
Di pagi hari yang menyejukkan, jauh dari polusi udara. Suasana pedesaan yang masih asri, pemandangan yang memanjakan mata dengan alam yang terbentang luas di hadapan. Seorang wanita melirik jam yang melingkar di tangannya, dan mendelik kesal. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah, memberikan kesegaran tapi tidak dengan hatinya yang begitu gelisah. Suara kicauan burung begitu menenangkan, sedikit mengurangi rasa khawatir.
Dia kembali melirik jam, dan memutuskan untuk duduk di depan teras tempat di penginapannya. Menyeruput teh hangat memang nikmat ditambah dengan beberapa apa cemilan. "Mungkin, sebentar lagi dia akan kembali." Monolog sang manager seraya masukkan cemilan ke dalam mulutnya.
Tak terasa hingga cemilan dan teh sudah habis, tapi Ayu belum juga kembali ke penginapan. Sang manajer beranjak dari duduknya, perasaan kalut yang menghantui. Mencoba untuk menepis pikiran negatif yang selalu menari-nari di benaknya, segera menghubungi atasannya, namun tak terhubung. "Mungkin saja ponselnya tidak ada sinyal. Tetapi aku sangat cemas, apa dia sudah menemukan dokter Zaki?" menolongnya yang sangat khawatir.
Sang manager terus saja mondar-mandir dengan perasaan yang diselimuti kegelisahan di wajahnya, dan mencoba sekali lagi menghubungi atasannya. Tidak ada jawaban sama sekali, semakin menyulut keinginannya untuk mencari keberadaan Ayu. "Apa yang harus aku lakukan? Apakah dia terjebak longsor? Semoga saja itu tidak terjadi. Ya Tuhan...tolong lindungi dan selamatkan dia dari marabahaya."
Hingga terlintas di benaknya untuk menghubungi polisi karena Ayu belum juga kembali, melaporkan orang hilang walau belum mencapai satu kali dua puluh empat jam.
"halo, selamat pagi!"
"selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?"
"Ada, teman saya dari sore kemarin hingga sekarang belum juga kembali dari hutan, dan saya juga mendengar telah terjadi longsor di sekitaran hutan. Tolong, temukan Ayu! Saya sangat mencemaskan nya."
"Bisa berikan lokasi anda sekarang? Sebentar lagi kami akan menuju ke sana."
"Saya ada di pedesaan yang tak berada jauh dari hutan, Ayu nekat untuk pergi masuk ke tengah hutan sendirian. Saya sangat mencemaskan dirinya."
"Baiklah, terima kasih atas laporannya."
Sang manager menghela nafas lega, setidaknya beban di pikul sedikit berkurang beberapa persen. "Semoga polisi datang tepat pada waktunya." Gumamnya dengan bergantung harapan.
Dua puluh menit kemudian, beberapa mobil datang ke lokasinya. kedua mata yang berbinar cerah saat kedatangan polisi dan tim untuk mencari keberadaan dari majikannya yang masih belum kembali hingga saat ini. Dua orang polisi menghampiri sang manager, menyapanya dan segera melakukan penyelidikan.
"Tolong…bantu aku, Ayu masih ada di hutan dan di sana telah terjadi tanah longsor. Aku sangat mencemaskan nya, aku tidak tahu lagi bagaimana dan apa yang harus aku lakukan. Menaruh harapan besar kepada kalian," ucap sang manajer yang menyatukan kedua tangannya mengarah kepada salah satu polisi, kedua mata yang penuh harapan juga keyakinan.
"Kami akan melakukan pencarian nona Ayu dan menyelidiki mengenai kasus ini, anda jangan khawatir!"
"Bagaimana saya tidak khawatir? dia atasan ku yang sangat baik. Temukan dia!" Desak sang manajer agar kekhawatiran segera hilang.
Polisi itu tersenyum dengan sekilas, menganggukkan kepala berharap jika mereka menemukan keberadaan Ayu.
Semua tim penyelidikan berjalan menuju ke arah hutan, bahkan sang asisten juga bersikeras untuk ikut ingin membantu mencari atasannya yang belum kembali. Mereka menyusuri hutan melewati jalanan yang sangat curam, perjalanan sedikit terhambat karena kondisi jalanan yang sangat licin akibat hujan yang terjadi semalaman.
Sang manajer hampir saja terpeleset Untung saja salah satu polisi dengan sigap membantunya agar tidak terjatuh, mereka berjalan menuju terjadinya lokasi tanah longsor berharap jika tidak ada Ayu yang menjadi korban dari tempat itu.
Tak selang berapa lama akhirnya mereka sampai ke tujuan tempat terjadinya tanah longsor, para polisi dan penyelidikan membagi beberapa tim untuk dievakuasi beberapa orang yang menjadi korban. Sang manajer segera berlari untuk menyusul beberapa polisi dan mengecek para korban.
__ADS_1
Tanpa dia sadari, air matanya terjatuh karena tidak ingin jika Ayu mengalami sesuatu hal yang sangat buruk, memeriksa setiap korban sekaligus mencari keberadaan dari atasannya.
Dari semua para korban yang sudah di dievakuasi oleh tim penyelidik, ada guratan senyum di wajahnya dan sedih bercampur menjadi satu. "Syukurlah jika Ayu bukan salah satu dari korban yang ditemukan, tapi di mana dia sekarang?"
Tiba-tiba hujan turun dengan begitu derasnya nya, hal itu semakin menyulitkan tim untuk mencari keberadaan Ayu. Seakan hujan juga merasakan kesedihan yang sama dengan apa yang dirasakan oleh sang manajer. Hujan deras yang disertai dengan petir membuat pencarian dihentikan untuk sementara waktu.
"Sebaiknya kita menunda untuk melakukan pencarian ini, kondisi saat ini tidak memungkinkan." Ucap salah satu polisi.
"Jangan berkata seperti itu, aku sangat mencemaskan keberadaan Ayu. Tolong carilah sebentar saja!" sang asisten menyatukan kedua tangannya, dengan raut wajah yang memohon meminta belas kasihan kepada pria berseragam di hadapannya. Tidak mempunyai harapan lain dan merasa putus asa, membuatnya merengek bagai seorang anak kecil yang tidak mendapatkan mainan.
Polisi itu menghela nafas, cuaca yang semakin buruk tak bisa membuat mereka melakukan apapun, apalagi bisa terjadi longsor susulan.
"Mengertilah, Nona. Kami tidak bisa melakukan pencarian dalam kondisi yang sangat buruk, tidak ingin mengambil risiko tambahan hanya untuk mencari satu orang yang hilang."
Sang manajer harus memohon tapi tidak berhasil, dia tak berputus asa segera menghubungi seseorang.
****
Di sisi lain Farhan bersama dengan Kira, wanita itu terus saja memintanya untuk mampir ke rumah kumuh yang sederhana itu.
"Kau terlihat sangat buruk! Aku akan memberikan secangkir teh agar kau terlihat baik."
"Hem, tapi kenapa kau memintaku untuk datang ke sini?"
"Itu benar." jawab Farhan dengan singkat.
Beberapa menit kemudian, secangkir teh yang disuguhkan oleh Kira dan memberikannya kepada Farhan. "Minumlah! Ini akan membuatmu merasa lebih tenang."
Farhan menganggukkan kepala dan menyeruput teh sembari memperhatikan seluruh ruangan yang sangat sempit dan juga kumuh. "Kenapa kau mengundangku ke sini?"
"Maaf jika kau merasa tidak nyaman di tempatku, tapi aku ingin membahas masalah pekerjaan."
"Kau bisa membicarakannya di kantor, apa kau merasa nyaman tinggal di sini?"
"Aku harus mensyukuri apa yang ada," Kira yang merendahkan diri, bertutur kata dengan lembut agar mendapatkan simpati.
"Sebaiknya kau pindah saja dari tempat ini, setidaknya kau mempunyai lingkungan yang cukup baik."
"Bagaimana caranya? Aku tidak mempunyai uang untuk menyewa tempat yang layak." Kira menundukkan kepala, dan memasang raut wajah yang sedih.
__ADS_1
"Kau tidak perlu mencemaskan nya, aku akan memberikan tempat tinggal baru dan layak untukmu." Ucap Farhan.
Obrolan ringan itu terputus saat terdengar dering ponsel milik Farhan, dia segera mengangkatnya dan melihat nama yang tertera di kontak yaitu sang manajer Ayu, dengan segera dia mengangkatnya.
"Halo."
"Ha-halo tuan!"
"Kau kenapa? Kenapa suaramu terdengar gugup ketakutan? Apa Ayu bersamamu?"
"Ayu dalam masalah, tuan."
"Katakan dengan benar!"
"Kemarin kami berangkat ke kota A, berjalan menuju hutan yang tak jauh dari pedesaan. Aku akan mengirimkan lokasiku saat ini, karena Ayu yang nekat untuk masuk ke tengah hutan mencari keberadaan dokter Zaki. Hingga saat ini dia belum kembali, apalagi telah terjadi tanah longsor bahkan tim penyelidik tidak bisa melanjutkan pencarian karena cuaca yang sangat tidak memungkinkan."
"APA?"
"Itu benar, tuan."
Farhan segera memutuskan sambungan telepon, dia sangat mengkhawatirkan keadaan dari mantan calon tunangannya. Segera beranjak dari sofa sederhana itu dan berlalu pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun. "Dimanapun kau berada, aku berjanji untuk menyelamatkanmu. Bertahanlah sebelum aku datang, Ayu." Batinnya.
Bersambung..
...****************...
PROMOSI !!!
Siapa tau nyangkut🥰🤣 rekomendasi novel dari author kesayangan Ratu Malas. Karya dari Shanum
Judul: Cintai Aku Suamiku
Cuplikan!! Cekidot 🥰😘
Menikah dengan lelaki yang masih mencintai istrinya yang telah tiada, Vania terus berusaha agar bisa mendapatkan cinta dari suaminya. Meski secara gamblang Daffa telah berkata jika tak pernah bisa mencinta dirinya, Vania tidak ingin menyerah.
Akankah Vania bisa mendapatkan cinta dari suaminya? Atau dalam waktu tiga bulan, ia akan benar-benar diceraikan oleh Daffa, yang hanya menikahinya karena kondisi kesehatan dari ibunya?
Penasaran?? langsung ke karyanya😌😉😉🥰
__ADS_1