
Farhan tahu bagaimana Ayu berusaha menghindar dari pembahasan, padahal niat hatinya sangat baik ingin menikahi wanita itu dengan sungguh-sungguh, namun suasana kurang pas membuatnya pasrah. Dia terus menatap wajah cantik dari sekretarisnya yang sedang membahas masalah kecurigaan kepada Kenan.
Menyadari hal itu, Ayu mengalihkan perhatiannya menatap Farhan. "Kenapa kau menatapku begitu?"
"Kenapa kau berhenti, lanjutkan!" sahut Farhan yang pura-pura mendengarkan, membuat Ayu jengkel.
"Aku tahu jika kau memandangku dan tidak mendengarkan apa yang aku katakan."
"Kau benar," jujur Farhan dengan raut wajah polosnya.
"Apa?"
"Kau berusaha untuk mengalihkan pembahasan awal."
Ayu menyelipkan rambutnya ke daun telinga, berpura-pura bodoh dan melupakan apa yang dia ucapkan ketika Farhan tidak sadarkan diri. "Aku tidak mengerti apa yang kau maksud."
"Biar ku perjelas! Kau sangat berharap jika aku segera sadar dan akan melakukan apa saja. Aku ingin menagih perkataanmu!" jelas Farhan yang sangat serius.
Ayu tersenyum kaku, perkataan dalam keadaan tadi membuatnya terjebak. Hanya terdiam dengan rona wajah yang memerah, mengingat Farhan yang mulai menggodanya.
"Kau terlihat sangat menggemaskan, merah seperti tomat." Goda Farhan yang terkekeh.
Suasana semakin canggung, bahkan Ayu tak berani berkontak mata. "Berhentilah meledekku!"
"Aku mengatakan yang sebenarnya, apa kedua pipi itu ingin di cium?"
Dengan cepat Ayu menutupi kedua pipinya, godaan yang datang berturut-turut dari calon tunangannya. Dia sangat malu, namun berusaha untuk menutupinya.
"Tapi kau hanya berpura-pura saja."
"Walaupun aku berpura-pura dalam kecelakaan ini, tapi kau sendirilah yang mengatakannya tanpa aku minta." Terang Farhan.
"Itu dianggap batal, karena kau telah membohongiku. Memainkan emosiku dengan sangat baik, bahkan kau tidak memberitahukan rencanamu padaku." Protes Ayu tak ingin mengalah.
"Jangan mengingkari perkataanmu tadi!" keukeuh Farhan.
"Dianggap batal." Tolak Ayu, dia sangat malu dan memaling wajah. Farhan menarik dagu Ayu dan menatap matanya dalam, keadaaan romantis di saat dia memegang kedua tangan wanita itu, jarak yang sangat dekat membuat jantung berdebar dengan kencang. "Apa kau bersedia menikah denganku?" ucapnya dengan penuh penghayatan.
"A-aku__" tidak dapat melanjutkan perkataannya karena Ayu sangat gugup, perkataan sakral yang menjadu tabu baginya.
"Kau terlihat masih ragu padaku, tapi aku akan menunggu jawaban darimu. Sebelum itu, aku ingin memastikan segalanya, kapan kau akan memberi jawaban?" Ucap Farhan memberikan waktu agar keraguan yang menyelimuti wanita itu segera menghilang.
"A-aku tidak bisa menjawabnya sekarang, tunggu dalam dua bulan."
"Dua bulan? Itu sangat lama sekali."
"Tapi aku perlu meyakinkan diriku sendiri."
__ADS_1
"Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku akan menunggu jawabanmu, hanya saja aku tidak ingin mendengar kata TIDAK."
"Apa itu semacam ancaman?" Ayu menatap pria itu dengan antusias yang mengerti dengannya.
"Tidak, tapi sebuah peringatan!" ujar Farhan yang tertawa.
"Sama saja." Keduanya tertawa untuk mencairkan suasana tegang dan canggung. "Aku masih bingung, bagaimana kau menjalankan sebuah akting yang sangat bagus dan aku juga tertipu."
"Karena aku mencurigai Kenan dari awal."
"bagaimana kau melakukannya?"
"Rahasia."
"Kau sangat menyebalkan!" Tiba-tiba terdengar suara ponsel, Ayu segera mengangkat telepon yang tertera nama kakek.
"Siapa yang menelepon?"
"Kakek ku."
"Angkatlah."
Ayu mengangkat telepon. "Halo, kek!"
"Hem, bagaimana keadaanmu?"
"Aku sangat baik, dan kakek?"
"Tumben kakek meneleponku, ada apa?"
"Hanya ingin mendengar kabarmu dan juga cucu menantuku."
"Kami berdua baik."
"Syukurlah jika begitu, kau terlihat sangat senang. Apa terjadi sesuatu di antara kalian?"
"Tidak, itu hanya perasaan kakek saja."
"Ck, aku mengenalmu dengan sangat baik."
"Percayalah padaku, kek."
"Tidak, apa pertunangannya bisa kita lanjutkan ke tahap selanjutnya?"
"Apa yang kakek katakan? Itu tidak akan terjadi."
"Aku sangat berharap jika kau menikah dengan Farhan, dia pria yang sangat cocok untukmu, dan aku tidak akan menunggu selama ini."
__ADS_1
"Sayang sekali, jika keinginan kakek tidak akan terwujud. Karena aku akan memutuskan hubungan ini!"
"Mendengar suaramu, aku sangat yakin jika itu hanya perkataan yang sebaliknya. Sudahlah, sebaiknya kau beristirahat dan aku juga akan beristirahat, memimpikan cicitku. Jaga dirimu!"
"Kakek juga."
Tirta memutuskan sambungan telepon, menggelengkan kepala saat Ayu malah mengatakan hal yang sebaliknya. "Dia memutuskan untuk memutuskan hubungan, tapi hatinya berkata lain. Dasar anak muda!" monolognya yang menggelengkan kepala, memahami sikap sang cucu.
Ayu tahu jika sang kakek hanya menggodanya, mengatakan hal sebaliknya karena malu. Tapi dia tidak berpikir jika seseorang merubah ekspresi wajah muram, mendengar perkataan yang menyelekit. "Dia selalu saja memutuskan hubungan, apa itu artinya dia menolakku?" batinnya yang tampak berpikir. "Aku memberimu waktu dua bulan, dan tak ingin mendengarkan kata TIDAK!" mengulang dan menekan katanya untuk memperingati Ayu.
"Astaga…kau terdengar memaksakan kehendak."
"Akulah bosnya, apa kau tidak ingat point pertama?"
"Ya, jika bos tidak pernah salah. Hanya saja ini urusan pribadi, bersikaplah profesional."
"Aku tidak peduli, ingatlah kata-kata tadi."
"Aku sudah merekamnya di ingatanku."
"Itu bagus."
Beberapa saat kemudian, mereka terdiam dan saling membisu, memikirkan sesuatu di dalam hati masing-masing. Terdengar suara ketukan pintu, membuat keduanya sedikit terkejut, dengan cepat Ayu membantu Farhan untuk segera berbaring di atas tempat tidur rumah sakit. "Keluarkan aktingmu sekarang, lakukan dengan maksimal!" titah Ayu.
"Itu pasti."
Ayu tersenyum dan berjalan membukakan pintu, terlihat seorang pria tampan bernama Kenan. "Eh, kau disini?"
"Tentu saja, aku calon tunangan nya." Jawab Ayu yang bersedih, jauh di lubuk hatinya sedang mengumpati Kenan. "Dasar pria licik, ingin rasanya aku menguliti nya."
"Kenapa ada begitu banyak pengawal di luar?" tanya Kenan.
"Karena aku ingin keselamatan dari calon suamiku, apa yang bisa aku lakukan? Dia bahkan belum sadarkan diri." Ayu menghapus air matanya, tatapan sendu dan melirik pria yang terbaring dengan wajah yang pucat.
"Aku turut prihatin untuk itu." Keduanya berjalan menuju Farhan yang terbaring lemah, kondisi yang sangat parah terlihat jelas oleh Kenan.
"Apa kau sudah mendapatkan pelakunya?" ucap Ayu yang berpura-pura sedih, mengecoh musuh agar lengah.
"Aku sudah melakukan penyelidikan urusan ledakan di gudang, dan seorang administrator ingin membalas dendam, dan tak sengaja meledakkan tempat itu." Jelas Kenan yang semakin membuat Ayu tak menyukai pria itu.
"Lalu? Apa tindakanmu mengenai ini? Bahkan Farhan belum sadarkan diri."
"Aku segera mengadakan konferensi pers."
"Apa itu diperlukan?" tanya Ayu yang mengerutkan dahi.
"Sangat diperlukan dalam klarifikasi. Aku permisi dulu!" pamit Kenan yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Baiklah." Ayu setuju dengan mengikuti permainan dari pria itu, menatap kepergian Kenan hingga menghilang di balik pintu.