
Ayu menghela nafas dengan jengah, melihat dan mendengar Maya menudingnya sebagai plagiat. "Kau ini kenapa? Datang-datang langsung menuduhku," tukasnya yang mengerutkan kening.
"Apa kau ini bodoh? Aku melihat konferensi pers di perusahaan lain, dan hasil desain milikmu dan perusahaan itu sangatlah mirip. Pasti kau telah mencoba melakukan plagiarisme, sangat memalukan." Pekik Maya dengan raut wajah kemarahan.
"Oh halo, perusahaan itulah yang mengambil hasil karyaku, dan aku ingin mengusutnya." Ungkap Ayu yang mengatakan sebenarnya, tapi Maya hanya menyeringai sinis menatap wanita di depannya.
"Tapi bagaimana bisa hasil desain perhiasan itu diumumkan di saat konferensi pers?" ujar Maya selaku desain di perusahaan itu.
Mendengar keributan dari luar, memicu beberapa orang yang berdesakan datang melihat apa yang sebenarnya terjadi. Hanya segelintir orang yang mengetahui hal itu, akibat Maya berteriak mengatakan Ayu sebagai seorang plagiat membuat beberapa orang yang berada di sana mengetahui permasalahannya, mereka juga membuat opini masing-masing.
"Hentilah berteriak, suaramu seperti toa. Mengundang semua orang hingga menonton masalah sepele seperti ini." Jengah Ayu yang masih belum memahami niat dari Maya.
"Dasar pencuri desain, orang lain yang bekerja dan kau hanya menjiplaknya saja. Apa kau tidak malu?" ucap Maya semakin menjadi.
"Untuk apa aku merasa malu? Jelas saja perusahaan itulah yang plagiat hasil desainku," bantah Ayu dengan sarkas.
Permasalahan itu semakin meluas, mereka saling berbisik-bisik dan mempercayai perkataan dari Maya. "Kenapa kau melakukan plagiat desain dari perusahaan lain?" tanya salah satu karyawan yang menonton pertikaian itu.
"Dimana hati nuranimu?" tambah yang lain.
"Ku dengar kau sangat hebat, kenapa kau mencuri hasil orang lain?" imbuh salah satu karyawan itu sembari menatap Ayu dengan penuh penyelidikan.
"Karena ulahmu itu akan membawa dampak buruk dari perusahaan ini, apa kau tidak memikirkan itu?" bentak Maya yang dibenarkan semua orang di sana.
Beberapa pertanyaan tak membuat Ayu terdiam, tak ingin menjelaskan jika dialah korbannya di sini. Sedangkan Maya tersenyum samar, mengetahui sebentar lagi wanita di hadapannya akan di pecat. "Kau hanya diam saja itu menandakan kenyataannya, dasar plagiat!"
Ayu menghela nafas, menatap satu persatu orang yang membicarakannya terutama Maya. "Aku tidak akan diam jika itu menyangkut nama baikku yang sudah tercemar, percuma saja mengatakannya jika kalian hanya mendengar opini dari Maya," jelasnya dengan raut wajah yang santai.
"Heh, kau hanya membual saja. Aku kasihan dengan tuan Farhan, entah masalah apa yang akan dia hadapi semenjak kedatanganmu yang membawa sial dan merugikan perusahaan." Maya semakin menuduh dengan sangat antusias, menatap Ayu dengan tersenyum sinis sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Jika masalah itu kau tenang saja, bahkan Farhanlah yang menyuruhku untuk mengurus urusan konferensi pers. Kau pasti tahu sendiri apa maksudku!" sanggah Ayu tersenyum tipis.
"Aku tidak percaya, karena kau tipe wanita yang suka membual." Celetuk Maya tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Jika kau tak percaya, apa urusannya denganku? Dan kalian yang ada di sini, aku peringatkan untuk tidak percaya pada satu sumber saja, carilah kebenarannya terlebih dahulu dan barulah kalian mengkritik ku." Jelas Ayu yang menatap beberapa karyawan yang ada di sana bergantian.
"Kau berusaha keras menjadi sok bijak, tapi hanya untuk menutupi kesalahanmu itu. Jika mengaku, pasti penjara sudah penuh!" tekan Maya sambil melempar tatapan tajam juga sinis. Semua orang menganggukkan kepala membenarkan perkataan dari Ayu, namun hasutan Maya membuat mereka tidak menghiraukan perkataan Ayu.
"Ya, apa yang dikatakan oleh Maya memang benar. Bahkan Ayu tidak bisa membuktikan dirinya sendiri, bagaimana kita bisa mempercayainya?" ucap salah satu karyawan yang ikut bersuara.
"Apa yang kalian lihat dan dengar belum tentu itu kebenarannya. Tidak ada untungnya aku melakukan plagiat desain dari perusahaan lain," jelas Ayu.
"Bagaimana mungkin? Baru saja perusahaan lain mengatakan hasil desain perhiasan itu milik mereka!" sentak Maya.
"Dan kau percaya? Hentikan ini, kau hanya merusak suasana." Cetus Ayu sudah muak dengan tuduhan yang berakibat semakin parah, semua orang sudah mengetahui kabar itu dengan cepat. "Dia menuduhku tanpa ingin mendengarkan penjelasan, membuatku sedikit curiga." Batinnya.
"Apa kalian datang ke kantor ini hanya untuk bergosip? Atau kalian sudah bosan bekerja di sini!" ucap seseorang yang tak lain adalah asisten Heri.
Semua orang mengalihkan pandangan ke asal suara, terlihat dua pria tampan yang sangat berpengaruh di tempat mereka bekerja. Yap, dia adalah asisten Heri dan Farhan menatap tajam kerumunan itu.
"Kami hanya ingin bekerja, tolong…jangan pecat kami, Tuan." Ucap salah satu karyawan, mereka menundukkan kepala sebab tak berani berkontak mata secara langsung.
"Bubar dan mulailah bekerja," tekan Farhan dengan sorot mata tajam bak elang yang ingin memangsa targetnya
Orang-orang sekitar kembali ke departemen desain, sedangkan Maya meremas kedua tangannya geram. "Ck, lagi dan lagi wanita itu beruntung!" umpatnya di dalam hati dan berlalu pergi dari tempat itu. Sebelum beranjak di sana, Maya menatap Ayu dengan lirikan tajam.
****
Saat di perjalanan pulang, Maya bertemu dengan wakil presdir dari perusahaan Malhotra Company. Dia tersenyum saat mengetahui niatnya untuk menjatuhkan Ayu. "Ini kesempatan emas, aku tidak akan melewatkannya dengan sangat mudah," gumamnya seraya menghampiri pria yang sedang menelepon.
"Tuan Bian, aku tak menyangka jika kita bertemu di sini."
Pria itu memasukkan ponsel di dalam saku celananya seraya menatap wanita yang sok kenal. "Maaf, anda siapa? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Bian yang mengerutkan keningnya, karena dia merasa tidak pernah bertemu dengan wanita yang ada di hadapannya.
"Perkenalkan, saya Maya bekerja di perusahaan HR Grup," ucapnya yang menyodorkan tangan kanan, berniat untuk salam perkenalan.
"Hem," sahut Bian singkat sambil menjabat tangan wanita itu. "Aku tahu maksudmu menemuiku, katakan dengan jelas!" tukasnya yang bisa membaca ekspresi seseorang.
__ADS_1
"Wow, anda sangat berbakat Tuan dan aku kagum dengan itu."
"Ck, katakan saja apa yang kau inginkan!" ucap Bian jengah, dia ingin berlalu pergi karena malas meladeni wanita yang menurutnya tidak jelas. Tapi, tangannya di cekal Maya. "Cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu."
"Begini Tuan, masalah desain yang perusahaan anda miliki itu sama persis dengan perusahaanku. Rancangan perhiasan saat di konferensi pers perusahaan anda diplagiat oleh Ayu dari perusahaan yang sama denganku." Ungkap Maya yang menjelekkan nama Ayu demi kepentingan pribadi.
"Hem, lalu?"
"Apakah anda tidak ikut campur dalam permasalahan ini, jelas-jelas karya dari perusahaan anda di plagiarisme dari perusahaan lain."
"Jika kau hanya mengatakan kejelekan orang lain di hadapanku, maka kau salah besar berurusan denganku." Tolak Bian tak ingin ikut campur masalah Ayu yang dituduh sebagai plagiat desain.
****
Di sisi lain, Ayu terus bekerja sampai tak terasa sudah waktunya pulang kerja. Begitu banyak masalah membuatnya lupa akan waktu, hingga terdengar suara dering ponsel. Ternyata yang meneleponnya adalah Farhan, dengan cepat mengangkat telepon.
"Halo."
"Apa kau akan bekerja sepanjang hari? Ayo pulang bersamaku!"
"Tidak, aku bisa pulang sendiri. Masih ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan."
"Lupakan itu, jagalah kesehatanmu sendiri."
"Sebaiknya kau pulang saja, nanti aku menyusul."
"Hem, yasudah jika itu keinginanmu."
Setelah selesai menelepon, Ayu kembali melanjutkan pekerjaannya dengan sangat fokus.
Suasana sore hari berubah menjadi malam, tapi Ayu tetap saja bekerja tanpa henti. Dia sangat terkejut melihat kotak makanan berada di meja kerjanya, mendongakkan kepala dan menatap sang pelaku. "Farhan? Kau di sini?"
"Hem, kau pasti belum makan dari siang tadi. Aku membawakan ini untukmu, makanlah!"
__ADS_1