
Farhan sangat kecewa jika Ayu mengatakan alasan sebenarnya yang tidak bisa ikut pergi berkencan dengannya. Terdapat nama Gabriel sebagai pria yang selalu mengganggu mereka, rasa marah yang tentu saja menyelinap di hatinya. Tidak terima jika dirinya ditolak begitu saja, rasa sakit dihati menorehkan luka tak berdarah. Sudah bersusah payah untuk mengatur malam ini dengan sangat baik, meninggalkan kantor hanya karena ingin membuat kejutan untuk sekretaris cantiknya.
Kedua nya saling berkontak mata, tatapan penuh arti yang hanya terjadi beberapa detik saja. Suasana yang tidak bagus, mereka masih berada di ambang daun pintu. Ayu juga tidak mempersilahkan pria itu untuk berkunjung, karena waktunya tersisa sedikit. Hal itu malah membuatnya sungkan, merasa tak enak hati. Apalagi melihat ekspresi Farhan yang terlihat dengan sangat jelas, bagaimana pria itu mengekspresikan diri saat nama Gabriel disebutkan.
"Ayolah, kau tidak perlu bersedih. Masih banyak waktu untukmu dan aku, tapi tidak hari ini." Jelas nya yang mencoba agar pria itu tak bersedih lagi, membujuk dengan senyuman di bibir. Diam-diam dia melirik jam di ponselnya, hak itu malah ditangkap basah oleh Farhan yang seakan mendapatkan penghinaan dari tolakan yang menurutnya hanya alasan logis saja.
"Sepertinya kau konsisten akan waktu dengan temu janji ya," ucap Farhan yang mencibir, karena hatinya sakit saat usahanya tak di hargai.
Ayu cengengesan untuk memecahkan keheningan yang seakan menguras emosi, dia tak ingin terlibat jauh. Berusaha untuk membujuk pria dewasa, seakan menjelma menjadi anak-anak yang merengek pada ibunya untuk dibelikan permen. "Apa boleh buat? Aku tak berdaya saat ini, kau terlambat mengabariku. Gabriel bahkan mengatakan janji ini beberapa hari lalu, apa yang harus aku?"
Farhan mengerti, tapi hal itu tak mempengaruhinya sama sekali, dia masih saja merasa sedih, dan juga kecewa. Mengingat dirinya yang sudah menyiapkan kencannya dari pagi, bahkan rela tak masuk kantor hanya untuk memberikan kejutan pada wanita itu. Dia tahu, hubungan mereka yang sedikit merenggang, di tambah lagi komunikasi yang jarang terjadi. Semua sudah dipersiapkan, mengatur serangkaian acara untuk mereka berdua dalam menghabiskan waktu bersama. "Astaga…mengapa harus pria itu yang lebih dulu? Seharusnya akulah yang mengajaknya kencan. Hah, semua usaha dan kejutanku menjadi sia-sia." Batinnya yang menghela nafas panjang, memikirkan apa yang terjadi membuat kepalanya hampir pecah.
Ayu terus melambaikan tangannya di depan wajah Farhan, berharap pria itu keluar dari lamunannya. "Hei, apa kau mendengarku?" tuturnya yang sedikit khawatir jika pria itu masih mempertahankan ekspresi plongo di wajah.
"Dia menolakku karena ajakan Gabriel, padahal aku sudah mempersiapkan kencan ini dari pagi dan dia malah menolaknya." Gumam Farhan di dalam hati, masih dengan kalimat yang sama, memikirkan sebab hari ini.
Dengan terpaksa Ayu menepuk bahu Farhan, menyadarkan pria tampan itu sebisanya. "Aku tahu kau kecewa, hanya saja aku tak bisa ingkar janji pada Gabriel." Guratan rasa penyesalan yang mengganjal di hati, tapi dia juga tak berdaya. "Apa dia tersinggung dengan tolakanku?" batinnya.
__ADS_1
Farhan memegang kedua tangan sekretarisnya itu dengan, menggenggam dan meletakkan di depan dada. Sorot mata sendu yang saling beradu, seolah sedang membujuk wanita itu untuk tak pergi meninggalkannya. "Bisakah kau tidak pergi?" melontarkan pertanyaan yang membuat Ayu menjadi serba salah.
"Maaf, aku tak bisa ingkar janji. Gabriel akan marah nanti, lagipula dialah yang lebih dulu."
"Kau hanya memikirkan perasaannya, bagaimana dengan perasaanku?" Farhan sangat marah berada di situasi kali ini, bahkan membujuk wanita cantik di hadapannya tak mempan. Hanya karena Ayu yang sudah berjanji dengan pria lain, tak ingin kalah membuatnya sangat berambisi. "Ini semua tidaklah benar," ucapnya sembari berpikir, bahwa mantan calon tunangannya masih mencintainya dan menolak untuk menghadiri acara penghargaan Gabriel.
Ayu mengerutkan dahi karena tak memahami. "Tidak benar bagaimana? Apa aku harus memahami perasaanmu, kau juga tidak memikirkan perasaan hatiku. Kau pria yang egois, jangan memaksakan kehendak jika kau sendiri tak memahamiku!" ketusnya yang sudah jengah.
Farhan terdiam, dia tidak tahu apa yang dimaksud Ayu, karena dirinya tak melakukan apapun yang membuat wanita itu tersinggung. "Kau tidak boleh pergi, aku sudah menyiapkan acara kencan ini sejak pagi. Bahkan, aku juga tidak pergi ke kantor hanya ingin membuatmu terkesan dengan kejutannya."
"Jika kau berada diposisiku, kau pasti memahaminya dengan sangat baik. Kau membuatku di posisi sulit," ungkap Ayu yang menghela nafas berat.
"Sebaiknya kau merenungi semua kata-katamu itu, aku tidak ingin pergi bersamamu!" tolak Ayu yang menghempaskan tangan Farhan dengan kasar dan berlalu pergi.
Farhan segera berbalik, menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh. "Aku harus mengikutinya!" lirihnya pelan.
Setelah Ayu masuk ke dalam mobil yang baru saja menjemputnya, seorang pria menyambut dengan senyuman khas dan tak lupa memuji kecantikan dirinya. "Kau sangat cantik, masih ada yang kurang," ucapnya seolah berpikir.
__ADS_1
"Apa?" Ayu segera melihat pakaian dan penampilannya. "Apa aku terlihat aneh?"
"Tidak, bukan itu. Sebelum kita pergi ke acara penghargaan, aku ingin membawamu ke salon terlebih dulu." Tuturnya sembari mengemudikan mobil.
"Apa itu diperlukan? Aku sudah berdandan."
"Hanya memolesnya sedikit saja, percayalah padaku!"
"Hem, baiklah." Patuh Ayu yang membuat Gabriel tersenyum.
Sesampainya di salon, para karyawan menyambut kedatangan Gabriel dengan sangat baik. Pria itu memerintahkan pada beberapa orang untuk merubah sedikit dandanan Ayu, tak butuh waktu lama hingga dia semakin terpesona dengan penampilan sang pujaan hati. "Ini baru benar, ayo kita pergi atau terlambat di acara penting ini." ajaknya.
Di lokasi, semuanya hadir dalam acara penghargaan. Pembawa acara mengumumkan bahwa Gabriel adalah aktor terbaik lagi dalam memenangkan penghargaan di tahun ini, juga tahun-tahun sebelumnya.
"Untuk tuan Gabriel segera naik di atas podium!"
Gabriel melemparkan senyuman sekilas ke arah Ayu dan berjalan naik ke atas podium, menerima piala yang sangat indah. Semua orang mulai memotretnya dengan berbagai pose, menang dalam beberapa tahun berturut-turut membuatnya sangat bahagia.
__ADS_1
"Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada semua orang, yang telah mempercayai saya untuk menjadi aktor terbaik pada tahun ini, dan juga tahun-tahun sebelumnya. Tentunya tak luput dari orang-orang yang membantu dalam proses syuting yang sabar. Hadiah ini aku persembahkan kepada nona yang duduk di sebelah kanan saya, wanita yang mengenakan gaun dengan warna yang senada. Aku harus mengucapkan terima kasih padanya Ayu yang sudah berjasa dalam karir ku." Tutur Gabriel yang menyampaikan sepatah dua kata.