
Ayu terpaksa menunda pekerjaannya karena sang atasan memanggilnya, melangkahkan kaki menuju kantor CEO. "Apa aku boleh masuk?" Ucap Ayu sembari mengetuk pintu dengan wajah dinginnya.
"Masuklah!" Sahut Farhan dari dalam ruangan.
Ayu menghandle pintu, kedua manik matanya tak sengaja menatap penampilan Farhan dengan kemeja lengan pendek dan juga ketat serta kancing kemeja yang terbuka, membuatnya terpesona dengan perut sixpack Farhan. Memiliki wajah yang sangat tampan membuat siapa saja menyukai pria itu, terlihat dengan jelas otot kuat yang membuatnya Ayu terbengong, mata yang terus menangkap pemandangan indah tak membuatnya berkedip dan tidak melewatkan kesempatan itu.
Farhan menarik kedua sudut bibirnya saat melihat Ayu yang menatapnya tanpa berkedip, dengan cepat Farhan berdiri dari duduknya dan menghampiri Ayu.
"Akhirnya kau datang juga." Ucap Farhan dengan lembut.
"Kau yang memanggilku kesini, ada apa?" Sahut Ayu yang tersipu malu saat pria itu semakin mendekat dengan penampilan yang membuatnya terpesona.
"Kau sepertinya menikmati bentuk tubuh ku yang berotot ya!" Goda Farhan yang membuat Ayu gelagapan.
"Ck, itu hanya perasaanmu saja." Elak Ayu dengan cepat menutupi kegugupan nya.
"Oh ya, apa perlu aku memutarkan rekaman CCTV nya?" Ucap Farhan yang menyunggingkan senyuman.
Ayu menarik nafas dengan dalam dan mengeluarkan secara perlahan, mengatur agar emosinya tidak keluar saat mengatasi bosnya. "Tangan ku sangat gatal ingin memukul kepalanya," gumam Ayu di dalam hatinya. "Kau ini sangat menyebalkan!"
"Itulah aku," sahut Farhan dengan sombong.
"Kenapa kau memanggilku kesini?" Tanya Ayu yang sangat penasaran.
"Untuk menghukummu."
"Menghukumku?" Ayu menautkan kedua alisnya.
"Aku hanya bercanda, bagaimana dengan proses proyek yang kau pegang?" Farhan semakin mendekati Ayu, hingga dia terlihat memeluk Ayu dari belakang.
"Dia membuatku sangat gugup," batin Ayu yang menelan saliva dengan susah payah. "Aku harus menyusun laporan rapat terlebih dahulu supaya aku bisa melaporkannya nanti." Jawab Ayu yang menyelipkan rambutnya di telinga.
"Itu bagus, kapan kau akan menyelesaikannya?" Tanya Farhan dengan tatapan intimidasi.
"Tidak lama lagi, aku akan berusaha untuk itu. Apa ada hal lainnya?"
"Tidak," jawab Farhan singkat, padat, dan jelas. Dia menjauh dari Ayu dan mulai mengganti perban luka yang ada di tangan kirinya, Ayu membalikkan badan dan melihat apa yang dilakukan oleh bos sekaligus calon tunangannya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ayu yang sangat penasaran.
"Hanya mengganti perban," sahut Farhan dingin.
__ADS_1
"Aku akan membantumu." Tawar Ayu yang berjalan mendekati bosnya dan memegang tangan Farhan untuk melihat perkembangan luka.
"Itu tidak diperlukan." Sahut Farhan tanpa menoleh dan sibuk membalut tangannya dengan perban.
"Kau cukup mempercayai aku." Ayu memegang tangan kiri Farhan.
"Aku bisa sendiri dan tidak memerlukan bantuanmu," cetus Farhan dingin menghentikan Ayu yang ingin membantunya, dia mengangkat tangannya menunjukkan bahwa dia ingin mengganti obatnya sendiri. Ayu sangat kesal dengan Farhan yang sifatnya selalu berubah-ubah, dengan cepat dia memegang tangan pria itu dan memaksa untuk membantunya.
"Apa yang kau lakukan? Aku bisa sendiri." Ucap Farhan yang meninggikan suaranya.
"Diam! Sehebat apapun kau pasti membutuhkan bantuan dari orang lain," balas Ayu yang juga meninggikan suara dan melototi mata pria tampan yang ada di hadapannya.
"Sudah aku katakan, jika aku tidak memerlukan bantuanmu sama sekali."
"Baiklah, kau lakukan saja sendiri." Ayu tersenyum tipis, melawan ego dari Farhan membuatnya mengalah. "Mundur satu langkah untuk mendapatkan dua langkah ke depan." Batin Ayu.
Pikiran yang masih kusut membuat pekerjaannya menjadi terhalang. "Ck, kenapa ini sangat susah sekali," gumamnya yang masih terdengar di telinga Ayu.
"Apa kau perlu bantuan?"
Seketika Farhan terdiam dan menghela nafas berat dan mengulurkan tangannya untuk segera di balut dengan perban membiarkan Ayu mengganti perban di tangannya, dia terus menatap wajah cantik Ayu dan mulai luluh dengan keberadaan sekretaris nya itu.
sedangkan Ayu tersenyum saat melihat raut wajah bosnya yang terlihat sangat menggemaskan. "Tadi dia seperti singa dan sekarang terlihat seperti kucing yang sangat lucu juga menggemaskan," batinnya.
Ayu menghentikan aktivitasnya dan menatap Farhan beberapa detik dan mengerutkan kedua alisnya. "Kenapa kau menanyakan itu?"
"Tidak, hanya saja aku penasaran dengan keterampilan metode pengobatan mu seperti seorang dokter."
"Hanya belajar sedikit." Jawab Ayu dengan rendah hati.
Tak lama terdengar suara nada dering ponsel milik Ayu yang memecahkan keheningan di antara kedua nya, dengan cepat Ayu melihat layar ponselnya yang berada di saku sambil mengganti perban.
"Siapa yang menelepon mu?" Tanya Farhan yang sangat penasaran.
"Gabriel, temanku."
"Sepertinya nama itu tidak asing?!"
"Tentu saja, dia seorang selebriti terkenal," sahut Ayu dengan enteng. Seketika raut wajah Farhan menjadi hitam lagi, menahan sesuatu yang bergejolak di dalam benaknya. Dengan cepat Farhan menarik tangan dan menyelesaikannya.
"Apa apa dengannya?" Lirih pelan Ayu dan segera mengangkat telepon yang sedari tadi berdering.
__ADS_1
"Hidupkan Loudspeakernya," titah Farhan tanpa bantahan, Ayu menganggukkan kepalanya pelan.
"Halo."
"Hah, akhirnya kau mengangkat teleponku juga."
"Ada apa menelponku?"
"Aku merindukanmu, honey."
"Sudah aku katakan, jangan memanggilku begitu."
"Tenanglah, aku hanya bercanda saja."
"Cepat katakan!"
"Ayolah, mana sambutan untuk kedatanganku di kota ini."
"Hah, baiklah. Apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin mengundangmu untuk makan malam, anggap saja sebagai sambutan kedatanganku di kota ini."
"Hanya itu saja? Baiklah, aku setuju."
"Itu bagus, aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu."
"Baiklah."
"Aku merindukanmu, honey. Aku harap kau datang tepat waktu.
"Hem."
Sambungan terputus membuat Ayu tersenyum saat menatap ponselnya. "Dia selalu saja begitu," gumamnya yang kembali menyimpan ponselnya.
Farhan berusaha menahan kemarahan akibat rasa cemburu yang ada di dalam hatinya, nafasnya yang tidak beraturan, apalagi saat dia melihat bagaimana Ayu merespon dengan raut wajah bahagia dan tersenyum.
"Berani sekali dia tersenyum setelah menelepon seorang pria di hadapanku, aku masih di sini, seolah aku ini transparan saja." Umpat pelan Farhan.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" Celetuk Ayu yang mendengar samar perkataan dari bosnya.
"Tidak ada. Apa kau berniat untuk menerima ajakan pria itu?" Farhan menatap Ayu dan berharap jika wanita itu berubah pikiran.
__ADS_1
"Tentu saja, dia temanku. Apalagi dia juga baru di kota ini," celetuk Ayu yang sangat antusias. Tanpa di sadari oleh Ayu, Farhan mengepalkan kedua tangannya dengan erat, rahang yang mengeras serta tatapan menusuk.
"Sayang sekali, jika malam ini kau harus lembur." Farhan tersenyum smirk saat menemukan ide untuk menahan Ayu agar tidak pergi bersama dengan Gabriel.