
"Hah, sepertinya dia tidak berniat untuk melepaskan pelukan ini," batin Ayu yang mendengus kesal, berusaha untuk menggerakkan tubuh memberontak. Raut wajah kesal sekretarisnya membuat Farhan tersenyum tipis dan merasa puas, semakin memeluk Ayu dengan erat.
"Apa kau ingin membunuhku?" ketus Ayu kesal.
"Tidak, hanya memeluk saja." Sahutnya enteng.
"Sepertinya kau mempunyai dendam pribadi kepadaku."
"Tidak."
"Tuan Farhan yang terhormat, lepaskan aku!" geram Ayu yang batas kesabarannya semakin menipis.
"Posisi ini sangat nyaman, kau beruntung karena aku memelukmu, dan jangan lupakan kalau kau sendirilah yang terjatuh dalam pelukanku."
"Oho, kau terlalu banyak bicara!" protes Ayu yang ingin menginjak kaki pria itu, namun dengan cepat Farhan menghindar. Tersenyum karena berhasil mengerjai sekretarisnya sedangkan Ayu memanyunkan bibirnya. "Kau pria yang sangat menyebalkan!"
"Itulah aku," sahut Farhan sombong, membanggakan dirinya dengan penuh percaya diri.
"KAU!"
"Aku tampan? Aku tahu itu!" ucap Farhan santai.
"Hah, pria arogan yang sangat narsis," gumam Ayu yang memalingkan wajahnya.
"Kau mengatakan sesuatu?" ujar Farhan yang mendengar samar.
"Tidak, mungkin itu hanya perasaanmu saja."
Entah mengapa, Farhan menyukai wajah kesal dari Ayu, membuatnya semakin ingin menggoda wanita itu. "Ini sangat menyenangkan," batinnya yang tersenyum samar.
Namun, senyum itu tidak berjalan lama saat terdengar suara pintu yang diketuk. Farhan mendelik kesal karena Ayu menggunakan kesempatan itu terlepas dari pelukannya. "Sial, asisten bodoh itu datang di waktu yang salah." Batinnya sembari menatap sang pelaku dengan tajam. Sedangkan yang di tatap hanya menunduk ketakutan, tak berani menatap mata elang milik bosnya.
"Astaga, mati aku!" batin asisten Heri yang merutuki nasibnya seraya berdoa untuk tidak dipecat.
"Kau, kenapa kau datang?" ucap Farhan kesal.
"Saya hanya ingin membuat kopi, Tuan!"
"Benarkah?" Farhan tersenyum smirk semakin membuat bulu kuduk asisten Heri berdiri.
"Ya tuhan, tolong selamatkan aku!" gumam asisten Heri di dalam hati, menelan saliva dengan susah payah, seakan tersangkut di tenggorokan.
"Buka mulutmu," titah Farhan yang dipatuhi oleh asisten Heri, karena kesal keromantisannya di ganggu. Farhan menyendok satu sendok bubuk kopi dan memasukkannya ke dalam mulut asisten malang itu, dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Ayu dengan cepat berlari meninggalkan pantry, seakan baru keluar dari penjara. Tapi, tatapan sinis beberapa orang yang melintas seakan mencambuk tubuhnya. "Ingin rasanya aku mencongkel mata mereka," gumam Ayu yang terus berjalan tidak menghiraukan.
Beberapa karyawan mencegatnya, membuat Ayu terpaksa menghentikan langkah kakinya. "Menyingkirlah!" cetusnya yang berusaha bersikap sopan.
Seorang wanita mendorong bahunya, dan melempar tatapan sinis. "Ternyata kau wanita tak tahu malu. Wanita kampung dan tidak pantas berada di sini, dasar wanita pembunuh!" tekan wanita itu yang bernama Nia.
"Aku rasa dia juga wanita murahan, menjebak tuan Farhan dengan tubuhnya itu." Sahut teman di sebelahnya.
"Enyahlah kau dari kantor ini, aku tidak ingin ada korban lain lagi." Usir Nia dengan tatapan tajam.
"Siapa kau yang berani mengusirnya," sela Farhan menatap dua karyawan yang tertunduk takut, sementara Ayu menoleh ke belakang.
"Ma-maaf Tuan, kami hanya salah bicara saja!"
"Kalian dipecat!" tegas Farhan yang tak ingin di bantah.
"Apa?" ucap kedua karyawan tersentak kaget, menatap sang atasan tak percaya.
"Pergi dari sini, aku tidak ingin melihat wajah kalian di kantor ini."
"Ba-baik, Tuan." Kedua karyawan itu bergegas pergi dan pasrah atas kehilangan pekerjaan, mereka sangat menyesali perkataan buruk yang di lontarkan kepada Ayu.
"Sebaiknya aku pergi ke meja kerjaku," sela Ayu yang tak ingin berlama-lama dengan Farhan.
Sesampainya di meja kerja, Ayu kembali melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Terhenti karena suara nada ponselnya berdering, melihat siapa yang menelepon yang ternyata adalah seorang polisi yang menyelidiki kasus Maudi.
"Halo."
"Saya polisi yang menangani kasus nona Maudi."
"Iya, ada yang bisa di bantu?"
"Setelah penyelidikan interogasi ini, nona Maudi bersikeras jika anda mencoba membunuhnya dengan sengaja mendorong ke Danau."
"Apa? Itu tuduhan palsu, dia sendirilah yang mendorongku."
"Harap pelankan suara anda, tolong bekerjasamalah dalam penyelidikan ini."
"Baiklah, itu adalah opininya. Tapi aku akan tetap membantah tuduhan palsu itu dengan mencari bukti."
"Baiklah, aku akan melanjutkan penyelidikan lebih lanjut. Selamat beraktivitas!"
"Hem, baiklah."
__ADS_1
Setelah telepon selesai, Ayu sangat kesal dengan tuduhan palsu dari Maudi. "Astaga, tuduhan semakin menyebar dengan cepat. Bahkan Maudi semakin membuat situasiku tersudut. Hah, apa yang harus aku lakukan? Jangan panggil namaku Ayu, jika tak bisa membalikkan keadaan. Permainanmu akan berakhir, Maudi." Monolog Ayu yang bersemangat untuk membalas pukul telak dari mantan ketua sekretaris.
****
Sementara di rumah sakit, banyak reporter yang mulai berdesakan menunggu Maudi di depan pintu rumah sakit untuk diwawancarai mengenai masalah insiden kecelakaannya. Tak lama, Maudi datang dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh ibunya. Mereka memasang raut wajah sebagai korban yang tertindas dengan kekejaman Ayu.
"Ada apa ini? Kenapa kalian menyorotku dengan kamera?" ucap Maudi yang menutup wajahnya seakan terkejut.
"Apakah kami boleh mewawancarai anda yang sebagai korban?" tanya salah satu reporter yang mengarahkan perekam suara di hadapan Maudi.
"Tentu saja, aku korbannya di sini." Ujar Maudi yang bersedih.
"Bisakah anda menjelaskan mengenai insiden itu?" tanya sang reporter.
"Tentu saja, Ayu sangat membenciku dan mendorongku ke Danau, berupaya untuk mencelakaiku." Konfirmasi Maudi.
Setelah beberapa pertanyaan yang dijawab oleh Maudi, membuatnya semakin puas. Posisinya sekarang bukan sebagai tersangka, melainkan korbannya. Setelah semua orang pergi, Maudi mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Vanya.
"Ada kabar bagus untukmu, nona."
"Katakan!"
"Bahwa rencana ini berjalan mulus."
"Bagus, lanjutkan aktingmu."
"Tidak masalah."
Vanya memutuskan sambungan telepon, tersenyum puas mendengar kabar dari Maudi. "Bagus, tinggal selangkah lagi dan Ayu akan mendekam di penjara. Itu akibatnya jika kau berani melawanku!" monolognya yang tertawa bahagia.
Di malam hari, Berita Ayu yang mencelakai Maudi semakin menyebar luas di internet. Begitu banyak komentar kebencian warganet yang menyalahkan Ayu, kritikan pedas, dan sumpah serapah semakin membuatnya tidak bisa tidur. "Ini tidak bisa dibiarkan, kau maju satu langkah di depanku tanpa melihat kebelakang. Let's start this game!" gumamnya yang tersenyum.
****
Asisten Heri menghampiri tuannya, membawa sesuatu di tangan kanannya. "Apa kau membawanya?" ucap Farhan dingin.
"Sesuai perintah! Ini, Tuan!" ucapnya sembari memberikan flashdisk kepada Farhan.
"Hem, aku akan mengeceknya!" Farhan mengambil benda kecil itu di tangan asistennya, membuka laptop untuk melihat isi file di dalam flashdisk. Dia tersenyum puas melihat isi flashdisk dan membiarkan masalah ini semakin berkembang. "Bagus, kau bekerja dengan sangat baik." Pujinya.
"Terima kasih, Tuan. Tapi, apa langkah selanjutnya?"
"Tugasmu hanya itu, langkah selanjutnya serahkan kepadaku." Farhan sangat puas dengan pekerjaan dari asistennya.
__ADS_1