Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 170 ~ Tekad


__ADS_3

Tiba-tiba Ayu membeku saat melihat seorang yang tengah menatapnya, sorot mata tanpa berkedip. "Astaga…kenapa pelayan itu menatapku begitu?" gumamnya.


Terlihat seorang pelayan yang juga menatap Ayu dan segera menghampirinya. "Nona ingin kemana dengan membawa koper besar itu?"


gumamnya tak sengaja melihat calon tunangan majikannya saat ingin membersihkan Mansion. Ayu tengah menyeret satu koper besar, membuatnya sangat terkejut dan segera menghampirinya.


"Keberadaan ku hanya akan mempersulit nya saja, sebaiknya aku pergi dari sini!" jawab Ayu dengan raut wajah yang sedih.


"Jangan mengambil keputusan dengan gegabah, Non!"


"Apa yang harus aku pertahankan di tempat ini? Tidak ada yang tersisa."


"Tolong pikirkan lagi mengenai keputusan besar. Apa yang akan tuan Farhan pikirkan, jika Nona pergi?"


"Aku tidak peduli lagi, Bi. Aku hanya ingin ketenangan saja."


Pelayan itu begitu peduli akan hubungan majikannya dengan wanita yang berada di hadapannya, berharap jika hubungan keduanya bersatu hingga jenjang pernikahan. Namun, ujian malah menerpa majikannya. "Bibi mohon, jangan tinggalkan Mansion ini!"


"Aku butuh waktu sendiri, dan tidak akan merubah keputusanku!" tekad Ayu dalam meyakini sesuatu.


Seketika pelayan itu membeku mendengar perkataan Ayu, terdiam beberapa saat. Dia memahami bagaimana majikannya sangat mencintai wanita cantik nan sederhana yang berada di hadapannya. Menatap lekat netra mata indah, mengingat hubungan majikannya berada di ujung tanduk. 


Ayu menerobos pelayan itu sambil menyeret kopernya, namun baru beberapa langkah saja, tangannya di cekal. "Bibi, mohon. Jangan pergi, Non. Bagaimana dengan tuan Farhan? Dia sangat mencintai Non Ayu dengan sepenuh hati." Bujuk sang pelayan.


Ayu menghela nafas panjang, mengetahui jika wanita itu hanya membujuknya untuk mempertahan hubungan mereka.


"Apa kau sudah siap?" ucap seseorang yang menghentikan perkataannya. Ayu dan pelayan itu segera menoleh dan melihat ke asal suara. 


"Aku sudah selesai berkemas." Sahut Ayu dengan cepat, menatap pelayan itu sepersekian detik dan tersenyum sekilas.


"Aku akan membantumu!" tawar Gabriel mengambil alih dalam membawa koper yang di tenteng oleh Ayu.

__ADS_1


"Hem."


Pelayan itu memperhatikan interaksi dari dua orang yang tak berada jauh darinya, kedekatan hubungan calon tunangan majikannya bersama dengan seorang pria tampan. " Sepertinya pria ini juga menyukai nona Ayu! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama, aku sangat mendukung tuan Farhan daripada pria itu." Batinnya dengan pikiran yang melayang. "Pikirkan sekali lagi, Non. Bisa jadi ini hanya kesalahpahaman saja." Bujuknya tak berputus asa, berharap jika ada titik terang dalam mengatasi permasalahan yang ada dengan berusaha keras.


"Aku sudah memikirkannya, Bi. Jangan mencemaskan ku!"


"Bibi sangat menyayangi Non."


Ayu tersenyum, melihat pelayan yang terus membujuknya, namun keputusan yang telah di ambil tak ingin di ganggu gugat. "Ini kunci kamar yang sebelumnya aku tempati, berikan kuci itu oada Farhan. Aku pamit dulu, Bi!" ucapnya seraya menyerahkan kunci dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu.


Pelayan itu terdiam seribu bahasa, menatap kepergian Ayu bersama dengan pria lain selain majikannya. Guratan kesedihan menerpa wajahnya yang mulai keriput, sangat berharap banyak mengenai hubungan ayah dan ibunya.


Dengan cepat dia berlari, mencegat langkah wanita itu sambil merentangkan kedua tangannya sebelum kedua orang itu melangkahkan kaki untuk keluar dari Mansion. "Tolong! Jangan pergi dari sini." 


"Bi, tolong mengertilah jika berada di posisiku, aku tidak bisa untuk tetap tinggal di tempat ini."


"Bagaimana jika tuan Farhan menanyakan keberadaan Non?"


Tidak ada yang bisa merubah keputusan Ayu yang tetap bersikeras, hanya pasrah menatap dua punggung itu mulai menghilang dari pandangan. "Ya tuhan…tolong satukan tuan Farhan dan nona Ayu, jangan biarkan duri yang melintang di jalan mereka untuk menikah."Gumam pelayan itu dengan ekspresi sedih.


Pada saat yang sama, Farhan kembali dan menemukan mobil mewah yang terparkir di halaman Mansion, sangat mengenal siapa pemilik itu. "Apa yang dilakukan Gabriel di sini?" monolognya.


Dua pupil matanya membesar saat melihat keberadaan Ayu yang juga berada di mobil milik sahabatnya, seakan waktu terhenti. Hatinya menjadi terluka, sakit tak berdarah membuatnya dalam keadaan linglung. Tapi itu tidak bertahan lama saat seseorang menghampirinya. "Ada apa?" tanyanya.


Pelayan itu sangat sedih, tak berani menatap mata tuannya. Menundukkan kepala seraya menyerahkan sebuah kunci di kamarnya. "Nona Ayu memberikan kunci kamarnya, ambillah!" 


"Apa maksudmu?" tukas Farhan yang mengerutkan keningnya.


"Nona Ayu memutuskan untuk pergi meninggalkan Mansion, dan menitipkan kunci." Ucap pelayan itu yang menyerahkan kunci kamar.


Farhan kembali terkejut dan marah mengenai keputusan dari calon tunangannya, merasa jika wanita itu bersikap kekanak-kanakan. Seketika ekspresinya berubah menjadi lebih dingin, suasana semakin mencekam, namun tak memperlihatkannya dan menutupi dengan penuh ketenangan. "Apa dia pergi sendiri atau ada orang lain yang membantunya?"

__ADS_1


Pelayan itu sangat memahami karakter dari majikannya, menelan saliva dengan susah payah. "Seorang pria tampan membantunya, Tuan."


Mendengar hal itu, semakin meluapkan amarah yang memuncak. Kedua tangan dikepal dengan sempurna, rahang yang mengeras dan sorot mata penuh ketajaman. Hatinya terluka hingga memukul pintu kaca menggunakan tangannya, membuat sang pelayan terlonjak kaget. "Berani sekali dia melakukan itu padaku!" gumamnya. 


Farhan melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menuju kamar yang baru saja di tinggal oleh calon tunangannya. Menaiki tangga dan membuka kunci pintu, menyusuri pandangan di tempat itu. Bahkan aroma dari Ayu masih tersisa di sana, segera mengambil bantal yang biasa digunakan dan menghirupnya. Tak beberapa lama, dia melempar bantal itu sembarang arah. "Dia pergi bersama dengan Gabriel, dan itu artinya dia membatalkan pertunangan hanya ingin menjalin hubungan dengan pria itu!" 


****


Berita pembatalan pertunangan sangat tersebar luas, dari kalangan atas hingga bawah yang bergosip. Sementara Vanya dan sahabatnya sangat bahagia, mempunyai kesempatan dengan mudah. Kehilangan rival yang sedikit sulit untuk disingkirkan, tapi keadaan berpihak kepada mereka. 


"Berita mengenai pembatalan pertunangan Farhan dan Ayu membuatku begitu puas." Vanya tersenyum penuh kemenangan.


"Tentu saja, karena kau wanita yang sangat beruntung terpilih menjadi pasangan hidup Farhan."


"Semoga saja Farhan melirikku!"


"Aku sangat yakin, jika Farhan akan memilihmu untuk menjadi kekasihnya."


"Itu pasti, karena aku sangat senang juga bahagia. Sebagai gantinya aku ingin mentraktir kalian."


"Wow, aku menyukai kau yang seperti ini." 


"Hem."


Di dalam perjalanan, Vanya dan Jenni menggosipkan Ayu. Seakan mendapatkan nutrisi dan pembahasan tanpa henti dalam menceritakan kejelekan orang lain di saat bahan gosip itu sudah mati. 


Tak sengaja, Vanya melihat mobil merah yang di tumpangi oleh wanita yang selalu menjadi rivalnya. "Eh, bukankah itu Ayu dan Gabriel?"


"Ya, kau benar."


"Kemana mereka akan pergi?"

__ADS_1


"Entahlah, ikuti saja! jawab Jenni.


__ADS_2