Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 189 ~ Hanya mimpi


__ADS_3

Farhan tersenyum menatap Ayu yang telah kembali dengan selamat, namun matanya juga menatap pria paruh baya yang di sebelah sekretarisnya itu. Dia penasaran dengan identitas dari dokter Zaki yang hidup menyendiri di tengah hutan. "Dokter itu terlihat seperti pria misterius, siapa dia sebenarnya? Apa yang terjadi, hingga dia memutuskan untuk tinggal di hutan." Batinnya yang masih menatap pria itu.


"Ehem." Ayu segera berdehem, memberikan isyarat agar Farhan tidak menatap dokter Zaki yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. 


"Perkenalkan, dia adalah Farhan dan di sebelahnya Dona, managerku." 


Dengan cepat Farhan menjulurkan tangannya Dan tersenyum, dokter Zaki segera menyambut bulan tangan dari pria tampan di hadapannya membalas senyuman dari pria itu. 


"Farhan."


"Dokter Zaki."


"Dona."


"Saya harap anda bisa menyembuhkan kakek." Ucap Farhan yang menggantungkan harapan kepada pria paruh baya itu.


"Tidak perlu berbicara formal, aku akan berusaha keras untuk menyembuhkannya."


Farhan mengangguk senang karena sebentar lagi kakeknya akan melewati masa kritis, berharap jika kesehatan sang kakek segera memulih. 


Setelah perkenalan selesai, mereka segera kembali menuju ke pedesaan, agar semua orang tidak mengkhawatirkan mereka. Ayu sangat senang, karena bisa menemukan keberadaan dokter Zaki. Membutuhkan sedikit pengorbanan untuk sampai ke tujuan, dia tidak mempermasalahkan hal itu, baginya kesehatan kakek Hendrawan sangat penting.


Di saat menuju pedesaan, senyuman manis di wajah ayu terus saja terukir indah. Apalagi kesalahpahamannya yang sudah mengurang, langkah kedua yang harus dia lakukan yaitu mengikuti perkataan dari Dona sang manager, mencari identitas kira dan membongkarnya. 


Beberapa menit kemudian, mereka sampai ke pedesaan semua orang sudah menanti kehadiran mereka yang masih menunggu.


Kebahagiaan yang terpancar terlihat jelas di wajah Ira dengan cepat dia berlari menghampiri Farhan untuk memeluknya.


"Farhan, aku sangat mencemaskanmu. Apa kau baik-baik saja?" Kira menghamburkan pelukannya dengan sangat erat, tak mempedulikan semua orang. 

__ADS_1


Farhan melirik Ayu yang terlihat kesal kepadanya, dengan cepat dia melepaskan pelukan itu dan tak ingin menimbulkan kesalahpahaman lagi. "Jangan memelukku di hadapan semua orang!" tegasnya.


"Kenapa? Aku tidak membutuhkan komentar orang lain, yang terpenting kau selamat tanpa kekurangan." Sahutnya tak peduli dan kembali memeluk pria tampan itu.


Namun Farhan segera menghindar dan menarik tangan Ayu agar menjauh dari wanita yang selalu menempel padanya. Hal itu membuat Kira sangat kesal, menghentakkan kakinya dan mengumpati rivalnya dengan sebutan nama-nama hewan. "Lagi dan lagi, apa yang menjadi daya tarik wanita itu? Aku ini wanita cantik." Geramnya.


Farhan, Ayu, Dona, dan asisten Heri berterima kasih kepada semua tim pencarian dan juga para penduduk desa, tak lupa untuk memberikan tips yang berguna bagi mereka. 


"Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih. Sudah menolong pencarianku, dan hampir membuat kalian tertekan." Ucap Ayu yang tersenyum dan melirik Farhan yang tersenyum kecut.


"Tidak masalah Nona, semoga kalian sampai ke tujuan dengan selamat." Sahut salah satu warga yang mewakili yang lainnya.


Mereka menganggukkan kepala, dan tersenyum, menyambut perkataan para penduduk desa yang begitu ramah. Tak lupa pula dengan beberapa tim kepolisian yang juga ikut andil dalam pencarian, asisten Heri juga memberi mereka hadiah. 


Saatnya mereka berpamitan kepada semua orang, Kira dengan cepat segera berlari menghampiri Farhan. "Aku ikut pulang bersama denganmu," ucapnya yang tak ingin di bantah.


"Kau duduklah di kursi belakang, bersama dengan manajer dan asisten Heri." 


Ayu mendelik kesal, karena rivalnya sangat cerdik memanfaatkan suasana agar terus menempel dengan Farhan.


Kira terus saja merengek kayaknya seorang anak kecil yang tidak kebagian permen, terus memaksakan kehendaknya kepada Farhan hingga dia mendapatkan apa yang diinginkan. Mereka masuk ke dalam pesawat pribadi, dan mencari tempat duduk yang nyaman. 


Farhan duduk diapit oleh dua orang wanita, dia  hanya bisa menghela nafas dengan jengah mengenai situasi yang pelik. Kira tersenyum senang mendekatkan tubuhnya ke pria di sebelah, dan menyandarkan kepala di bahu Farhannya. "Apa yang kau lakukan?" tukasnya mengerutkan kening.


Ayu segera mencari kursi di sebelahnya, tak ingin berada di situasi yang membuatnya jengkel. Dia sangat ketakutan akan ketinggian, tidak bisa bergantung kepada siapapun. Melawan rasa takut dengan duduk sendirian, dan memejamkan mata.


"Aku sangat takut dengan ketinggian, itu sebabnya aku mendekatimu." Jawab Kira bertingkah genit, tersenyum  melirik rivalnya yang sudah berpindah tempat duduk.


Farhan bingung dengan situasinya, karena Ayu juga takut akan ketinggian. Dia menoleh untuk memeriksa keberadaan mantan calon tunangannya yang memejamkan mata. "Dia pasti sangat takut, aku harus berada di sampingnya." Batinnya yang ingin beranjak dari kursinya.

__ADS_1


Hal itu tidak terjadi, karena Kira kembali berakting dengan sangat baik dan menarik tangan, hingga menipu Farhan menggunakan wajahnya yang terlihat lugu. "Jangan pergi dari sisiku, aku sangat takut dengan ketinggian!" pintanya yang merengek, membenamkan wajahnya di dada bidang pria di sebelahnya.


"Hem." Farhan pasrah dengan akting si ratu drama yang mumpuni, namun pikirannya selalu tertuju kepada sekretarisnya. "Ayu dan Kira mempunyai begitu banyak kesamaan," gumamnya di dalam hati.


"Farhan, kapan kita akan sampai? Aku sangat takut!" 


"Sebentar lagi."


"Wanita itu sangat licik, dan seharusnya Ayu tidak beranjak dari kursi itu. Hah, ingin rasanya aku menyetrum Kira." Gumam Dona yang terdengar oleh asisten Heri.


"Tapi tuan Farhan juga plin-plan, begitu mudahnya dia percaya dengan trik murahan seperti itu." Ucap pelan asisten Heri yang mulai menggosip lambe turah.


"Jika saja wanita rubah itu lenyap, aku akan mengadakan pesta untuk kematiannya." Geram Dona.


"Kau wanita berambisi, sangat cocok dengan tipe wanita idamanku." Goda asisten Heri mengedipkan sebelah matanya ke arah sang manajer cantik.


"Sepertinya kau belum minum obat cacing selama enam bulan terakhir." 


Seketika asisten Heri mengerucutkan bibirnya. "Aku sedang menarik perhatianmu, bukan cacingan. Ini saatnya untuk kita membicarakan hubungan antara kau dan aku yang sama-sama sendiri."


"Ck, aku tidak tertarik dengan pria sepertimu." 


Deg


Asisten Heri memegang dadanya yang terasa linu saat mendengar ucapan penolakan secara lugas. "Sakit tapi tak berdarah."


Ayu melihat interaksi Farhan dan Kira yang terlihat sangat akrab, wajahnya kecut dan cemberut. Perjalanan yang memakan waktu cukup lama, membuatnya tertidur dengan melawan rasa takutnya.


 Di dalam mimpi, tiba-tiba Kira muncul dan berjalan mendekatinya. "Pergilah dari hubunganku dan Farhan, di hanya milikku. Kau wanita yang sangat malang, mencintai seorang pria yang tidak bisa  kau miliki. Menjauhlah dariku dan juga dirinya, kau wanita perusak hubungan kami. Kau hanya duri yang selalu menghalangi kami bersatu."

__ADS_1


Seketika Ayu menggelengkan kepalanya, menegaskan jika Farhan akan dia pertahankan. "TIDAK!" teriaknya yang membuka kedua mata, nafas naik turun dan menghela nafas. "Ternyata ini hanya mimpi," gumamnya.


   


__ADS_2