Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 248 ~ Di rumah sakit


__ADS_3

Yuna yang bersembunyi di balik kerumunan sangat bersemangat, kedua sudut bibir melengkung ke atas dengan rencananya yang berhasil berjalan dengan sempurna. Mengetahui jika wanita yang dianggap sebagai rivalnya alergi akan bahan platinum, informasi yang didapat dari Vanya sangatlah membantunya dengan sedikit kelicikan di dalam bunga, yang sudah diolesi oleh serbuk platinum. 


Ayu merasakan seluruh wajahnya sangatlah gatal dan timbul ruang memerah, dia sangat tersiksa dengan alergi yang dideritanya. Namun, semua orang hanya menatapnya dengan penasaran. Tidak ada yang ingin membantu atau menolongnya, rasa gatal kian menambah menimbulkan bercak dan ruam. "Ya Tuhan, ini sangat gatal. Siapa yang melakukannya, aku yakin jika dia mengetahui tentangku. Dia tahu aku alergi dengan platinum, apa dia orangnya?" gumamnya di dalam hati sembari melirik wanita yang menyerahkan bunga adanya. "Apa dia orangnya? Tapi aku tidak mengenalnya, siapa dalang di balik ini semua?" begitulah yang dipikirkan olehnya.


Ayu sudah tidak tahan dengan rasa gatal dan juga panas yang menderanya, begitu menyiksa diri hingga dia tak bisa melakukan apapun. Begitu banyak orang yang mengelilinginya, para reporter tentu saja tak melepaskan kesempatan emas itu, bagai mendapat sebuah anugerah dalam meniti karir dan sangat berharap jika tempat mereka bekerja naik rating. 


Farhan langsung memeluk Ayu di saat melihat raut wajah kecemasan, dia juga tahu jika mantan calon tunangannya mempunyai alergi akan bahan platinum dan dia sudah menduga Jika bunga yang dibawa oleh fans sudah dilumuri oleh serbuk platinum. "Aku akan melindungimu," bisiknya yang menjauhkan wanita dalam dekapannya agar tidak tersorot kamera. "Beri aku jalan!" tekannya pada semua orang, dia tidak tahu bagaimana cara berpikir para reporter yang mengambil kesempatan di saat orang lain menderita.


Para reporter itu juga tidak menyingkir, membuat darahnya mendidih. "Aku akan menuntut kalian jika masih bersikeras menghalangi jalanku, ingat! Aku tidak main-main dengan ucapanku," Farhan begitu serius dan tidak bisa mengabaikan mengenai fakta kondisi Ayu yang bertambah parah jika tidak segera ditangani oleh dokter.


Akhirnya para reporter itu memberikan jalan dengan terpaksa akibat ancaman yang sangat berpengaruh pada karir mereka. Dengan cepat Farhan membawa Ayu menjauh dari semua orang menuju mobilnya, segera melihat kondisi kulit yang meruam dan bintik-bintik merah. "Kita akan kerumah sakit, sebisa mungkin untuk tidak menggaruknya atau akan memperparah." Tekannya yang memberi peringatan.


"Hem, jalankan mobilnya. Aku sudah tidak tahan dengan rasa gatal di seluruh tubuhku!" 


"Baiklah, kencangkan sabuk pengamanmu, aku akan menambah kecepatan laju mobilnya." Ungkap Farhan yang fokus ke depan. 


Di sepanjang perjalanan, Ayu merasa sangat risih dengan rasa gatal yang menderanya. Namun, masih mengingat perkataan Farhan untuk tidak menggaruk yang hanya menambah ruam merah saja. Sebisa mungkin dia tidak menggaruk, menekan rasa yang paling gatal dengan menepuk pelan menggunakan jari-jarinya, cukup ampuh meredakan. Tapi, cara itu tak bertahan lama dan kembali gatal yang luar biasa, rasa panas juga dia rasakan di saat bersamaan. "Aku sudah tidak tahan lagi, cepat bantu aku."


"Bersabarlah, aku akan menambah kecepatan laju mobilnya."


"Iya, setelah ini kau harus menyelidiki mengenai bunga itu dan siapa yang melakukannya!" ucap Ayu yang merasa kesal ada orang mencoba untuk mengerjainya.


"Tentu saja, aku akan menyusutnya." Farhan sangat panik dengan kondisi Ayu saat ini, tatapan yang fokus ke jalanan dan berharap segera tiba di rumah sakit. Dia melirik Ayu beberapa detik, terlihat sangat menderita dengan alerginya itu. Wajah pucat dan juga mata yang terpejam, membuatnya semakin gelisah. 

__ADS_1


"Ayu, buka matamu…apa kau mendengarku?" 


Ayu segera menoleh, wajah pucatnya terlihat dengan sangat jelas. "Aku hanya memejamkan mataku saja."


Farhan menyentuh tangan Ayu dengan mata teduhnya, segera menarik perhatian ke depan dan fokus mengemudi. Di luar dugaannya, tangan wanita di sebelahnya terasa panas. "Kau demam?" ucapnya yang terkejut.


Ayu mengalihkan pandangannya keluar jendela, mengingat dirinya yang merasa sangat lemas. "Sepertinya begitu."


"Kau tenang saja, aku sudah berjanji akan mengantarkanmu ke rumah sakit. Sebentar lagi kita akan sampai!" Farhan memberikan semangat pada wanita di sebelahnya yang hanya terdiam dan tidak merespon perkataannya.


"Di rumah sakit mana kau akan membawaku?" celetuk Ayu yang menatap wajah pria tampan di sampingnya.


"Rumah sakit Duryudana, dan kita akan segera sampai."


"Aku punya kenalan disana, kau bisa menghubunginya terlebih dulu. Dia tahu apa cara menangani ku dengan baik," jelas Ayu. 


"Halo, tumben kau menelponku. Ada apa?" 


"Maaf, ini Farhan. Sebentar lagi kami akan sampai, pastikan jadwal mu kosong!" 


"Maaf, aku bicara dengan siapa? Dimana Ayu?"


"Alerginya kambuh dan butuh pertolonganmu!"

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengosongkan jadwal ku."


"Hem."


Sambungan telepon terputus, Farhan kembali meletakkan benda pipih itu ke tempatnya."Aku sudah menghubunginya, bertahanlah sebentar saja." Ayu tidak merespon, karena dirinya sudah sangat menderita karena alergi itu.


Sesampainya di rumah sakit, Farhan begitu sigap untuk menggendong Ayu ala bridal style bak pahlawan kesiangan. 


"Ayo, letakkan dia di atas brankar ini!" ucap dokter yang memerintah.


Tanpa menunggu waktu lagi, Farhan segera menggendong Ayu di atas brankar, dan berlari ke mana arah brankar itu membawanya. Dokter melakukan pekerjaannya dengan memberikan obat anti alergi yang harus diminum oleh wanita itu, dan memastikan jika obat itu dihabiskan. "Ini hanya demam biasa yang disebabkan oleh alergi yang dideritanya, tetapi tidak perlu khawatir karena sebentar lagi ruam yang memerah dan rasa gatal juga akan berkurang, pastikan jika dia mengkonsumsi obat ini."


"Apa kau yakin, jika Ayu tidak ada masalah serius?" tanya Farhan yang berusaha untuk meyakinkan dirinya karena kondisi calon mantan tunangannya terlihat sangat parah, apalagi dengan bintik-bintik dan ruam yang memerah pasti terasa sangat gatal dan juga panas secara bersamaan.


Dokter itu menarik kedua sudut bibirnya ke atas, dia tersenyum dan melihat kekhawatiran dari Farhan yang spontan kepada Ayu. "Tidak ada masalah dengannya, ini biasa terjadi jika seseorang menderita alergi pada platinum. Aku harus pergi dulu dan pastikan dia meminum obatnya!" 


"Hem, baiklah terima kasih." uca Farhan yang begitu tulus dari dalam hatinya.


Setelah kepergian sang dokter, Farhan meminta Ayu untuk minum obat namun wanita itu terlihat tidak nyaman. "Minumlah obatnya, ingat perkataan dari dokter dan jangan membantah."


"Tidak aku tidak nyaman dengan meminum obat itu." 


Farhan segera mengambil tindakan, memasukkan obat di dalam mulutnya dan menyuapi obat itu ke dalam mulut Ayu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2