
Ayu memutuskan untuk pergi meninggalkan Farhan yang terlihat kecewa, ingin sekali dia menjawabnya tapi pikirannya menolak saat hati pria itu masih memikirkan wanita lain. "Aku tidak bisa menjawabnya sekarang, dia harus memahami siapa yang menjadi cintanya." Batinnya sambil menyeka cairan bening yang berlinang di pelupuk mata.
Gabriel menoleh dan melihat Ayu yang tengah menyeka matanya. "Kau menangis?" tanya yang sedikit cemas.
"Tidak, ada debu yang masuk ke dalam mataku." Jawab Ayu dengan alasan logis, tak ingin memperlihatkan kerapuhan nya.
"Hem, tutup jendela mobilnya, agar tidak ada debu yang masuk!"
"Tidak, aku tidak apa-apa. Biarkan saja jendelanya terbuka, aku menyukai angin yang menerpa wajah." Tolak Ayu yang disetujui oleh Gabriel.
Gabriel mulai mengemudikan mobil dan ingin menuju Villa miliknya, dia tersenyum bahagia mengenai kejutan yang akan diberikan pada wanita di sebelahnya. Sudah mempersiapkan segalanya, menghabiskan waktu keduanya dengan menyiapkan dinner romantis.
"Mengapa kau tersenyum?" Ayu melirik Gabriel bagai orang gila tersenyum sepanjang jalan.
"Aku menggambarkan suasana hatiku." Sahut pria itu dengan enteng.
"Benarkah? Apa kau memenangkan lotre atau undian berhadiah?" seru Ayu sangat antusias, dia sangat penasaran apa yang membuat sahabatnya tersenyum bahagia.
"Ini lebih daripada itu," jawab Gabriel semakin membuat Ayu penasaran.
"Kau membuatku penasaran, katakan!"
"Tidak, nanti kau juga akan tahu."
Ayu menghela nafas karena menahan kesal dan harus bersabar, kembali menikmati perjalanan, menyukai angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya. Tidak ada obrolan di antara keduanya, suasana hening di kesunyian malam. Tak lama, mobil berhenti di sebuah Villa milik Gabriel yang terlihat sangat indah. Suasana malam menjadikan tempat itu semakin indah.
Ayu merasa ada yang aneh, tidak ada orang lain disana selain mereka berdua saja. Timbul sedikit kecurigaan yang bernaung di otaknya, tapi tetap berpikiran positif. Suara Gabriel berhasil membuyarkan lamunannya dari keheningan malam nan sunyi.
"Ayo, kita sudah sampai!" ajaknya yang membukakan pintu untuk tamu spesialnya di hari yang juga spesial.
__ADS_1
Ayu dengan patuh turun dari mobil, melihat Villa yang kosong. "Dimana acaranya? Aku tidak melihat siapapun dari sini, dan terlihat tidak berpenghuni." Ada sedikit rasa was-was, jika pria itu gelap mata dan melakukan hal yang tidak-tidak.
Gabriel tersenyum, menyukai raut wajah yang terlihat menggemaskan. "Ini hanya pesta kecil saja, ayo masuk! Nanti kau akan tahu." Ajaknya yang menarik tangan Ayu dengan lembut, membawanya masuk ke dalam Villa.
Ayu tidak memikirkan apapun, dia menuruti perkataan dari pria di sebelahnya. Melangkahkan kaki masuk kedalam, terlihat sangat gelap membuatnya ketakutan. Tapi, beberapa detik lampu menyala setelah pria pemilik Villa menepuk tangan sebanyak dua kali, seketika ruangan itu menjadi terang. Meja makan yang dihias dengan sangat indah, makanan yang sudah tersaji dan disusun dengan baik. Dia takjub melihat suasana malam yang romantis, dan celingukan melihat apa ada orang lain disana. "Ini semacam makan malam romantis, dimana yang lainnya?" terka nya.
"Apa kau suka?"
"Tentu saja, dekorasinya juga indah. Tapi, dimana orang lain?"
"Tidak ada orang lain, aku mempersiapkan ini hanya untuk kita berdua. Inilah kejutannya, sengaja tidak mengundang orang lain." Ungkap Gabriel.
"Tapi mengapa?"
"Aku hanya ingin merayakannya denganmu saja, pesta kecil ini di persiapkan karena aku memenangkan piala sebagai seorang aktor terbaik pada tahun ini." Jelas Gabriel yang bahagia.
"Wah, aku turut senang mendengarnya. Selamat untukmu," Ayu menjabat tangan Gabriel, ikut senang dengan keberhasilan dari sahabatnya. "Kau memang yang terbaik, selalu memenangkan aktor terbaik dari tahun ke tahun. Tapi ini tidak adil, kau hanya mengundangku saja." Gerutunya yang berpura-pura kesl.
"Baiklah, aku menyetujuinya. Tapi ini terlihat seperti dinner pasangan kekasih," Ayu menyusuri pandangan ke sekeliling ruangan, dekorasi detail yang membuatnya hampir terpana.
"Ayo duduk!" Gabriel menarik kursi, dia tak ingin menjawab ucapan itu. Ayu duduk dengan sangat anggun dan mengucapkan terima kasih.
Gabriel duduk tepat di hadapan Ayu dan menuangkan minuman di gelas yang masih kosong, dia memikirkan mengenai perasaan yang tidak bisa melupakan wanita yang menjadi cintanya. Berniat untuk mengungkapkan ungkapan hati dengan mencoba keberuntungan. "Aku sangat yakin, jika dia tidak akan menolakku di sini. Tunggu sebentar lagi dan aku akan menyatakan cintaku!" gumamnya di dalam hati. Pantang menyerah dalam meraih hati wanita pujaan, walau selalu saja mendapat penolakan.
Sementara disisi lain, Farhan ternyata diam-diam mengendarai mobil dan mengikuti kemana mobil Gabriel pergi, melihat arah yang dikenalnya. "Ini Villanya," gumamnya yang tersenyum. Dia tidak terima, jika sahabat kecilnya merebut mantan calon tunangannya. "Ini tidak akan aku biarkan," tekadnya yang masih mengharapkan cinta dari Ayu.
Farhan memarkirkan mobil di sekitar Villa, ada rasa cemas yang hinggap di pikiran, tidak ada orang lain di tempat itu. Tiba-tiba terdengar suara dering ponsel, dia segera mengangkatnya.
"Halo."
__ADS_1
"Ada apa?"
"Kau dimana? Aku sudah memasak untukmu dan ingin mengantarkannya."
"Aku ada urusan."
"Ayolah, aku sudah bersusah payah untuk ini. Katakan kau sekarang ada dimana?"
"Jangan memaksaku, aku sibuk."
Farhan mematikan ponselnya secara sepihak, membuat Kira sangat kesal.
Dia ingin membuka pintu dan keluar dari mobil, namun pandangan matanya melihat rombongan orang-orang yang datang ke Villa milik Gabriel yang membawa beberapa kamera. "Sepertinya itu reporter? Ini tidak bisa dibiarkan!" dia segera mengikuti pada rombongan reporter, ingin mengetahui mengapa mereka datang kesana. "Apa mereka diundang oleh Gabriel?"
Gabriel dan Ayu sedang melakukan makan malam romantis, tiba-tiba sekelompok reporter datang dan bergegas masuk melihat suasana yang terjadi. Keduanya menoleh dan melihat orang-orang yang masuk tanpa meminta izin terlebih dulu.
Yuna berjalan ke depan, bagai pemimpin dari para reporter yang seakan menangkap basah kekasihnya tengah berselingkuh. Dia berjalan mendekati Ayu, amarahnya saat melihat Gabriel bersama dengan wanita lain. "Berani sekali kau merayu tunanganku!" ketusnya yang menarik tangan sang rival.
Ayu masih belum memahami situasinya. "Aku tidak merayu siapapun," tegasnya.
"Dasar wanita murahan, pria yang bersama denganmu adalah tunanganku. Jangan mencoba untuk merayunya!"
"Aku tidak merayu siapapun!"
"Aku sudah melihatnya, melakukan makan malam romantis. Apakah itu masih belum bisa dikatakan merayu, hah?" sarkas Yuna yang menggebu-gebu, tak terima jika Gabriel bersama dengan wanita lain.
Gabriel juga tak memahami apa yang terjadi, makan malam dan rencananya untuk menyatakan cinta menjadi kacau saat kedatangan reporter dan juga Yuna di Villanya. Menghentikan semua reporter agar tidak meliput mereka, dia sangat kesal kepada sang pianis terkenal itu.
Yuna tak bisa menahan amarah dan geram di hatinya, matanya merah menandakan sangat murka. Ingin melayangkan tangan untuk menampar Ayu.
__ADS_1