
Farhan menatap dalam kedua manik mata dari wanita yang ada di hadapannya, hatinya berubah hangat dan menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Ayu menatap wajahnya dengan menautkan kedua alisnya, menyadarinya sedari tadi. "Ada apa?"
"Aku ingin kau belajar mencintaiku dalam dua bulan ini," ucap dengan sedikit perintah.
"Apa kau sedang melakukan negosiasi?"
"Tidak juga, itu kalimat permintaan dariku."
Ayu memalingkan wajah, sedikit aneh dengan perkataan yang keluar dari mulut pria itu. "Tapi, aku mendengar kalimat perintah."
"Jangan salah paham dengan perkataanku, aku hanya ingin kita melanjutkan perjodohan ini."
"Tidak!" tolak Ayu yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu, malu karena tak ingin jika Farhan melihat melihat rona di wajahnya yang bersemu merah.
Farhan menatap kepergian sekretaris cantik itu keluar dari ruangannya. "Dia mengatakan tidak, tapi kedua pipinya merah seperti tomat. Dasar wanita!" gumamnya yang menggelengkan kepala dan tersenyum, kembali melanjutkan pekerjaannya yang beberapa saat tertunda.
Ayu kembali ke ruangan kerja, mengerjakan beberapa berkas yang harus diselesaikan dengan cepat, dia tersenyum saat mengingat perkataan Farhan.
****
Beberapa hari kedepan, tak ada masalah yang terjadi membuat Ayu bisa beristirahat dengan tenang. Menikmati sebotol minuman dingin dan menikmati waktu sendiri sangatlah menyenangkan. Suasana di saat libur dengan urusan kantor, dia lebih memilih berada di dalam kamar sambil bermain game online. "Ini seperti kehidupanku yang lama, jauh dari masalah." Monolognya seakan terbebas dari penjara.
Terdengar suara ketukkan pintu, dengan langkah gontai Ayu berjalan menuju pintu dan membukanya. "Kau di sini?"
"Kau sedang apa?"
"Hanya menikmati waktu libur," jawab Ayu santai.
"Aku sangat bosan di kamar, apa aku boleh bergabung denganmu?" ucap Farhan dengan tatapan penuh harap.
"Tidak, kau cari saja kegiatan lain. Aku hanya menghabiskan waktu sendiri saja!"
__ADS_1
"Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, itu sebabnya aku ke sini."
"Kalau begitu kau tangkap saja nyamuk!" Ayu ingin menutup pintu kamarnya, tapi di tahan oleh Farhan yang memaksakan diri untuk masuk. Tanpa tahu malu merebahkan dirinya di ranjang empuk, menggunakan bantal yang biasa dipakai calon tunangannya itu, dan membenamkan kepalanya.
"Apa kau tidak mengerti dengan waktu sendiri?" cibir Ayu yang melipat kedua tangannya di depan dada, tatapan tajam mengarah pada pria itu.
"Lakukan saja apa yang kau inginkan, aku akan tidur di sini."
"Hah, terserah kau saja! Asal kau tidak mengangguk," seloroh Ayu yang kembali menuju sofa dan melanjutkan bermain game online. Sedangkan Farhan tersenyum tipis, menggunakan bantal Ayu yang tertempel aroma dari wanita itu.
Hari berikutnya..
Terdengar kabar dari mantan ketua sekretaris yang pernah menjebak Ayu, sekarang dia masuk ke penjara dan mendekam di balik jeruji besi. Kabar itu membuat orang lain yang membela Ayu merasa sangat bersyukur, menikmati kabar yang tersebar dengan cepat.
Sedangkan Ayu semakin sukses dengan beberapa prestasi yang telah dicapainya dalam waktu singkat, keberhasilan yang membuat Farhan sangat kagum dengan kepintaran yang dimiliki oleh calon tunangannya, berharap jika dia menjadi istrinya.
Semua orang bertepuk tangan dengan sangat meriah, melihat Ayu yang tampil di panggung bergengsi bersama dengan bosnya. Keduanya tersenyum cerah melihat semua orang yang begitu antusias. Sebagai CEO, Farhan sangat bangga dengan pencapaian perusahaan mendapatkan peringkat pertama di dunia perhiasan, semua karena kerja keras dari sekretarisnya yang sangat pintar.
Sementara di tempat lain, seseorang memecahkan cermin besar di hadapannya, melempar semua barang-barang yang dekat dari jangkauan. Dia sangat marah dengan berita tranding yang ada di internet juga di layar kaca, rasa benci kembali menggerogoti pikirannya. "Kenapa harus wanita kampung itu? Sudah banyak cara yang sudah aku lakukan, tapi tidak satupun rencanaku yang berhasil." Pekik Vanya sembari melemparkan vas bunga ke lantai.
"Tidak ada gunanya kau melampiaskan kemarahanmu kepada barang-barang itu!" celetuk seseorang yang tak lain adalah Jenni.
Vanya menoleh dan menatap sahabatnya yang tengah berdiri di depan pintu. "Apa maksudmu?" ketusnya tak mengerti.
Jenni tersenyum, berjalan masuk menghampiri sahabatnya. "Aku tahu caranya!" idenya yang tersenyum menyeringai.
"Apa itu?" tanya Vanya, kemarahannya sedikit mereda saat Jenni membukakan jalan.
"Sebaiknya kau bekerja di perusahaan Farhan, dengan begitu kalian sering bertemu agar cinta lama bersemi kembali. Lihatlah Ayu, dia semakin menempel pada pria yang kau sukai semenjak bekerja di perusahaan itu." Ide Jenni.
"Ya, kau benar!"
__ADS_1
"Jangan menunggu waktu lagi, minta kakak mu untuk memasukkan mu bekerja di perusahaan itu." Jenni tersenyum saat melihat punggung sahabatnya yang menghilang dari balik pintu.
"Tentu saja." Vanya sangat bersemangat dengan ide yang diberikan oleh sahabatnya, berlalu pergi menuju ke ruangan kakak laki-laki nya.
"Hai, Kak. Apa aku boleh masuk?" ucap Vanya dengan lembut, berharap jika pria itu mengizinkannya masuk.
"Hem, masuklah." Sahut seseorang di dalam ruangan membuatnya sangat senang.
Vanya tersenyum dan segera masuk ke ruangan itu, menghampiri kakaknya yang tengah fokus ke layar laptop. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu, Kak."
"Katakan saja!" ucap Mike yang tetap fokus pada laptop juga pekerjaannya. Vanya kesal melihat hal itu, menutupnya dengan paksa untuk menarik perhatian kakaknya.
"Aku ingin bekerja di kantor milik Farhan," pinta Vanya.
"Aku tidak yakin dengan kemampuanmu, dan aku tidak ingin membantumu." Tolak Mike.
"Ayolah, Kak. Jangan berkata seperti itu, aku ini adikmu dan sudah kewajibanmu menolongku. Bantu aku untuk bekerja di perusahaan Farhan," rengek Vanya dalam membujuk kakaknya.
Mike menghela nafas berat, dengan terpaksa mengangguk karena tak ingin jika adiknya marah padanya. "Baiklah."
"Terima kasih, Kak. Aku menyayangimu!" Vanya memeluk dan mencium pipi kakaknya, berlari dari ruangan itu. Sedangkan Mike mengusap wajahnya dengan kasar.
****
Hari ini, terjadi masalah pada perusahaan Farhan. Informasi yang di dengar oleh Ayu dari seorang satpam penjaga tempat itu. "Apa yang sebenarnya terjadi, Paman?" tanya Ayu tak mengerti.
"Terjadi masalah besar, Neng. Bahwa banyak orang yang selalu datang kesini untuk melakukan komplain, mereka mengatakan keracunan setelah memakai perhiasan perusahaan." Ungkap sang satpam.
"Keracunan?" tanya manajer penjualan yang mengerutkan kening karena penasaran.
"Itu benar! Seperti kulit yang sensitif pada bahan tidak sesuai, banyak sekali keluhan hingga nama perusahaan menjadi sangat buruk di mata orang lain."
__ADS_1
"Itu tidak mungkin, aku sendirilah yang merancangnya. Tidak ada untungnya jika aku membuat pembeli merasa seperti itu, ini sangat mencurigakan." Tukas Ayu yang tampak berpikir, mengenai kasus dan ujian berikutnya. "Aku akan menyelidikinya."