Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
S2 ~ Siapa yang mesum?


__ADS_3

Leon menunjukkan satu kamar untuk kedua keponakannya, ukuran standar pada ranjang dan berpikir jika itu sudah nyaman. "Kalian tidur disini, kalau butuh sesuatu kalian boleh menelponku. Tapi ingat! Jangan di saat aku pulang dari kantor." Dia menekankan kalimat peringatan agar sewaktu-waktu twins A menyadari dengan tindakan mereka.


"Lalu, dimana kamarku?" seru Adit yang mendongakkan kepala menatap pria dewasa di sebelahnya.


"Jangan samakan apartemen ku dengan Mansion, kalian tidur dalam satu ranjang."


"Yang benar saja, Paman? Kamar sekecil ini dan juga ukuran ranjang seperti peti mati, tidak ada ruang untuk kami berdua." Protes Adit.


"Astaga…memangnya ukuran tubuh kalian seberapa tinggi dan besar? Memang ukurannya standar, tetapi sangatlah empuk dan juga nyaman." Leon ingin sekali mengunyah bocah yang protes dengan kinerjanya dalam mendesain. "Apa aku boleh memukul pantat mereka?" Batin nya dengan kesabaran kian menipis.


"Mana cukup," protes Adit.


"Untuk sekarang kita akan tidur di ranjang peti mati itu," sela Abi yang bijak, membuat Leon sangat terharu dengan sikap bijak dari keponakan pertamanya. "Dia sangat berbeda dengan Adit, begitu dewasa." Gumamnya di dalam hati.


"Tapi__." 


Belum sempat Adit mengeluh, Abi menyela perkataan itu. "Kau tenang saja, aku sudah minta papa untuk memindahkan kasur king size kesini dalam waktu beberapa menit." Jelas Abi yang memperlihatkan bukti di benda pipih,  sedikit mengejutkan Leon.


"Aku tarik kata-kataku, mereka sama menyebalkan dengan Farhan, bahkan wajah mereka copy paste dari pria sialan itu." Pikir Leon yang tersenyum seolah tidak marah. 


Adit dan Abi saling mengangkat bahu dengan acuh, melontarkan tatapan ambigu kepada Leon. 


"Mengapa kalian menatapku begitu?" 


"Kenapa Paman masih disini? Apa ingin mengintip kami untuk mandi dan juga cebok?" ucap Adit yang tidak ingin jika privasi mereka diganggu. Leon pergi dengan hati dongkol, di saat suara pintu tertutup dengan keras juga mengejutkannya. 


"Astaga…sikap kasar mereka menurun dari Ayu. Lengkap sudah sifat dan kelakuan aneh mereka." Baru saja Leon melangkah, dua gelas susu kocok tumpah mengenai kemejanya. Dia segera menoleh pada asisten pribadi sekaligus sekretarisnya, tapi sangat terkejut jika wanita itu menggunakan masker berwarna hitam. "Kau mengagetkanku, dan kau juga menumpahkan susu kocok mengenai kemeja kesayanganku yang bernilai ratusan juga."


"Maaf Tuan, saya tidak sengaja." Aluna segera menundukkan kepala, berharap dapat meminta maaf dari atasan galaknya.


Leon melihat penampilan seksi dengan gaun kimono putih yang melekat di tubuh Aluna, menelan saliva saat melihat dua gundukan besar sepertiga saja, begitu putih dan juga memacu adrenalin nya sebagai lelaki tangguh."Dia sangat cantik dan juga seksi," batinnya yang melirik dari ujung rambut hingga di ujung kak. "Bersihkan kemejaku!" 


"Tapi, aku harus buat susu kocok untuk anak-anak."

__ADS_1


"Tidak ada bantahan dan juga penolakan." Leon segera membuka kemeja putih itu dan melemparkannya mendarat dengan sempurna di wajah Aluna. "Sekarang juga!" 


"Baik Tuan." Alun sengaja menggunkan kimono putih di depan Leon, pria yang selama ini membuatnya jatuh hati saat pertama kali mereka bertemu. Pria itu menolongnya saat hampir saja ditabrak oleh kendaraan, rasa hutang budi membuat getaran cinta membara. "Aku sangat yakin jika dia pasti memikirkan kejadian tadi," lirihnya yang tersenyum puas disaat membayangkannya. 


Benar saja, di dalam kamar Leon merasa sesuatu yang bangun namun bukan dirinya. Jadi salah fokus saat masih membayangkan tubuh seksi dari sekretarisnya. "Tarik nafas dan keluarkan secara perlahan," monolognya yang mempraktekkannya. Tapi cara itu tak efisien dan semakin membuatnya memikirkan di balik kimono putih milik Aluna. 


Terdengar suara dering ponsel yang membuyarkan lamunan Aluna, dia segera mengangkatnya. Tapi sebelum itu melirik keadaan sekitar dan menjauh dari pantauan CCTV, menjawab panggilan masuk. 


"Ada apa menelponku?" 


"Nona, hentikan sandiwaramu untuk menjadi sekretaris?" 


"Tidak, aku tidak akan pulang. Katakan hal itu pada bibi Ruo."


"Ayolah nona, jangan menyiksa diri anda dengan mengejar pria itu. Bahkan nyonya sudah menyiapkan perjodohan."


"Hah, kau selalu saja menggangguku. Aku masih ingin mengejar cintaku, tidak akan lama lagi."


"Hem." 


Sambungan telepon berhenti, Aluna segera menghapus daftar panggilan sebelum orang lain tahu jika dirinya adalah nona muda dari keluarga Chen, perpaduan dari wanita China dan Indonesia. Identitas yang disembunyikan karena ingin meniru langkah Ayu yang mendapatkan kebahagiaan yang ingin dia cari. 


"Apa kemejanya sudah siap?" tanya seseorang yang membuyarkan lamunan Aluna.


"Eh, aku baru saja mencucinya dan masih dalam proses. Ada apa?" tanya Aluna yang tidak ingin menimbulkan kecurigaan. 


"Kenapa sangat lama sekali?" 


"Apa? Orang kaya sepertimu tidak akan memiliki satu kemeja saja, gunakan pakaian lain saja."


"Pakaianku itu unlimited edition, cukup sulit untuk mendapatkannya."


"Apanya yang sulit?" gumam Aluna sembari menatap wajah Leon lekat. "Mengapa kau ada disini? Apa pikiranmu mengenai aku membuatmu tidak bisa tertidur?" goda Aluna yang bersikap agresif, melingkarkan tangannya di leher pria yang terlihat seksi saat perut sixpack terlihat dengan jelas.

__ADS_1


"Menyingkirlah!" 


"Baiklah, pergilah dari sini!" usir Aluna setelah menyingkirkan tangannya yang melingkar di leher pria itu. 


"Kau mengusirku?" 


"Karena aku tahu niatmu sebenarnya, lelaki dengan pandangan mesum."


"Aku tidak mesum." Elak Leon. 


"Ya sudah, pergilah dari sini dan jangan ganggu aku!" 


Leon mengumpat sepanjang jalan menuju kamarnya, karena tindakan gilanya yang juga membutuhkan kerja keras. "Ada apa denganku?" dia mengacak-ngacak rambut yang begitu geram saat menyadari tingkahnya yang mempermalukan diri sendiri.


"Apa ini musim panas?" tanya Abi menatap lekat pamannya yang tidak menggunakan baju. 


"Mengapa kalian masih disini dan bukannya tidur." Tanya Leon balik, tak ingin menjawab pertanyaan dari keponakannya.


"Kami tidak terbiasa minum tanpa susu kocok," jawab Abi yang melebarkan senyuman saat melihat dua gelas susu dan meminumnya dengan cepat.


"Terima kasih," ucap kedua anak kembar yang segera beranjak dari tempat itu. 


Leon mengerti maksud dan tujuan dari Aluna yang mencoba untuk merayunya, sengaja memakai kimono panjang di depan anak-anak. "Jadi kau sengaja untuk menggodaku?" 


"Itu cara ampuh agar kau memikirkan aku, dan benih-benih cinta akan terpupuk sendirinya." Aluna begitu bersemangat dan tidak menyadari jika Leon sudah mendekat ke arahnya. 


"Mari aku tunjukkan bagaimana arti menggoda sesungguhnya," ucap Leon yang berjalan mendekat dan mendukung tubuh Aluna yang berani mempermainkannya. Dia dengan nekat membuka celana yang menyisakan bagian sensitif yang berbentuk sangat jelas. 


"Hai, kau jangan gila."


"Aku gila karena ulahmu, sepertinya kau sudah siap aku sodok."


Kalimat yang begitu monohok membuat Aluna bergidik ngeri saat pria itu menarik paksa tangannya untuk menyentuh si Tole milik Leon. Dia Berlari meninggalkan tempat itu, sedangkan pria tampan tertawa puas penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2