
Ketika Ayu mengetahui pergerakan Maudi yang ingin menikam nya dan hendak meregangkan tubuh untuk bersiap menendang mantan ketua sekretaris, dengan cepat Farhan menutupi tubuh Ayu menggunakan badannya, tangan kanannya memeluk wanita itu sedangkan tangan kirinya di pergunakan untuk memegang pisau. Terlihat dengan jelas tetesan darah yang terjatuh di lantai, Farhan tidak menghiraukan luka di tangannya. Dia berbalik menatap ketua sekretaris dengan tatapan tajam dan menusuk.
Ayu sangat terkejut dengan tindakan Farhan yang melindunginya. "Tangannya terluka akibat menolongku," batin Ayu yang tampak cemas memikirkan darah yang terus mengalir dari telapak tangan pria tampan itu. Darah yang terus menetes dengan luka yang dalam membuat Ayu semakin khawatir.
Farhan membalikkan badan menatap Maudi dengan tajam seakan ingin membunuh wanita di hadapannya. "Kau ingin mati?" Ucapnya tanpa ekspresi.
Maudi sangat gugup, marah, kesal bercampur menjadi satu. Ketika melihat Farhan melindungi Ayu membuatnya semakin membenci rivalnya. "Kenapa Tuan menyelamatkannya dengan mengorbankan dirimu sendiri? Dan kau...pasti menggunakan pelet dan ilmu hitam untuk membuat tuan Farhan membela mu. Benar 'kan?" Pekik Maudi yang menjambak rambutnya sendiri, merasa bersalah karena melukai orang yang dia sukai. "Atau kau menjajahkan tubuhmu untuk mendapatkan perhatian dari tuan Farhan!" Maudi tersenyum merendahkan Ayu.
Satu tamparan keras berhasil mendarat mengenai wajah mulus Maudi, kemarahan dari Farhan membuatnya tidak bisa mengendalikan emosinya. "Jaga ucapanmu dan itu hadiah dariku." Ucap Farhan dengan raut wajah yang tajam.
Maudi memegangi pipi yang terasa panas akibat tamparan dari mantan bosnya, dia tak menyangka dengan semua ini. Hidup yang hancur akibat kehadiran Ayu dan sekarang Farhan membencinya. Dia kembali membuat ulah, berusaha kembali menikam Ayu berharap menggores kulit wajah.
"Aku akan melukis wajahmu dengan pisau tajam ini," ucap Maudi di sela-sela tawa jahatnya. Farhan melindungi Ayu dengan merebut pisau di tangan Maudi dan kembali menampar wajah mantan ketua sekretaris untuk kedua kalinya. Suara yang menggema cukup nyaring, salah satu sudut bibir Maudi mengeluarkan darah segar. Ayu melihat dengan jelas kemarahan dari Farhan dan sedikit terkejut.
Tak lama security datang, dengan cepat Maudi pergi terburu-buru untuk melarikan diri, dia menoleh beberapa detik menatap Ayu dengan penuh dendam. "Hari ini kau beruntung, tapi tidak di lain waktu." Ancamnya yang menatap Ayu tajam dan segera meninggalkan tempat itu, sebelum tertangkap.
Security mengejar Maudi karena telah berbuat onar di basement.
Ayu tidak peduli dengan ucapan Maudi dan lebih membantu Farhan untuk membersihkan luka di tangan kirinya. "Sebaiknya kita masuk ke dalam mobil, aku akan mengobati lukamu sebelum terjadi infeksi," tutur Ayu yang membawa Farhan ke dalam mobil. Sedangkan Farhan hanya mengangguk pelan dan mengikuti arahan dari Ayu, karena dia tidak peduli dengan luka yang tidak ada apa-apa baginya.
Ayu membersihkan luka Farhan dengan sangat terampil layaknya seorang dokter menangani pasien di kondisi darurat. Ayu mencuci bersih luka sayatan menggunakan air mineral, menekan luka dengan kain bersih dan membalutnya. Sementara Farhan memperhatikan wajah cantik Ayu, dan sesekali melihat cara wanita itu menangani luka di tangan kirinya. Entah berapa lama dia memandangnya hingga tak menyadari jika luka di tangan sudah dibalut dengan kain.
"Sudah selesai," tutur Ayu menyadarkan Farhan, dengan cepat dia mengembalikan ekspresi nya. "Itu hanya menghentikan darah yang keluar untuk sementara waktu, tapi kau tenang saja, lukanya akan sembuh dalam waktu hitungan hari."
Farhan melihat tangan yang telah di balut dengan kain bersih, dia terkejut melihat teknik terampil dari Ayu yang juga tahu pengetahuan medis, dan dia memegang tangan Ayu dengan mata yang berbinar. "Terima kasih, kau sudah membalut luka ku, Honey!"
"Honey? Apa aku tidak salah dengar, kata-kata yang diucapkan terdengar ambigu di telingaku." Gumam Ayu di dalam hati yang merasa heran. "Seharusnya akulah yang berterima kasih kepadamu, melindungiku membuat tanganmu terluka." Sahut Ayu yang merasa bersalah.
__ADS_1
"Hanya luka kecil saja," jawab Farhan santai.
"Tetap saja, aku berhutang budi padamu. Sekarang kita impas."
"Impas?" Ulang Farhan menatap bingung.
"Waktu itu aku menolongmu di saat mabuk, dan aku anggap kita impas."
"Hah, terserah padamu saja." Farhan menghela nafas berat.
Farhan terdiam dengan lamunannya, melihat Ayu merasa bahwa wanita itu adalah gadis kecil yang pernah menyelamatkannya. "Sebaiknya aku bertanya saja, mungkin saja gadis kecil itu adalah Ayu," batinnya yang terus menatap tanpa berkedip.
Ayu menjentikkan jarinya untuk menyadarkan pria di sampingnya. "Kau melamun?" Tanyanya yang menautkan kedua alisnya.
"Tidak, ada yang ingin aku tanyakan dan jawab dengan jujur." Farhan mengembalikan ekspresinya dengan serius.
"Itu hukuman untukmu karena mengeluh," jawab Farhan santai. "Apa sewaktu kecil kau pernah bertemu denganku?" Tanya Farhan dengan penuh harap. Sedangkan Ayu merasa bingung mengenai pertanyaan itu.
"Aku tidak pernah bertemu denganmu," jawab Ayu yang membuat Farhan kembali kecewa. "Tapi kenapa kau menanyakan itu?" Ucap Ayu yang memiringkan kepalanya menatap Farhan.
"Lupakan saja." Farhan menatap lurus karena sangat kecewa dengan jawaban yang diberikan oleh wanita di sebelahnya.
"Hem." Ayu mengangkat kedua bahunya acuh dan menyetir mobil dengan kecepatan sedang, membawa Farhan menuju ke rumah sakit untuk memeriksa luka sayatan pisau.
"Ini bukan jalan ke Mansion."
"Aku tahu," sahut Ayu cepat.
__ADS_1
"Kemana kau ingin membawaku?"
"Ke rumah sakit, lukamu harus diobati."
"Apa kau pikir aku ini lemah? Ini hanya luka kecil saja dan tidak perlu khawatir."
"Walau bagaimanapun juga, aku akan tetap membawamu ke rumah sakit," keukeuh Ayu.
"Dasar wanita keras kepala."
"Itulah aku," jawab Ayu bangga. Di sepanjang perjalanan mereka kembali terdiam, menikmati suasana yang sepi akan kendaraan.
"Tadi aku melihatmu ingin menendang ketua sekretaris itu," celetuk Farhan yang menoleh beberapa detik kemudian mengalihkan perhatiannya menatap lurus.
"Tadinya begitu, aku ingin menghajar mantan ketua sekretaris itu. Hanya saja kamu menghalangi niat baikku, jika tidak? Aku sudah pasti menaklukkan wanita licik itu," jawab Ayu yang sangat menyayangkan momen terlewati sia-sia akibat Farhan yang menjadi pahlawan.
"Sepertinya kau menyesal saat ditolong." Farhan mendelik kesal.
"Tidak juga, setidaknya tenagaku masih tersimpan."
"Ck, kau selalu saja menjawab."
"Aku hanya bercanda, jangan tegang begitu." Ayu tertawa saat melihat wajah kesal Farhan.
Farhan terdiam memikirkan keahlian Ayu yang serba bisa, ada begitu banyak keterampilan yang membuatnya terkejut. Pertama, saat dia mengetahui cara bermain piano yang dimainkan oleh Ayu. Kedua, pintar dalam menyelesaikan masalah. Ketiga, bisa berbahasa Prancis, dan masih banyak lagi.
"Keterampilan dari Ayu sangat kuat dan akurat, apakah dia juga master dalam seni bela diri? Dia membuatku sangat penasaran kepadanya." Batin Farhan.
__ADS_1