalkan ruangan itu. Saat hendak menoleh tak sengaja menabrak dada bidang Gabriel. "Hah, kau membuat aku kaget." Ayu memegang dadanya karena sangat terkejut dengan kedatangan pria itu yang mendadak.
"Maaf, aku tidak bermaksud begitu."
"Kenapa kau masih ada di sini?" Ayu mengerutkan keningnya karena penasaran.
"Aku ingin mengajakmu makan malam dan sekaligus membicarakan mengenai pekerjaan, bagaimana?" ajak Gabriel yang menatap wanita di hadapannya dengan penuh harap.
Ayu yang ingin menjawab tersentak kaget saat merasakan sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya. "Tidak bisa, bicarakan pekerjaan besok pagi saja." Tolak seseorang yang tak lain adalah Farhan.
Gabriel menatap Farhan dengan tajam, mengalihkan perhatiannya ke arah pinggang Ayu yang dipeluk dengan begitu posesif. "Aku tidak bertanya kepadamu," jawabnya dingin.
__ADS_1
"Aku tunangannya!" tekan Farhan.
Farhan semakin memeluk pinggang Ayu sangat erat membuat Gabriel semakin terbakar api cemburu, karena tak tahan melihat situasi itu membuatnya pergi. "Sebaiknya aku pergi!"
"Itu bagus, akhirnya kau sadar diri juga," cibir Farhan yang tersenyum samar, memperlihatkan kemesraan untuk membuat rivalnya mundur.
Keduanya menatap kepergian Gabriel yang mulai menghilang dari pandangan, Ayu menatap Farhan dengan jengah. Tanpa banyak bicara, dia melepaskan diri dari pria yang memeluk pinggangnya untuk mengambil kesempatan. Sedangkan Farhan hanya tersenyum karena menurutnya wanita itu terlihat sangat menggemaskan saat menolaknya.
****
Vanya yang sangat jenuh memutuskan untuk jalan-jalan di luar, menghabiskan waktu senggangnya. Berniat untuk pergi ke butik, dan membeli barang-barang bermerek. Saat sampai di tempat tujuan, langkah kakinya terhenti saat jalannya di cegat oleh seseorang.
"Kau? Kenapa kau ada di sini?" tanya Vanya yang tidak suka di cegat.
"Apa kau melupakan aku?" ucap wanita itu yang terlihat menyedihkan.
"Aku tidak melupakanmu, kenapa kau menghalangi jalanku?" tanya Vanya yang begitu penasaran sembari menatap wanita itu.
"Bisakah kita bicara sebentar, Nona?"
"Hem, baiklah." Keduanya berjalan ke arah kursi kosong yang tak jauh dari butik. "Lama tak terlihat, dan kau terlihat sangat menyedihkan."
"Inilah nasib yang harus aku terima," sahut Maudi yang berpura-pura menangis.
Seketika Vanya tersenyum samar, di otaknya timbul sebuah rencana untuk membuat Ayu celaka. "Apa kau hanya diam saja dengan perbuatan wanita kampung itu?" provokasi Vanya.
"Dia harus membayar mahal dengan nasibku sekarang!" tekad Maudi dengan menggebu-gebu.
"Aku cukup prihatin dengan kondisimu, sangat menyedihkan."
"Apa Nona ingin membantuku?" ucap Maudi penuh harap.
"Apapun untuk seorang teman." Vanya tersenyum smirk, sebenarnya dia tidak berniat untuk membantu Maudi dan membuat mantan ketua sekretaris sebagai pionnya.
"Benarkah?" seloroh Maudi dengan semangat, karena sebentar lagi dia akan membalaskan dendam.
"Itu benar, wanita kampung itu kan syuting iklan di luar besok."
Seketika Maudi dan Vanya tersenyum licik, mantan ketua sekretaris mengerti dengan arti senyuman itu.
__ADS_1