Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 102 ~ Titik terang


__ADS_3

Ayu mulai menyerang Tiara, melihat raut wajah berkeringat karena takut kebohongannya terbongkar di hadapan semua orang. Mengusap dahi wanita itu dan tersenyum simpul. "Sangat berkeringat, itu menandakan jika kau sangat cemas. Apa aku benar?" ucapnya yang mulai membalikkan keadaan. 


Mendengar hal itu, wajah Tiara malah semakin jelek, tapi mempunyai harapan saat para reporter masih bersama dirinya. "Karena aku membela kebenaran dengan tindakan seorang plagiarisme sepertimu!" tunjuknya dengan mata yang melotot. 


Ayu mendelik kesal dan seketika tersenyum. "Apakah kau pernah mendengar, jika seseorang bersalah akan berteriak seperti yang kau lakukan tadi."


"Ck, itu hanya teori saja. Tetap tidak akan mengubah kebenarannya, jika kau seorang plagiat."


Para reporter tak tinggal diam, kembali membela Tiara. "Apakah ada bukti yang memperkuat tuduhan itu? Jangan memberikan sebuah kata-kata saja, tapi kami perlu bukti nyata." Ucap salah satu reporter sewot. 


"Tentu saja," sahut Ayu dengan tenang. 


Sedangkan ketiga pria itu tersenyum senang, dan memprediksi jika Ayu akan berhasil membuktikannya. "Ayu terlihat bagai air yang tenang, tapi begitu banyak menyimpan kejutan," batin Farhan. 


"Kalian selalu menuduh orang lain tanpa melihat kebenaran yang ada, bukankah saya sudah memperlihat video saat syuting di Danau dan juga tuan Raymond adalah saksinya. Bukan hanya itu, ada beberapa video bukti lainnya. Hanya dengan majalah entah darimana asalnya, kalian malah percaya tanpa tahu sumber." Ucap Ayu yang menatap para reporter satu persatu.


"Tapi bukti itu tidaklah cukup, bisa saja bukti itu tidak benar!" celetuk Tiara yang mempertahankan tuduhan palsunya. 


"Apa kau mengira jika aku membual saja, tentu saja aku mempunyai persiapan yang sangat matang." Ujar Ayu yang tersenyum saat melihat kesombongan Tiara. "Kalian pasti berpikiran hal yang sama, itu sebabnya aku mempersiapkan ini." Ayu bertepuk tangan sebanyak tiga kali, lalu datanglah seorang pria yang bertanggung jawab dengan studio beserta saksinya. 


"Aku mempunyai video mentahan yang ada pada pemilik sekaligus penanggung jawab studio," Ayu menepuk pundak pria itu dan mengatakan sebenarnya. 

__ADS_1


Semua orang terkejut, mereka tak mengira jika Ayu bisa membalikkan keadaan dengan sangat mudah. Sedangkan Tiara sangat ketakutan dengan tuduhan yang akan berbalik padanya, tapi berusaha tetap tenang dan tidak menimbulkan kecurigaan. "Apa kalian percaya itu? Bisa saja pria itu bekerjasama dengan sekretaris dari perusahaan HR Grup."


"Saya sebagai pemilik karya video mentahan yang asli, sekaligus penanggung jawab studio mengatakan jika apa yang dikatakan oleh nona Ayu benar adanya, tuduhan plagiat bukan dari pihak nona Ayu, tapi wanita itulah yang plagiat." Tunjuk sang penanggung jawab. 


"Ck, jangan menunjukku begitu! Kalianlah yang bekerja sama dan menuduh aku, sangat menjijikkan!" pekik Tiara yang tidak bisa mengontrol emosinya lagi. 


"Jika tuduhan yang dikatakan oleh penanggung jawab studio tidak benar, kenapa kau sangat marah dan merasa tertekan?" ejek Ayu yang tersenyum tipis. "Masuk perangkap!" batinnya. 


"Kalian bekerjasama untuk menjebakku dan mencemarkan nama baik ku."


"Untuk apa aku melakukan itu, bahkan aku tidak mengenalmu sama sekali. Tapi kau malah menuduhku sebagai seorang plagiarisme, apa kau bekerjasama dengan orang lain?" tekan Ayu dengan tatapan menyelidik, menguak semua tuduhan palsu dari wanita itu. 


"Beberapa bukti dan saksi sudah kau dan semua yang ada di sini melihatnya, apa itu masih belum cukup? Dan anehnya kau malah meminta uang kompensasi hak cipta sebesar lima ratus juta rupiah, apa kau berniat untuk memeras ku  demi kepentingan pribadi?" ungkap Ayu. 


"Bukti itu belum cukup untuk masalah ini, dan mengenai uang itu adalah hak ku." Jawab Tiara. 


"Nona Ayu tidak bersalah, karena itu memang desainnya dan aku juga mempunyai rekaman video mentah," sela sang penanggung jawab studio. 


"Apa kau punya bukti?" pinta Tiara yang tersenyum merendahkan. 


"Tentu saja," sahut pria itu seraya menunjukkan sebuah bukti. Memperlihatkan sebuah berkas kepada semua orang. "Kalian pasti bisa membaca dan memahaminya, saya sudah mendaftarkan hak paten satu tahun yang lalu dan di sebelahnya ada sertifikatnya. Aku bekerja dengan cara jujur tanpa ingin terlibat suatu tindakan yang dituduhkan, itu artinya nona Tiara lah yang melakukan plagiat."

__ADS_1


Semua orang tercengang mendengar perkataan penanggung jawab studio yang sangat serius dan tegas. "Jika kasus ini masih berlanjut, saya tidak akan diam karena ini menyangkut kehormatan saya dan studio akibat tuduhan palsu itu, saya sebagai penanggung jawab studio menuntut nona Tiara atas kasus plagiat dan pencemaran nama baik." Ucap sang penanggung jawab studio dengan lantang, menatap wanita itu dengan tajam. 


Kepercayaan semua orang kembali beralih, Tiara sangat ketakutan dengan nada penekanan dan ancaman yang diterima dari Ayu dan pria penanggung jawab studio. "Bagaimana ini? Kenapa semuanya menjadi kacau?" batin Tiara yang sangat kacau. 


Semua orang mulai menyalahkan Tiara, menatapnya dengan tatapan permusuhan. "Dasar wanita licik, dia menuduh Ayu sebagai plagiat. Tapi, nyatanya dia sendirilah yang melakukan plagiarisme. Berani sekali dia mengklaim hasil desain jerih payah orang lain, sungguh sangat memalukan." Umpat salah satu orang yang mulai menyerang Tiara. 


Tiara hanya terdiam, meremas pakaiannya saat merasakan emosi dan sangat murka menghadapi semua orang yang berbalik menyerangnya. 


 "Bagaimana tanggapan anda mengenai perizinan dan tak menjiplak hasil karya, apakah ada bukti untuk itu," tanya salah satu reporter yang ingin menjatuhkan Farhan. 


Farhan ingin menjawab pertanyaan yang akan menjebaknya, dengan cepat penanggung jawab studio menyela. "Bahwa pihak studio sudah mengizinkan tuan Farhan, jadi perusahaan HR Grup tak menjiplak atau plagiat sama sekali, karena kami mempunyai surat perjanjian sebelumnya." 


"Tidak ada yang tersisa untukku, bagaimana ini?" batin Tiara dengan pikiran yang kalut, gelisah dan cemas karena kebohongannya diketahui oleh awak media. 


Farhan tak tahu pasti rencana protagonis wanita dan semakin kagum dengan wanita yang akan dijodohkan dengannya. "Kau sungguh luar biasa, aku bahkan tidak bisa memahami pukul telak serangan balik darimu," batinnya yang tersenyum ke arah Ayu. 


Para reporter kembali mempertanyakan Tiara mengenai majalah dan tuduhan itu, mendekatkan alag perekam suara untuk memintai keterangan. "Semua bukti telah menunjuk kepadamu, dan kami juga salah paham mengenai Ayu yang tidak bersalah. Kenapa kau menjebak wanita malang itu dan apakah kau mempunyai dendam pribadi padanya? Atau telah terjadi konspirasi? Apakah ada pihak lain yang turut ikut campur dalam masalah ini?"


Serentan pertanyaan yang terlontar membuat Tiara gelagapan, menjawabnya dengan deheman dan berniat untuk kabur dari konferensi pers. Tapi, dengan cepat Farhan menghadang wanita itu, menyorotnya dengan tatapan tajam juga dingin. 


"Kau datang dengan angkuh, setidaknya pergi juga dalam keadaan yang sama. Minta maaflah kepada Ayu!" ucap Farhan dingin. 

__ADS_1


__ADS_2