
Ayu berdecak kesal karena Jenni masih saja menghalangi jalannya, dia tak ingin menghabiskan waktu yang hanya terbuang sia-sia. "Terserah apapun itu, karena aku tidak akan peduli. Sekarang minggirlah dari hadapanku, jangan menghalangi langkahku!" ucapnya yang berusaha sabar.
"Kau tidak akan bisa pergi, mengapa kau pergi terlalu terburu-buru."
"Bukan urusanmu, minggir!" ketus Ayu yang sudah kehilangan kesabaran dalam menghadapi wanita di hadapannya.
Jenni semakin menyukai raut wajah Ayu yang terlihat kesal, menghalang-halangi wanita itu dengan merentangkan kedua tangannya. "Apa kau menggunakan ilmu hitam dalam memikat Farhan juga Gabriel?"
"Apa kau bercanda? Aku tidak akan menggunakan cara yang sangat konyol itu."
"Lalu mengapa semua pria mengejarmu? Pasti kau menggunakan susuk!" tuduh Jenni yang terus menyudutkan musuhnya.
Ayu tertawa renyah dengan tuduhan tak berdasar dari Jenni. "Mungkin kau yang memakainya, menuduh orang lain tanpa adanya bukti merupakan fitnah."
"Walaupun aku tidak ada bukti, tapi aku sangat yakin kau menggunakan ilmu hitam untuk menjebak idolaku."
Ayu menggaruk pelipis yang tidak gatal, sudah jenuh dengan situasi yang selalu saja terpojokkan. "Apa sudah selesai? Minggir!" ketusnya yang menerobos membuat Jenni sangat kesal.
"Kau tidak boleh kemanapun." Jenni berlari di hadapan Ayu dan menatapnya dengan sangat tajam bagai sebilah pisau. "Aku akan melepaskanmu dengan satu syarat, jauhi Gabriel!"
"Tidak ada urusannya denganmu, sahabat bukan, kakak adik bukan, apalagi sepupuku. Jangan memerintahku!"
"Kau?" geram Jenni yang meremas ujung pakaiannya.
"Apa? Ancaman mu itu tidak akan mempan padaku, jangan membuang tenaga dengan suatu hal yang merugikan diri sendiri.
Vanya membawa paper bag yang berisi dasi yang sengaja sama dengan yang dipilih oleh Ayu dengan harga dua kali lipat, tak sengaja dia mendengar ada keributan yang tak jauh darinya. Segera menyusul dan melihat apa yang terjadi dan ternyata itu adalah sahabatnya yang tengah bermasalah dengan sang rival. "Jenni? Apa yang baru saja terlewatkan?" gumamnya yang segera melangkahkan kaki untuk menghampiri dua orang wanita.
Ayu menghela nafas panjang saat melihat kedatangan Vanya yang memperumit masalahnya, padahal dia hanya ingin membeli hadiah dan malah terjadi keributan. "Astaga…dasar wanita paket komplit." Batinnya yang menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Keributan apa yang sedang jadi perbincangan panas?" tutur Vanya yang melirik Ayu dengan sinis dan menarik perhatiannya menatap sang sahabat.
"Aku hanya ingin menegaskan, jika dia tidak boleh menjadi wanita serakah. Kau tahu, wanita kampung ini mendekati Farhan dan juga Gabriel, entah berapa banyak pria yang masuk dalam cengkramannya. Aku sangat yakin, jika dia menggunakan ilmu hitam."
"Sangat konyol," sela Ayu tak ingin mengambil pusing, dia ingin beranjak dari tempat itu tapi terhalang oleh tangan yang tidak membiarkannya pergi dengan damai. "Apa lagi? Apa masih belum cukup dengan tuduhan tadi?"
Jenni tak ingin membiarkan wanita kampung itu pergi, dan membuat suatu rencana yang baru saja terlintas di otak. Dia mengeluarkan paper bag berisi gaun yang sangat indah, akan dipakainya di saat acara ulang tahun dari sang idola, ingin menunjukkan kepada Ayu bagaimana penampilannya yang akan terlihat berkilau di antara semua orang. "Kau lihat, gaunku berwarna biru langit merupakan warna kesukaanku, dan satu-satunya koleksi yang sangat mahal dan juga terlihat berkelas. Aku yakin, jika penampilanku yang paling menonjol di acara ulang tahun idolaku itu." Ucapnya yang pamer, sambil mengembangkan gaun itu tepat di depan tubuhnya.
"Tidak ada yang menarik dari gaunnya, perlihatkan saja penampilanmu di saat hari H. Apa gunanya sekarang kau memperlihatkannya kepadaku, karena aku tidak akan memperdulikan hal itu!" tegas Ayu.
"Aku sangat yakin jika di hatimu dipenuhi rasa iri padaku, gaun yang sangat mahal ini tidak bisa kau miliki."
"Bisa atau tidak, aku miliki tetap saja tak ingin mempunyai gaun yang sangat terbuka."
"ini yang dinamakan fashion, wanita kampung mana paham dengan fashionable."
"Hah, terserah kau saja!" Ayu menerobos keduanya karena tidak ada waktu dan ingin menuju ke rumah sakit untuk melakukan akupuntur kakek Hendrawan.
"Berhenti di sana!" lantang Vanya menghentikan langkah kaki Ayu.
"Ada apa?"
Kedua wanita itu menghampiri Ayu dan melemparkan gaun yang sedikit robek. "Kau merusak gaun mahalku."
"Aku? Bahkan aku tidak menyentuhnya sama sekali."
"Tapi itu memang benar, kaulah yang membuat gaunku robek saat menerobos melewati kami."
"Aku tidak merasa begitu, mungkin saja kau sengaja menjebakku dan datang untuk menuduh." Terka Ayu dengan tatapan intimidasi layaknya seorang polisi.
__ADS_1
"Aku bukan wanita bodoh yang merusak gaun indah ini, kaulah penyebabnya."
"Ya, aku juga melihat bagaimana kau menerobos kami dengan kasar. Dasar wanita kampung yang dipenuhi rasa iri, sangat malang sekali nasibmu."
Ayu tampak berpikir panjang menggunakan logika, dia sangat kesal dengan tuduhan tak beralasan yang selalu saja memojokkan dirinya dalam situasi genting. "Aku tidak merusak ataupun menyentuhnya, cukup sudah memfitnahku."
"Jika kau tidak ingin mengakui kesalahanmu, jangan salahkan aku menelepon wartawan dan melihat semua ini. Apa kau menginginkan hal ini?" Cepat minta maaf dan bayar kerugiannya!" ancam Vanya.
Ayu tetap menolak untuk meminta maaf, karena bukan dialah pelaku dari apa yang dituduhkan. Namun perkara kecil kian membesar dikala banyaknya reporter yang mengerubungi Ayu di butik itu.
Vanya tersenyum bahagia, menyukai situasi yang membuatnya malam ini bisa tidur dengan nyenyak.
"Mengapa anda begitu tega dengan merusak gaun milik nona Jenni?" tanya salah satu reporter yang merekam.
"Aku tidak melakukan apapun, tapi dia sendirilah yang menuduhku tanpa alasan."
"Vanya menjadi saksi saat kau dengan sengaja menerobos melewati kami,sangat kasar sekali." Ujar Jenni dengan tatapan intens.
"Lalu, apa yang kalian inginkan? Bahkan bukti dari pernyataanmu saja tidaklah cukup untuk menyalahkan diriku."
Jenni mengetahui kemana arah pembicaraan mereka nantinya, dia memundurkan sedikit langkah dan mengeluarkan sebuah ponsel dari tas kecil yang dia sandang. Mengirimkan sebuah pesan singkat kepada seseorang yang bekerja di butik itu, berharap jika orang itu segera menghilangkan bukti yang nantinya akan diperalat oleh Ayu.
["Hapus CCTV dari kejadian yang baru saja terjadi, tolong bantu aku dengan mengabulkan permintaanku."]
Jenni menghela nafas dengan lega, karena berhasil mengirimkan pesan itu tanpa dicurigai oleh semua orang, kemudian dia kembali melangkah maju dan menuding Ayu yang sudah merobek gaun indah yang baru saja dibeli. "Kau wanita miskin yang sangat angkuh, aku ingin kau meminta maaf dengan mencium kakiku."
"Itu tidak akan terjadi, karena masih ada satu bukti yang bisa memperjelas semua ini yaitu rekaman CCTV." Jelas Ayu.
Semua orang setuju dengan pendapat Ayu, dan mulai memeriksa CCTV. Berharap jika mereka menemukan kebenaran dari tindakan yang saling tuduh.
__ADS_1
Ayu sangat yakin jika dirinya tidak melakukan apapun, membuktikan kepada semua orang jika dia tidak bersalah. Tapi satu hal yang tidak diketahui, yaitu rekaman CCTV yang sudah direkayasa oleh sepupu Jenni yang bekerja di butik.