Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 139 ~ Membuka hati


__ADS_3

Saat itu Farhan tak sengaja mendengar suara kebisingan di dalam toilet, mendobrak pintu karena sangat mengkhawatirkan Ayu dan tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Tapi dia sangat terkejut saat melihat realita yang ada, melihat dua orang preman terkapar di lantai, dan Raina yang sangat ketakutan saat ancaman dari musuhnya sangatlah nyata. 


"Tuan, tolong aku dari wanita ini!" lirih Raina yang bergetar hebat, keringat yang berlebihan selalu mengucur deras, menandakan jika dia sangat ketakutan. 


Farhan berusaha mencerna apa yang dilihat. "Apa ini ulahmu?" tanyanya yang menatap calon tunangannya. 


Dengan cepat, Ayu membuang pisau sembarang arah dan menelan saliva yang seakan tersangkut di tenggorokan. "Apa Farhan juga akan salah paham?" batinnya gang pasrah mengenai nasib kedepannya. 


Ayu terdiam dan tidak menjawab, dia ingin melihat bagaimana kepercayaan Farhan padanya, apakah masih sama kuat atau mulai melemah. Raut wajah Farhan tak bisa di baca olehnya, dia hanya bisa menerka-nerka apa yang akan terjadi berikutnya. Semakin berjalan mendekat membuatnya memundurkan langkah, sedangkan Raina tersenyum puas. 


"Wow, ini sangat seru! Setidaknya tuan Farhan salah paham padanya." Batin Raina yang melihat kejadian itu. 


Farhan memeluk Ayu dengan sangat erat membuat musuh sangat terkejut, bahkan sang empunya juga mengalami hal yang sama. "Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak menghukumku?" 


"Pelukan hangat ini adalah hukumanmu, kau membuat aku sangat khawatir."


Senyuman Ayu mengukir dengan indah, ternyata dugaannya salah. Kepercayaan dari pria itu sangatlah erat, bahkan kejadian akhir tadi bisa saja membuatnya tak percaya, dan dicap sebagai wanita psikopat. "Kau mempercayaiku?" 


"Tentu saja!" Farhan melepaskan pelukannya dan memeriksa tubuh wanitanya, dia tidak ingin jika wanita yang dicintainya tergores walau sedikit saja. Kedua pupil matanya membesar, saat melihat leher jenjang yang tergores. "Apa ini karena perbuatan Raina?" 


Ayu mengangguk dengan pelan, dia tidak menyadari lehernya yang tergores. Kembali menatap calon tunangannya, terlihat guratan kemarahan di mata. "Aku mengerti sekarang, dan kau! Berani sekali kau menunjukkan batang hidungmu di sini!" ucapnya yang menunjuk Raina. 


Tanpa mereka sadari, jika seseorang melihat kejadian dimana pria yang di cintainya sangat peduli dan perhatian kepada musuhnya. Vanya datang dan ingin melihat apa yang terjadi kepada musuhnya, apakah Raina menjalankan rencana sesuai disepakati atau tidak. "Sial, ternyata ini rencana ini gagal lagi. Seharusnya aku tidak mengenakan Raina yang tidak berguna itu. Semoga saja dia tidak menyeret namaku, atau aku akan memberinya pelajaran yang tidak biasa." Batinnya. 


Farhan melangkah ke arah Raina, tatapan tajam dan dingin membuat wanita yang masih berjongkok  di lantai sangat ketakutan. "Tuan, tolong maafkan aku!" 


"Maaf? Setelah menggores wanita ku?" 


"Itu tak di sengaja, aku hanya melindungi diri darinya yang menikamku."

__ADS_1


"Ck, aku lebih mempercayai Ayu daripada diriku sendiri."


Raina semakin ketakutan, namun melirik sebuah pisau yang tergeletak di lantai. Berusaha mengalihkan perhatian untuk mendapatkan benda tajam itu. 


Ayu meringis dan memegang lehernya yang mengeluarkan darah segar, karena khawatir membuah Farhan segera menghampiri wanitanya dan memeriksa keadaan. 


"Aku akan mengantarmu ke dokter!"


"Tidak, aku bisa mengatasinya sendiri."


"Jangan keras kepala," Farhan meninggikan suaranya, dia tak ingin mendengar satu tolakan mengenai keselamatan calon tunangannya. 


Raina segera meraih pisau dan berdiri untuk memanfaatkan situasi itu, menikam tubuh Ayu dengan beberapa tusukan saja. Dengan cepat Farhan memeluk tubuh mungil itu, menahan pisau yang diasah sangat tajam, hingga melukai pergelangannya 


Ayu yang memicingkan kedua matanya, sekarang perlahan membuka. Tatapannya tertuju pada lengan Farhan yang mengeluarkan banyak darah, dia menjadi sangat cemas juga khawatir. Sedangkan Raina yang salah sasaran, dia juga terkejut dan melempar pisau di tangan ke sembarang arah. Menutup kedua mulut menggunakan kedua tangannya, apalagi darah yang tercecer di lantai membuatnya takut. 


"Aku salah sasaran, bagaimana ini? Aku tidak bersalah, karena dia sendirilah yang mencoba untuk melindungi musuhan." Batin Raina yang melihat betapa Farhan mencintai Ayu, dia semakin takut saat menjadi tersangka, dan memikirkan cara untuk kabur. 


"Lengan ku sangat sakit, karena melindungi dirimu." Ucap Farhan yang berpura-pura sakit untuk menjahili Ayu. 


"Kenapa kau melindungiku? Lihat apa yang terjadi, lenganmu terluka cukup parah."


Farhan semakin menggoda Ayu, menyukai raut wajah cemas yang terlihat menggemaskan. 


Satu persatu staff hotel datang, dan Vanya memilih untuk bersembunyi. Karena kelalaian mereka hampir saja memakan korban. Menghampiri Ayu dan Farhan dengan perasaan bersalah. "Maaf Tuan dan Nona, karena kelalaian kami membuat nyawa kalian dalam bahaya."


"Hem," sahut Farhan yang berdehem, sedangkan Ayu menganggukkan kepala. 


Salah satu staff melirik dua orang pria kekar yang terkapar di lantai, mereka menyeretnya keluar untuk membersihkan nama hotel yang hampir saja reputasinya menjadi buruk. 

__ADS_1


Raina tersenyum saat melihat situasi yang menguntungkan baginya, keramaian membuatnya diam-diam menyelinap keluar dan segera kabur dari tempat itu. 


Ayu tak menghiraukan Raina, memapah Farhan ke ruang istirahat. Tanpa berpikir panjang, Vanya menerobos masuk dan hendak membantu pria yang disukainya. "Aku akan membantumu!" tawarnya yang tersenyum. 


"Calon istrinya ada di sini dan simpan saja tenagamu." Tolak Ayu sarkas dan berlalu pergi. 


Vanya meremas kedua tangannya, melihat mereka yang mulai menjauh darinya. "Seharusnya akulah yang berada di samping Farhan, bukan gadis kampung itu." Geramnya yang sangat kesal dengan kegagalan rencana. 


Di ruang istirahat, Ayu membantu Farhan dengan perlahan. Farhan membuka baju, membuatnya segera mengalihkan perhatian. "Kenapa kau membuka baju?" tanyanya yang membalikkan tubuh. 


"Lenganku terluka, apa salahnya dengan itu?" 


"Tentu saja salah, karena kita hanya berdua saja di ruangan ini."


"Mendekatlah!" 


Ayu menjadi salah tingkah, dia sangat gugup saat melihat tubuh seksi yang bisa menggoyahkan imannya. "Ingin sekali aku menyentuh perut kotak-kotak itu," batinnya. 


"Ayo, mendekatlah!" ulang Farhan yang bingung dengan Ayu. 


"K-kau mau apa?" gugup nya. 


"Kau harus tanggung jawab untuk luka ini."


Ayu segera mendekat, menguatkan imannya yang disuguhkan pemandangan indah. Perlahan dia membuka kain yang membalut lengan pria itu dan menggantinya dengan perban di dalam kotak P3K yang tak berada jauh dari jangkauan. 


Selesai mengobati lengannya, Farhan berjalan menuju hamster plus dan memberikannya kepada Ayu. "Ini untuk mu!" ucapnya yang menyerahkannya, berharap jika wanita itu menerima hadiahnya. 


Ayu menatap Farhan dan melirik hadiah yang meluluhkan hatinya. "Dia selalu saja melindungiku dan mengorbankan dirinya, tak ragu-ragu untuk menyelamatkan aku. Sebaiknya aku membuka hatiku dan menerima dirinya." Batinnya yang memikirkan ulang hubungan mereka, karena dia tak bisa membohongi dirinya sendiri. 

__ADS_1


 Bersambung..


__ADS_2