
Ayu menatap pria tampan itu, tersenyum dan menerima hadiah yang diberikan oleh Farhan. "Terima kasih, maaf merepotkan mu!"
"Hem, tidak masalah. Aku senang jika kau menerimanya." Sahutnya yang tersenyum tipis, menarik tangan calon tunangannya hingga berada dalam pelukannya. "Apa itu artinya kau memaafkanku?" terpancar tatapan nanar yang berisi sebuah harapan.
Ayu sangat terkejut, sekarang dia berada dalam pelukan Farhan. Berkontak mata sepersekian detik dan memberontak untuk melepaskan pelukan dari pria itu. "Lepaskan aku!" lirihnya yang dengan cepat mengalihkan pandangan, sorot mata tajam tak mampu untuk menatap terlalu lama.
"Akan aku lepaskan, tapi sebelum itu…kau harus mengecup bibirku."
"Kau curang!" Ayu mengerucutkan bibirnya, seraya berusaha melepaskan pelukan erat itu.
"Aku tidak curang, hanya mengambil kesempatan saja." Ucap Farhan dengan santai, seakan telinganya tuli saat Ayu terus memohon kepadanya.
"Jangan kekanak-kanakan!"
"Kecup bibirku sekali, maka kau akan bebas."
"Baiklah, tutup kedua matamu!" titahnya yang tersenyum licik.
"Aku tidak sebodoh itu! Jika kau menolak, maka hukumannya menjadi dua kali lipat. Kau pasti sangat pintar menangkap perkataanku!"
"Hah, sepertinya aku harus melakukannya." Gerutu Ayu yang mendekat untuk mengecup bibir pria itu, menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya untuk melepaskan diri dan berhasil. "Sekarang aku bebas," celetuknya yang bersorak riang.
"Dasar nakal!" Farhan sangat gemas dengan wanita cantik dan imut yang berada di hadapannya, menarik hidung mancung dan menarik pelan.
"Itulah namanya strategi," bangga Ayu yang langsung menepis tangan Farhan, keduanya tertawa cerah.
"Apa kau masih marah padaku?" ucap Farhan dengan lembut, kedua sorot mata tajam berubah teduh.
"Aku memaafkanmu."
Farhan menghamburkan tubuhnya dan memeluk Ayu dengan erat, menikmati aroma tubuh yang sangat dia rindukan selama ini.
"Katakan ya!"
"Untuk apa?" tanya Ayu yang mengerutkan kening.
"Untuk menikah denganku," sambung Farhan.
"Kata-kata yang masih tabu, bersabarlah sebentar lagi."
"Hah, ya sudahlah. Aku akan menunggumu, aku pastikan hingga waktu dekat kau akan mengungkapkan perasaanmu padaku." Yakin Farhan, entah mengapa dia mengatakan hal itu.
"Kau terlihat penuh percaya diri, akan aku memegang kata-kata mu."
__ADS_1
"Hem, bagaimana kronologi kejadian di toilet? Kenapa Raina berada di Perancis?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu bagaimana dia berada di sini secara kebetulan. Aku sangat ragu dengannya, apalagi Raina mengetahui lokasi ku. Di saat itu, aku membersihkan tangan di wastafel, tiba-tiba Raina datang dan ingin menikam ku dengan pisau tajam dari belakang." Ayu menjelaskan secara detail apa saja yang dia lalui saat mantan kekasih Raymond itu bertindak, tanpa terlewat satupun.
Farhan sedikit terkejut mendengar penjelasan wanita itu dan terdiam tanpa mengatakan apapun.
"Sebaiknya aku kembali ke acara lelang," Ayu ingin beranjak, tapi di tahan oleh Farhan.
"Sebaiknya kau di sini saja."
"Ayolah, tidak ada yang perlu dicemaskan lagi. Aku ingin melelang barang lain untuk memberikan kontribusinya pada acara lelang amal itu." Keukeuh Ayu bersikeras.
"Apa kau hanya mencari alasan agar tidak berduaan denganku?" selidik Farhan membuat Ayu gugup.
"Ti-tidak, kau hanya salah sangka saja." Ayu terkejut saat tubuh kekar itu kembali memeluknya, semakin dia memberontak maka pelukan itu semakin erat. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku tahu, jika kau mulai mencintaiku. Walaupun Kira akan kembali, aku tetap memilihmu. Jangan mencari alasan untuk terus menghindar dari perasaan mu sendiri, hadapi dirimu dengan memberiku kesempatan."
Ayu tertegun sesaat, tapi kembali terkejut saat Farhan mencium bibirnya. Awalnya dia menolak, tapi permainan dari bos membuatnya terlena hingga mengikuti ciuman mesra dan sesekali juga membalasnya. Mereka dapat merasakan desiran dan gairah cinta yang selama ini tidak disadari.
"Bernafaslah!" Titahnya.
Ayu menghirup oksigen dengan sangat dalam, baru beberapa detik kemudian Farhan kembali melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda. Keduanya hanyut dalam gejolak asmara, saat cinta keduanya semakin tumbuh seiring waktu. Jantung berdegup dengan kencang, saat ciuman itu telah usai. Kedua tatapan saling berkontak langsung, bagai dunia milik berdua.
Ayu mengangguk kepala, mengiyakan perkataan dari pria itu. Dia juga tak bisa marah terlalu lama, mengingat perasaannya kini sangatlah berbeda. "Baiklah, aku memaafkanmu."
"Bagaimana dengan satu kesempatan untukku untuk membuktikan diri agar kau tidak meragukan cintaku."
"Ya, aku memberimu kesempatan dan jangan menyia-nyiakan kesempatan itu."
Sontak kedua mata Farhan terbuka lebar, itu artinya dia berusaha keras untuk meruntuhkan keraguan di benak Ayu. "Terima kasih!"
"Hem."
"Aku sudah tidak sabar untuk segera menikahimu dan mempunyai lima orang anak." Goda Farhan yang bahagia.
"Lima? Apa kau tidak salah?" pekik Ayu.
"Tidak, Mansion sangatlah luas. Bahkan lebih dari itu jika kau sanggup."
Pletak
"Heh, sepertinya aku harus menimbangnya kembali jika bersama denganmu."
__ADS_1
"Itu hanya perencanaan saja." Sahut Farhan seraya mengusap kepala yang di sentil oleh wanita di hadapannya.
"Berjuanglah untuk menghilangkan keraguan di hatiku."
"Tentu saja, Tuan Putri." Ucap Farhan, lalu kedua nya tertawa.
****
Tibalah saatnya mereka bersiap untuk pulang, Dia memegang tangan Ayu dan membantunya untuk masuk ke dalam pesawat pribadi milik Farhan.
Saat di dalam perjalanan, perasaan Ayu tiba-tiba saja menjadi tak tenang dan juga gelisah. Dia tidak tahu kenapa dan ada apa, hingga Farhan memegang kedua tangan dan tersenyum ke arahnya. "Jangan cemas, aku ada bersamamu." Ucapnya yang menenangkan.
"Aku sudah berusaha, hanya saja perasaanku menjadi tak karuan. Apa akan terjadi sesuatu? Farhan, aku sangat takut." Lirih Ayu yang memeluk erat calon tunangannya.
Farhan membelai rambut Ayu dengan sangat lembut, berusaha untuk menenangkan. Akhirnya Ayu bisa berdamai dengan perasaannya, menghela nafas lega. "Terima kasih!"
"Hem, tidak masalah."
"Bagaimana nasib Kenan?" tanya Ayu yang mengalihkan kesunyian.
"Dia sudah menerima ganjarannya, sesuai apa yang dia lakukan."
"Aku tidak menyangka, jika Kenan merupakan kekasih Tiara. Wanita itu sangat licik dan memanfaatkan pria itu dengan iming-iming pernikahan."
"Jangan pikirkan itu, sekarang perusahaan sudah membaik. Kau tidak perlu memikirkan orang seperti mereka!"
"Kau benar."
Farhan tersenyum saat membayangkan pertemuannya dengan Ayu, dia tak menyangka jika wanita yang tengah tertidur di pahanya bisa mencuri cintanya.
Tiba-tiba pesawat mengalami guncangan, membuat Ayu terbangun dari tidurnya, dua orang pramugari datang menghampiri bosnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Farhan sedikit panik.
"Maaf, Tuan. Pesawat mengalami turbulensi dan kehilangan kontrol," jawab salah satu pramugari yang terlihat sangat panik, namun berusaha untuk tidak menunjukkannya.
"APA?" pekik Ayu yang sangat syok.
"Kau boleh pergi!" titah Farhan dan kemudian memeluk Ayu, sebenarnya dia juga sangat takut dengan keadaan pesawat yang tiba-tiba tidak stabil.
"Farhan, apakah kita akan selamat?" tanya Ayu yang mulai meneteskan air mata.
"Tentu saja, aku masih ada di sini 'bukan? Jadi, kau tenang saja."
__ADS_1