
Seseorang mengerjapkan mata dan tersenyum cerah seperti di suasana di pagi hari, mendekatkan dirinya dan mengecup kening wanita yang masih terlelap. Leon sangat bahagia, jika dirinya bisa menjadi orang pertama yang dicintai oleh Aluna, dia tak ingin mempunyai banyak drama seperti yang terjadi pada Ayu dan juga Farhan.
"Aku mencintaimu," lirih Leon yang tidak pernah puas memandangi wajah cantik di sebelahnya.
Aluna menggeliatkan tubuhnya dan menguap, memeluk tubuh Leon dengan erat, berpikir jika itu bantal guling. Dia merasakan tidak nyaman dan mengatur posisi tidur, membuka mata setengahnya saja. Sontak manik mata indahnya melotot saat bertatapan kontak dengan seorang pria di pagi hari.
"Selamat pagi." Sapa Leon yang tersenyum penuh cinta.
"Argh," pekik Aluna yang tidak terbiasa dengan seorang pria tidur di sebelahnya, sedangkan Leon menutup kedua telinganya dan mencoba untuk menenangkan wanita yang berteriak histeris itu.
"Ini aku, Leon. Tolong berhentilah berteriak, atau kau akan merusak gendang telingaku." Pinta Leon dengan raut wajah yang memelas.
"Mengapa kau ada di kamarku?" Aluna menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya dan menyisakan bagian kepala. Dia sangat ketakutan dan tidak terbiasa dengan seorang pria berada dalam satu ranjang dan satu ruangan.
"Perhatikan ruangan ini baik-baik, apakah ini kamarmu?"
Aruna segera mengikuti perkataan dari Leon dan menyusuri pandangannya ke sudut sisi ruangan tampak berbeda, dan mencoba untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Dia menepuk keningnya dengan pelan, saat mengingat segalanya secara terperinci. Ingin sekali dia menyembunyikan dirinya dan menghilang dari hadapan pria tampan di sebelah, suasana yang begitu tidak berpihak padanya.
"Apa kau sudah mengingatnya?" tanya Leon yang dibalas oleh Aluna dengan anggukan kepala. "Tidak perlu meragukan apapun lagi kita sudah menjadi sepasang kekasih, bersihkan dirimu terlebih dulu, ada hal yang ingin aku bahas dan ini sangat penting."
"Mengapa kau tidak mengatakannya sekarang?"
"Bagaimana kita bisa membicarakannya, hal ini sangat penting? Lihatlah rambutmu yang seperti kuntilanak dan juga ada sisa air liur di sini," Leon memperlihatkan pulau yang dihasilkan oleh alunan di atas bantal berwarna putih miliknya, suatu karya seni di saat tertidur.
"Aku akan mencucinya nanti." Aluna beranjak dari ranjang dan terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi, dia sangat malu jika sisi buruknya di saat tidur diketahui oleh Leon.
Pria itu terkekeh dan segera berjalan menuju dapur, setelah terlebih dulu membersihkan wajah dan juga menggosok gigi. Dia membuat sandwich karena itu sangatlah mudah dilakukan dan juga cepat. Tak butuh waktu yang lama baginya menyelesaikan beberapa potong sandwich dan meletakkannya di atas piring dengan disusun rapi. Leon melihat seorang wanita yang menghampirinya menggunakan gaun berwarna putih yang sangat cocok dengan kulitnya, mulutnya terbuka lebar karena kagum dengan kecantikan yang dimiliki oleh Aluna.
"Kenapa kau tidak memintaku untuk memasak?" Aluna menarik kursi dan duduk menikmati sarapan pagi bersama dengan Leon yang sudah menjadi kekasihnya setelah pernyataan cinta semalam.
"Aku bisa melakukannya sendiri, lagi pula membuat sandwich tidaklah sulit dan juga tidak membutuhkan waktu yang lama benar-benar praktis." Leon menghampiri alunan dan mencium bibirnya sebagai ucapan selamat pagi.
Mereka menikmati sandwich yang begitu pas di mulut Aluna, bahkan menghabiskan dua potong sandwich dan tak lupa juga memuji Leon. "Ini benar-benar sangat lezat, siapapun wanita yang akan menjadi istrimu Pasti sangat bahagia."
"Tentu saja, kau menjadi wanita yang bahagia jika bersama denganku. Aku tidak ingin terlalu lama menjalin hubungan seperti ini, walau terasa cepat namun aku tidak bisa menundanya lagi untuk segera memilikimu. Aku ingin melamarmu, Aluna." ucap Leon bersungguh-sungguh, menatap muka wanita di sebelahnya dengan penuh cinta.
__ADS_1
Aluna segera menelan sisa sandwich yang ada di mulutnya, dia sedikit terkejut dan tidak percaya jika sang mantan Bos ingin melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius. "Bagaimana itu mungkin kita baru saja mengungkapkan perasaan tadi malam, dan kau melamarku."
"Aku tidak ingin berlama-lama dengan hubungan yang tidak jelas, banyak belajar dari kisah Farhan dan Ayu. menghindari beberapa konflik dan juga ujian," ucap Leon yang berterus terang.
Aluna diam sejenak, dia berpikir mengenai sikap bibinya nanti jika berhadapan dengan Leon yang dikenal dengan pria dengan seribu wanita yang mengelilinginya. Tentu saja itu bertolak belakang dengan prinsip yang dimiliki oleh bibi Ruo, juga berpikir ulang mengenai restu. "Sebaiknya kita jalani saja seperti ini, Aku tidak ingin terlalu terburu-buru."
"Bukankah kau mencintaiku? Lalu, apa masalahnya sekarang?" kalian tidak mengerti dengan penolakan dari Aluna.
"Itu memang benar, aku mencintaimu lebih dari apapun. Tetapi cukup sulit meminta restu kepada bibi Ruo, dia sangat tidak menyukai seorang pria yang begitu banyak teman kencan seperti dirimu. reputasimu itu sangatlah buruk, kau membutuhkan waktu untuk meyakinkan bibiku itu." terang Aluna.
"Aku bukan pria pengecut, dan akan tetap menghadapi bibirmu untuk meminta restu. pertemukan kami, dan sisanya aku yang mengatur."
"Apa kau yakin? Cukup sulit menghadapi bibi Ruo." Aluna berusaha meyakinkan Leon agar tidak terlalu terburu-buru dengan mengambil keputusan ikatan suci pernikahan.
"Aku sangat yakin, jangan ragukan kemampuanku untuk membujuknya. Oh ya, mulai sekarang kamu tidak boleh menghubungi Mars, kekasih sewaan mu, sekarang kau sudah menjadi kekasih sah yang sebentar lagi menjadi suamimu." Terdapat kata tersirat yang terucap di bibir Leon, menekan kata sebagai ancaman dan tidak boleh dilanggar.
"Jika kau sudah yakin, aku pertemukan kau dengan bibi Ruo."
Leon tersenyum dan memperjuangkan cintanya, dia tidak ingin bermain-main dengan hubungan karena selama ini sudah cukup baginya mempermainkan para wanita.
****
"Apa yang membuatmu kesini dan berani bertemu denganku? Apakah kau tidak tahu, jika seorang pebisnis menjunjung tinggi dengan pepatah waktu adalah uang. Sekarang kau hanya terdiam sambil menatapku seperti itu, katakan apa maksud dan tujuanmu dan menemuiku."
"Aku tahu jika waktu adalah uang, tapi kebahagiaan menjadi yang paling utama. Maksud dan tujuanku datang kesini ingin melamar Aluna untuk menjadi istriku, dan jika bibi setuju aku akan mengundang keluargaku untuk melamar keponakanmu dengan cara resmi." Ucap Leon yang berterus terang tidak ingin berbasa-basi karena dia tahu jika wanita yang ada di hadapannya itu selalu sibuk.
Ruo tersenyum miring mendengar ungkapan to the point yang diberikan oleh pria yang ada di hadapannya dan melirik Aluna. dia sudah tahu dengan identitas dari pria yang ingin melamar keponakannya, namun hatinya tidak setuju jika pria itu menjadi pendamping keponakan yang sangat dia sayangi layaknya seorang ibu menyayangi anak sendiri. Mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap tajam sang sasaran dengan dingin. "Kau tidak pantas untuk keponakanku, bukan tanpa alasan aku menolakmu secara berterus terang. Sifat dan pribadi kepribadianmu sangat tidak aku sukai."
"Tapi Bi, dialah pria yang selama ini aku cintai. Memendam rasa beberapa tahun sangatlah menyiksaku, berikan Leon kesempatan untuk membuktikan dirinya." Aluna berusaha untuk membujuk karena perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan, dengan begitu perjodohan yang telah diatur akan dibatalkan sesuai dengan kesepakatan dan perjanjian yang berlaku.
Ruo mengangkat kelima jarinya di hadapan Aluna, memberi isyarat agar wanita cantik itu tidak ikut campur dengan pembahasan yang sangat sensitif. Dia kembali mengalihkan perhatian menatap Leon dengan tajam, menarik salah satu sudut bibirnya ke atas dan menelusuri pandangan melihat penampilan dari seorang pemimpin Sky Grup. "Apa yang menyebabkan kau menyukai pria brengsek sepertinya? Apa yang menarik dari pria itu? Apa kau tidak tahu mengenainya sifat jelek yang selalu berkencan dengan beberapa wanita cantik dan juga seksi. Kau hanya akan menderita jika menikah dengannya!"
"Aku akui jika itu memang benar, tetapi aku sudah lama tidak berkencan dengan wanita lain. Aku mencintai Aluna dengan sepenuh hati dan segenap jiwa dan raga, dan jangan cemaskan mengenai sifat di masa lalu yang tidak akan aku ulang kembali."
"Bagaimana kalau begitu yakin untuk melamar keponakanku itu? Sementara dia sudah dijodohkan dengan pria lain." Tegas Ruo yang menentang hubungan mereka, dia tidak ingin jika terjadi sesuatu hal yang buruk kepada Aluna. Sudah seharusnya dia melakukan hal ini cepat atau lambat, pahit ataupun manis.
__ADS_1
Seketika Aluna menjadi tidak bersemangat, menundukkan kepala dengan sedih, dia tidak menyetujui dengan perjodohan itu. "Bukankah kita sudah mempunyai kesepakatan, jika aku membawa pria di hadapan Bibi, aku tidak akan dijodohkan dengan pria manapun lagi dan sekarang aku membawa Leon sebagai pria yang akan menjadi suamiku. Berikan kami restu karena kami saling mencintai, lupakan perjodohan yang konyol itu. Bahkan aku sendiri tidak mengetahui pria yang akan dijodohkan denganku."
"Aku tahu ini cukup sulit, tapi inilah kebenarannya aku dan Aluna saling mencintai walaupun aku terlambat untuk menyadarinya," tutur Leon yang menjelaskan.
"Kau tidak perlu repot-repot mengatakan mengenai integritas yang ada dalam dirimu itu, hanya seorang pria brengsek yang berkencan dengan banyak wanita."
"Berikan aku waktu untuk membuktikan diri."
"Aku tidak punya cukup waktu untuk diberikannya padamu, aku sudah mempunyai pria yang cocok untuk menjadi suami Aluna."
Hampir saja Leon patah semangat dengan ucapan oleh wanita paruh baya itu, tapi dia tidak ingin berputus asa dan memperjuangan cinta. Masa lalunya memberatkannya untuk mendapatkan restu, kembali memperjuangkan cinta yang tidak ingin jika Aluna bersama dengan pria lain. "Aku sangat mencintainya, dan tidak akan membiarkan pria lain menjadi suami dari keponakanmu itu."
"Aku tidak peduli mengenai pendapatmu ataupun dengan ucapanmu itu, yang aku yakini itu hanyalah omong kosong. Pria playboy sepertimu tidak akan bertahan hanya dengan satu wanita saja."
Aluna sangat mengetahui jika hal ini akan terjadi, dia memegang tangan Leon dan meremasnya dengan lembut, menatap dengan sekilas sebagai tanda tak berdaya.
Leon mengerti jika Aluna telah berputus asa, tapi semangat yang berkobar di dalam hati tidak padam. Dia menganggukkan kepala dengan pelan, memberi isyarat agar wanita di sebelahnya untuk tetap tenang.
"Sangat kebetulan sekali jika kalian, karena aku sudah mengundang pria yang akan dijodohkan dengan Aluna."
"Apa aku mengenal pria itu?" Aluna sangat penasaran siapa pria yang menjadi pilihan dari bibinya.
"Apa aku terlambat?"
Perkataan dari seseorang yang berjalan menghampiri mereka dengan senyum khas terukir di wajah tampan miliknya, pria yang begitu rapi dengan setelan jas berwarna navy dan berkarisma layaknya seorang pemimpin dari perusahaan besar. Sontak, dua pasang pupil mata melebar saat melihat Siapa yang datang yang tak lain dan tak bukan adalah Mars.
"Mars?" lirih Aluna yang mengucap kedua mata dan memastikan jika apa yang dilihatnya itu salah, tapi hal yang terjadi malah sebaliknya.
"Mars akan menikah dengan Aluna."
Mars tersenyum dan ikut duduk di sofa, menatap sang rival dengan senyum kemenangan. Dia tahu jika Aluna selalu saja menolak perjodohan itu dan memutuskan untuk mencari tahu mengenai sang calon istri. Dia berpura-pura menjadi kekasih sewaan, dan menerima segala kesepakatan mereka, itu hanyalah intrik agar dia bisa dekat. "Hai Sayang, kita bertemu lagi."
Hal itu memicu emosi Leon yang mengepalkan kedua tangan dengan sorot mata elang ke arah pria yang berani mengatakan hal manis terhadap kekasihnya. "Jaga batasanmu," ancamnya yang masih berusaha mengontrol emosi.
"Kenapa? Aluna adalah kekasihku."
__ADS_1
"Kau hanya kekasih sewaan saja dan aku adalah calon suami dan juga kekasih sahnya."
Aluna menatap dua orang pria tampan yang memperebutkan dirinya, dia tidak bisa menerima perjodohan dan menatap sang bibi dengan wajah yang begitu tak berdaya.