
Ayu tidak menjelaskan dan tidak menghiraukan perkataan dari ketua sekretaris, dia hanya diam memikirkan kemana desain itu. "Aku sangat yakin, jika ada yang mengerjaiku. Tapi siapa orangnya?" Gumam Ayu di dalam hati. Dia sedikit cemas, memikirkan desain yang sekarang tinggal kertas kosong.
Tatapannya beralih menatap Angel dengan penuh harap. "Apa kau mempunyai cadangannya?"
"Benar-benar ceroboh, itu semua adalah tanggung jawabmu. Seharusnya periksalah lebih dulu sebelum rapat dimulai! Sayang sekali, aku juga tidak memiliki cadangannya," sahut Maya yang melirik Ayu dengan sinis.
Ayu tak menduga jika Maya malah mengejeknya, dia hanya terdiam memikirkan kemana desain yang telah dirancang. "Astaga…kemana desain itu? Aku bahkan tidak mempunyai salinan ataupun cadangannya," Gumam Ayu yang mencari di atas meja dan bahkan di bawah meja rapat.
"Butuh waktu berapa lama untuk menggambarnya kembali?" Tanya Ayu yang menoleh ke arah Maya, dia sudah pasrah mengenai desain yang hilang.
"Setidaknya butuh waktu dua hari untuk mengerjakannya, apa kau ingin membuatnya?" Ucap Maya dengan tatapan penasaran.
Ayu mengangguk dengan cepat. "Kau benar, desainnya hilang. Sangat sulit untuk menemukannya, lebih baik aku menggambarnya saja!"
"Apa kau yakin?" Tanya Maya yang memiringkan kepalanya.
"Akan aku coba."
"Tidak profesional dan juga ceroboh, bahkan kemampuanmu tidak sesuai standar. Hal penting seperti itu masih bisa hilang?" Ucap Maudi yang melipat kedua tangan di depan dadanya, menatap bawahannya dengan merendahkan.
"Ya, aku akui jika akulah yang ceroboh di sini."
"Tentu saja kau lah yang bersalah," cetus Maudi yang menyeringai seraya tersenyum miring.
"Maka aku akan memperbaikinya, berikan aku waktu satu jam untuk menyelesaikannya," pinta Ayu yang menatap mata Farhan dan juga Raymond.
Farhan berdiri dari duduknya, dan menatap klien sekaligus temannya itu. "Maafkan atas kelalaian dari sekretaris ku, Tuan Raymond."
__ADS_1
"Tidak masalah," sahut Raymond yang tersenyum saat menatap sekretaris itu. Ayu tersenyum lega mendengar hal itu, sedangkan asisten Dion mendekati tuannya.
"Apa Tuan yakin? Ini hanya akan membuang-buang waktu anda," bisik Dion.
"Biarkan saja, aku sangat menyukai kinerja sekretaris baru itu, dan ingin lihat bagaimana dia menyelesaikan masalah yang ada," sahut Raymond.
"Tapi Tuan__" Belum sempat Dion menyelesaikan perkataannya, Raymond menghentikan asistennya dengan memperlihatkan kelima jari di hadapan Dion.
Seketika Dion terdiam, tidak berani mengucapkan sepatah katapun ke atasannya.
"Saya minta maaf atas kelalaian ini, terima kasih telah bersedia untuk menunggunya," ucap Ayu yang merasa bersalah.
"Tidak masalah, aku mengagumi kinerjamu. Jadi, jangan kecewakan aku nanti." Raymond membalas senyuman Ayu membuat seseorang mengepalkan tangannya.
"Baiklah, rapat akan kita adakan satu jam lagi. Mari, saya akan mengajakmu untuk beristirahat." Ajak Farhan yang menjauhkan Raymond dari ruangan itu.
"Tidak perlu terburu-buru, aku masih ingin melihat kinerja sekretaris mu itu."
"Ck, kau selalu saja menggangguku." keluh Raymond yang menatap Farhan dengan jengah, sedangkan yang di tatap hanya acuh tak acuh.
Ayu melihat kepergian dari Raymond dan juga Farhan, dengan cepat dia mulai mengerjakannya. "Syukurlah jika Farhan mengerti situasinya," lirih pelannya.
Melihat Ayu yang begitu santainya bilang akan menyelesaikannya dalam waktu satu jam, ketua sekretaris dan yang lainnya yang memang tidak menyukai Ayu mengejeknya.
"Apa kau yakin dengan ini?" Tanya Maya tersenyum mengejek.
"Tapi aku tidak yakin dengannya, dia hanya pembual saja. Dasar tak tau diri!" umpat Maudi yang kasar.
__ADS_1
"Aku akan membuat kalian bungkam nanti." Batin Ayu yang tersenyum tipis. Dia tidak menghiraukan ucapan pedas dan juga ejekan dari Maudi dan juga Maya yang selalu saja memojokkan nya.
Ayu mengambil laptop dan mulai menggambar di sebuah aplikasi yang ada di layar pipih itu, menggerakkan mouse dan juga keyboard dengan sangat teliti. Dia terlihat terampil dan sangat serius, sedangkan Maudi dan Maya hanya menatap tanpa berniat untuk membantu.
Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan desain, hanya menghabiskan lima puluh lima menit. "Selesai!" celetuk Ayu yang meregangkan jari-jarinya dan menyandarkan punggung di kursi yang dia duduki.
Farhan yang baru saja masuk ke dalam ruangan rapat, tak sengaja mendengar ucapan Ayu yang menyelesaikan dengan waktu singkat. "Sesuai yang aku pikirkan, kau mengerjakan tepat pada waktunya. Kali ini, Maya yang merupakan kepala desainer departemen desain perhiasan tidak bisa melakukannya. Luar biasa!" ucapnya yang masuk ke dalam ruangan bersamaan dengan Raymond dan juga asistennya.
Rapat kembali dimulai, Ayu meminta maaf kepada Raymond yang bahkan tidak mempermasalahkan hal sepele. Ayu mulai memperlihatkan hasil desainnya kepada semua orang, dengan menambahkan rasa di desainnya tersebut, membuat orang-orang sangat tertarik melihatnya.
Sedangkan Maudi menjadi kesal karena rencananya kembali gagal. "Sial, dia sangat cerdik membalikkan keadaan. Seharusnya dia ditendang dari perusahaan ini! Tapi yang terjadi dia malah mendapatkan pujian dari dari semua orang," batin Maudi dengan hati yang kotor. Dia tak menyangka jika Ayu dapat menyelesaikan desain nya hampir dikatakan sempurna, Maudi merasa tidak puas dan juga merasa iri. Namun dia menutupinya dengan sangat baik. Sedangkan Maya bungkam, tak mampu berkata-kata selain takjub dan iri sekaligus.
Raymond menjadi sangat puas mengenai penjelasan Ayu yang sangat detail dengan kata-kata mudah dipahami. "Dia sangat luar biasa," gumamnya yang tersenyum samar.
"Bagaimana menurut anda, Tuan?" Tanya Dion yang menatap atasannya.
"Aku sangat setuju dan menerima proyek kerjasama itu." Ucap Raymond dengan lantang, membuat Farhan tersenyum. Mereka saling berjabat tangan sebagai tanda kerjasama akan dimulai.
Setelah rapat berakhir dengan sukses, Raymond dan asistennya kembali ke hotel untuk beristirahat. Disisi lain ada Ayu, Maya sebagai kepala desain, desainnya masih tidak sebagus yang digambar oleh Ayu dan ini sangat memalukan baginya.
"Ya tuhan…aku kehilangan wajahku untuk menghadap Ayu," batin Maya yang sangat malu.
Ayu tersenyum tipis saat melihat wajah Maudi dan Angel seperti menghindari tatapannya. "Aku sangat yakin jika mereka sedang menahan malu, itu akibatnya merendahkan orang lain," gumamnya.
"Sial, rencanaku gagal total. Aku harap tidak ada yang mengetahuinya," batin Maudi yang yang menutupi kegugupannya. Dia mengambil resiko untuk mengganti gambar desain dengan kertas kosong, awalnya Maudi mengira bahwa Ayu akan dipecat dari perusahaan sesuai dengan rencananya saat bersama Vanya di toilet. Tapi Ayu bukanlah lawannya, bukannya terjatuh malah Ayu terlihat semakin hebat.
"Sebaiknya kita pergi saja," celetuk Maudi yang menarik tangan Maya.
__ADS_1
"Baiklah, Ayo!" sahut Maya yang mengikuti Maudi.
"Wow, mereka sepertinya menghindariku!" ucap Ayu dengan pelan sembari menatap kepergian mereka beberapa langkah sebelum keluar dari ruangan konferensi rapat. "Oi, kalian mau kemana? Panggil Ayu setengah berteriak.