
Semua orang tak bisa menutupi dari rasa terkejut setelah Wina mengatakan ucapannya, tak menutup kemungkinan mereka menjadi berpikir jika wanita paruh baya itu seakan melupakan putranya sendiri.
"Kenapa anda sudah menyatakan pernyataan ini? Bukankah masih ada kemungkinan jika putra anda kembali?" tanya salah satu reporter menyudutkan Wina seraya menyodorkan alat perekam suara di hadapannya.
"Aku tidak ingin berharap lebih!" ucap Wina yang merasa sangat sedih, air mata yang menjadi saksi bisu menjadi bukti betapa hatinya terluka.
Adi segera mengambil alih dan menarik perhatian semua orang, memberikan pernyataan yang akan menguntungkan nya. "Pesawat mengalami kecelakaan yang sangat parah, hanya ada puing-puing saja tersisa di lokasi dan kita tidak bisa berharap lebih. Jujur saja, aku sangat sedih mendengar kabar keponakanku itu dan berdoa jika itu benar."
Para reporter melupakan Wina dan segera beralih pada Adi, mereka semua menanyakan serentetan pertanyaan untuk dijadikan bahan berita. "Apakah keputusan dari nyonya Wina juga disetujui oleh tuan Hendrawan?"
Mendengar nama ayah angkatnya, Adi berpura-pura sedih dan merasa kehilangan. "Kabar ini juga melukai perasaan hati ayahku, dan merenggut nyawanya." Air matanya mengalir deras, sedangkan semua orang yang berada di konferensi pers menjadi bersimpati atas kehilangan dua orang yang sangat berperngaruh.
Sontak semua orang terkejut, tidak menyangka jika Hendrawan juga meninggal. "Apa yang sebenarnya terjadi?" desak salah satu reporter yang mewakili perasaan reporter lain.
"Dunia terus saja memberiku cobaan! Mendengar pesawat yang jatuh dan tidak ada kabar dari cucu nya, membuat ayahku sangat terluka begitu dalam sehingga terkena serangan jantung. Kematian dari keponakan tersayang ku juga merenggut ayahku." Jelas Adi yang sangat terluka, berakting dengan sempurna mengelabui semua orang.
Para reporter menganggukkan kepala, mereka percaya dan merasa bersimpati dan juga peduli. Sedangkan dari kejauhan, sepasang mata masih menatap pergerakan mereka seraya mencibir. "CK, bahkan dia juga mengklaim kakek terkena serangan jantung dan meninggal. Dia sangat keterlaluan, ini sangat jelas membuktikan, jika Adi lah pelakunya." Gumam Ayu di dalam hati, geram mendengar pria yang mengatakan sesuka hati. Dia melirik Asisten Heri yang berdiri di sana, menganggukkan kepala memberikan sebuah isyarat.
"Aku hanya ingin menuruti kata terakhir dari ayahku, menjadi seorang presdir di perusahaan HR Grup." Ucapnya dengan lantang, tersenyum tipis melihat kemenangan berada di depan mata. Tujuan untuk menguasai perusahaan terwujud dengan rencana liciknya.
"Tuan Adi tidak bisa menjabat sebagai presdir!" ucap asisten Heri yang berdiri seakan menantang pria paruh baya itu. Ucapan berani yang di lakukan asisten dari Farhan mengundang rasa keterkejutan pada acara konferensi pers, suasana semakin memanas. Seketika Adi menatap asisten Heri dengan tajam, raut wajah sedih seketika berubah drastis.
__ADS_1
"Brengsek! Jadi dia hanya berpura-pura bergabung denganku hanya ingin mencari informasi saja, aku harus membunuhnya." Batin Adi yang mengepalkan kedua tangannya, menjadikan asisten Heri sebagai target berikutnya. Tatapan tajam dan membunuh tanpa berkedip mengarah pada pria muda yang berkhianat padanya. "Aku tahu, kita semua merasa kehilangan disini. Posisi presdir yang kosong, aku hanya mengikuti permintaan ayahku sebelum meninggal dunia. Apa aku salah?"
"Jika benar tuan Farhan telah meninggal, apakah mengenai jabatan yang kosong pantas untuk dibicarakan? Bahkan saat pesawat baru beberapa hari mengalami kecelakaan."
Pernyataan dari asisten Heri membuat semua orang mulai menyorotnya, kondisi kian memanas dan mencekam dari dua orang di hadapan mereka.
Adi tidak bisa menjawab pertanyaan itu, dengan cerdiknya dia berakting untuk mendapatkan dukungan dari semua orang. "Sepertinya kau tidak mengerti apa yang aku katakan, bukan akulah yang menginginkan jabatan ini, melainkan atas permintaan terakhir Hendrawan yaitu ayahku sebelum dia menghembuskan nafas terakhirnya.
"Kau sangat bersemangat sekali memberi pernyataan dan mengundang begitu banyak reporter pada konferensi pers. Satu pertanyaan untukmu saat ini, kenapa kau terlalu terburu-buru menggantikan posisi tuan Farhan?"
Adi tak bisa menghiraukan ucapan dari asisten yang sangat setia pada majikannya, melirik asistennya sendiri dengan sangat tajam. Kembali menatap orang yang hadir dalam konferensi pers satu per satu, raut wajah yang sangat kacau namun terlihat seperti orang kehilangan anggota keluarga. "Sial! Dia sangat pintar dalam menangani masalah ini, bahkan asisten ku sangatlah bodoh dan tidak bisa membedakan mana yang asli juga palsu." Batinnya yang menahan amarah.
"Aku juga tak menginginkan jabatan ini, hanya menjalankan wasiat saja. Berani sekali kau mengatakan hal itu di depan awak media, jika kau tidak menyukaiku itu terserah padamu saja. Jangan cemarkan nama baikku atau kau bisa aku tuntut!"
Di dalam video, terlihat jelas melihat asisten Heri dan asisten Yoga membicarakan mengenai tawaran kerja sama dengan iming-iming keuntungan besar. Semua orang sangat terkejut melihat bukti yang sangat penting.
"Astaga, jika dia terburu-buru menggantikan tuan Farhan. Apa itu artinya kecelakaan pesawat hanya rekayasa?" ucap orang-orang yang berbisik, satu ruangan menjadi heboh.
"Sepertinya kau tidak tahu apapun, satpam!" tegasnya yang memanggil satpam.
Dua orang segera berlari ke arahnya dengan tergesa-gesa. "Ada apa, Tuan?" tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
"Cepat usir pria itu, dia tak layak jika berada dalam acara konferensi pers yang aku undang."
"Baik, Tuan."
Asisten Heri menatap dua satpam tajam, hingga keduanya tak berani melakukan sesuai perintah Adi. "Bukti itu sangat jelas, dan kau mengusirku karena tidak bisa mengelak dari tersangka utama."
"Bukti rekaman video itu hanyalah rekayasa saja, aku sangat yakin jika kau menginginkan posisi ini. Mengakulah!"
"Cek saja bukti itu, jika terdapat rekayasa? Kau bisa menjebloskan aku ke penjara."
Satu ruangan menjadi riuh, konferensi pers yang tidak berjalan semestinya. Namun seluruh perhatian semua orang menuju pada seorang pria tampan yang mengenakan setelan jas lengkap. Kedatangan Farhan ke lokasi membuat semua orang sangat terkejut juga heboh, bingung mengenai perkataan Adi yang menyatakan kematian pria itu.
Farhan berjalan penuh kharisma layaknya seorang bos besar, tatapan tajam juga dingin dan sesekali melirik Adi menusuk.
"Ke-kenapa dia bisa berada di sini?" batin Adi yang menunjukkan rasa keterkejutan nya, tidak percaya jika keponakannya masih hidup.
Semua orang kembali heboh, saat pria itu berdiri tepat di sebelah pamannya. Aura yang dipancarkan oleh Farhan begitu kental dan dapat dirasakan oleh sekeliling.
"Bagaimana kabarmu?" celetuk Adi yang menoleh ke samping, berusaha untuk mengurangi kegugupannya yang bersebelahan dengan sang keponakan.
Farhan tak menggubris, karena perhatiannya hanya pada para reporter.
__ADS_1
"Konferensi pers ini dibatalkan!" titah Farhan.