
Kini Leon begitu kesal disaat obat masih bereaksi, mengumpat sang adik ipar yang telah mencampurkan air mineral dengan obat kembung. Entah berapa kali dia terkentut, ada rasa lega dan juga malu bercampur menjadi satu. Dia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu dan berlalu pergi meninggalkan perusahaan HR Grup.
"Hei, kau mau kemana?" tanya Farhan yang sedikit berteriak. "Apa ruanganku sudah sudah tidak bau lagi?"
Leon mengangkat sebelah tangannya, memberikan isyarat agar Farhan tidak bersuara memanggil namanya. Dia harus pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan, dan masih menyalahkan adik ipar yang begitu menjengkelkan.
"Farhan sialan, kenapa dia begitu ceroboh dengan tindakannya. Bukankah sebelum menikah dia sangat perfeksionis, lalu ada apa dengan sekarang? Apa seorang pria akan berubah seiring waktu atau karena hal lain seperti pernikahan?" pikirnya yang meracau layaknya seekor burung beo, berpikir mengenai perubahan adik ipar yang cukup pesat dan ditambah lagi dengan ketiga keponakan kembarnya.
Tak lama, terdengar suara dering ponsel miliknya, dia segera melihat siapa yang menggangu saat ini. Tertera nama kakek Tirta, dan dia yakin pasti mengenai perjodohan. "Mengapa kakek selalu saja menjodohkan aku? Kenapa tidak dia saja yang menikah?" gumamnya yang masih menatap layar ponsel dengan mengumpat. Tapi, dia segera mengangkat sebelum mendapatkan teguran keras dari sang kakek.
"Iye, kek. Ada apa?"
"Apa membutuhkan waktu yang lama untuk mengangkat telepon dariku? Cepat datang ke lokasi yang baru saja aku kirimkan, aku ingin kau datang lebih cepat."
"Memangnya ada apa, Kek? Ini sangatlah mencurigakan."
"Dasar cucu durhaka, apa kau ingin aku kutuk jadi tapal kuda? Cepat datang atau anak buahku yang membawamu untuk menemuiku." Ancam Tirta yang ingin membuat kesepakatan mengenai perjodohan cucu sulungnya, dia juga memberlakukan hal itu kepada Leon mengingat perjodohan cucu bungsunya berjalan dengan dengan sangat baik.
"Baik, Kek. Aku akan datang sendirian di sana, tapi jangan melakukan hal yang nekat."
"Baiklah, cepatlah. Sepuluh menit…sepuluh menit waktu aku yang aku berikan."
"Hem."
Leon melempar ponsel mahalnya sembarang arah, dia sangat kesal selalu mendapatkan teror dari pria tua yang selalu dia panggil kakek. Mengusap wajahnya dengan kesal dan juga kasar, dia tahu apa yang membuat kekak Tirta mencoba untuk menghubunginya. "Heh, kakek masih saja menggunakan cara lama untuk menjodohkan aku dengan wanita. Hal yang pernah dilakukan kepada Ayu, sangat tidak kreatif." Gumamnya pelan yang meledek Tirta.
Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di lokasi, dia segera turun dari dalam mobil dengan begitu berkharisma dan aura kepemimpinan dari pemilik perusahaan Australia yang terbesar. Dia masuk ke dalam restoran yang tidak begitu mewah, gayanya yang sombong juga aku melekat kepada dirinya. "Aku harus lebih waspada, sewaktu-waktu kakek akan bertindak nekat. Hah, hidupku sangatlah terusik."
Terlihat lambaian tangan tak jauh darinya, dia segera menghampiri dan ternyata sudah banyak orang yang hadir. Bahkan adik juga adik iparnya ada di ruangan itu, ketiga cucu kembarnya juga berada disana. "Oho, sepertinya kalian sudah merencanakan ini." Celetuknya dengan kedua mata yang menyipit.
__ADS_1
"Tentu saja, karena semua ini dibuat untukmu." Jawab Tirta yang begitu bersemangat.
"Memangnya ada apa? Aku tidak punya banyak waktu, cepat katakan!"
"Wah, ternyata kakak iparku sudah tidak sabar ya." Ledek Farhan, dialah yang sangat bahagia dengan rencana yang sudah di susun oleh kakek Tirta.
"Kau terlihat sangat bahagia," cibir Leon.
"Tentu saja aku bahagia, kakek akan mengatakannya." Ungkap Farhan yang tersenyum tipis, dengan perencanaan dari kakek Tirta membuatnya merasa merdeka, memegang tangan sang istri dan mengecupnya lembut.
Leon segera menarik perhatiannya kepada pria yang berambut perak, menatapnya lekat dan tidak sabar mendengar rencana konyol dari Tirta. "Jangan hanya cengengesan saja, Kek. Cepat katakan!"
"Wah, kau terlalu terburu-buru, santailah."
Leon berusaha untuk tidak kesal, mengontrol emosi dengan menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, sedikit membantu dalam meringankan beban.
"Aku ingin membuat kesepakatan denganmu."
"Aku sudah mempekerjakan Aluna di apartemen milikmu dan menjadikannya asisten pribadi."
"Apa? Mana bisa begitu, Kek?"
"Tentu saja bisa, aku belum selesai mengatakannya."
"Baiklah," Leon sangatlah jengkel dengan tindakan Tirta yang diam-diam mengambil keputusan tanpa mengkonfirmasi kepadanya.
"Aku ingin kalian tinggal bersama selama satu bulan saja, dan selama itu pula kau harus merawat Abi dan juga Adit, bawa mereka ke apartemen milikmu."
Leon sangat terkejut, walau dia menyayanyi ketiga keponakannya itu, tapi sangat mengenal karakter Abi dan Adit yang nakal, mengingat sesuatu bagai kaset rusak. "Astaga, jika itu benar, maka habislah aku." Batinnya yang meringis. "Abi dan Adit? Sepertinya itu kesepakatan konyol, bagaimana jika aku membawa Flo saja?"
__ADS_1
"Flo akan ikut bersama ku, sementara itu kau harus merawat twins A demi kesepakatan itu," sela Farhan.
"Kau hanya ingin enaknya saja, mereka hanya akan merusak barang dan juga menghancurkan apartemenku, aku bukanlah baby sitter."
"Jika kau bertahan selama sebulan, maka kau bebas dari perjodohan itu. Bagaimana?"
"Deal," sahut Leon yang menerima tawaran itu, dia sudah muak di terus. "Syarat yang sangat mudah," batinnya yang tersenyum. Dia tidak tahu jika Tirta menatap twins A dengan senyuman penuh arti, karena mengandalkan cicit nakalnya untuk mengerjai cucu bungsu.
"Hah, akhirnya hidupku terasa bebas. Selama sebulan aku tidak akan merasa kesal dikerjai dua bocah itu," itulah yang dipikirkan oleh Farhan yang mengambil kesempatan dengan menghabiskan waktu bersama Ayu, sang itri tercinta.
"Bagus, kau boleh pulang."
"Kakek mengusirku?"
"Tentu saja, apa kau tersinggung?" ucap Tirta yang membuat Leon darah tinggi, dia tidak tahu mengapa kakeknya melakukan itu.
"Aku pamit!" tukasnya yang segera beranjak dari kursi, keluar dari tempat itu dengan sumpah serapah. "Bagaimana kakek bisa melakukan itu padaku?"
Sedangkan di sisi lain, mereka tertawa saat melihat kepergian dari Leon. Sangat puas saat berhasil membuat kesepakatan disetujui dengan mudah tanpa memikirkan resiko yang harus dia hadapi, tentu saja Tirta meminta Abi dan Adit untuk mengerjai paman mereka.
"Kalian ingat ini, jangan lakukan kesalahan dan jangan begitu mencolok!" ucap Tirta yang memastikan twins A untuk melakukan pekerjaan.
"Siap, Kek." Sahut twins A dengan kompak.
"Tapi, mengapa Flo tidak ikut!" tanya Abi yang menatap adik kembarnya yang sedang ngemil cemilan manis.
"Aku tidak tertarik," sahut Flo dengan cepat tanpa menoleh, hal itu membuat Farhan dan Ayu menggelengkan kepala saat melihat nafsu makan putri mereka yang berlebihan.
"Kakek melakukan cara sama dengan apa yang kakek lakukan padaku." Celetuk Ayu.
__ADS_1
"Setidaknya cara itu berhasil saat kau dan Farhan menikah. Diam saja, jika tidak berhasil? Aku akan turun tangan." Jelas Tirta.