Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 112 ~ Ujian iman


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan, Farhan mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh. Ayu yang terus menggodanya membuat sesuatu di bawah sana ikut menegang. Karena tak tahan lagi, dia memutuskan untuk menghubungi dokter Reffan, temannya. 


"Halo."


"Ada apa?" 


"Aku sudah mengirimkan alamatnya, cepat kau datang sekarang juga!"


"Siapa yang sakit?" 


"Ck, jangan banyak bertanya. Cepat lakukan saja perintahku!"


"Baiklah, kenapa suaramu terdengar sesak? Apa terjadi sesuatu?"


"Kau tidak perlu tahu."


Farhan memutuskan sambungan telepon membuat seseorang di seberang sana mengumpatnya. "Sial, tapi apa yang dia sembunyikan?" gumam dokter Reffan. 


Godaan demi godaan selalu tertuju padanya, Farhan berusaha untuk memperkuat iman, walau itu sangatlah sulit bagi pria normal sepertinya. Tak lama, mobil berhenti di sebuah hotel, Farhan menggendong tubuh wanita itu dan bergegas menuju kamar hotel yang telah disediakan. Dia meletakkan tubuh Ayu di atas ranjang dengan sangat perlahan juga hati-hati, namun wanita itu berlari dan memeluk dirinya dengan sangat erat akibat obat perangsang yang menguasai tubuh. 


"Kau mau kemana? Ayo, temani aku!" goda Ayu yang berbisik, tangan yang bergerilya membelai dada bidang membuat Farhan diam terpaku, menikmati sentuhan dari wanita yang membuatnya tertarik. Dia menelan saliva dengan susah payah, mengingat ujiannya semakin bertambah. Tapi pendiriannya tetap kokoh, tidak ingin mengikuti hawa nafsu yang hanya sesaat saja.  Dengan cepat dia melepaskan kedua tangan yang melingkar di dadanya. "Tidak, ini tidak boleh terjadi!" tekadnya yang menggeleng dengan cepat, segera menjauh sebelum wanita itu kembali melancarkan aksinya. 


Ayu menatap pria itu, tubuh yang semakin panas membuatnya ingin melepaskan pakaian, tapi terhalang saat Farhan segera memegang kedua tangannya. Ayu meniup leher pria itu dan kembali melakukan aksinya. "Ayo, sentuh aku!" rengeknya yang tak tahan dengan reaksi obat, rasa sakit di tubuh karena hasrat tak tersalurkan. 


Berpikir keras cara untuk membuat wanita itu tidak menggodanya lagi, terlintas ide di benaknya. Farhan kembali menggendong tubuh calon tunangannya dan menghempaskan di atas ranjang empuk, segera menggulingkan tubuh wanita itu menggunakan sprei sebagai pembungkus agar Ayu tak bisa berbuat apa-apa. 


"Huff…setidaknya dia sudah diamankan," gumamnya yang menghela nafas lega. 


Ayu tak bisa menahan hasratnya, menggoyangkan tubuh dengan liukan seperti ulat bulu membuat Farhan tak tahan dengan tingkatan iman yang semakin menipis. Segera kembali menghampirinya, memiringkan wajah wanita yang tengah dibungkus dengan sprei, memegang tengkuk Ayu dan keduanya berciuman dengan penuh hasrat, menjelajahi rongga mulut masing-masing dan bertukar saliva. Ciuman yang semakin lama dan juga dalam membuatnya ingin merasakan hal yang lebih, tapi keinginan nya kembali tertunda saat mengingat tekadnya. 


Pintu terbuka dengan lebar, keduanya terpaksa menghentikan ciuman panas dan mengalihkan perhatian ke arah pintu. Terlihat dengan jelas, seorang pria tampan mengenakan setelan jas putih melekat di tubuhnya. "Sepertinya aku datang di tempat yang salah," ledek dokter Reffan yang berjalan menghampiri keduanya. 

__ADS_1


Farhan segera menghampiri sang dokter dan menatapnya dengan tajam. "Bisakah kau mengetuk pintu terlebih dulu? Kau mengagetkan aku!" 


"Ck, katakan saja jika kau merasa terganggu dengan kehadiranku." Ucap dokter Reffan, dia mengalihkan perhatiannya pada wanita yang ada di atas ranjang. "Kenapa kau membungkusnya dengan sprei?" tanyanya yang sangat penasaran. 


"Itu alasannya aku memanggilmu kesini!" 


"Aku tidak mengerti?" tukas dokter Reffan dengan tatapan bingung. 


"Ayu terpengaruh obat perangsang," ungkap Farhan melirik wanita yang tengah berbaring di atas ranjang. 


"Lalu? Apa kau ingin menyakiti tubuhnya dengan hasrat tak tersalurkan?" 


"Berikan obatmu agar reaksinya berkurang."


"Kenapa tidak kau sendiri saja yang menyelesaikannya, dia itu calon istrimu." Goda dokter Reffan tersenyum smirk. 


"Aku tidak ingin memanfaatkan situasi, cepat beri dia penanganan terbaikmu!" bantah Farhan yang tak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. 


"Baiklah," Farhan segera membuka gulungan sprei, terkejut saat Ayu kembali memeluknya dengan erat dan ingin mencium bibirnya. Dengan terpaksa Farhan menjinjitkan tubuhnya sebagai antisipasi serangan mendadak dari calon tunangannya. "Jangan diam saja, cepat obati dia!" 


"Ya baiklah." Dokter Reffan segera mengambil tindakan, mengeluarkan sebuah suntikan yang berisi obat pereda. Ayu memberontak, dengan cepat Farhan memeluk calon tunangannya, dokter Reffan mulai menusukkan jarum ke kulit dan menyuntiknya. 


"Aaargh…sakit, hentikan!" pekik Ayu berteriak histeris, obat pereda yang melawan dosis perangsang membuat sang empunya merasakan sakit. 


"Apa itu normal?" tanya Farhan yang sangat mencemaskan Ayu. 


"Kau tidak perlu mencemaskannya."


"Apa hakmu? Berani sekali kau!" pekik Ayu yang menatap dokter Reffan dengan tatapan kemarahan, memarahi pria berjas putih. 


Dokter Reffan hanya diam tanpa berniat melawan perkataan yang tertuju padanya. "Kau pria yang sangat lemah, seharusnya kau lebih menjaga calon tunangannya mu sendiri," ejeknya seraya menatap Farhan. 

__ADS_1


"Diamlah."


"Aku ingin bayaran ku!" 


"Apa kau sedang memeras ku?" ucap Farhan dingin. 


"Bisa dikatakan begitu, akibat telepon mu membuat aku rugi besar." Jelas dokter Reffan. 


"Aku akan memberimu satu rumah sakit sebagai bayarannya, puas?" ucap Farhan dingin tanpa menoleh. 


"Tentu saja aku sangat puas, aku sangat beruntung mempunyai teman kolomerat sepertimu." Sahut dokter Reffan yang tersenyum puas, berhasil memeras temannya sangat kaya. 


"Sekarang, pergilah!" usir Farhan yang menatap temannya dengan sarkas. 


"Kau sangat kejam, tapi ya sudahlah. Setidaknya aku mempunyai rumah sakit baru dari mu." Dokter Reffan melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu dengan hati riang gembira. 


Farhan menatap Ayu yang tidak sadarkan diri, menggendong tubuh wanita itu dengan penuh hati-hati dan membawanya menuju ke Mansion. 


Beberapa saat kemudian, sampailah mereka ke Mansion. Farhan kembali menggendong tubuh mungil itu menuju masuk ke dalam kamar Ayu,  membaringkan ke atas ranjang empuk. Dia menatap dengan sekilas, membiarkan Ayu untuk beristirahat dan beranjak pergi menuju kamar mandi. 


Terlintas di otaknya kejadian tadi, mengingat saat Ayu menggodanya dengan sangat berani. Dia mengacak-acak rambutnya dengan kasar sembari menghela nafas dengan berat karena cukup sulit untuk melupakan kejadian tadi. 


Segera Farhan masuk ke dalam bathtub, berendam di dalam air dingin untuk melenyapkan keinginannya sebagai pria normal. 


Keesokan harinya, Ayu terbangun dari tidurnya, menggeliatkan tubuhnya dan sesekali menguap. Dia membalikkan tubuhnya, terkejut dengan keberadaan Farhan yang tertidur di sampingnya. "Kenapa dia ada di kamarku?" batinnya yang sangat bingung. 


Seketika Ayu membelalakkan kedua matanya saat dirinya tak sengaja meminum obat perangsang, menjadi was-was. "Kenapa kau ada di sini?" pekiknya. 


"Tentu saja karena kau, permainanmu sungguh luar biasa!" ucap Farhan yang menggoda Ayu, ingin melihat bagaimana reaksi dari wanita itu. 


 

__ADS_1


__ADS_2