Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 120 ~ Persiapan ke Perancis


__ADS_3

Konferensi pers berjalan dengan sempurna, semua orang mempercayai ucapan dari Farhan dan juga asisten Heri. Ayu sangat senang dengan itu, walau dia hanya diam saja sesuai perkataan dari bosnya itu. Farhan menghampiri Ayu dan tersenyum. "Semuanya akan baik-baik saja, malam ini kemasi semua barang keperluanmu."


"Apa kita akan ke Perancis?" tanya Ayu yang mengerutkan kening.


"Hem, itu benar. Kita tidak bisa menunda ini lebih lama lagi," ucap Farhan yang memasukkan jari-jarinya ke dalam saku celana.


"Baiklah, jika itu keinginanmu."


"Asisten Heri!" panggil Farhan tanpa menoleh.


"Iya, Tuan." Sahut asisten Heri dengan cepat.


"Siapkan keberangkatan kami!"


"Baik, Tuan."


"Dan kau urus perusahaan yang ada di sini, persiapkan dirimu jika sewaktu-waktu aku memerlukan bantuanmu," tambah Farhan yang membuat asisten Heri mengelus dada.


"Siap, Tuan." Jauh di lubuk hatinya mengumpati sang atasan yang menyuruhnya dengan sangat mudah. "Itulah nasib bawahan dan aku harus menerimanya dengan lapang hati," batin asisten Heri.


****


Di malam hari, Ayu membereskan kopernya. Beberapa keperluan selama ke Perancis membuatnya sangat cekatan mengenai barang apa saja yang akan dia bawa. "Eh, berapa hari aku ke Perancis? Farhan tidak mengatakan apapun padaku," monolognya yang berpikir.


"Kita tidak tahu, hanya saja bawa barang keperluanmu sedikit saja, jika kurang kita bisa membelinya," sela Farhan yang masuk ke dalam kamar.


Ayu menoleh ke asal suara, menatap pria tampan yang berjalan ke arahnya. "Kau di sini? Apa kau telah berkemas?" tanyanya yang mengerutkan kening, melihat Farhan yang terlihat santai.


"Aku telah menyelesaikan segalanya, itu sebabnya aku datang kemari dan melihatmu berkemas."


"Baiklah."


Farhan membantu Ayu mengambilkan beberapa pakaian dan memasukkan ke dalam koper berukuran sedang, hal kecil yang semakin membuat keduanya semakin dekat.


Beberapa saat, terdengar suara dering ponsel yang membuat Farhan menghentikan aktivitasnya, mengangkat telepon dari Kenan, penanggung jawab di Perancis.


"Halo."


"Halo, Tuan. Apakah anda jadi datang ke sini?"

__ADS_1


"Tentu saja, kenapa kau menanyakan itu?"


"Hanya untuk memastikan segalanya."


"Hem."


"Saya menelepon ingin mengabarkan, jika perhiasan yang bermasalah di produksi di pabrik nomor satu.


"Apa kau yakin dengan perkataanmu?"


"Saya sudah menyelidiki hal ini dengan sangat baik."


"Bagus, lanjutkan penyelidikan mu!"


"Baik, Tuan."


Setelah telepon selesai, Ayu menatapnya dengan penuh penasaran. "Siapa yang meneleponmu?"


"Kenan, penanggung jawab di Perancis."


"Hem, apa yang dia katakan? Apa ada informasi?"


"Aku sangat penasaran mengenai dalang di balik ini semua." Tukas Ayu yang berpikir mengenai kejadian yang menimpa perusahaan.


"Aku juga tidak tahu, dia sangatlah licik hingga mencemarkan nama baik perusahaan."


Setelah selesai berkemas, Ayu menyenderkan kepalanya dan sesekali menguap. Farhan melihat hal itu dan terkekeh. "Sebaiknya kau tidur lebih awal," ucapnya yang merasa kasihan, tahu jika sekretarisnya kurang tidur saat memikirkan masalah kantor.


"Ya, kau benar. Aku sangat mengantuk," Ayu menarik selimutnya dan ingin beristirahat, namun terhenti saat melihat Farhan yang masih berdiri tak jauh darinya. "Kenapa kau masih ada di sini?" tanyanya dengan mengerutkan kening.


"Tidak ada apa-apa, hanya ingin melihatmu tidur saja."


Ayu mendengus kesal, pria yang memintanya untuk beristirahat lebih awal malah mengganggu ketenangannya. Dia sedikit kesal, segera beranjak dari tempat tidur dan mendorong tubuh pria itu agar keluar dari kamarnya. "Selamat malam," ucapnya yang tersenyum dan menutup pintu dengan paksa, tak lupa untuk menguncinya.


Ayu kembali berjalan menuju ranjangnya dan membaringkan tubuh dengan nyaman. "Aku harus istirahat yang cukup, perjalanan menuju Perancis sangatlah jauh." Monolognya serta menarik selimut dan memejamkan mata. Sedangkan Farhan tersenyum, melihat raut wajah wanita yang tampak menggemaskan. Berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat, memulihkan tenaga terbuang akibat pekerjaan yang sangat melelahkan.


****


Keesokan paginya, Ayu terbangun dari tidurnya, dia tersenyum dan meregangkan otot-ototnya seraya sesekali menguap. Beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kemudian, Ayu keluar dari kamar mandi, bersiap-siap memakai riasan juga parfum setelah mengenakan pakaian. Ayu menenteng sebuah koper dan juga tas kecil di tangannya, berjalan menuruni tangga. Terlihat Laras dan Wina melempar tatapan penuh kebencian dan juga sinis.


Wina sangat tak puas dengan kabar keberangkatan Ayu bersama putranya, dia tidak menginginkan hal itu dan melontarkan ucapan yang kurang sedap terdengar oleh Ayu. "Apa dia tidak tahu malu? Setelah kekacauan karena ulahnya itu, putraku yang sangat malang terjebak dengannya!" tukas Wina yang sengaja mengeraskan suaranya.


"Tante benar, kenapa kak Farhan terjebak dengan wanita sepertinya. Dia hanya bisa memberi masalah dan masalah!" tambah Laras yang memancing emosi sang target.


"Entah apa yang dilakukan oleh wanita itu kepada Farhan, hingga dia tak mendengarkan ucapan mama nya sendiri." Sindir Wina yang melirik Ayu.


Ayu mengepalkan kedua tangannya kesal, mendengar perkataan yang memicu kemarahannya. Kedua, dia juga tahu mengenai Wina yang ingin memecatnya di kantor dan bekerjasama dengan Adi. Menghampiri kedua wanita itu, menatap mereka satu persatu. "Berhentilh mengatakan hal yang buruk mengenaiku!"


"Kenapa? Itulah kenyataan yang tidak bisa kau hindari." Jawab Wina sarkas.


"Sebaiknya kalian pergi dan tidak mengganggu Ayu!" bela Farhan yang baru saja menuruni tangga.


"Kenapa kau begitu membela wanita ini?" tanya Wina tak mengerti.


"Jangan mengganggunya karena kami akan pergi ke Perancis."


"Perancis, kenapa kau baru mengatakannya sekarang?"


"Aku tidak sempat mengatakan hal ini pada Mama."


"Semenjak kau mengenal wanita ini, kau melupakan Mama." Seloroh Wina yang berpura-pura sedir.


"Hentikan ini! Aku dan Ayu ingin pergi dulu!" pamit Farhan yang menatap wanita paruh baya itu.


"Aku ingin ikut!" sela Laras yang menunjuk dirinya, melihat Ayu yang pergi bersama Farhan.


"Ya, apa yang diinginkan Laras itu lebih baik, bawa dia bersamamu."


"Apa Nyonya mengira kami sedang berpiknik? Atau liburan? Kami di sana bekerja." Ayu sangat marah mengenai kedua wanita yang hanya memperlambat pekerjaan saja.


"Berani sekali kau meninggikan suaramu di hadapanku!" ketus Wina.


Farhan sangat kesal dengan perjalanannya yang tertunda akibat perdebatan itu, dia sangat tidak sabar untuk berangkat ke Perancis dan menyelidiki pabrik di sana. "Jangan memperlambatnya, Ma. Aku dan Ayu akan pergi ke Perancis dan Laras tidak ikut."


"Bawalah dia bersama mu," bujuk Wina.


"Ini perjalanan bisnis bukan liburan, jika kalian menghambatnya? Aku tidak tahu bagaimana mengatakan pada kakek." Dengan terpaksa Farhan menggunakan kakeknya, membungkam mulut kedua wanita itu tanpa kembali memaksakan kehendak.

__ADS_1


Mereka terdiam, keduanya sangat takut jika Farhan menyinggung masalah kakek. Tanpa menunggu waktu lagi, Wina langsung menarik Laras untuk keluar dari tempat itu.


__ADS_2