Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 218 ~ Dekat


__ADS_3

Ayu keluar dari kamar mandi yang sudah mengenakan pakaian yang di berikan oleh Farhan. Menatap pria tampan yang juga menatapnya, melirik penampilan dari atas hingga bawah yang memukau. Dia terlihat risih, mengira ada yang salah dari dandanannya. "Apa aku tidak cocok mengenakan pakaian ini?" tanya nya sedikit ragu, takut menyinggung pria itu yang menilainya. 


Farhan tak menjawab, masih fokus melihat penampilan Ayu yang sangat cantik. Berjalan menghampiri sang wanita seraya memasukkan sebelah tangan ke saku celana samping, berjalan dengan elegan, masih memperhatikan wanita yang sekarang berada di hadapannya. 


"Kenapa kamu menatapku begitu? Apa ada yang aneh?" tanya Ayu dengan pongah.


Farhan menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan, tersenyum dan mendekatkan wajahnya, sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi. "Kau sangat cantik, pakaian itu sangat cocok untukmu." Bisiknya dan kembali berdiri dengan tegak, melempar senyum khas.


Perlakuan itu berhasil membuat Ayu sedikit deg-degan, jantungnya bekerja lebih cepat jika pria itu bersikap romantis. Farhan tersenyum melihat tingkah menggemaskan dari sekretarisnya, persis seperti seekor kelinci. "Aku benar-benar terpukau dengan mu, mengenakan apapun pakaian selalu cocok."


"Sejak kapan kau belajar kata-kata itu?"


"Hem, itu alamiah."


"Kau menatapku bagai seorang tersangka, membuatku takut."


Farhan tersenyum, menghamburkan pelukan dan merasakan jantungnya bekerja dua kali lipat dari biasanya, menenggelamkan kepala Ayu dalam dada bidangnya. Dia tidak peduli apapun lagi, menikmati pelukan yang sangat dirindukan. "Aku sangat merindukanmu!" lirihnya sembari mengeratkan pelukan, takut jika wanita itu meninggalkannya. 


Ayu ingin melepaskan pelukan itu, tapi Farhan tak memberikannya cela. "Kau memelukku dengan erat!" ujarnya sedikit protes. 


"Aku sudah melonggarkan pelukannya."


"Mau sampai kapan kau akan memelukku?"


"Sampai aku merasa puas!" Farhan menikmati pelukan hangat dan menghirup aroma tubuh yang dirindukannya. 


Cukup lama Farhan memeluk tubuh kecil di dekapannya, kedua tangannya beralih menyentuh tengkuk Ayu dan mendekatkan wajahnya. Dia mencium bibir merah merekah yang seakan memanggilnya, menutup mata dan menikmati. 


Keduanya hanyut dalam ciuman yang memabukkan itu, saling melepaskan rindu dan jarak di saat menghadapi permasalahan yang ada. Ayu tersadar dan segera mendorong tubuh Farhan agar menjauh, hal ini dilakukan untuk mencegah dirinya kecanduan dalam permainan pria itu. 


"Bukankah kau mengatakan masalah pekerjaan?" Ayu mengalihkan perhatiannya ke samping, berusaha menutupi ekspresi nya. Hampir saja dia melupakan daratan akibat ciuman yang memabukkan.


Farhan melemparkan senyum khas miliknya, menarik tangan Ayu dan membawanya ke ruang tamu. 

__ADS_1


"Kemana kau membawaku?" 


"Ke ruang tamu." Jawabnya singkat, padat, dan jelas. 


"Aku bisa berjalan sendiri, tidak perlu menarik tanganku." 


"Aku hanya takut kau hilang," sahutnya santai.


"Dan aku bukanlah anak kecil, aku masih hafal dimana letak ruang tamu. Tidak perlu menuntunku!" protes Ayu yang berjalan tergesa-gesa dan mengikuti langkah kaki pria di hadapannya. 


Ayu menghela nafas, tidak mendapatkan jawaban membuatnya hanya menghela nafas. Pasrah dengan perlakuan Farhan yang menarik tangannya menuju ruang tamu. Langkah yang mendadak berhenti, tak sengaja menabrak punggung bosnya. Auh, kenapa kau berhenti mendadak?" 


"Kita sudah sampai," jawab Farhan. 


"Hah, aku tidak menyadarinya."


"Karena kau melamun," jawab Farhan. "Duduklah, akan aku jelaskan permasalahannya."


"Besok akan ada pertemuan beberapa perusahaan yang ikut berpartisipasi, dan aku ingin kamu hadir dan ikut bersamaku."


"Kenapa harus aku? Seharusnya asisten Heri yang pergi bersamamu."


"Tidak, aku hanya ingin membawamu ke sana. Di pertemuan itu, perusahaan dari Sky Grup juga ikut berpartisipasi dan kau pasti tahu jika itu adalah pesaing di perusahaan kita." jelas Farhan yang menolak.


Ayu mengangguk setuju, tidak ingin berdebat ataupun membantah karena apa yang dikatakan Farhan memang benar. Pesaing dari perusahaan Sky Grup membuatnya tertarik, mengingat pria yang pernah dibawa ke rumah sakit. "Ini sangat menarik, aku akan ikut bersamamu. Masalah ini sudah selesai, apa ada yang ingin dibicarakan lagi?" 


"Ada, aku ingin kau menginap di sini hanya malam ini saja."


"Aku tidak ingin menginap, sebaiknya aku pulang."


"Ini sudah malam, tolong pertimbangkan keputusanmu." Bujuk Farhan dengan kedua mata berbinar penuh harapan.


"Itu ide yang sangat buruk, apa yang akan dipikirkan oleh nyonya Wina, Laras, dan orang lain mengenai kita? Lupakan itu, sebaiknya aku pulang saja."

__ADS_1


Farhan segera menahan tangan Ayu, tak ingin melepaskan wanita itu, dan ingin hubungan mereka membaik. "Aku mohon!" Tatapan pria itu membuat Ayu menghela nafas, menganggukkan kepala pelan menyetujui permintaan itu. 


Ayu masuk ke dalam kamar untuk tidur, baru saja dia hampir terlelap, tangan seseorang melingkar di pinggangnya yang ramping. Membuka sedikit mata dan melihat siapa sang pelaku yang tak lain Farhan. "Tidurlah di kamarmu!"


"Aku tidak bisa tidur, aku berjalan-jalan dan melihat pintu kamar mu tidak di kunci."


"Hem." Jawab Ayu dengan singkat, karena dirinya sangat mengantuk dan tak menghiraukan sekitarnya. 


Farhan tersenyum tipis, memeluk Ayu bagai obat tidur. Menenggelamkan wajahnya ke tengkuk leher, mengambil kesempatan untuk menciumnya. Dia juga mengambil kesempatan dengan setengah kesadaran dari mantan calon tunangannya untuk masuk ke dalam menggunakan kunci cadangan.


****


Di pagi hari yang sangat cerah, secerah senyuman Farhan tanpa henti. Menatap wanita di sebelahnya yang masih terlelap, mengambil kesempatan mengecup kening. Segera beranjak dari tempat tidur dengan perlahan, takut meninggalkan suara yang bisa mengganggu si putri tidur.


Farhan mencuci wajahnya dan menggosok gigi, keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju dapur. Dia memikirkan apa yang akan dimasak untuk sarapan pagi, khusus untuk Ayu yang masih berada di dalam kamar.


Mengambil sayuran, bawang dan mencuci bersih, memainkan pisau dengan alunan, mulai berkutat dengan alat penggorengan. Wajah yang terus tersenyum, mengingat dirinya bisa tidur lelap setelah memeluk Ayu. 


Aroma masakan tercium di ruangan itu, kebetulan Ayu juga sudah membersihkan dirinya. "Aromanya sangat menggugah selera," pujinya membuat senyuman Farhan kian mengembang. 


"Jangan menilai dari aromanya saja, kau cicipilah." 


"Aku tidak bisa mencicipi jika tak menggunakan nasi," sahut Ayu memegang perutnya yang terasa lapar. Farhan mengerti, jika wanita itu sangat lapar dan mulai menyajikan masakannya di atas piring, membawa dua piring untuk mereka santap berdua. 


"Kemana para pelayan?" tanya Ayu celingukan.


"Aku melarang mereka berlalu lalang di sini. Jangan pikirkan itu, makan selagi panas dan itu akan lebih nikmat." Ucap Farhan seraya melirik pring yang tersuguh kan di hadapan Ayu.


Keduanya makan bersama, tidak ada orang lain selain mereka. Namun, suasana itu dikacaukan saat kedatangan Kira. "Apa yang kalian lakukan?" tanyanya yang kaget melihat rivalnya ada di sana. 


Ayu dengan sengaja meraih tangan Farhan dan tersenyum puas, hal itu menyulut emosi Kira. "Mengapa kalian terlihat dekat?" tanya nya penuh selidik.


"Ini biasa terjadi antara dua orang yang saling mencintai, hubungan kami berjalan sudah jauh. Aku dan Farhan, kami tidur bersama tadi malam," sahut Ayu yang meletakkan telapak tangan di bibirnya, sedikit memelankan kata yang terdengar berbisik.

__ADS_1


__ADS_2