Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 206 ~ Membalikkan situasi


__ADS_3

Jenni ingin marah, tapi dia hanya bisa menahannya, rasa malu di terima saat terbongkarnya kebohongan yang menjebak orang lain dengan tuduhan palsu, hanya bisa meremas ujung pakaiannya sembari menahan rasa kesal yang seakan ingin mencakar wajah musuhnya. 


Suasana kembali ribut saat semua orang mendukung Ayu, memintanya untuk meminta maaf pada wanita yang dia tuduh dengan kejam. "Sial, aku tidak menyangka jika wanita ini bisa memulihkan data. Siapa dia? Tak sangka dia bisa IT," batinnya yang melempar tatapan tajam. 


Ayu tersenyum miring, melihat situasi yang dengan mudahnya membalikkan keadaan. "Eh, dimana suaramu? Apa bisa menghilang secara tiba-tiba? Dan kau diam seperti patung, apa yang harus aku lakukan?" tanyanya menggunakan pertanyaan menjebak musuh, meraih salah satu tangan Jenni dan menggenggam dengan erat, membuat sang empunya meringis. 


"Auh…lepaskan tanganku!" rintih Jenni dengan wajah yang memelas.


"Eh, kau bisa bicara? Aku pikir kau wanita bisu atau semacamnya, apa kau tidak dengar apa yang aku ucapkan?" Ayu sudah geram dan memberikan pelajaran agar wanita itu akan mencari masalah dengannya. 


Semua orang tampak diam, karena mereka juga sudah membantu orang yang salah. Reporter terus meliput semua yang kejadian yang tertangkap kamera. Melihat Jenni yang tak bisa berkutik, diam berdiri bagai patung. 


"Tuduhan tidak berdasar darimu tidak terbukti, haruskah aku berlutut pada mu seperti ini?" Ayu melakukan sesuai perkataannya, merendahkan dirinya membuat semua orang terkejut dan mendapatkan perhatian orang-orang yang ada di sana. 


Ayu mengembangkan kelima jarinya saat melihat Farhan yang hendak melangkah maju, menggelengkan kepala dengan pelan, karena ingin memberi peringatan untuk tidak ikut campur dalam urusannya. Tatapan yang meminta agar pria itu bisa memahami situasi yang terjadi di hadapannya. 


"Mengapa dia seperti tak ingin melibatkan aku?" batin Farhan yang menarik kembali kakinya di saat langkah sudah ingin di tentukan, dia tak bisa berbuat apapun dengan gerakan yang dibatasi. 


Ayu berlutut di hadapan Jenni, bukan karena dia menyanjung tapi sebaliknya, lebih tepatnya membuat musuh merasa bersalah. Semua orang terkejut, terutama Farhan dan juga para reporter yang datang untuk meliput.


"Mengapa anda berlutut, di sudah jelas jika nona Jenni hanya mencemarkan nama baik anda." Celetuk salah satu reporter yang tidak terima jika yang Ayu berlutut, mereka memutuskan untuk maju dan membantu wanita itu agar tidak bersikap rendah. "Jangan bersikap seperti ini nona, semua sudah jelas jika kau tidak bersalah."

__ADS_1


Sementara Jenni memikirkan bagaimana jika tuduhan itu tidak menyalahkannya sepenuhnya, dan terlintas di pikiran salah satu cara yang menjadi harapan. "Mengapa kau ikut campur dalam hal ini? Sebaiknya kalian diam! Ini sudah sepatutnya terjadi yang bersalah haruslah bertekuk lutut." 


Ayu tersenyum dengan melihat wanita yang tidak mempunyai rasa malu, namun memberikan pelajaran dengan caranya sendiri. 


Sedangkan Farhan sudah merasa sesak dengan situasinya, karena tak tahan dia segera mengeluarkan ponsel dari saku jas dan memperlihatkannya kepada semua orang. "Inilah bukti yang aku dapatkan Aku diam bukan berarti menyaksikannya saja." 


Seakan kesombongan yang dipamerkan oleh Jenni pupus, ketika melihat bukti yang diberikan oleh Farhan berupa beberapa foto bahwa wanita itulah yang merobek gaunnya sendiri. "Apa kau masih ingin menyangkalnya?" 


Ayu mencoba untuk memperingatkan Farhan lewat tatapan, tapi malah tak berkesan. Penindasan yang selalu tertuju kepada mantan calon tunangannya, tak bisa membuatnya terus berdiam diri bagai pria tak berguna. "Jangan menahanku, aku sudah muak dengan drama yang diciptakan olehnya."


"Astaga…Farhan mengacaukan pembalasanku!" gumam Ayu yang sedikit cemberut, rasa yang ingin membalas terhenti karena pria di sebelahnya. 


Vanya dan Yuna mengundurkan langkah di saat situasi genting yang pastinya akan menyeret nama mereka karena sudah membela Jenni dengan tuduhan palsu, namun hal itu terhenti di saat beberapa reporter yang juga mengelilingi mereka. "Wanita ini tidak bisa dianggap remeh, dia mempunyai serangan balasan yang mampu membuat musuh tak berkutik, aku harus berhati-hati karena baru saja mengenalnya." gumam sang pianis dalam hati.


Ayu membeli kesal menghampiri Jenni dan menendang kaki wanita itu dengan keras hingga berlutut di hadapannya. "Setelah melakukan ini, kau bahkan tidak meminta maaf denganku?" ucapnya yang terlihat polos. 


Mengepalkan kedua tangan, perlakuan kasar yang diberikan oleh Ayu membuatnya sangat membenci wanita itu, tentu saja itu tidak akan berpengaruh baginya dan menyerah dengan mudah. Kedua manik mata melirik wanita yang berada di samping Farhan, melemparkan sebuah sinyal bantuan.


Vanya sangat geram, tatapan itu akan menyeret nama baik. "Dasar wanita tak tahu malu, aku tidak menyangka kau bisa bertindak seperti ini. Ayu sudah berbaik hati, dia tidak melaporkanmu ke polisi dn menjebloskan mu di sel dingin itu." Sarkasnya menunjuk wajah Jenni yang linglung karena pernyataan membela hukum dan orang lain.


"Vanya, kau menyalahkan aku dan membela orang lain?" 

__ADS_1


"Aku tidak membelamu, kau bersalah dengan tindakan rendah membuatmu juga terlihat rendahan." 


Jenni menoleh ke arah sang pianis terkenal, berharap mendapatkan sebuah pembelaan dengan sedikit cahaya harapan. 


"Jangan menatapku begitu, ternyata kau wanita yang sangat buruk, menyalahkan dan menuduh nona Ayu dengan sangat keji." Ucap Yuna tak ingin terlibat, hanya akan merusak citranya sebagai sang pianis terkenal.


"Jangan diam saja, minta maaflah pada Ayu!" sela Vanya yang bernada ketus.


Lihat apa yang terjadi, dan mulai menyimpulkan jika tidak ada pembelaan dari siapapun membuat wanita itu menyesal mempercayai sahabatnya. "Sekarang kau tidak mempunyai siapapun di sampingmu, masih ingin melanjutkan drama ini atau meminta maaf padaku? Aku sungguh kasihan melihatmu yang tidak ada siapapun untuk membela, apakah itu yang dinamakan sahabat? Hanya datang di saat senang, dan pergi di saat merasa susah." 


Jenni menghela nafas dengan berat, tidak ada pilihan selain meminta maaf. "Aku minta maaf padamu, yang terjadi semuanya salahku."


"Itu terdengar tulus, permasalahan sudah selesai dengan permintaan maaf darimu. Semoga kau sadar, dan tidak memfitnah orang lain lagi."


"Aku menyesal." Jawab Jenni yang menundukkan kepala, rasa malu menyeruak dan menyebar dengan sangat cepat.


Yuna memundurkan langkah, seraya melihat sekitar yang tidak mengingat kehadiran dirinya yang masih di sana dan berniat untuk kabur.


"Hei kau, berhenti di sana! Apa kau lupa harus meminta maaf padaku karena sudah membuatku tersudutkan? Jangan lari dari masalah dengan bertindak ceroboh seperti mu." 


 

__ADS_1


__ADS_2