Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 37 ~ Kekesalan Vanya


__ADS_3

Farhan mulai memahami persitenggang antara kedua wanita tersebut, menatap satu persatu, Ayu yang masih ada di pelukannya dan juga sahabat kecilnya, Vanya. "Bicarakan itu nanti saja," jawab Farhan yang menatap Vanya. 


"Tapi aku sudah datang ke sini, apa kau tega melihatku?" Tutur Vanya dengan manja. 


"Apa-apaan wanita itu? Bersikap manja membuat aku sangat muak dengan nya," gumam Ayu di dalam hatinya sambil memainkan jarinya menyentuh pipi Farhan.


"Astaga, wanita kampung itu jika dibiarkan malah semakin menjadi. Dia melekat ke Farhan layaknya seekor lintah, tapi lintah itu akan segera keluar dari ruangan ini!" batin Vanya yang melirik Ayu dengan sinis. 


"Bicarakan itu besok saja, aku tidak ingin membicarakan tentang proposal itu. Sebaiknya kau pergi saja?!" Usir Farhan tanpa ragu membuat Vanya semakin marah. 


"Ck, sia-sia aku membawakan proposal ini. Padahal aku hanya ingin menemuinya dengan alasan proposal itu untuk tetap tinggal di ruangan itu dan bisa menghentikan keromantisan antara wanita kampung itu dan juga Farhan," umpat Vanya di dalam hatinya, tidak berani mengungkapkan selain tersenyum paksa. 


"Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak mendengarkan bahasa manusia?" Celetuk Ayu yang tersenyum kemenangan saat melihat Vanya tersenyum paksa. 


"Diamlah, ini urusanku dengan sahabatku. Jangan ada yang ikut campur." Tegas Vanya yang memperlihatkan kelima jarinya di hadapan Ayu untuk tidak melanjutkan ucapannya. "Bacalah proposal ini sekali saja," pintanya seraya merengek. 


"Tidak, keluarlah. Aku tidak akan mengulang kata-kataku untuk kedua kalinya." Tekan Farhan dingin dan juga tegas. 


"Sebaiknya aku pergi saja dari sini, bergelayutan seperti monyet telah menyiksa tubuhku. Hah, tubuhku sangat sakit sekali saat mempertahankan posisi seperti ini," vkeluh Ayu di dalam hatinya, dengan cepat dia melepaskan tangannya dari leher Farhan sembari memegang lengan dan juga pinggangnya yang pegal. 


"Eh, kenapa dia melepaskannya?" Batin Farhan yang sangat nyaman dengan posisi tadi, tapi sedikit terkejut saat wanita itu melepaskan rasa nyamannya. 

__ADS_1


Vanya sedikit lega saat melihatnya, dia pamit keluar dari ruangan CEO menuju keluar. Diikuti oleh Ayu hingga mereka hampir beriringan, Vanya kembali menggunakan kesempatan itu dengan senyum licik di wajahnya. Langkah kakinya yang melambat, dan menunggu di depan pintu. Dengan menjulurkan kakinya ke samping berharap jika Ayu akan tersandung dan membuat wanita itu malu. "Aku rasa dia tidak akan lolos kali ini," gumamnya yang tersenyum smirk. 


Ayu berjalan dengan cepat, pandangannya tertuju kepada kaki Vanya yang ingin menyandung nya. "Hehe…ingin bermain-main denganku rupanya," batin Ayu menendang kaki Vanya dengan sangat keras, sehingga sang empunya merintih kesakitan. 


Usaha Vanya lagi dan lagi selalu mengalami kegagalan, kali ini kakinya lah yang menjadi korban akibat tendangan Ayu. "Apa matamu tidak bisa melihat dengan jelas? Kaki ku sangat sakit akibat ulahmu yang menendang kaki ku." Ketus Vanya yang mengipasi kakinya yang terasa sangat sakit. 


"Ups…maaf, aku tidak tahu jika kaki itu ada di jalanku." Ayu berpura-pura kaget dengan menutup mulutnya menggunakan kedua tangan dan penuh simpati melihat kaki Vanya yang sedikit memar. 


"Apa kau tidak bisa melihatnya dengan jelas?" Ketus Vanya yang protes. 


"Jangan protes kepadaku, salahmu sendiri yang menjulurkan kaki mu sendiri. Bagaimana rasanya? Kamu tak akan menang dariku, karena aku dua langkah di depanmu, sebaiknya kau berhati-hati," ejek Ayu. 


Ayu melihat penjaga dan melambaikan tangan untuk segera menghampiri, sang penjaga itu berlari mengarah ke dua wanita itu. 


"Sebaiknya kau membawa wanita ini keluar dari sini," titah Ayu yang berlalu pergi meninggalkan mereka dan kembali departemen sekretaris. 


"Baik Nona," sahut cepat sabg penjaga yang langsung memegang salah satu lengan Vanya untuk menyilahkan wanita itu untuk keluar dari kantor. 


"Dasar wanita kampung sialan!" umpat Vanya yang kembali menyentakkan kedua kakinya di lantai, seketika dia menyadari jika kakinya memar. "Auh…ini sakit sekali. Dan kau jangan coba-coba untuk menyentuhku, lepaskan tanganmu sebelum aku melaporkanmu untuk dipecat," pekik Vanya yang menunjuk wajah penjaga itu. 


"Maaf Nona, saya hanya menjalankan tugas. Sebaiknya Nona pergi dari sini tanpa membuat keributan!"

__ADS_1


"Baiklah, aku akan pergi. Tidak perlu menyeretku, langkah kakimu sangat besar dan sekarang kaki ku sedikit sulit untuk berjalan karena wanita itu, lepaskan aku." Vanya keluar dari kantor dengan berjalan sedikit pincang dan sepanjang perjalanan selalu saja mendumel. 


Beberapa saat kemudian, Ayu yang sedang duduk di kursinya sambil mengerjakan pekerjaannya dengan cepat, tiba-tiba terdengar suara telepon berdering. Dia mengangkatnya dengan cepat agar tidak terjadi masalah nantinya. 


"Halo."


"Hem, baik. Aku akan kesana!" 


Ayu menutup sambungan telepon, bergegas menuju ruangan konferensi untuk segera mengadakan rapat. Rapat yang diadakan sangat lah tiba-tiba, membuatnya sedikit kesulitan untuk itu. Berdiri dari duduknya tanpa menghiraukan orang di sekitarnya. 


"Kenapa rapat ini sangat mendadak sekali?" Gumam Ayu yang melebarkan langkah kakinya untuk menuju ruang konferensi rapat. 


Sampailah Ayu ke ruangan konferensi untuk mengadakan rapat penting, menarik udara sedalam-dalamnya sembari mengeluarkan secara perlahan. Dia mengetuk pintu dan membukanya, terlihat dengan jelas Farhan, Maudi, Angela, dan perancang proyek. Semua orang menatapnya dengan tatapan datar seakan ingin menelannya hidup-hidup. 


"Eh, kenapa semua orang menatapku begitu?" Batin Ayu yang sedikit canggung. Dia tidak tahu jika akan terjadi rapat, tidak ada yang memberitahukan mengenai rapat itu hingga dia sedikit terlambat. Ayu duduk di kursinya sembari menatap semua semua orang yang saat itu menyorotnya. 


Rapat dimulai, Maudi melirik Ayu dengan tersenyum samar. Dia berencana untuk mempermalukan Ayu di acara rapat penting konferensi. "Ini saat yang pas untuk mempermalukan gadis kampung dan tak tahu diri itu," gumam Maudi dengan seringaian liciknya. 


"Lebih baik jika nona Ayu yang akan menjelaskan mengenai situasi umum, aku rasa dia sangat mahir melakukan nya, dan untuk Nona Ayu silahkan maju ke depan," celetuk Maudi yang menunjuk rivalnya. 


"Ingin rasanya aku mematahkan kelima jari-jari itu, namaku adalah Ayu Kirana dan tidak akan mudah menyerah," batin Ayu yang bertekad dan berdiri dari duduknya sembari menatap semua orang dengan raut wajah yang sangat tenang. Walaupun dia sedikit terkejut dengan rapat mendadak itu, tapi tak membuatnya jadi penghalang. Tidak ada rasa takut melainkan ketenangan, hingga membuat Maudi sedikit heran. 

__ADS_1


"Kenapa dia tidak merasa takut ataupun gugup?" Lirih Maudi dengan sangat pelan, menatap Ayu dengan memiringkan kepalanya. 


Ayu menarik nafas dalam dan mengeluarkan dengan perlahan, mulai menjelaskan bagian umum untuk rapat. Semua orang mulai memperhatikan Ayu yang menjelaskan disertai dengan gerakan tangan untuk meyakinkan rapat itu berjalan. Ayu berusaha untuk memperkenalkan proyek tanpa naskah dengan begitu tenang. 


__ADS_2