
Leon begitu kesalnya sehingga dia tidak bisa mengucapkan kata-kata yang mengekspresi dirinya saat ini, kali pertama dia mengetahui kenakalan dari twins A karena sebelumnya kedua bocah itu selalu saja bersikap manis dan sangat menggemaskan. Dia baru mengetahui bagaimana penderitaan Farhan saat menghadapi Adit dan juga Abi yang begitu nakal hingga dirinya merasa kesulitan.
Benda pipih yang ada di nakas segera dijangkau, langkah yang begitu cepat menuju keluar dari kamar. Dia segera pergi untuk menenangkan diri, jalan satu-satunya adalah ke ruang tamu, mengobati dan bahkan mengabsen nama hewan yang ada di kebun binatang satu persatu, umpatan kekesalan sebagai korban. "Ini tidak bisa dibiarkan, Farhan harus mengetahui bagaimana perlakuan putranya, dia juga ikut terlibat karena mereka tidak memberikan garansi. Siapa yang mengira kalau Adit suka mengompol sewaktu malam, ini bentuk penipuan yang hakiki." Monolognya yang segera mencari nomor kontak yang ada di ponsel.
"Halo, ada apa kau menghubungiku malam-malam begini?"
"Aku ingin protes kepadamu."
"Hari sudah semakin larut dan kau ingin protes? Lakukan besok hari saja, aku sangat lelah dan ingin tidur."
"Ini sangat penting dan juga darurat."
"Kau ini memaksa sekali, katakan apa keluhanmu?"
"Aku ingin kau membawa putramu pulang, baru sehari saja sudah membuatku emosi."
"Dasar lemah, itulah yang aku rasakan selama ini. Kau selalu memanjakan mereka, sekarang kau nikmati saja apa yang kau tuai. Aku tidak ingin ikut campur."
"Apa mulutmu itu minta di robek? Bawa kedua putramu dan kembali ke Mansion. Ranjang kesayanganku terkena air seni Adit."
"Lalu? Hanya itu saja? Ck, dasar pengacau. Aku baru saja tertidur dan kau malah mengusik ku dengan laporan yang tidak penting itu."
"Itu memang kebiasaan Adit, dia sering mengompol jika sebelum tidur tidak di bawa ke kamar mandi, jadi kau rasakan itu."
"Aku tidak peduli, jemput mereka dan singkirkan dari apartemen ku!"
"Itu sangat mudah bagiku, pikirkan konsekuensinya saat hal itu dilakukan."
"Memangnya kenapa?"
"Apa kau lupa perkataan kakek Tirta, harus merawat mereka selama sebulan dan ini masih satu hari. Jika kau lakukan itu? Keesokan paginya kau menikah dengan sekretarismu."
__ADS_1
"Sial."
Farhan memutuskan sambungan telepon dengan sepihak, berharap jika perkataannya tadi dapat mempengaruhi Leon dan akan sangat menguntungkannya. Bagaimana tidak? Setiap dia minta jatah, Abi dan Adit selalu datang di momen yang tidak pas. Dia tersenyum kemerdekaan, selama sebulan pula akan menggunakan jatah-jatah yang sebelumnya terlewatkan. "Ide kakek sangat mujur, dengan begini aku bisa mencicil adik si kembar tiga." Lirihnya yang cekikikan.
"Kenapa kau cekikikan seperti kuntilanak suara kodam?" ujar Ayu yang terbangun mendengar suara suaminya.
"Bukan apa-apa, tidurlah! Karena kita harus lembur di subuh hari," Farhan mengecup kening istrinya dengan sangat lembut, tak lupa untuk mencium bibir.
"Hentikan Farhan, apa kau tidak lelah? Kita baru saja selesai bermain, jangan siksa aku di subuh hari." Keluh Ayu miris dan tak habis pikir dengan hasrat sang suami.
"Mau bagaimana lagi? Juniorku menginginkan sarangnya, dan anggap sebagai cicilan untuk membuat adik bagi si kembar." Jawab Farhan yang berbinar, berbanding terbalik dengan Ayu sangat shock jika memikirkan proses kelahiran si kembar tiga.
"Tiga anak sudah cukup, aku bukan mesin anak!" ketus Ayu yang menarik selimut dan berbalik membelakangi Farhan.
"Mau ataupun tidak aku akan memaksamu, bersiaplah." Ucap Farhan di dalam hati, tersenyum smirk akan pemerkosaan sang istri di pagi buta.
"Farhan sialan, dia mengingatkan hal itu, hampir saja aku melupakannya." Umpat Leon yang melempar ponselnya di sebelah, mengusap rambut dengan kasar.
"Kau belum tidur?" Leon menatap Aluna dengan lekat, menyusuri pandangan dengan kimono seksi yang memperlihatkan lekuk tubuh mulus. Dia menelan saliva dengan susah payah, dan menepis pikiran kotor sebagai pria normal.
"Aku belum mengantuk, sepertinya kau tertarik padaku. Bagaimana jika kita menikah saja, kau tidak akan menyesal memiliki wanita sepertiku." Terang Aluna yang penuh percaya diri sembari menyesap kopi.
"Kau bukanlah tipeku," tolak Leon dengan begitu arogan, namun jauh di lubuk hatinya begitu terpesona dengan penampilan wanita yang menurutnya sangat bar-bar.
"Benarkah?" Aluna mendekati Leon, wajah yang sangat dekat kembali mengunggah iman. "Jangan berbohong, kau sebenarnya sudah jatuh dalam pesona ku." Dia mengusap dahi pria di hadapannya menggunakan ibu jari.
"Heh, itu hanya anggapanmu saja. Aku bahkan melihat tubuh polos dari wanita seksi lainnya di luaran sana, pantatmu yang tepos dan tidak berisi membuatku tidak berselera, ditambah lagi dengan bukit kembar yang tidak nyaman saat di remas." Jawab Leon dengan asal.
"Jangan lihat fisiknya saja, tapi permainan di atas ranjang."
"Heh, permainan diatas ranjang konon. Saat kamu menyentuh si Tole malah lari terbirit-birit, dan belum melihatnya."
__ADS_1
Perdebatan unfaedah terus saja berlangsung, hingga Aluna dinyatakan kalah dan segera berlalu pergi meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
"Heh, wanita sombong." Leon memilih untuk tidur di ruang tamu.
Aluna sudah melakukan berbagai cara untuk mendapatkan perhatian Leon yang masih saja belum menerima dirinya, sebuah misi menaklukkan pria arogan dan sedikit sengklek di pandangannya.
Keesokan harinya, Leon terbangun saat melihat sosok dua anak kecil yang sedang menatapnya entah kapan. "Kalian?"
"Selamat pagi, Paman." Sapa Abi dan Adit tersenyum cerah.
"Pagi Boy."
"Maaf soal tadi malam, aku membanjiri ranjangmu, Paman." Ucap Adit yang sangat menyesal.
"Tidak masalah, aku akan minta pelayan untuk membersihkannya. Apa kalian lapar?"
"Kami sangat lapar, buatkan kami nasi goreng dengan telur ceplok yang berbentuk segitiga," pinta Abi.
"Hem, baiklah. Kalian tunggu disini," Leon beranjak pergi menuju kamar mandi membersihkan gigi dan juga cuci wajahnya. Dia melangkah ke dapur dan mulai membuat nasi goreng spesial dari permintaan twins A.
Seseorang memegang perut saat aroma masakan yang menyeruak hampir seluruh ruangan, segera bangun dari tidurnya mencari asal aroma yang mengundang perut keroncongannya. "Wah, sangat kebetulan sekali." Aluna segera menyingkirkan selimut dari tubuhnya dan keluar dari kamar.
"Wah, masakan Paman sangat lezat. Apa masih ada sisanya lagi?" tutur Adit yang menyodorkan piring keduanya ke arah Leon, menggunakan mata berbinar.
"Tidak ada, kau sudah makan bagianmu. Sepiring ini untukku, jangan sampai kalian bertindak curang. Aku harus membersihkan badan dan bersiap-siap ke kantor, kalian juga harus bersiap ke sekolah!"
"Baik, Paman."
Leon dan Aluna berpapasan, wanita itu mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda atasannya.
"Kau cacingan?" ucap Leon yang tak menggubris, lebih memikirkan jadwal rapat dengan perusahaan China.
__ADS_1
"Selangkah lagi, kau akan menjadi milikku, Leon."