Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 209 ~ Identitas Kira


__ADS_3

Ayu sangat sedih dengan apa yang dia lihat, keberadaan wanita itu yang menjadi duri dalam hubungannya. Sudah cukup dia merasakan rasa sakit dihati, saat wanita itu terus saja menjadi hantu yang membayangi pikiran. "Hah, mengapa dia selalu saja muncul. Sangat menyebalkan!" gumamnya di dalam hati.


Ayu memperhatikan Kira yang menarik tangan Farhan agar menjauh darinya, hal itu membuatnya menghentikan langkah dengan raut wajah termenung. Membayangkan kebersamaan dari dua insan yang terlihat sangat akrab, memegang dadanya yang tergores tapi tak berdarah. Waktu seakan lambat, kepergian dari dua orang berinteraksi. "Mengapa aku mengalami ketidakadilan dari semua orang?" batinnya yang linglung.


Sementara Gabriel melihat dan bisa merasakan bagaimana perasaan dari wanita yang dicintai tengah terluka, dia sangat sedih dan memberanikan diri untuk berjalan menghampiri. Tidak menghiraukan perkataan dari wanita itu yang telah menolak cintanya secara mentah-mentah, tapi dia juga tak ingin merasakan sakit hati dengan pemandangan yang dilihat oleh Ayu.


"K-kau tidak apa-apa?" tanya Gabriel cemas, memegang kedua bahu wanita itu dengan tatapan melekat. 


"Jangan cemas, aku baik-baik saja."


"Aku tahu, kau tidak baik-baik saja. Ayo, pulanglah bersamaku. Biarkan Farhan mengantarkan Kira, karena sudah seharusnya begitu." Ucap Gabriel yang menenangkan.


Ayu menjawabnya dengan menganggukkan kepala, pasrah mengenai keadaan, bukan berarti mengalah. "Aku akan mencari bukti dan membongkar kedoknya!" tekadnya dalam hati, menggebu-gebu dan tak menyerah dengan mudah. 


"Apa yang kau lamunkan?" 


"Antar aku dulu ke rumah sakit, aku ingin mengobati kakek Hendrawan terlebih dulu!" 


"Baiklah, apapun perkataanmu. Aku akan memastikan kau pulang ke apartemen, biarkan aku mengantarmu hari ini." Tawar Gabriel dengan kedua mata yang memancar cahaya harapan.


"Baiklah, jika kau memaksa."


****


Setelah pengobatan akupuntur selesai, Gabriel mengantarkan Ayu menuju ke apartemen miliknya. "Bagaimana pengobatan kakek Hendrawan?" 


"Hem, sedikit membaik. Aku bersyukur jika kemajuan kesehatan kakek Hendrawan berangsur-angsur membaik. 


Di sepanjang perjalanan menuju apartemen, Ayu melirik pria yang tengah fokus mengemudi. Gabriel tersenyum dan menangkap basah wanita di sebelahnya. "Apa aku tampan?" 


"Hem, aku sudah memikir ulang mengenai masalah ini."


"Aku tidak mengerti, apa maksudnya?" 


"Lebih baik aku pergi dari apartemen mu, tempat itu sudah tidak aman. Aku akan pindah!" 


Gabriel menghentikan mobilnya di pinggir jalan, menoleh ke samping. "Apa maksudnya itu?" dia tidak setuju dengan ucapan Ayu, dan meminta penjelasan lengkap. 


"Seperti yang aku katakan, aku ingin pindah dari sana. Tinggal di apartemen milikmu hanya akan membawa masalah seperti tadi dan aku tidak ingin itu terjadi." Jelas Ayu yang tak ingin merepotkan pria itu.

__ADS_1


"Jangan dengarkan perkataan orang lain, tinggalah di apartemenku!"


"Tidak, sebaiknya kau carikan aku tempat tinggal yang baru. Hanya ingin meminimalisir gosip agar tidak tersebar luas, ini baik untukmu dan juga aku, namamu yang bersih dari para haters." 


"Ta-tapi__."


"Sudahlah, ini sudah jadi keputusanku." Ayu membalasnya dengan jenuh, tak ingin berdebat karena hari ini sangatlah melelahkan baginya. 


Gabriel terdiam beberapa saat, keputusan dari wanita di sebelahnya secara sepihak membuatnya berpikir keras. "Aku sangat yakin, jika Ayu pergi itu karena Farhan. Ck, kenapa harus dia." Batinnya yang mengumpat sahabat kecilnya dulu. Dia menghela nafas panjang dan mengontrol emosinya dengan sebaik mungkin, tak ingin membuat Ayu takut. "Apa kau karena pria itu?" 


"Apa maksudmu dengan kata pria itu?" tanya Ayu menyelidiki, menyipitkan kedua mata menatap pria di sebelahnya.


"Apa kau pergi karena Farhan yang meminta?" 


"Ck, jangan sangkut pautkan hal ini dengannya. Keputusanku pergi dari apartemen milikmu sudah jelas, hanya ingin menghindari gosip."


"Ayolah, jangan memikirkan permasalahan tadi."


"Aku tetap dengan keputusanku, jangan bahas ini lagi." Ayu mengalihkan pandangannya ke depan, memperhatikan jalanan. Menandakan jika dia tak ingin mengatakan ataupun membahasnya lagi. 


Tak lama mobil berhenti, Ayu bergegas pergi setelah mengucapkan terima kasih. Sedangkan Gabriel menatap kepergian wanita yang sangat dia cintai, tatapan sendu karena tak bisa memiliki sang pujaan yang sulit tercapai. 


Di dalam kamar, Ayu melempar tas kecil ke atas tempat tidur. Dia membaringkan tubuhnya dan membenamkan kepala karena sangat kelelahan dengan hari yang dia hadapi, menyelesaikan setiap permasalahan. "Wah…tubuhku sangat remuk," monolognya yang mengeluh. 


"Halo."


"Bagaimana kabarmu?"


"Ck, jangan bertele-tele. Apa kau meneleponku untuk informasi yang sangat penting?"


"Tentu saja, untuk apa aku menelponmu jika bukan karena suatu hal yang sangat penting.


"Cepat, apa yang ingin kau sampaikan."


"Aku baru saja mengirimkan foto Kira bersama dengan dua orang pria, kau lihatlah!"


Ayu segera melihat foto yang baru dikirim lewat surelnya, kedua matanya terkejut saat melihat dua orang pria. 


"Siapa itu?"

__ADS_1


"Dua orang pria yang menagih hutang pada acara pertunangan mu, di saat itu kira tiba-tiba hadir dan tak sengaja menabrakkan diri di mobil Farhan, karena dua orang pria yang ada di foto mengejarnya."


"Lalu?"


"Dan aku sedikit curiga dengan ketiganya, karena hubungan yang terlihat di foto bukanlah antara dua orang penagih hutang, tetapi orang yang bersekongkol untuk menjalankan rencana."


"Astaga…jadi dugaanku benar?"


"Ya, kau tahu? Pada saat yang sama, pada bulan tersebut Kira mengirimkan uang sejumlah lima puluh juta kepada dua orang pria itu, membayar mereka lewat akun yang baru saja aku selidiki. Kau pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya, memahami maksud dari semua itu."


"Itu artinya dia memang Kira yang palsu, memberikan uang kepada dua orang pria yang berdalih sebagai penagih hutang dan berakting Jika dia adalah Kira yang asli."


"Yap, kau berkata benar."


"Informasi yang kau berikan sangat berguna bagiku, tapi ada satu hal yang ingin aku minta yaitu untuk terus melacaknya."


"Itu cukup sulit dan memerlukan waktu berhari-hari menemukan identitasnya yang asli, tapi aku akan tetap berusaha untuk dirimu."


"Aku serahkan semuanya padamu, kabarkan padaku jika menemukan informasi yang sangat penting!"


"Tentu, jangan lupa bayarannya!"


"Aku akan mentransfernya sekarang, kau tenang saja."


Senyum di wajahnya terus terpancar cerah mengetahui informasi dari Kira yang palsu, setidaknya dia mempunyai gambaran siapa musuhnya itu. "Tidak lama lagi kedoknya akan terbuka."


****


Pada hari kedua, Ayu pergi ke perusahaan dan dia melihat Kira yang sedang berjalan menghampirinya. Tiba-tiba mood-nya sedikit berubah melihat wanita itu dengan wajah lugunya.


"Ada yang ingin aku sampaikan padamu!" kira tersenyum bahagia ingin memamerkan sesuatu pada rivalnya.


"Baiklah, lima menit untukmu. Silahkan bicara!"


"Kau tahu? Hari ini Farhan mengantarku datang ke perusahaan, dia pria yang sangat manis juga tampan."


Ayu menghela nafas panjang dengan mendengar wanita itu berbicara dan sesekali dia menguap karena merasa. "Apa kau sudah selesai?"


"Tidak, pria itu juga membantuku untuk dekat dengan kakek."

__ADS_1


"Aku tidak peduli!"


     


__ADS_2